
Setelah selesai berbicara dengan adiknya. Vigo pun langsung mematikan panggilannya tersebut.
"Ngomong apa sikurus itu sama kamu?" tanya Danish ketus.
"Sikurus itu punya nama," jawab Adam tak kalah ketus.
"Ya. Kakak tahu dia punya nama," balas Danish.
"Lalu kenapa masih manggil dia dengan sebutan itu? Panggil nama dong," kata Adam kesal.
"Kalau kakak nggak mau. Kamu mau apa?" Danish menatap horor Adam. Sebaliknya juga dengan Adam. Mereka saling menatap satu sama lainnya.
Anggota keluarganya yang melihatnya hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Hah! Pasti perang lagi, nih!" batin para kakak.
"Perang saudara masih berlanjut ternyata," batin Harsha dan Ardi.
"Kali ini siapa yang bakal menang," natin para Paman.
"Pasti sikelinci nakal itu yang menang," batin para Bibi.
Evan, Utari dan Yodha saling melirik satu sama lainnya. Lalu kembali menatap kearah Adam dan Danish. Tidak ada diantara mereka yang berniat untuk memisahkan.
"Apa tinjuanku saat di kamar itu kurang sakit? Apa mau lagi?" tanya Adam yang masih menatap wajah Danish.
Tidak ada jawaban dari Danish. Tapi tatapan matanya tak berpindah dari wajah tampan adiknya itu. Di dalam hatinya, Danish tersenyum bahagia bisa melihat dari dekat wajah tampan adik kesayangannya itu. Dirinya bersyukur karena Tuhan telah memberikan adik laki-laki yang sangat tampan, manis, cantik, imut dan menggemaskan untuknya.
Dikarenakan tidak mendapatkan jawaban dari sang kakak. Adam mendengus kesal. Lalu terlintas ide jahil diotaknya. Detik kemudian Adam tersenyum evil.
"Ooh, aku tahu. Apa kau ingin kita kembali menjadi musuh, hum? Kalau iya. Aku dengan senang hati menerimanya. Menjadi musuhmu lebih menyenangkan dari pada menjadi adikmu," ucap Adam sembari menaik turunkan alisnya.
Mendengar ucapan dari Adam membuat Danish melotot dan mulut yang terbuka. Lalu detik kemudian Danish menjauhkan wajahnya.
"Dasar siluman kelinci sialan," umpat Danish.
"Dasar keras kepala dan egosi," balas Adam.
"Egois kali, Dam." Harsha menyela.
"Bodo," jawab Adam cepat.
"Hah!" Harsha hanya menghela nafasnya saat mendengar jawaban dari Adam.
"Ehemm." Yodha berdehem.
Hal itu sukses membuat Adam dan Danish melihat kearah sang kakek.
"Udah selesai?" tanya Yodha.
"Apanya?" tanya Adam dan Danish bersamaan.
"Perangnya? Adu mulutnya?" jawab Yodha.
"Hehehehe." Adam maupun Danish hanya cengengesan sembari menggaruk-garuk kepala belakang mereka yang tak gatal.
Mereka semua hanya tersenyum gemas melihat tingkah Bimantara bersaudara itu. Jujur dalam hati mereka saat ini. Kebahagiaan telah menghampiri mereka semua. Kebahagiaan mereka itu adalah Adam. Adam telah kembali pada mereka semua.
Disaat mereka tengah bahagia mengingat momen-momen kebersamaan mereka, tiba-tiba salah satu pelayan datang.
"Maaf Tuan besar, Tuan, Nyonya!"
"Ada, Bi?" tanya Utari.
"Begini Nyonya Ji Woo. Di luar ada seorang wanita paruh baya. Wanita itu mengatakan bahwa dia adalah ibu dari Tuan Evan."
"Apa? Kenapa tidak disuruh masuk, Bi?" tanya Utari.
"Maafkan saya, Nyonya! Saya tidak berani. Karena ini adalah pertama kalinya saya melihatnya. Saya takut jika wanita itu orang jahat jika saya membawanya masuk." pelayan itu menunduk takut.
Baik Utari maupun anggota keluarganya yang lainnya mengerti. Memang merekalah yang menerapkan hal itu pada pelayan dan juga satpam untuk tidak memperbolehkan siapa pun masuk sebelum diberi izin oleh mereka.
"Ya, sudah! Tidak apa-apa. Bibi tidak salah. Dan apa yang Bibi lakukan sudah benar. Maafkan saya," ucap Utari.
"Sekarang Bibi kembali saja ke dapur dan buatkan minuman. Biar suami saya yang menemui tamu itu," ucap Utari.
"Baik, Nyonya."
^^^
Kini sang tamu itu sudah bersama dengan Utari, Evan dan anggota keluarga lainnya.
