
Adam saat ini berada di ruang tengah. Dia sedang mengerjakan sesuatu disana. Terlihat diatas meja beberapa kertas dan buku. Serta laptop dalam keadaan menyala.
Adam sedang mengerjakan beberapa tugas kampusnya. Tiga tugas tiga hari yang lalu dan ditambah dengan tugas yang beberapa jam yang lalu dikirim oleh Leon dan Zio melalui email-nya.
Tanpa Adam ketahui bahwa kakak-kakaknya yaitu Danish, Harsha dan Ardi sejak tadi memperhatikannya dari jauh. Mereka baru keluar dari kamar masing-masing setelah selesai dengan urusannya. Mereka keluar hanya ingin berkumpul dengan anggota keluarga yang lainnya karena hari ini adalah hari minggu hari dimana mereka berkumpul.
Baik Danish maupun Ardi dan Harsha menatap sembari tersenyum kearah Adam, terutama Danish. Ada raut kebahagiaan dari tatapan mata mereka ketika memperhatikan Adam yang saat ini sibuk dengan tugas-tugas kampusnya.
Kebahagiaan yang mereka rasakan adalah setengah ingatan Adam yang hilang itu sudah kembali.
"Hei, lihatlah! Sepertinya seseorang menghubungi Adam!" seru Harsha.
Danish, Ardi dan Harsha terus memperhatikan Adam sembari mereka memasang telinganya untuk mendengar apa yang dibicarakan oleh Adam dengan seseorang di telepon itu.
Adam menerima sebuah panggilan dari seseorang. Ketika matanya menatap ke layar ponselnya, seketika terukir senyuman di bibirnya.
Setelah itu, Adam langsung menjawab panggilan dari orang di seberang telepon. Dirinya tidak ingin membuat orang itu terlalu lama menunggu jawaban dari dirinya.
"Hallo, Ricky!"
Mendengar Adam menyebut nama 'Ricky' membuat Danish, Ardi dan Harsha penasaran dengan orang tersebut.
"...."
"Benarkah?"
"...."
"Wah! Aku tidak menyangka jika dua manusia busuk itu sudah tidak sabar untuk merebut posisi perusahaan keluargaku! Bahkan mereka juga mengincar perusahaan keluargaku yang lain."
"...."
"Menurutmu bagaimana? Langkah apa yang bagus untuk kita buat? Aku mau kedua manusia busuk itu terjebak dalam rencananya sendiri?"
"...."
"Ide bagus. Baiklah. Kau lakukan pekerjaanmu dan aku lakukan pekerjaanku disini."
"...."
Tutt.. Tutt..
Panggilan diputuskan oleh Ricky setelah mengatakan perkataan terakhirnya.
"Kalian tidak akan bisa merebut perusahaan milik keluargaku, apalagi ingin membuat perusahaan keluargaku yang berada di urutan nomor satu di dunia dan di Jakarta menjadi yang terbawah."
"Aku bersumpah akan membuat kalian berdua kehilangan perusahaan kalian. Apa yang kalian lakukan terhadap perusahaan keluargaku, itulah yang terjadi terhadap perusahaan milik kalian."
Adam berbicara di dalam hatinya sembari membayangkan wajah dua orang yang berencana untuk menghancurkan perusahaan keluarganya hancur dalam rencananya sendiri.
Sementara Danish, Ardi dan Harsha yang sejak tadi memperhatikannya dan mendengar ucapan demi ucapannya ketika berbicara dengan seseorang di telepon semakin dibuat penasaran.
"Aku penasaran dengan apa yang Adam ucapkan barusan," sahut Harsha.
"Apalagi kakak. Kakak yang lebih penasaran lagi dengan apa yang dibicarakan oleh Adam dengan seseorang di telepon," balas Danish.
Ardi fokus menatap kearah Adam dengan pikirannya berusaha untuk memikirkan sesuatu mengenai pembicaraan Adam dengan seseorang di telepon itu.
"Apa jangan-jangan Adam punya sahabat atau teman diluar sana selain Zelo, Melky, Vino, Diego, Gino, Zio, Leon dan Vando?" tanya Ardi tiba-tiba.
Mendengar pertanyaan dari Ardi. Danish dan Harsha langsung melihat kearah Ardi yang kini masih menatap kearah Adam.
"Kenapa kau bisa berpikiran seperti itu Ardi?" tanya Danish.
Ardi langsung mengalihkan pandangannya menatap wajah Danish, lalu beralih menatap wajah Harsha yang juga menatap dirinya.
"Pertama, aku sangat mengenal Adam karena aku ikut menjaga Adam dari kecil. Kedua, Adam itu orangnya sangat peka akan keadaan sekitarnya. Adam bisa langsung paham jika ada sesuatu yang terjadi. Ketiga, Adam pergaulannya luas. Dia gampang beradaptasi bahkan gampang mendapatkan teman. Adam bisa membedakan mana yang benar-benar teman dan mana teman yang menusuk dari belakang."
