THE FRATERNITY

THE FRATERNITY
Mendatangi Kediaman Dhira



Utari menatap suaminya dengan tatapan terlukanya.


"Kau memang tidak pernah berubah Evan. Kepercayaanmu padaku memang tidak pernah ada. Dulu kau tidak percaya padaku. Bahkan kau lebih percaya dengan ibumu dan kakak perempuanmu sampai kau tega mengusirku dan putraku dari rumah mewahmu, karena mereka beranggapan seorang perempuan miskin tidak pantas bersanding dengan orang kaya sepertimu. Keluargamu hanya memandangku dari penampilannya saja. Tapi keluargamu tidak tahu kalau aku berasal dari keluarga yang kaya juga. Sama sepertimu. Kalau aku mau, saat itu juga aku bisa memperlihatkan seluruh kekayaan keluargaku pada ibumu dan kakakmu. Biar mereka tahu siapa yang paling kaya. Tapi aku tidak melakukannya. Aku masih menghormati mereka. Dan sekarang kau melakukannya lagi." Utari berucap dengam penuh amarah dan kekecewaan.


"Kapan kau akan percaya padaku, Van?" tanya Utari yang sudah menangis di hadapan suaminya. "Aku kecewa padamu. Aku benar-benar kecewa. Jika terjadi sesuatu pada putra bungsuku. Jika istri kesayanganmu itu sampai nekat menyakiti putraku dan kalau sampai aku tidak bisa bertemu dengan putraku lagi. Aku bersumpah tidak akan pernah memaafkanmu. Aku akan membencimu seumur hidupku. Dan aku tidak akan mau bertemu denganmu lagi, apapun alasannya." Utari menatap tajam wajah suaminya.


Setelah mengatakan hal itu pada suaminya, Utari pergi masuk ke kamar yang biasa di tempati oleh putra bungsunya.


"Aku kecewa dengan Papa. Mama dengan tulus mau memaafkan kesalahan Papa dimasa lalu. Tapi sekarang Papa mengulanginya lagi. Lagi-lagi Papa tidak mempercayai Mama. Sama hal seperti Mama. Aku juga tidak akan memaafkan Papa kalau sampai terjadi sesuatu pada adikku." Garry menatap kecewa ayahnya.


Setelah itu, Garry pergi meninggalkan ayahnya menyusul ibunya.


Evan hanya diam membeku. Danish yang sedari tadi memperhatikan ayahnya menjadi tidak tega.


"Pa," panggil Danish.


Evan melihat kearah Danish dengan tatapan bersalah.


"Maafkan Papa, Danish! Papa tidak bermaksud untuk tidak percaya dengan mamamu. Kau tahu papakan. Papa tidak mau menuduh tanpa bukti. Papa akui papa salah pada mamamu."


"Aku mengerti, Pa! Papa sedang bingung diposisi Papa saat ini. Dua-dua adalah istri Papa. Tapi seharusnya Papa terima dulu pernyataan Mama yang mengatakan bahwa Mama Dhira yang menculik Adam. Paling enggak Papa menghargai Mama dan percaya dengan Mama. Dan setelah itu dengan cara Papa sendiri, Papa bisa menyelidiki kebenarannya." Danish berusaha untuk meyakinkan Ayahnya.


"Lalu apa alasanmu menuduh mama Dhira yang menculik Adam, adikmu?" tanya Evan lembut.


"Aku memiliki bukti. Tapi bukan bukti penculikan Adam. Bukti yang aku punya adalah bukti yang terkait dengan Mama Dhira. Dari bukti itulah aku yakin Mama Dhira yang menculik Adam." Danish menjawab pertanyaan ayahnya.


"Ini buktinya, pa." Danish memperlihatkan video yang ada ponselnya pada ayahnya.


Evan menerima ponsel Danish dan melihat video tersebut. Evan benar-benar kaget dan shok melihat video tersebut.


"Papa udah lihatkan?" tanya Danish. "Makanya kenapa aku sangat yakin kalau Mama Dhira yang menculik Adam? Karena mama Dhira tidak mau dan tidak rela Mama dan Adam kembali bersatu dengan kita."


"Kenapa kau melakukan ini, Dhira?" batin Evan.


"Kalau pun Papa kembali dengan mamamu. Papa juga tidak akan meninggalkan Il Hwa. Bagaimana pun Il Hwa sudah berjasa menjaga dan merawatmu dan kakakmy dari kecil? Mereka berdua sama-sama berstatus istri Papa. Papa tidak akan menyakiti mereka berdua. Tapi kali ini Papa benar-benar kecewa dengan Dhira dan Papa tidak akan memaafkannya. Dia sudah bertindak jauh." Dhira beeucap dengan wajah yang tampak marah.


