THE FRATERNITY

THE FRATERNITY
S3. Janji Garry Dan Danish



[Perusahaan PLV]


Alex saat ini berada di ruang kerjanya. Dia tampak sibuk dengan pekerjaannya dan tatapan matanya fokus menatap layar laptopnya.


Alex tengah mengecek beberapa email yang masuk ke email miliknya. Kiriman email itu berisi bocoran tentang kerja sama perusahaan miliknya dengan empat perusahaan yang ada di kota Yogyakarta.


Dari sekian berkas kerja sama yang dibaca oleh Alex. Satu berkas yang membuat tatapan mata Alex tak berkedip. Dia membaca berulang kali isi dari berkas tersebut.


Setelah Alex puas membaca ulang isi berkas itu. Alex memutuskan untuk mengeprint isi dari berkas itu.


"Eemm... Ingin bermain curang dengan perusahaanku. Tidak akan bisa. Tidak semudah itu kau mengecohku. Aku ini orang yang jeli dan teliti saat menerima berkas," ucap Alex dengan seringainya.


Selesai mengeprint isi berkas itu, Alex langsung menyimpannya di dalam sebuah map yang ada di laci meja kerjanya.


"Aku akan rundingkan dengan Zaina, kak Bagas, kak Davan dan Evan masalah ini. Mereka berhak tahu."


Setelah menyelesaikan masalah berkas kerja sama itu, Alex kembali melanjutkan pekerjaan yang lainnya. Masih banyak pekerjaannya yang belum selesai.


***


Danish sudah berada di rumah. Begitu juga dengan Ardi dan Harsha yang juga sudah berada di kediaman Abimanyu.


Danish saat ini tengah duduk di sofa ruang tengah dengan memikirkan masalah di kampusnya.


Ketika Danish sedang memikirkan masalah di kampus yang membawa adik-adiknya. Tanpa Danish ketahui bahwa kedua orang tuanya dan kakak laki-lakinya datang menghampirinya. Mereka telah duduk di sofa dengan tatapan matanya menatap wajah Danish.


Puk..


Utari memukul pelan bahu putra keduanya itu sehingga membuat putranya itu terkejut.


Mendapatkan pelukan dari ibunya membuat Danish langsung melihat kearah ibunya. Seketika Danish tersenyum ketika melihat ibunya tersenyum padanya.


"Ada apa, hum?"


"Aku lagi mikirin sesuatu."


"Mikirin apa? Oh, Mama tahu! Kamu sudah punya kekasih? Cantik nggak? Apa dia juga mencintai kamu? Siapa namanya? Dimana dia tinggal?"


"Hah!" Danish seketika menghela nafas pasrahnya ketika mendengar pertanyaan beruntun dari ibunya. Dirinya tidak menyangka ibunya akan bertanya seperti itu.


Sementara Evan dan Garry tersenyum melihat wajah pasrah putranya/adiknya akan pertanyaan dari istrinya/ibunya.


"Pertanyaan Mama itu nggak ada yang benar satu pun. Jadi aku tidak perlu menjawabnya," ucap Danish.


"Hahahahaha!" seketika Evan dan Garry tertawa keras ketika mendengar jawaban dari Danish.


Sedangkan Utari seketika cemberut karena dirinya gagal mengetahui nama dari calon menantunya itu.


"Nggak usah cemberut gitu wajah Mama. Nanti juga aku maupun putra-putra Mama yang lain bakal bawa menantu ke rumah ini," sahut Danish.


"Tapi Mama maunya sekarang. Mama ingin lihat kamu, kakak kamu dan adik kamu yang keras kepala itu memiliki kekasih."


"Aku masih lama, Ma! Aku ingin fokus dulu sama pekerjaan aku. Dan paling utama adalah aku ingin membahagiakan Adam. Aku ingin melakukan tugas aku sebagai kakak untuk Adam. Mulai dari dia pandai berjalan sampai dia tumbuh dewasa. Aku ingin menggantikan semua itu  dengan adanya aku di sampingnya."


Danish tersenyum ketika mengatakan itu sembari membayangkan dimana dia sedang menemani adiknya belajar.


