
Sesampainya di Kampus. Evan langsung melangkahkan kakinya memasuki halaman kampus tersebut.
"Paman," panggil Rayab yang datang menghampirinya.
"Rayan," sapa Evan.
"Paman sudah lama menunggu?" tanya Rayan.
"Tidak. Paman baru datang. Dimana Danish?" tanya Evan.
"Danish ada di ruang latihan beladiri Adam," jawab Rayan.
"Ayo, Paman." Rayan mengajak Evan ke ruang latihan Adam.
^^^^
Di ruang latihan terlihat Danish yang sedikit tidak sabaran menunggu kedatangan Ayahnya.
"Kenapa Papa dan Rayan lama sekali? Apa Papa belum sampai?" tanya Danish ntah pada siapa.
Cakra yang melihatnya langsung menepuk pelan bahu Danish. "Tenanglah. Sebentar lagi mereka datang."
Tepat setelah Cakra mengatakan hal itu, terdengar suara pintu yang di buka.
CKLEK!
Terlihat dua laki-laki memasuki ruangan tersebut. Mereka adalah Rayan dan Evan.
"Papa," panggil Danish.
Evan langsung menghampiri putranya itu dan memeluknya.
"Akhirnya Papa datang juga!" seru Danish.
Setelah puas memeluk ayahnya. Danish kemudian melepaskan pelukannya dari ayahnya.
"Ada apa, hum?" tanya Evan.
"Aku ada hadiah untuk Papa," ucap Danish.
"Hadiah. Sepertinya Papa tidak ulang tahun hari ini," sahut Evan bingung.
"Memangnya kalau memberikan hadiah itu harus menunggu ulang tahun dulu?" tanya Danish.
"Oke, oke! Lalu mana hadiahnya." Evan berbicara sambil mengadahkan tangannya kearah putranya.
"Itu." Danish menunjuk kearah Adam yang sedang tertidur di sofa.
Evan melihat kearah yang ditunjuk oleh putra keduanya itu. Matanya menunjukkan binar kebahagiaan. Tanpa sadar air matanya mengalir begitu saja membasahi wajah tampannya.
"Dirandra Adamka Bimantara putra kesayangannya Papa," batin Evan.
Evan berlahan melangkahkan kakinya menuju putra bungsunya yang terlelap di sofa.
Kini Evan sudah berada tepat di depan wajah putranya. Tangannya bergerak mengelus rambut putra bungsunya itu. Dan tidak lupa memberikan kecupan sayang di keningnya.
"Adam berulang kali menyebut nama Papa," ucap Danish.
Danish makin menangis saat Danish mengatakan kalau putra bungsunya memanggil namanya.
"Papa," igau Adam.
Evan mengelus wajah tampan putra bungsunya. "Hei. Ini Papa, sayang. Bukalah matamu dan lihat Papa. Papa ada disini, nak!" air mata Evan terus mengalir membasahi wajahnya.
Berlahan Adam membuka kedua matanya yang indah itu. Dan dapat dilihat orang yang sangat dirindukan dan juga sangat dibenci berada di depannya.
"Pa-pa.. eemm.. Pa-man." Adam berucap terbata.
Evan yang mendengar panggilan dari putra bungsunya hanya tersenyum geli. "Tidak apa? Kau tidak perlu memaksakan diri untuk memanggil Papa. Papa akan selalu menunggumu. Sampai kau siap untuk mau memanggil Papa."
Tidak jauh beda dengan yang lainnya. Mereka juga tersenyum geli melihat Adam yang berusaha mempertahankan gengsinya untuk memanggil ayahnya.
Adam berusaha untuk duduk. Saat melihat Adam ingin duduk, Evan membantunya.
"Adam," panggil Evan.
"Eeemm," jawab Adam.
"Apa kau membenci Papa?" tanya Evan.
"Awalnya, iya! Aku sangat membencimu. Tapi..." ucapan Adam terhenti.
"Tapi saat aku mengetahui kebenaran ceritanya. Aku sudah tidak membencimu lagi," jawab Adam tanpa melihat wajah ayahnya.
Evan tersenyum bahagia mendengar ucapan Adam. Begitu juga dengan yang lainnya.
"Jadi kau sudah memaafkan Papa, sayang?" tanya Evan lagi.
"Iya. Aku sudah memaafkan Papa. Sejak aku mengetahui musuhku itu ternyata kakak kandungku," jawab Adam yang pandangannya melihat kearah Danish. "Aku mengetahuinya saat Papa dan putra kesayangan Papa itu bertemu dengan Mamaku di kampus. Bahkan Mamaku dengan bangga memeluk putra kesayanganmu itu," ejek Adam.
Mereka semua terkejut mendengar ucapan Adam. Terutama Evan dan Danish.
Detik kemudian mereka tertawa mendengar ucapan Adam.
"Hahahahaha."
