
Disini saat ini Allan berada di Taman Kota. Allan memilih untuk menenangkan pikiran setelah usai bertengkar dengan Vigo. Dirinya benar-benar bingung akan sikap dan perlakuan sang kakak padanya.
FLASHBACK ON
"Ayo, kita pulang."
"Yak, kakak! Lepaskan aku. Kuliahku belum kelar. Masih ada dua kelas lagi."
"Kakak tidak peduli. Kau tetap harus pulang."
"Kakak. Lepaskan tanganku. Ini benar-benar sakit,"
Danish berhasil mencekal tangan Vigo. "Kau tidak bisa bersiap seperti itu pada Allan. Apalagi menyakitinya. Bagaimana pun, Allan berhak berada disini? Bukannya Allan sudah mengatakan padamu. Kalau dia masih ada dua kelas lagi. Kau pikir kampus ini milik Ayahmu yang bisa seenaknya datang dan pergi, hah!"
Vigo menatap tajam kearah Danish. Mereka saling menatap satu sama lain. "Bukan urusanmu. Dan jangan campuri urusanku. Ini masalahku dan adikku."
"Kita pulang!"
"Kakak, lepaskan aku. Kau ini kenapa, sih? Aku masih ada dua kelas lagi. Kau tidak bisa bersikap begini padaku!"
"Lepaskan aku, kak Vigo!"
"Aku bilang lepaskan aku, Vigo Liam Adiyaksa!"
Vigo menatap tajam Allan. "Apa yang barusan kau katakan, Allan?"
Allan terkejut saat Vigo membentaknya dengan keras. "Maafkan aku, kak Vigo."
"Bukan itu yang ingin kakak dengar. Kakak ingin dengar saat kau memanggil kakak tadi?" tanya Vigo. Allan hanya diam dan menunduk. "Jawab Allan."
"Vigo Liam Adiyaksa," jawab Allan dengan menatap wajah Vigo.
PLAKK!
"Aakkhh!" Allan meringis saat merasakan pedih di wajahnya.
Allan memejamkan kedua matanya. Saat bayangan tentang pertengkarannya dengan Vigo. Apalagi saat Vigo yang menampar wajahnya dengan sangat keras. Dan tanpa diminta air matanya pun mengalir membasahi wajah tampan nya.
"Hiks... Hiks."
"Kau menamparku, kak? Apa kesalahanku, hah?!" teriak Allan menatap tajam Vigo.
"Kenapa? Kau marah pada kakak. Apa kau ingin menampar kakak balik?" tantang Vigo.
"Kalau aku tidak memandangmu. Kalau aku tidak menganggapmu sebagai kakakku. Kalau kakak itu orang lain. Maka detik ini juga aku akan menampar balik wajahmu. Atau aku bisa melakukan hal lebih dari pada sekedar tamparan." Allan menatap tajam Vigo.
"Sebenarnya ada apa denganmu? Kenapa dengan sikapmu hari ini? Yang aku tahu, aku tidak melakukan kesalahan apapun dari mulai kemarin-kemarin sampai kita berangkat kuliah tadi pagi?"
"Kau ingin tahu kesalahanmu apa, hah? Kesalahanmu itu adalah karena kau dekat dengan mereka!"
Allan melihat arah tunjuk Vigo. Dan Allan terkejut saat itu juga. Lalu kembali menatap wajah Vigo.
"Apa? Hanya gara-gara aku dekat dengan mereka. Kau menjadi seperti ini kak. Kau berubah menjadi monster hanya kedekatanku dengan mereka!"
"Iya. Kakak akan berubah menjadi 1000 kali lebih kejam kalau kau masih dekat dengan mereka, Jungie. Hyung tidak suka kau dekat-dekat dengan mereka."
FLASHBACK OFF
Setelah mengingat kejadian beberapa menit yang lalu bersama kakaknya seketika itu juga tangis Allan pecah. Allan menangis terisak kala mengingat pertengkaran dirinya dengan kakaknya. Apalagi pertengkaran tersebut disebabkan karena kakaknya tidak suka dirinya berdekatan dengan kelompok Brainer dan kelompok Bruizer.
"Hiks... Ada apa denganmu kak Vigo? Kenapa kau bersikap seperti itu padaku? Apa salah jika aku dekat dengan orang lain? Apa salah aku memiliki banyak teman? Kau benar-benar egois kakak Vigo. Aku benar-benar sangat kecewa padamu. Kau marah padaku hanya karena kedekatanku dengan mereka."
