
Geng Bruizer sudah berada di Kampus. Mereka saat ini telah berkumpul di markas. Mereka kini tengah membahas masalah pengeroyokan yang dialami oleh Prana dan Rayan.
"Jadi benar yang menyuruh preman-preman itu untuk mengeroyok kalian berdua adalah geng Brainer?" tanya Arya.
"Seperti itulah pengakuan mereka," jawab Prana.
"Brengsek! Beraninya mereka main keroyokan," ucap Danish dengan penuh emosi.
"Mereka terang-terangan melawan kita. Berarti mereka benar-benar sudah siap untuk berperang dengan kita. Tunggu apa lagi. Ayo, kita balas perbuatan mereka." Indra yang sudah tidak bisa menahan emosinya.
"Ya! Kalian benar. Mari kita serang mereka sekarang," sahut Danish dan disetujui oleh yang lain. Mereka pun pergi meninggalkan markas.
^^^
Disisi lain dimana Arka, Kenzie, Sakha dan Gala sedang menunggu ketiga sahabat mereka. Siapa lagi kalau bukan Abimanyu bersaudara. Mereka berada di halaman utama Kampus.
"Tumben sekali ketiga Abimanyu bersaudara itu belum datang. Biasanya mereka tepat waktu?" tanya Gala.
"Siapa tahu mereka kejebak macet," kata Kenzie.
"Atau bisa jadi mereka berniat membolos jam pertama mata kuliah!" seru Sakha.
"Ataauuu..." ucapan Arka terhenti.
"Atau apa kak Arka?" tanya Gala penasaran.
"Ardi dan Harsha sedang merengek dan memohon pada kelinci mereka agar mau pergi bersama mereka ke Kampus," jawab Arka.
"Hahaha." Mereka tertawa.
"Bagaimana ya reaksi wajah Kak Ardi dan Harsha saat mereka memohon pada sikelinci nakal itu?" tanya Kenzie.
Seketika mereka membayangi wajah lucu Ardi dan Harsha saat memohon pada Adam. Dan tiba-tiba mereka pun tertawa kembali.
"Hahahahaha."
"Wah! Lagi bahagia kayaknya, nih?" ucap Harsha yang tiba-tiba langsung menyambar. Dan hal itu berhasil membuat mereka terkejut.
"Yak! Ardi, Harsha, Adam. kapan kalian datang? Bikin kaget kami saja," protes Arka.
"Salah sendiri," jawab Ardi.
"Aku mau ke kelas. Males lama-lama disini," ucap Adam.
Adam langsung melangkahkan kakinya menuju kelas. Mau tidak mau mereka pun mengikuti Adam dari belakang.
"Sha. Kenapa lagi dengan sianak kelinci itu?" tanya Gala.
"Dia masih marah denganku dan kak Ardi," jawab Harsha.
"Kau yang sabar ya." Gala berucap sambil merangkul bahu Harsha.
"Ternyata kalian disini. Kebetulan kami sedang mencari kalian!" Danish sinis.
"Mau apa kalian mencari kami? Kami tidak punya waktu untuk melayani kalian. Minggir!" bentak Ardi.
Geng Bruizer tetap menjegat jalannya geng Brainer. Mereka tidak membiarkan geng Brainer untuk pergi.
"Mau apalagi kalian?" tanya Arka.
"Kami ingin membalas perlakuan kalian kemarin," ucap Arya.
"Apa maksudmu, Arya? Memangnya kami melakukan apa?" tanya Sakha.
"Jangan pura-pura bodoh kalian. Kalian sudah membayar orang untuk menghajar dua temanku Prana dan Rayan. Bahkan orang itu sudah mengakuinya!" bentak Danish.
"Dasar pecundang," ejek Prana.
"Hahaha. Apa tidak salah, hah? Yang pecundang itu kalian. Kalian sadar tidak. Selama ini kalian selalu main curang, selalu main keroyokan. Disaat giliran dua dari kalian yang dikeroyok, kalian malah menuduh kami yang melakukannya!" bentak Ardi.
"Lalu apa yang sudah kalian lakukan saat Adam di rawat di rumah sakit, hah? Ada orang yang masuk ke ruang rawat Adam, lalu orang itu ingin mencelakakan Adam. Dan orang itu mengatakan pada kami kalau dia disuruh oleh kalian." Arka berbicara dengan membalikkan tuduhan kepada geng Bruizer.
"Apa? Jangan sembarangan bicara kau, Arka. Kami tidak pernah menyuruh orang untuk datang ke rumah sakit!" bentak Cakra.
"Kalau begitu kami juga tidak pernah menyuruh orang untuk mengeroyok dua temanmu itu," sahut Kenzie.