"Jadi ceritanya kau cemburu, Dam! Kau cemburu melihat Mama kesayanganmu memeluk musuhmu, hum!" goda Sakha.
Adam mempoutkan bibirnya dan menatap horor pada Sakha.
"Jangan tatap kakak seperti itu Dirandra Adamka Abimanyu. Eeh, maksud kakak adalah Bimantara. Dirandra Adamka Bimantara. Kakak tidak takut dengan wajahmu itu. Malah justru wajahmu itu sangat tampan, cantik, imut dan menggemaskan." Sakha masih menngoda Adam.
"Adam," panggil Danish.
Adam mengalihkan pandangannya kearah Danish.
"Ada apa?" tanya Adam.
"Jadi kau..." ucapan Danish terhenti.
"Iya! Aku tahu dan aku hanya berpura-pura tidak mengetahuinya. Tujuanku agar kalian semua mau mengaku padaku dan menceritakan semuanya padaku. Tapi nyatanya tidak. Kalian masih saja merahasiakan semuanya dariku. Baik Mama, Papa maupun kau Danish. Kalian lagi-lagi membohongiku. Dan tidak ada niat untuk mengatakan kebenarannya. Kalian semua pengecut. Dan saat di rumah sakit dua hari yang lalu, akhirnya Kakek lah yang mengungkapkan semuannya. Kalau kalian adalah keluargaku, Papa dan kakak kandungku. Sedangkan Mama. Dia hanya bisa diam dan menangis. Padahal saat itu yang aku butuh kejujuran dari Mama bukan tangisannya," tutur Adam.
"Makanya saat keluar dari rumah sakit aku tidak mau pulang ke rumah dan memilih tinggal sendiri di Apartement Kakek, karena aku kecewa dengan kalian semua." Adam berucap dengan penuh penekanan. Dan tanpa sadar Adam meneteskan air matanya.
Evan yang melihat putra bungsunya menangis menjadi tidak tega, lalu Evan menarik tubuh Adam ke dalam pelukannya.
"Maafkan Papa.. Maafkan Papa."
"Papa menyayangimu. Sangat menyayangimu. Papa berjanji akan menggantikan semua kesedihanmu selama ini. Papa akan membuatmu bahagia."
"Hiks.. aku merindukan Papa. Aku sangat merindukan Papa... hiks." Adam berucap sembari terisak.
Evan makin mengeratkan pelukannya pada putra bungsunya seakan-akan tidak mau melepaskannya.
"Ehem. Apa hanya Papa saja yang kau rindukan, hum? Apa kau tidak merindukan musuhmu ini," ujar Danish yang pura-pura marah pada adiknya.
Evan dan Adam melepaskan pelukan mereka dan menatap Danish.
"Aku juga merindukanmu," jawab Adam.
Terukir senyuman di bibir Danish saat mendengar ucapan Adam.
"Benarkah, Adam?"
"Eemm! Tapi aku merindukanmu bukan karena kau kakakku. Tapi aku merindukanmu saat kau menjadi musuh bebuyutanku," jawab Adam.
Danish membelalakkan kedua matanya mendengar ucapan dari adiknya itu.
"Kau..." ucap Danish dan langsung menghampiri Adam dengan wajah yang dibuat-buat sangar. "Kau ingin kita bermusuhan lagi. Oke! Sekarang rasakan ini," ucap Danish dan langsung menyerang Adam dengan menggelitik perutnya.
"Hahahaha. Kakak, hentikan. Ini geli. Hahahaha."
Danish tidak mengindahkan permintaan Adam. Danish terus menggelitik perut Adam.
"Hahahaha. Kakak, hentikan. Aku sudah tidak kuat," ucap Adam.
"Sudah, sudah! Danish hentikan. Kasihan Adam." Evan meminta Danish untuk berhenti menggelitiki Adam. Dirinya tidak tega melihat sibungsu yang kelelahan digelitiki oleh Danish. Dan Danish pun menghentikan kegiatannya menggelitik adiknya.
Adam terengah-engah akibat digelitik oleh Danish. Adam kemudian menyandarkan tubuhnya di sofa dengan memejamkan matanya sejenak.
Sedangkan Danish duduk di samping adiknya dan terus memperhatikan wajah tampan adiknya. Dan tangannya mengelus rambut adiknya.
"Kakak menyayangimu, Dan. Sama seperti janji Papa. Kakak akan menggantikan kesedihanmu selama ini menjadi kebahagiaan. Kakak dan kak Garry akan menjagamu mulai sekarang. Kita bertiga tidak akan terpisahkan."
"Hei, hei! Enak saja kalau ngomong ya. Lalu kami ini dikemanakan. Kami berdua juga kakak-kakaknya Adam. Kami juga punya hak atas Adam," protes Harsha tidak terima atas ucapan Danish.
Semua menatap Harsha, terutama Evan dan Danish. Detik kemudian mereka semua tertawa.
"Hahahaha."