THE FRATERNITY

THE FRATERNITY
Ketakutan Danish



Adan berada di kamarnya. Dirinya tengah bersiap-siap untuk menemui seseorang yang sudah dianggap sebagai kakaknya sendiri. Orang yang sudah menyelamatkan nyawanya. Adam memakai celana jean biru panjang, baju kaos warna putih dan jaket kulit hitam.


Setelah selesai berpakaian dirinya pun langsung pergi menuju lantai bawah.


TAP!


TAP!


TAP!


Seperti itulah langkah kakinya saat menuruni anak tangga. Dan tidak lupa senyuman yang terpampang manis di bibirnya.


Tanpa disadari oleh Adam. Seluruh anggota keluarganya termasuk Ardi dan Harsha memandangnya dengan pandangan kagum dan bahagia. Bagaimana tidak? Selama mereka tinggal bersama. Baru kali inilah mereka melihat seorang Dirandra Adamka Abimanyu terlihat sangat sangat bahagia. Terlihat jelas pesona kebahagiaan di wajah Adam.


"Eeeemm! Ada yang lagi bahagia, nih!" seru Juan.


Adam tersenyum kikuk saat melihat anggota keluarga pada ngumpul di ruang tengah.


Utari berdiri dari duduknya dan menghampiri putra bungsunya. Kemudian Utari membelai rambut putranya dan mencium keningnya.


"Bayi kelinci Mama ternyata sudah besar ya. Memiliki wajah yang tampan dan manis."


"Ma! Putra mama ini manusia bukan kelinci. Aish!" Adam berucap sembari mempoutkan bibirnya. Utari tersenyum gemas melihat putranya cemberut.


"Kalau Mama boleh tahu. Putra mama yang tampan ini mau pergi kemana, hum?" tanya Utari.


"Aku mau menemui seseorang di Cafe. Aku sudah janjian bertemu disana," jawab Adam sumringah.


Harsha datang mendekat. "Siapa.. siapa? Kasih tahu dong!"


"Ogah! Bisa-bisa kakak mengacaukan acaraku. Kakak itukan pengganggu. Datang tak diundang. Pergi harus diusir dulu," sahut Adam mengejek.


"Aish. Kau ini benar-benar menyebalkan. Dasar silu...!" perkataan Harsha terpotong.


Adam mengatup bibir Harsha dengan tangannya. "Aku tidak ada waktu untuk ribut denganmu, kak! Bisa-bisa aku terlambat menemui seseorang. Nanti saja tunggu aku pulang ya."


Sedangkan anggota keluarga yang mendengarnya berusaha menahan tawanya.


"Dam. Memangnya siapa sih orangnya? Penasaran?" tanya Ardi.


"Kakak kepo," jawab Adam singkat.


"Ach, sudahlah! Lama-lama disini kalian akan terus melontarkan banyak pertanyaan padaku," ucap Adam dan langsung pergi meninggalkan anggota keluarga, lalu mengambil kunci motor yang ada di meja.


***


Adam mengendarai motor sportnya dengan kecepatan sedang. Selama di dalam perjalanan, Adam tidak pernah melunturkan senyumannya. Adam memang sangat ingin bertemu dengan kakak yang baru dia kenal. Ini adalah pertemuan keempatnya dengan kakak barunya itu. Tanpa disadari oleh Adam. Ada beberapa gerombolan bermotor yang sedang mengikutinya.


Disisi lain, Danish dan teman-teman sedang berada diluar. Tepatnya disebuah jalan dekat Cafe terkenal. Kebetulan Danish dan teman-temannya sedang menghabiskan waktu liburan dihari minggu.


Rencananya Danish ingin liburan bersama sang adik dan saudara sepupunya beserta teman yang lainnya. Dikarenakan adiknya sudah terlebih dahulu dicater oleh sang kakak. Akhirnya terpaksa dirinya berlibur hanya bersama teman-temannya saja.


Adam yang masih di jalan dengan motor sportnya masih belum menyadari bahwa dirinya sedang diikuti.


"Jangan sampai lolos. Itu incaran kita ada didepan!" seru salah satu dari pengendara motor tersebut.


"Ayoo, ikuti terus! Saat ditempat yang tepat, baru kita hadang."


"Baik."


Beberapa pengendara motor tersebut makin melajukan motornya dengan kencang guna bisa mencegat motor yang di kendarai Adam.


"Sepertinya beberapa pengendara yang ada di belakangku itu sedang mengikutiku. Siapa mereka sebenarnya?" gumam Adam saat Adam melihat ke belakang.


BRUUMMM!


Adam menancapkan gas motornya dengan keras dan mengendarai motornya dengan kecepatan penuh guna bisa menghindari kejaran beberapa motor yang ada di belakangnya.


BRUUMMM!


BRUUMMM!


BRUUMMM!


Tidak jauh beda dengan pengendara motor yang terus mengejar Adam. Mereka juga menancapkan gas motor mereka dengan kecepatan penuh. Dan sudah ada enam pengendara motor yang berhasil memepet motor Adam. Dua di depan dan masing-masing dua motor di samping kiri dan kanan. Empat motor berada di belakang.


"Ah, sial! Mau apa mereka? Kalau seperti ini aku bisa gagal bertemu dengan kakak Garry," batin Adam.


Adam berusaha tenang. Dirinya tidak mau gegabah dan berusaha mengendarai motor dengan kecepatan sedang karena tidak memungkinkan untuk menancapkan gas motornya dalam keadaan dipepet begini.


"Aha! Ada tikungan di depan. Ini adalah makananku," batin Adam menyeringai.


