
Nicolaas melihat wajah sedih ayahnya menjadi tidak tega.
"Sudahlah, Pa! Jangan terlalu dipikirkan. Allan masih bersama kita. Dan aku yakin. Kalau pun nanti ingatan Allan kembali dan memutuskan kembali pulang ke keluarga kandungnya, Allan tidak akan melupakan kita. Percayalah!" hibur Nicolaas.
"Kau benar, sayang. Selamanya Allan akan menjadi bagian keluarga kita, walaupun dia kembali pada keluarga kandungnya," sahut Levi.
Celina dan Nicolaas pun tersenyum dan mengangguk.
***
Allan sudah berada di kampusnya, tepatnya di dalam kelasnya. Dihari kedua Allan kuliah. Allan meminta pada keluarganya untuk mengizinkannya untuk membawa motor ke kampus. Pada awalnya anggota keluarganya menolak dengan alasan tidak ingin terjadi sesuatu padanya. Tapi dengan jurus andalannya, Allan berhasil mendapatkan keinginannya. Jadilah Vigo pergi sendiri dengan menggunakan mobilnya. Sedangkan Allan menggunakan motor sportnya.
Saat Allan sedang asyik dengan ponselnya. Tiba-tiba ada yang melemparkan gulungan kertas tepat mengenai wajah tampannya.
Mendapatkan lemparan kertas membuat Allan terkejut dan menatap kesal kearah Melky. Sedangkan yang ditatap hanya memperlihatkan cengirannya.
"Udah nyampe dari tadi ya?" tanya Melky yang langsung menduduki bokongnya di samping Allan.
"Baru lima menit yang lalu," jawab Allan.
"Hei, Lan. Kita ke kantin, yuk! Lapar nih!" seru Melky.
"Boleh. Yuk!"
Mereka pun memutuskan untuk ke kantin bersama.
Mereka sudah di kantin. Dan sudah duduk di salah satu meja yang kosong.
"Lo mau mesan apa, Lan?" tanya Melky.
"Aku jus pokat aja dech. Masalahnya aku dah kenyang," jawab Allan.
"Oke. Kalau gitu gue pesan dulu ya." Melky lalu pergi meninggalkan Allan sendiri.
Setelah kepergian Allan terdengar suara-suara bisik mengarah untuknya. Karena sikap acuhnya, Allan memilih mengabaikan suara-suara cuit tersebut.
"Hei, lihat pemuda manis itu. Diakan mahasiswa baru disini!" seru Efran sembari menunjuk kearah Allan yang duduk sendiri tak jauh dari mereka.
"Wajahnya itu loh!" seru Zalino.
"Wajahnya tampan, manis dan cantik. Padahal dia laki-laki. Aku aja kalah cantik ama dia," kata Reyna.
"Aish! Kenapa kalian malah membahas ketampanan dia sih?" tanya Zalino.
"Alah. Bilang aja lo irikan?" ejek Reyna.
"Oke. Aku akui pemuda itu memang tampan, cantik dan manis," Zalino menjawab perkataan dari Reyna. Dirinya memilih mengalah.
"Ngaku juga lo kan," ledek Lizzy.
"Tapi bukan itu masalahnya," sela Efran.
"Apa?" tanya Reyna dan Lizzy kompak.
"Wajah pemuda itu sangat familiar sekali," sahut Efran dan diangguki oleh Zalino. "Coba deh kalian perhatiin lagi wajahnya!" seru Efran.
Lalu mereka semua melihat wajah tampan Allan secara seksama.
"Wajahnya seperti aku kenal," kata Talia.
"Iya. Mirip seseorang," ujar Rico.
"Tapi siapa ya?" Winna mencoba berpikir.
"Dia.. diakan Adam. Sahabat satu sekolahnya Jasmine dan Ariel saat di SD dan di SMP!" seru Giska.
"Dan dia juga yang bantu kita kuliah di kampus ini," pungkas Vero.
"Jasmine pasti seneng melihat Adam!" seru Adel.
"Apalagi Ariel. Dia juga pasti senang," sela Dorish
"Itu mereka datang membawa pesanan kita." Vero berbicara sambil nunjuk kerah Jasmine dan Ariel yang berjalan kearah mereka.
"Kalian kenapa?" tanya Jasmine sembari meletakkan pesanan tersebut di atas meja lalu duduk di kursi diikuti oleh yang lainnya.
"Iya, nih. Kenapa dengan wajah kalian itu? Kenapa perlihatkan wajah jelek kalian seperti itu?" ejek Ariel.
"Jad, Ril!" Jeremi memanggil.
"Apa?" jawab Jasmine dan Ariel bersamaan.
"Gue boleh nanya gak ama lo berdua?" tanya Jeremi.
"Aish. Lo kenapa sih, Jer? Ya, bolehlah. Lo mau nanya apa ke gue dan Ariel?" sahut Jasmine.
"Apa lo pernah merindukan Adam sahabat SMP lo itu?" tanya Jasmine hati-hati.
"Adam," lirih Ariel.
"Gue sangat merindukan dia, Jer! Dia sahabat gue yang paling baik saat di SMP. Hubungan gue sama dia udah kayak saudara. Dia dan juga Ariel selalu ada untuk gue. Bahkan keluarganya dia juga dekat ama keluarga gue dan keluarga Ariel." Jasmine menjawab pertanyaan dari Jeremi dengan wajah yang sudah terlihat sedih.
"Gue juga sangat merindukannya. Gue masih berharap kalau semua ini hanya mimpi. Jadi saat gue bangun, gue masih bisa dengar teriakannya." Ariel menjawabnya.
"Jas, Ril." Giska memanggil keduanya.
"Apa?" jawab Jasmine dan Ariel bersamaan.