Melihat senyuman tulus dari Danish membuat Utari, Evan dan Garry ikut tersenyum. Bahkan mereka mengerti arti dari senyuman Danish tersebut.


"Walau aku tidak bisa selama 24 jam bersama Adam. Aku akan berusaha selalu ada untuk Adam ketika kita berada di kampus dan juga di rumah."


Danish melihat kearah ibunya. "Jika aku punya kekasih. Otomotif perhatianku dan kasih sayangku akan terbagi. Yah, kalau kekasihku itu orangnya pengertian? Kalau tidak, bagaimana? Aku nggak mau ada yang tersakiti. Terlebih Adam."


Utari tersenyum sembari tangannya mengusap-usap lembut pipi putih putranya itu.


"Aku sayang sama Adam, Ma! Dia adikku satu-satunya. Kami terpisah cukup lama. Dari Adam masih bayi. Itu pun Adam baru lahir ke dunia ini. Dan kami dipertemukan kembali ketika kami sudah dewasa dan sama-sama kuliah. Sedangkan kakak Garry sudah bekerja. Aku ingin merasakan bagaimana menjadi seorang kakak yang menjaga dan melindungi adiknya. Aku ingin merasakan seorang adik yang bermanja-manja dengan kakaknya."


Grep..


Utari menarik tubuh putranya dan membawanya ke dalam pelukannya. Hatinya benar-benar bahagia ketika mendengar ucapan demi ucapan dari putra keduanya.


"Maafkan Mama jika Mama masih kurang memberikan kasih sayang padamu dan kakak kamu."


"Mama tidak salah. Begitu juga dengan Papa. Jika ingin diungkit-ungkit masalah itu. Yang salah itu adalah nenek dan Bibi Zaina. Tapi semua itu sudah berlalu. Kita sudah bersama lagi. Aku akan berusaha menjadi putra dan kakak yang baik untuk Mama dan Adam."


"Mama juga akan berusaha menjadi ibu yang baik untuk kamu dan kakak kamu."


"Adikku jangan dilupakan. Nanti aku juga yang sudah."


Utari tersenyum. "Mana bisa Mama melupakan adikmu itu. Yang ada Mama yang seperti orang gila kalau adikmu tidak ada di samping Mama. Wajahnya, sifatnya, kelakuannya, teriakannya dan manjanya itu buat Mama kangen.


Setelah puas memeluk tubuh putra keduanya. Utari pun melepaskan pelukannya. Matanya menatap wajah tampan putra keduanya, lalu beralih menatap wajah putra sulungnya.


"Mama sayang kamu, Mama sayang kakak Garry dan Mama sayang Adam. Kalian adalah harta Mama yang paling berharga di dunia ini."


"Satu pesan Mama kepada kalian berdua yang berstatus putra tertua Mama."


"Apa itu Mama?"


"Jangan pernah kalian bertengkar apalagi sampai bermusuhan hanya karena sebuah masalah, terutama masalah tersebut muncul dari pihak ketiga alias orang luar. Sekali pun ada masalah, selesaikan secara baik-baik. Jangan ada kekerasan diantara kalian."


"Jika hal itu terjadi, itu sama saja kalian sudah tidak menghormati dan menyayangi Mama lagi. Dan secara otomatis kalian menyuruh Mama untuk pergi dari dunia ini secara berlahan-lahan."


"Papa juga sama seperti Mama kalian. Papa ingin kalian selalu kompak satu sama lainnya. Menghadapi masalah bersama-sama. Jangan sampai hubungan kalian terpecah hanya karena orang luar atau pihak ketiga. Kalian laki-laki dan jangan mau ditindas oleh perempuan. Dan jika kalian mendapatkan pasangan yang baik seperti Mama kalian. Jaga pasangan kalian. Jangan sakiti dia."


Garry dan Danish tersenyum. "Kami janji sama Papa dan Mama. Semua perkataan Papa dan Mama barusan akan selalu kamu ingat." Garry dan Danish berucap bersamaan.