Saat ini seluruh anggota keluarga Abimanyu berkumpul di ruang tengah, kecuali Ardi, Harsha dan Danish yang masih di Kampus.
"Ini hasil dari tes DNA dan hasil otopsi makam Adam yang kita gali," kata Bagas dan menyerahkan kepada Utari.
Berlahan Utari membuka amplop tersebut. Jantung berdegup kencang. Tangannya sedikit bergetar. Dirinya berharap hasilnya negatif. Dan dirinya berharap kalau yang dimakam itu bukanlah putra bungsunya.
Kini kertas hasil tes tersebut telah keluar dari dalam amplop. Utari pun segera membuka lipatan kertas tersebut satu demi satu. Ada tiga lipatan.
DEG!
Air mata Utari mengalir dengan derasnya saat melihat hasil tersebut. Dan detik kemudian senyuman kebahagiaan terukir di bibirnya.
"Papa!" seru Utari dan langsung berdiri dari duduknya dan kemudian berpindah duduk di samping Ayahnya.
GREP..
Utari memeluk Ayahnya dan menangis disana. "Pa! Putraku masih hidup. Putra bungsuku masih hidup. Pemuda yang Papa lihat saat itu benar-benar cucu Papa. Putraku, Dirandra Adamka Abimanyu!"
Semua yang mendengar penuturan Utari tersenyum bahagia. Mereka sangat bersyukur atas hadiah terindah yang diberikan oleh Tuhan kepada mereka. Tuhan mempertemukan mereka kembali dengan bungsu kesayangan mereka.
"Adam," batin mereka bahagia.
"Sebentar lagi, rumah ini bakal ramai lagi," ucap Alin.
"Dan sebentar lagi kita semua akan mendengar teriakannya kembali," ucap Kamila.
"Dan kita juga akan mendengar pertengkaran dan perdebatan kecil antara sikelinci vs sialien + siberuang kutub," kata Yodha menambahkan.
"Hahahaha." mereka semua tertawa.
"Maksud Kakek sialien dan siberuang kutub, apa?" tanya Garry yang memang tidak mengetahui apapun.
Yodha melihat kearah cucunya. Lalu kemudian tersenyum. "Si alien itu nama julukan yang diberikan oleh adik bungsumu untuk Harsha dan si beruang kutub julukan untuk Ardi."
Garry tersenyum sembari geleng-geleng kepala. "Aish. Dasar!"
"Adikmu itu kesal pada Ardi dan Harsha, karena mereka berdua selalu menyebutnya kelinci. Bahkan mereka berdua sampai menyebut adikmu itu siluman kelinci. Makanya adikmu memberikan julukan seperti itu untuk Harsha dan Ardi," kata Davan.
"Kalau adikmu sudah benar-benar kesal atas ulah mereka berdua. Adikmu itu akan memberikan julukan baru untuk mereka berdua." Itu Utari yang berbicara. "Sebentar lagi kau akan melihat sifat dan kelakuannya yang tidak pernah kau ketahui selama ini sayang. Dan sebentar lagi kau akan dibuat pusing oleh adikmu itu." Utari berbicara sembari tersenyum.
"Aku akan menunggu waktu itu tiba, Ma! Dan aku akan berusaha menjadi kakak yang baik untuknya. Dan akan selalu membuatnya tersenyum," sahut Ayden Garry Bimantara. Mereka yang mendengarnya ikut tersenyum.
Saat mereka tengah membayangkan hari-hari bersama dengan kelinci nakal kesayangan mereka. Salah satu dari mereka menyadari bahwa ketiga malaikat tampan keluarga Abimanyu belum kembali. Sedangkan waktu sudah menunjukkan pukul lima sore.
"Hei, Hei! Apa kalian melupakan sesuatu?" tanya Kamila.
"Apa itu, Ma? tanya Dzaky Radhitya Abimanyu.
"Ini sudah pukul lima sore. Kenapa Ardi, Harsha dan Danish belum kembali? Tidak biasanya," ucap Kamila.
"Iya, ya! Seharusnya mereka sudah kembali satu jam yang lalu," sela Utari.
"Baiklah. Aku akan menghubungi Harsha!" seru Alin.
"Jangan lupa panggilannya di Loudspeaker, Alin." Yodha berbicara.
"Baik, Pa!" Alin pun langsung menghubungi Harsha, putra bungsunya dan tak lupa meloudspeaker panggilan tersebut agar semua anggota keluarganya bisa ikut mendengarkannya.
Baik Alin mau semua anggota keluarga saat ini begitu mengkhawatirkan ketiga anaknya/keponakannya/cucunya yang belum kembali dari kampus.