THE FRATERNITY

THE FRATERNITY
S3. Kabar Mengejutkan Dari Ricky



Hari ini adalah hari dimana Adam, ketujuh sahabat-sahabatnya, teman-teman kampusnya dan beberapa dosen akan akan pergi ke desa untuk melakukan kegiatan KKN. Semua sudah dipersiapkan. Hanya tinggal menunggu mobil yang akan membawa mereka ke lokasi kegiatan KKN. Mobil yang digunakan adala mobil Van yang bisa menampung sekitar 12 orang. Ada 10 mobil Van yang akan membawa mereka ke lokasi yang sudah ditentukan.


Saat ini Adam, ketujuh sahabat-sahabatnya dan teman-teman kampusnya sudah berdiri di halaman luas Kampus.


Danish yang sejak tadi menatap wajah adiknya tampak sedikit khawatir. Bagaimana tidak khawatir, wajah adiknya itu sedikit pucat. Danish berpikir bahwa adiknya itu dalam keadaan tak baik saja.


Berlahan Danish melangkah mendekati Adam. Setelah berada di samping adiknya itu, Danish langsung menyentuh kening putih Adam dengan punggung tangannya.


Sementara Adam seketika terkejut ketika melihat kakaknya yang menyentuh keningnya, lalu Adam langsung menjauhkan tangan kakaknya itu dengan wajah kesalnya.


"Apaan sih kak!"


Danish hanya diam, namun tatapan matanya menatap dalam manik coklat adiknya itu.


Ardi, Harsha, Vigo dan yang lainnya melihat kearah kakak dan adik itu.


Ardi menatap kearah Adam. Dia menatap lekat wajah Adam. Apa yang dipikirkan oleh Danish, itu juga yang dipikirkan oleh Ardi.


"Adam, apa kamu demam?" tanya Ardi langsung.


Mendengar pertanyaan dari Ardi membuat semua mata tertuju menatap kearah Adam. Mereka menatap lekat wajah Adam.


"Wajah Adam kenapa pucat?" batin mereka semua.


"Dam," panggil Harsha.


"Aish! Apaan sih kalian. Aku baik-baik saja. Dan aku tidak sakit."


Setelah mengatakan itu, Adam pergi menjauh dari kakaknya dan yang lainnya. Dirinya benar-benar kesal hari ini.


Melihat kepergian Adam membuat Danish, Ardi, Harsha, Vigo dan yang lainnya khawatir. Tatapan mata mereka tak berpaling dari Adam.


"Aku merasa kalau Adam tak baik-baik saja," ucap Danish.


"Apa kau juga merasakan hal itu Ardi?" tanya Danish tanpa mengalihkan pandangannya menatap kearah Adam.


"Iya. Aku juga merasakan hal itu. Adam sepertinya tidak baik-baik saja," jawab Ardi.


Mendengar jawaban dari Ardi membuat Harsha seketika khawatir dengan Adam.


"Jika Adam tidak baik-baik saja. Apa tidak bisa dibatalkan saja kegiatan KKN ini atau ganti dengan hari yang lain," sahut Harsha.


"Tidak bisa Harsha. Kegiatan KKN ini sudah diketahui oleh pihak yang ada disana," sahut Vigo.


"Terus kalian tega tetap membiarkan Adam untuk ikut, sementara Adam sedang dalam keadaan tak baik-baik saja?!"


"Sha!" seru Danish, Ardi dan Vigo bersamaan.


"Kalian kakak-kakaknya Adam yang paling jahat!"


Mendengar ucapan dari Harsha membuat Danish, Ardi dan Vigo seketika sedih. Begitu juga dengan yang lainnya.


Sementara Adam saat ini tengah duduk di sebuah kursi panjang yang ada di halaman kampus itu. Jarak Adam dengan kakak-kakaknya dan yang lainnya tak terlalu jauh.


"Sudah berapa hari ini kepalaku sering pusing. Ada apa denganku?" Adam bertanya pada dirinya sendiri sembari tangannya memijit-mijit keningnya.


Adam berdiri dari duduknya. Dirinya hendak menuju kantin sebelum berangkat menuju desa tempat dia akan KKN nanti.


Namun ketika kakinya hendak melangkah, tiba-tiba tubuhnya terhuyung ke belakang dengan tatapan matanya sedikit kunang-kunang.


Danish, Ardi, Harsha, Vigo dan yang lainnya yang sejak tadi memperhatikan Adam seketika berteriak melihat Adam yang hampir terjatuh.


"Adam!"