"Bahkan orang yang ingin mencelakakan Adam di rumah sakit, sekarang berada di kantor polisi. Dan bisa jadi dengan pengakuan dari orang itu, kalian semua bisa terseret," ucap Harsha dengan senyum sinisnya.
"Sial," batin Danish.
"Kenapa kau diam, Danish? Apa kau sudah kehabisan kata-kata, hah?" ejek Adam.
"Diam kau!" bentak Danish.
"Waw, Santai. Jangan marah-marah. Tidak baik anak muda sepertimu marah-marah. Bisa cepat tua nantinya. Apa kau mau?" ejek Adam lagi.
Sontak membuat kakak-kakaknya Adam tertawa.
"Hahahaha."
"Brengsek kalian semua!" emosi Danish sudah diubun-ubun.
"Tunggu apa lagi."
"SERANG!" teriak Danish.
Dan terjadilah perkelahian dua geng tersebut di halaman utama Kampus. Sedangkan para mahasiswa dan mahasiswi yang berada disana, semuanya berlarian menyelamatkan diri. Mereka tidak mau sampai menjadi korban perkelahian dua geng tersebut.
Gala melawan Indra, Harsha melawan Rayan, Ardi melawan Arya, Arka melawan Cakra, Kenzie melawan Prana, Sakha melawan Kavi.
BUGH!
DUAGH!
Pukulan demi pukulan, tendangan demi tendangan. Itulah yang terjadi di halaman Kampus. Tidak ada satupun yang berani melerai perkelahian tersebut termasuk para Dosen dan Dekan dan Rektor.
Dalam perkelahian tersebut Adam dan Danish saling memberikan tatapan mengerikan. Hanya mereka berdua yang belum melakukan perkelahian. Mereka masih berdiri di posisi masing-masing dan saling memberikan tatapan tajam mereka.
Harsha tersungkur saat mendapat tendangan di perutnya. Tapi dia berusaha sekuat tenaga untuk bangkit, lalu menyerang balik dengan sisa tenaga.
BUGH!
DUAGH!
Dengan tendangan yang terakhir dari Harsha berhasil melumpuhkan Rayan. Rayan tersungkur. Mereka berdua sama terluka dan kehabisan tenaga.
Gala mendapatkan pukulan bertubi-tubi dari Indra. Tidak jauh beda dengan Kenzie. Gala dan Kenzie bangkit dan kembali menyerang Indra dan Prana.
BUGH!
DUAGH!
Ardi memberikan pukulannya tepat di wajah Arya serta tendangannya.
BUGH!
DUAGH!
Arya jatuh tersungkur. Tapi dirinya masih bisa berdiri. Dan Arya pun membalas dengan memberikan pukulan bertubi-tubi pada Ardi.
BUGH!
DUAGH!
Ardi terjatuh dan dirinya berhasil untuk bangkit. Arri menatap tajam kearah Arya, lalu matanya beralih pada kakinya Arya. Ardi mendapat satu kelemahan dalam diri Arya. Setiap bertarung, Arya selalu menggunakan kaki kirinya. Jadi Ardi berusaha untuk mematikan kelemahannya itu. Arya kembali memberikan pukulannya pada Ardi, tapi Ardi menghindari setiap pukulan dari Arya. Dan saat Arya ingin memberikan tendangan pada Ardi. Ardi mengelak. Dan saat itulah Ardi kembali memberi tendangan tepat di kaki kirinya Arya.
BUGH!
KREEKKK!
"Aaakkkhhh!!" teriak Arya saat kakinya ditendang dengan kuat oleh Ardi dan Arya pun jatuh.
Arka dan Cakra sama-sama lelah. Begitu pula Sakha dan Kavi. Mereka sama-sama terluka. Tapi mereka terus bertarung. Arka dan Sakha bangkit, lalu memberikan pukulan dan tendangan mereka
BUGH!
DUAGH!
Akhirnya Arka dan Sakha berhasil mengalahkan Cakra dan Kavi. Mereka tersungkur dan terkapar tidak berdaya. Arka dan Sakha menjatuhkan tubuh mereka karena lelah dan rasa sakit yang mereka rasakan.
Sekarang tersisa Adam dan Danish. Mereka terus memberikan tatapan tajam mereka tanpa memperdulikan orang di sekitarnya. Adam maupun Danish sama-sama berada dipuncak emosi. Mereka mengepalkan tangan dan siap untuk bertarung.
Danish terlebih dahulu menyerang Adam dengan memberikan pukulan pada Adam. Adam dengan lihainya berhasil menghindar dan balik memberikan pukulan pada perut Danish.
BUGH!
Danish meringis kesakitan. Danish tidak tinggal diam. Dan kembali memberikan pukulannya. Lagi-lagi Adam berhasil menghindar dan lagi-lagi Adam memberikan pukulannya dan kini tepat di wajah Danish.
BUGH!