"Coba kalian berdua lihat kearah sana." Dorish berbicara sembari menunjuk kearah Allan.
Jasmine dan Ariel pun mengalihkan pandangan mereka melihat Allan. Tiba-tiba tanpa sadar air mata mereka mengalir membasahi wajah tampan dan cantik mereka.
"A-adam," lirih mereka.
Detik kemudian Jasmine dan Ariel beranjak dari duduknya dan berlahan berjalan menghampiri Allan yang sedang duduk sendiri.
Sekarang mereka sudah berdiri tepat di depan Allan. Berlahan Ariel melangkah mendekat kearah Allan. Sedangkan Allan langsung berdiri dari duduknya dan menghadap Ariel.
"A-adam," lirih Ariel dan langsung memeluk tubuh Allan. "Hiks.. Lo masih hidup, Dam! Gue bahagia banget bisa bertemu lo lagi." Ariel berucap saambil menangis.
Mendapatkan pelukan yang tiba-tiba dari orang yang tak dikenal membuat Allan terkejut dan juga bingung.
Berlahan Allan melepaskan pelukan pemuda yang tiba-tiba memeluknya.
"Maaf. Kamu siapa? Kenapa tiba-tiba datang memelukku dan memanggilku dengan nama Adam?" tanya Allan.
DEG!
"Lo gak kenal ama kita berdua, Dam?" tanya Jasmine. "Gue Jasmine dan yang barusan meluk lo tuh Ariel. Kita berdua sahabat lo. Awal persahabatan kita itu terjalin saat kita duduk di bangku kelas 1 SD sampai lulus SMP. Hanya SMA saja yang kita tidak satu sekolah, tapi kita masih menjalin hubungan melalui komunikasi dan media sosial." Jasmine berbicara sembari menjelaskan kepada Allan. Jasmine menangis ketika berbicara dengan Allan.
"Maaf. Kalian salah orang. Aku bukan Adam. Namaku Allan. Allan Liam Adiyaksa." Allan berucap dengan tegas.
"Hei. Kalian siapa?" tanya Melky yang datang membawa pesanan lalu meletakkan pesanan tersebut di atas meja.
Jasmine, Ariel beserta teman-temannya hanya diam. Tatapan mata mereka masih tertuju pada Allan. Lalu Melky beralih menatap Allan.
"Allan. Mereka siapa?" tanya Melky.
"Aku tidak kenal. Mereka tiba-tiba datang dan memanggilku dengan nama Adam," jawab Allan. "Mel. Aku ke kelas aja ya." Allan pun langsung pergi setelah berpamitan dengan Melky.
"Terus ini jus pokatnya bagaimana?" tanya Melky.
"Buat kamu aja!" teriak Allan dari kejauhan.
Jasmine dan Ariel sangat sedih disaat sahabat kesayangan mereka tidak mengenali mereka berdua. Tak jauh beda dengan Efran, Zalino, Reyna, Lizzy, Talia, Rico, Winna, Giska, Vero, Adel, Dorish dan Jeremi. Mereka semua juga sedih saat Adam tak mengenal mereka. Walau mereka tidak terlalu dekat dengan Adam, tapi mereka sudah nyaman berteman dengan Adam sahabat dari Jasmine dan Ariel.
"Eehheeemm." Melky berdehem dan hal itu membuat mereka semua terkejut.
"Duduklah dan ceritakan padaku. Kenapa kalian memanggil sahabatku dengan nama Adam? Namanya adalah Allan?" ucap dan tanya Melky.
"Karena dia memang sahabat kami, Dirandra Adamka Abimanyu atau Dirandra Adamka Bimantara. Abimanyu itu adalah marga Ibunya dan Bimantara adalah marga Ayahnya." Jasmine berucap.
"Buktinya dia tak mengenali kalian," sela Melky.
"Siapa saja yang dekat dengan Adam. Pasti akan mengenalinya? Walau hanya sekali lihat. Sekalipun dia tak mengenali kami," sahut Ariel.
"Pasti terjadi sesuatu padanya sampai dia tak mengenali kami," ujar Adel.
"Dia putra dari pemilik Kampus ini. Lebih tepatnya kampus ini milik Ibunya," kata Jasmine.
"Apa? Kampus ini milik Ibunya Allan," batin Melky.
"Maaf. Kalau begitu aku juga mau pamit ke kelas," ucap Melky lalu berlalu pergi meninggalkan Jasmine, Ariel dan teman-temannya.
^^^
Ardi, Harsha dan Danish beserta sahabat-sahabat mereka telah berada di halaman Kampus. Mereka terlihat sangat bahagia.
"Aku sangat merindukan Kampus. Dan ini hari pertamaku masuk kuliah lagi. Tapi..." ucapan Harsha terhenti dan air matanya lolos begitu saja dari mata indahnya.
Ardi yang menyadari adiknya yang sudah menangis segera mendekatinya. Ardi merangkul Harsha, walau hati juga ingin menangis.
"Harsha. Sudahlah. Adam sudah bahagia di sana. Kita harus kuat demi adik kita. Kalau kita bahagia, Adam pun akan bahagia di atas sana."
"Tapi aku merindukannya, kak." Harsha berucap lirih.
"Bukan kau saja yang merindukan sikelinci nakal itu, Sha! Kita semua yang ada disini juga merasakan hal yang sama sepertimu." Arka bersuara.
"Oh ya. Bagaimana kalau kita ke ruangan latihan Adam? Sekalian kita bernostalgia di sana untuk mengenangnya. Karena kan tempat itu adalah tempat persemedian sikelinci nakal itu kalau lagi galau," ujar Sakha.
Mereka tertawa mendengar penuturan Sakha. Lalu mereka pun memutuskan untuk pergi menuju ruang latihan taekwondo Adam.