Dan memang benar apa yang dikatakan oleh pelayan tersebut. Tamu itu adalah ibu dari Evan yaitu Amirah Lashira Bimantara.
"Tadi ibu mengatakan ada hal penting yang ingin ibu sampaikan padaku. Apa itu, Bu?" tanya Evan.
Saat Amirah ingin berbicara. Matanya tak sengaja melihat kearah sosok yang sangat dirindukannya. Sosok yang dilihat olehnya itu adalah cucu bungsunya dari putranya Evan. Dirinya tersenyum bahagia melihat cucunya itu.
Baik Evan, Utari, Garry, Danish maupun anggota keluarga lainnya melihat kearah tatapan mata Amirah. Mereka semua tahu bahwa Amirah selama ini memendam kerinduan terhadap Adam cucunya. Bahkan selama ini, Amirah selalu menyalahkan dirinya atas apa yang menimpa cucunya itu.
"Adam cucuku," lirih Amirah.
Adam yang dipanggil, menatap tajam kearah Amirah. Sekilas ingatan-ingatan masa lalunya berputar-putar di otaknya.
FLASHBACK ON
Di sebuah gudang kumuh dimana Adam disekap. Adam diikat di salah satu kursi yang ada di gudang tersebut dengan keadaan yang masih belum sadar.
Berlahan kedua mata bulat itu terbuka. Menampakkan dua pasang Onyx yang indah. Matanya mengerjab merasa asing akan tempat ini.
"Sudah sadar pangeran manis?"
Adam menatap seorang wanita cantik yang sedang berdiri di depannya. "Wajahnya tak asing bagiku. Sepertinya aku pernah bertemu. Tapi dimana?" batin Adam yang terus menatap wajah wanita itu. Wanita itu menatapnya dengan senyuman menyeringai.
"Kita bertemu lagi, Adam! Masih ingat denganku?" tanya wanita itu.
Adam berpikir sejenak dan detik kemudian Adam pun akhirnya mengingat wanita tersebut.
"Kau! Ini dimana? Kenapa aku diikat begini? Kau mau apa?" tanya Adam.
"Lepaskan aku!" teriak Adam.
Wanita itu hanya tersenyum sinis melihat Adam. "Melepaskanmu.
Aku sudah susah payah menyuruh anak buahku menculikmu dan kau minta untuk dilepaskan. Yang benar saja, Adam!"
"Apa tujuanmu menculikku, hah?!" bentak Adam.
"Eemm. Baiklah! Akan aku beritahu apa alasanku menculikmu? Tapi sebelumnya aku akan perkenalkan diriku padamu, Adam." wanita itu berucap dengan bangganya.
"Siapa kau?"
"Aku.. aku adalah Areta Dhira Kalyani. Istri dari Evan Hara Bimantara. Ayahmu menikahiku saat setelah dia mengusir ibumu dan dirimu dari rumahnya karena ketahuan selingkuh. Bertahun-tahun aku hidup dengannya. Menjaga kedua putra-putranya. Dan sekarang kau dan ibumu kembali dan ingin merebut Evan dariku!" teriak Dhira.
"Hahaha." Adam tertawa. "Kau lucu sekali, Bi! Siapa yang merebut dan siapa yang direbut? Bibi itu hanya istri kedua ayahku. Itupun ayahku tidak mencintaimu saat menikahimu. Pernikahan kalian itu terjadi gara-gara dua wanita iblis itu. Kalau ayahku mencintaimu, tidak mungkin ayahku mencariku dan ibuku." Adam berucap dengan ketus.
"Jadi kau lah yang sudah merebut ayahku dari ibuku. Dan aku akan merebutnya kembali," kata Adam.
Plakk..
Dhira menampar keras wajah Adam. "Aku tidak akan membiarkan siapapun merebut suamiku. Termasuk kau dan ibumu! Untuk saat ini aku akan bermain-main dengan ibu kesayanganmu itu."
Setelah mengatakan hal itu, Areta Dhira Kalyani pergi meninggalkan Adam yang masih terikat.
"Jangan berani-beraninya kau menyentuh ibuku perempuan gila!" teriak Adam.
BUGH.. BUGH..
BUGH..
Dua pria itu memukul wajah dan perut Adam bertubi-tubi dengan keras.
"Aakkhh!" Adam meringis kesakitan menerima pukulan dari dua pria suruhan Dhira.
Setelah puas memukul dan menyiksa Adam. Salah satu pria tersebut menyuntikkan sesuatu ke dalam tubuh Adam dengan kasarnya, tepat di belakang tengkuk Adam.
JLEB!
"Aakkh!"
Selang beberapa menit kemudian, kesadaran Adam pun hilang. Dan dua pria tersebut pergi meninggalkan Adam yang tak sadarkan diri.
FLASHBACK OFF