Adam kembali merasakan sakit. Adam memberikan pukulan pada wajah Adam dan kali ini ia berhasil.
BUGH!
DUAGH!
Adam terjatuh dan memuntahkan darah segar dari mulutnya.
BRUKK!
"Uuhhuukk."
"Adam!" teriak Ardi dan Harsha.
Bagaimana tidak? Adam baru pulih dari sakitnya. Bahkan luka tusuk di perutnya itu belum benar-benar sembuh dan sekarang malah mendapatkan tendangan keras dari Danish. Tapi, bukan Adam namanya kalau dirinya menyerah begitu saja.
Adam kembali bangkit dan menyeka darah yang ada di bibirnya. Danish kembali menyerang Adam dan Adam berhasil menangkis tangan Danish, lalu memberikan tendangan tepat di pinggang kirinya.
DUAGH!
Dan membuat Danish meringis kesakitan. Adam kembali memberikan pukulannya pada wajah dan perut Danish.
BUGH!
Dan terakhir Adam memberikan tendangannya pada Danish.
DUAGH!
Adam jatuh tersungkur dengan darah yang mengalir dari mulutnya.
Suasan menjadi sangat menyeramkan. Dimana kedua mahasiswa ini akan saling membunuh satu sama lain. Para mahasiswa dan mahasiswi serta Rektor, Dosen dan Dekan yang menyaksikannya hanya menatap mereka dengan tatapan sedih. Mereka tidak ada keberanian untuk menghentikan perkelahian tersebut.
Danish berusaha bangkit. Dia tidak mau kalah dengan cara seperti ini. Kini Danish sudah berdiri dengan gagahnya. Kini posisi mereka sama-sama kuat, sama-sama terluka parah, sama-sama lelah. Mereka kembali memberikan tatapan mengerikan. Tatapan saling membunuh, lalu tiba-tiba cuaca yang tadinya panas berubah mendung. Dan berubah menjadi gelap seakan-akan mau turun hujan. Cuaca yang tadinya baik-baik saja berubah menjadi mengerikan. Tiba-tiba angin berhembus sangat kencang.
"Kau harus mati, Adam." Danish berbicara di dalam hatinya.
"Kau harus mati, Danish." Adam berbicara di dalam hatinya.
Adam dan Danish menyerang secara bersamaan seperti orang kesetanan. Dan saat mereka berdua ingin memberikan pukulan masing-masing dan hampir mengenai wajah mereka berdua, ada suara teriakan yang terngiang di pikiran mereka.
"Hentikan!" Reflek secara bersamaan Adam maupun Danish menurunkan tangan mereka.
"Ada apa ini? Kenapa tanganku berat untuk memukulnya,"
Baik Adam maupun Danish sama-sama bergulat di dalam hati. Bukan mereka saja. Bahkan para sahabatnya dan para kakaknya juga menatap bingung Adam dan Danish.
Setelah beberapa menit terhenti, mereka kembali melanjutkan perkelahian mereka yang sempat terhenti. Dan saat mereka kembali memberikan pukulan, terdengar suara petir menggelegar.
JDEEEEERRR!
Mereka kembali berhenti. Dan tatapan mereka kali ini memandangi langit yang gelap serta satu tetes air hujan telah jatuh membasahi wajah mereka berdua bahkan wajah-wajah orang yang ada di halaman Kampus tersebut. Dan akhirnya hujan pun turun dengan derasnya. Mereka kembali saling menatap satu sama lain.
"Kita selesaikan hari ini juga, Adam." Danish berucap sinis.
"Dengan senang hati. Aku siap melayanimu, Danish." Adam menjawabnya dengan menatap tak kalah sinis kearah Danish.
Mereka kembali melanjutkan perkelahian mereka. Kali ini mereka bisa pastikan tidak ada gangguan lagi. Adam maupun Danish sudah mengepalkan tangan mereka dengan sangat kuat dan bersiap untuk menyerang. Akhirnya mereka pun melakukannya.
"Matilah kau, Adam!" teriak Danish.
"Kau yang harus mati ditanganku, Danish!" Adam menjawab perkataan Danish.
"Aaaaaaa!" teriakan mereka bersamaan dan langsung memberikan pukulan secara bersamaan dan...
JDEEERRRR!
Suara petir menggelegar tepat disaat Adam dan Danish saling memberikan pukulan dan mengakibatkan tubuh mereka berdua terlempar ke belakang.
GEDEBUUG!
BUGH!
BRUUKK!
Tubuh Adam dan Danish menghantam keras dinding yang tebal dan kuat. Dan berakhir keduanya tidak sadarkan diri.
"Adam!"
"Danish!"
Teriakan terdengar dari kelompok mereka masing-masing. Mereka berlari menghampiri keduanya dengan wajah panik.