Saat hitungan ketiga, Adam menancapkan gas motornya dengan keras dan dengan cepatnya Adam menyalip di tikungan itu. Adam melakukan manuver saat berada di tikungan tersebut sehingga dirinya berhasil terlepas dari pengendara-pengendara motor yang memepetnya.


"Sialan. Dia berhasil lolos."


"Kejar!"


BRUUMMM!


BRUUMMM!


Pengendara-pengendara motor tersebut menancapkan gas motor mereka dengan kuat dan terus mengejar Adam.


Demi menghindari sipejalan kaki tersebut, Adam terpaksa memutar stang motornya ke kiri dan mengakibatkan motor yang dikendarainya oleng dan jatuh terseret di aspal. Tubuh Adam berguling-guling di aspal.


CKITTTT!


BRAAKKK!


BRUUKKK!


"Aaaaakkkhhh!" ringis kesakitan Adam. "Sialan," umpat Adam saat merasakan darah segar mengalir dari pelipisnya. "Badanku sakit semua."


"Itu dia! Akhirnya kita berhasil juga mendapatkannya. Dan kali ini dia tidak akan berhasil kabur lagi." seringai mereka saat melihat Adam yang sudah tidak bisa berbuat apa-apa.


"Hei, Kau. Mau kemana lagi, huh?! Sudahlah. Menyerah saja. Kali ini kami yakin kau tidak akan bisa ke mana-mana lagi. Hahahaha!" teriak salah satu dari mereka.


"Cih! Jangan terlalu percaya diri dulu kalian. Kalian pikir aku lemah, hah!" teriak Adam dan berusaha untuk bangun.


"Sudahlah. Jangan sombong. Menyerah saja. Kau tidak akan bisa melawan kami. Kau hanya sendirian dan kami ada sepuluh."


"Haha. menyerah! Cuiih!" Adam membuang ludah di depan mereka. "Tidak semudah itu aku menyerah pada kalian. Kalian pikir kalian siapa, hah?! Ayoo, maju kalau kalian berani." Adam berteriak sambil memantang kesepuluh orang yang ada di depannya.


"Brengsek! Serang!"


Dua pria dari pengendara motor tersebut menyerang Adam dan Adam berhasil menghindar lalu Adam memberikan tendangan tepat di perut salah satunya.


DUAGH!


Pria itu tersungkur karena mendapatkan tendangan keras dari Adam.


BAAGGHH! BUUGGHH!


DUUAAGGHH!


Adam kembali memberikan pukulan secara bertubi-tubi dan satu tendangan keras pada pada pria yang satunya lagi. Pria itu juga bernasib sama dengan temannya itu.


BAAGGHH! BUUGGHH!


DUAAGGHH!


Pria ketiga yang menjadi sasaran Adam meringis kesakitan saat menerima pukulan bertubi-tubi dari Adam. Dan Adam juga memberikan tendangan keras di perutnya.


DUUAAGGHH!


Pria itu jatuh tersungkur dengan darah yang mengalir dari mulutnya. Tiga pria berhasil Adam kalahkan dengan mudah.


Tersisa tujuh orang lagi. Tidak tahu bagaimana nasib dari tiga orang tersebut? Apa masih sanggup untuk berkelahi atau tidak?


***


Di tempat lain dimana Danish dan teman-teman sedang berada di pertokoan. Mereka ingin membeli sesuatu. Tapi tiba-tiba perasaan khawatir menyelimuti diri Danish.


"Kenapa aku kepikiran Adam? Dan perasaanku mengatakan kalau Adam dalam keadaan yang tidak baik-baik saja," batin Danish.


Indra yang menyadari sikap Danish yang sedari tadi hanya diam pun bukan suara. "Danish. Kau kenapa? Ada apa, hah?!"


"Entahlah. Perasaanku tiba-tiba tidak enak. Aku kepikiran Adam," sahut Danish.


"Bukannya kau bilang Adam sedang ketemuan sama kak Garry di Cafe," sela Arya


"Iya. Aku tahu. Tapi aku juga tidak tahu, kenapa perasaanku tidak enak saat ini?" ucap Danish.


"Lebih baik kau hubungi kak Garry. Tanyakan padanya. Apa Adam sudah berada disana?" usul Cakra.


"Baiklah!" Danish pun segera menghubungi Garry, kakaknya.


Danish menekan nama kontak kakaknya, lalu menekan tombol telepon. Panggilan tersambung..


"Hallo, Danish." 


"Hallo, kak. Kakak kau ada di mana?" tanya Danish.


"Hyung sudah berada di Cafe. Memangnya kenapa?" tanya Garry di seberang telepon.


"Apa kakak bersama dengan Adam?" tanya Danish khawatir.


"Nah, itu dia Danish. Kakak sudah setengah jam menunggu Adam. Tapi Adam belum juga sampai."


"Apa, kak?" teriak Danish.


"Yak! Kenapa kau berteriak-teriak sih?" kesal Garry.


"Maaf, kak! Tapi perasaanku tidak enak. Aku takut terjadi sesuatu terhadap Adam," ucap Danish.


"Kau tenanglah, Danish. Semoga tidak terjadi sesuatu pada Adam. Ya. Sudah! Kakak akan menghubungi Adam sekarang juga. Kakak tutup dulu teleponnya," tutur Garry.


PIP!


"Semoga kau baik-baik saja, Dam! Tuhan! Tolong lindungi adikku," batin Danish.


"Lebih baik kita pergi cari Adam. Siapa tahu kita bertemu dengan Adam di jalan!" seru Prana dan diangguki oleh yang lainnya.


Mereka semua pun memutuskan pergi untuk mencari Adam. Mereka berharap bertemu dengan Adam di perjalanan.