Setelah itu, Evan pergi menemui Utari istrinya yang berada di dalam kamar Adam.


^^^


Kini Evan sudah berdiri di depan pintu kamar Adam.


TOK!


TOK!


CKLEK!


Pintu di buka oleh Evan. Dapat dilihat oleh Evan, Utari yang sedang menangis di pelukan putra sulungnya. Kakinya melangkah mendekati keduanya.


"Garry. Bisa tinggalkan Papa Dan Mamamu berdua," pinta Evan.


"Baiklah," jawab Garry lalu pergi keluar dari kamar dan meninggalkan kedua orang tuanya.


BLAM!


Terdengar pintu yang ditutup oleh Garry.


"Aku tidak marah padamu. Aku hanya kecewa dengan sikapmu. Kau tidak pernah sedikitpun percaya denganku," sahut Utari.


"Sekali lagi maafkan aku. Aku percaya padamu. Dan aku akan percaya setiap yang kau katakan." Evan mengucapkan janjinya dengan tulus.  "Sekarang katakan padaku. Apa yang diinginkan Dhira saat dia meneleponmu?" tanya Evan.


"Dia ingin aku menjauh darimu. Kalau tidak dia akan menyakiti Adam. Aku juga mendengar suara Adam dan suara pukulan saat aku berbicara dengannya di telepon. Dia sedang menyiksa Adam." Utari menangis ketika menceritakan apa yang dikatakan oleh Dhira padanya dan juga suara putra bungsunya.


"Brengsek, kau Dhira! Berani sekali kau menyakiti putraku. Kalau sampai putraku kenapa-kenapa, aku sendiri yang akan membunuhmu. Aku tidak peduli harus masuk penjara karena telah membunuhmu," batin Evan marah.


***


Di ruang tengah Apartemen. Danish, Garry, Ardi dan Harsha beserta teman-temannya sedang memikirkan rencana untuk mencari tahu dimana keberadaan Adam. Lebih tepatnya dimana Dhira menyekap Adam.


"Kita bagi tugas. Disini kita sudah ada tiga kelompok. Kelompok Danish, kelompok Ardi atau Harsha dan kelompok kakak sendiri. Tugas pertama kita, cari tahu dimana keberadaan Mama Dhira sekarang. Kakak juga akan menghubungi teman-teman kakak." Garry berucap.


"Baik," jawab mereka bersamaan.


"Aku akan menghubungi kelompok VAGOS!" seru Harsha.


"Aku akan menghubungi kelompok LILAX!" kata Prana menambahkan.


"Bagus. Lebih banyak kelompok kita, lebih memudahkan pencarian keberadaan perempuan itu," ucap Garry tanpa embel-embel Mama.


"Lebih baik kita bergerak sekarang. Lebih cepat lebih baik!" seru Cakra.


Semuanya mengangguk.


"Adam. Tunggu kakak," batin Danish.


"Adam. Kami berharap kau bertahan di sana. Jangan pernah menyerah sedikit pun. Kami sangat yakin kau pemuda yang sangat kuat," batin para kakak-kakaknya.


***


Garry beserta kelompoknya sedang melacak keberadaan Dhira, ibu tirinya. Garry sangat tahu dan hafal dimana saja tempat-tempat yang sering dikunjungi oleh ibu tirinya itu. Dan Garry juga mengetahui satu tempat yang diyakini adalah rumah mewah milik Dhira.


Garry dan ketiga temannya sudah sampai di kediaman milik Dhira. The Hill House yang terletak di Cendrawasih Nomor 28. Mereka pun memasuki rumah mewah tersebut.


"Geledah semua ruangan. Jangan sampai ada yang terlewat!" seru Garry.


"Baik," jawab ketiganya kompak.


Mereka pun menyelusuri setiap ruangan yang ada di rumah tersebut.


"Mama Dhira keluar kau!" teriak Garry emosi. Tapi yang diteriaki tak kunjung menampakkan diri.


Mereka sudah memeriksa semua ruangan yang ada di rumah tersebut. Tapi hasil tetap nihil rumah tersebut kosong tidak penghuni.


"Aarrgghh!" Garry berteriak penuh amarah.


DUUAAGGHH!


Garry menendang pintu dengan kerasnya sehingga membuat pintu tersebut terbuka dan menampakkan sebuah ruangan. Garry memasuki ruangan tersebut.


DEG!