"Dan kamu Sha? Kamu nggak lupakan dengan dua sahabat SMP dan SMA nya Adam yaitu Jasmine dan Ariel?"
"Iya, kak! Aku ingat dan aku kenal sama Jasmine dan Ariel. Sekarang mereka tidak kuliah di kampus kita lagi. Mereka memutuskan keluar dan pindah kuliah kampus lain. Hati mereka sakit dan hancur karena Adam saat itu tidak mengingat mereka."
Harsha menjawab perkataan dari kakak sepupunya itu sembari mengingat bagaimana sedihnya Jasmine dan Ariel ketika melihat Adam yang tidak mengingat mereka. Bahkan hati keduanya makin terluka ketika melihat Adam yang tertawa lepas dengan sahabat barunya yaitu Melky. Hal itulah yang membuat Jasmine dan Ariel pindah kuliah. Begitu juga dengan teman-temannya.
"Kuliah di kampus mana mereka sekarang? Dan bagaimana kabar mereka semua?" ucap Ardi memikirkan Jasmine, Ariel dan teman-temannya.
"Oh ya! Adam belun mengetahui masalah ini, bukan? Sejak Adam sembuh dari ingatannya. Kita tidak pernah membahas masalah Jasmine dan Ariel di hadapan Adam. Bagaimana pun Adam berhak tahu tentang Jasmine dan Ariel."
Ardi dan Harsha saling memberikan tatapan matanya. Setelah itu, keduanya melihat kearah Danish yang juga tengah menatap dirinya.
"Kita akan menceritakan masalah Jasmine dan Ariel kepada Adam," sahut Ardi.
"Kalau perlu sekarang," sela Harsha.
"Hm!" Danish dan Ardi berdehem sembari menganggukkan kepalanya bersamaan.
Setelah puas memperhatikan dan mendengar pembicaraan adiknya dengan seseorang di telepon. Danish, Ardi dan Harsha memutuskan untuk menghampiri adiknya itu yang kini sudah kembali mengerjakan tugas-tugas kuliahnya.
***
Dzaky saat ini dalam perjalanan menuju perusahaannya. Beberapa menit yang lalu Dzaky baru bertemu dengan tiga rekan kerjanya di sebuah cafe terkenal di Jakarta.
Dzaky mengendarai mobil dalam kecepatan sedang. Tatapan matanya fokus menatap ke depan.
Ketika Dzaky mengendarai mobilnya, tiba-tiba ada beberapa pengendara sepeda motor yang menyalib mobilnya dan berhenti tepat di depan mobilnya sehingga membuat Dzaky seketika menginjak rem mobilnya.
"Oh, Shitt!"
Dzaky menatap kearah depan. Ada sekitar 8 motor dengan jumlah penumpangnya sekitar 16 orang.
"Siapa mereka? Apa mereka orang-orang dari kedua perusahaan itu?"
Dzaky tetap berada di dalam mobilnya. Dia ingin melihat apa yang akan dilakukan oleh orang-orang itu. Dia tidak ingin gegabah dalam bertindak, bisa-bisa dia yang celaka.
Dzaky melihat dua laki-laki pengendara motor itu mendekati mobilnya. Yang satu berjalan ke sebelah kiri dan yang satunya ke sebelah kanan.
Dzaky masih tampak tenang. Dirinya tidak perlu khawatir karena kaca mobil miliknya anti pecah. Jadi sekuat apapun dan sekeras apapun dipukul, kaca mobil tersebut tidak akan pecah.
Dug.. Dug..
Dug.. Dug..
"Keluar!"
Kedua laki-laki itu bersamaan memukul kaca mobil Dzaky dengan keras sambil berteriak.
Dzaky tetap di dalam mobilnya. Dirinya berusaha untuk mencari cara untuk meloloskan diri dari para pengendara motor itu.
Dug.. Dug..
Dug.. Dug..
"Keluar"
Kedua laki-laki itu masih terus memukul kaca mobil Dzaky sembari berteriak menyuruh Dzaky untuk keluar. Sedangkan Dzaky tetap berada di dalam mobilnya.
Selang beberapa menit, Dzaky pun mendapatkan ide untuk meloloskan dirinya dari para pengendara sepeda motor tersebut.
Dzaky menginjak kopling dan gas secara berlahan, lalu membawa mobil tersebut mundur sehingga membuat kedua laki-laki itu melangkah mundur menjauhi mobil Dzaky.
Dzaky makin membawa mobilnya dalam keadaan mundur. Setelah berada jarak yang sedikit menjauh, Dzaky kemudian menginjak gas dengan penuh membuat mobilnya melaju dengan kecepatan tinggi sehingga membuat para pengendara motor yang menghalanginya berlari menyelamatkan diri ke pinggir jalan.
Dzaky tersenyum karena berhasil meloloskan diri dari para pengendara sepeda motor itu sembari tatapan matanya menatap kearah kaca spionnya.