"Oh iya! Adam mana? Kenapa Papa tidak melihat Adam sejak tadi?"


Evan melihat kearah Danish putra keduanya itu. "Danish!"


Seketika Danish tersenyum kikuk sembari menggaruk-garukan kepalanya.


"Maafkan aku Papa, Mama! Aku lupa ngasih tahu kalian bahwa Adam dan ketujuh sahabat-sahabatnya pergi ke toko buku. Sehabis dari sana mereka akan jalan-jalan dulu."


Mendengar penuturan dari Danish membuat Evan hanya bisa menghela nafas pasrahnya. Dia memang sudah tahu sifat pelupa putranya itu sejak dulu.


***


Adam dan ketujuh sahabat-sahabatnya masih di toko buku. Dan mereka saat ini masih terus memantau tiga orang gadis yang menjebak seorang gadis.


Kini gadis tersebut berada di kasir. Gadis itu hendak membayar buku-bukunya itu. Sedangkan tiga orang gadis itu tersenyum menyeringai menatap gadis tersebut.


"Berapa kak?"


"Rp 250.000, kak!"


Gadis itu langsung mengeluarkan uang dari dompetnya lalu membayar buku-buku itu ke kasir.


"Ini, kak!"


Setelah itu, kasir itu memberikan belanjaan gadis itu dengan struk dan kembaliannya.


Ketika gadis itu hendak pergi, ketiga gadis itu tiba-tiba menarik tas gadis itu sehingga tali tas gadis itu putus.


"Hei, ada apa? Apa yang kalian lakukan?"


Gadis jahat itu tidak mempedulikannya ucapan dari gadis baik tersebut. Justru gadis jahat itu mengeluarkan semua isi yang ada di dalam tas gadis baik itu.


"Lihatlah. Gadis ini mengambil dua buku di toko ini!" teriak gadis jahat itu dengan tatapan matanya menatap kearah kasir dan para pengunjung.


Gadis baik itu seketika terkejut ketika melihat dua buku yang masih bersegel ada tergeletak di lantai.


"Tidak mungkin. Saya nggak pernah ambil buku-buku itu," sahut gadis baik itu.


"Alah! Pake bohong lagi. Ngaku aja ngapa?!" bentak gadis kedua.


"Sumpah! Aku nggak ambil buku itu," jawab gadis baik itu dengan lantangnya.


"Kalau kamu tidak mengambil buku-buku itu, kenapa buku-buku itu ada di dalam tas kamu?" tanya gadis ketiga.


"Ya, mana aku tahu!" jawab gadis baik itu.


"Enak banget jawabnya," jawab gadis pertama.


"Nona, sudah ngaku saja!" seru salah satu pengunjung laki-laki.


"Iya, nona! Ngaku saja kalau memang nona yang mengambil buku-buku itu. Tidak mungkin buku-buku itu bisa berada di dalam tas nona jika bukan nona yang mengambilnya," ucap pengunjung wanita.


Gadis baik itu langsung melihat kearah laki-laki dan perempuan itu, lalu tatapan matanya menatap satu persatu orang-orang yang ada di hadapannya yang saat ini menatap dirinya.


"Jika aku yang ambil buku-buku itu, maka akan ada sidik jariku di buku-buku itu! Bagaimana kalau kita panggil polisi atau siapa lah untuk mengecek apakah di buku-buku itu ada sidik jariku?"


Mendengar perkataan sekaligus pertanyaan dari gadis baik itu membuat laki-laki dan perempuan itu terdiam. Begitu juga dengan tiga gadis jahat itu dan semua yang ada di dalam toko buku tersebut.


Sementara Adam, Melky, Vino, Diego, Gino, Zio, Leon dan Vando tersenyum ketika mendengar pertanyaan dan juga tantangan dari gadis itu. Seketika terukir senyuman manis di bibir mereka.


"Gadis yang pintar."


"Bakal seru nih!"


"Nggak sabar buat lihat ketiga gadis itu malu."


"Hm."


Mereka terus melihat pertunjukan tersebut sampai akhir nanti mereka akan membantu gadis baik itu.