Danish, Ardi, Harsha, Vigo serta yang lainnya langsung berlari menghampiri Adam yang saat ini tengah merasakan pusing di kepalanya.


"Adam," panggil Danish dengan tatapannya mengusap lembut kepala belakangnya.


"Adam!"panggilan Ardi, Harsha dan Vigo bersamaan.


"Dam," panggil ketujuh sahabat-sahabatnya dan para sahabat kakaknya.


"Adam kamu dengar kakak tidak?" Danish mengusap kepala belakang adiknya dengan tatapan matanya menatap khawatir adiknya.


"Kakak, berisik! Kepalaku pusing," keluh Adam.


Deg..


Mendengar perkataan dari Adam membuat Danish seketika khawatir. Tatapan matanya makin menatap lekat adiknya.


Bukan hanya Danish yang menatap khawatir Adam. Ardi, Harsha, Vigo serta yang lainnya juga menatap khawatir Adam.


"Dam, lihat kakak."


Adam seketika langsung mendongakkan kepalanya dan melihat wajah kakaknya.


Deg..


Adam serta yang lainnya seketika terkejut ketika melihat wajah Adam. Wajah Adam saat ini bertambah pucat.


"Adam wajah kamu pucat sekali," ucap Vigo.


"Adam dengarkan kakak. Kamu pulang ya. Kamu istirahat di rumah," bujuk Danish.


"Nggak." Adam langsung menolak permintaan kakaknya itu.


"Adam, ayolah! Setidaknya pikirkan kesehatan kamu," sahut Ardi.


"Aku bilang nggak ya nggak. Kenapa sih maksa!" teriak Adam.


"Kamu benar-benar keras kepala ya Adam!" Harsha berucap dengan nada kesalnya.


"Sudah tahu aku keras kepala. Kenapa masih memaksaku?" Adam langsung menjawab perkataan dari Harsha.


Mendengar jawaban demi jawaban sekaligus penolakan dari Adam membuat Danish, Ardi, Harsha, Vigo dan yang lainnya seketika menghela nafas pasrahnya.


Drrtt..


Drrtt..


Ponsel milik Adam tiba-tiba berbunyi menandakan sebuah panggilan masuk. Adam langsung merogoh saku celananya guna untuk mengambil ponselnya.


Setelah ponselnya ada di tangannya, matanya melihat nama 'Ricky' di layar ponselnya. Tanpa membuang-buang waktu lagi, Adam langsung menjawab panggilan tersebut.


"Hallo, Ricky."


"Kamu dimana sekarang, Dam?"


"Di kampus. Kenapa?"


"Apa kamu, ketujuh sahabat-sahabat kamu dan beberapa teman-teman kampus kamu akan pergi untuk kegiatan KKN?"


"Iya, kenapa?"


"Batalkan!"


Seketika Adam membelalakkan matanya ketika mendengar ucapan dari Ricky yang memintanya untuk membatalkan kegiatan KKN nya.


"Kenapa kamu memintaku untuk membatalkan kegiatan KKN? Ada apa?"


Seketika Danish, Ardi, Harsha, Vigo dan yang lainnya terkejut ketika mendengar pertanyaan dari Adam yang ditujukan untuk Ricky.


"Aku tidak bisa menjelaskannya di telepon. Besok aku akan datang menemuimu. Banyak hal yang ingin aku sampaikan kepadamu serta ada beberapa bukti yang ingin aku tunjukkan kepadamu. Diantara bukti-bukti itu terkait dengan kecelakaan yang menimpa Ariel."


Deg..


Tubuh Adam seketika menegang ketika mendengar ucapan demi ucapan dari Ricky apalagi ketika mendengar tentang kecelakaan yang menimpa Ariel.


"Baiklah. Hanya itu yang ingin aku sampaikan padamu. Ingat! Batalkan kegiatan KKN itu jika kamu dan yang lainnya ingin selamat."


Tutt.. Tutt..


Ricky langsung mematikan panggilannya setelah mengatakan itu kepada Adam. Sementara Adam seketika langsung menjadi kepikiran akan perkataan dari Ricky.


[Ingat! Batalkan kegiatan KKN itu jika kamu dan yang lainnya ingin selamat.]


Tes..


Air mata Adam jatuh membasahi pipinya. Keadaannya benar-benar tak baik saat ini. Masalah kembali datang menghampiri dirinya dan orang-orang terdekatnya. Adam bahkan menduga-duga saat ini tentang kecelakaan yang menimpa Ariel. Dirinya berpikir bahwa kecelakaan yang menimpa Ariel adalah sebuah kesengajaan, jika tidak sahabatnya Ricky tidak akan berbicara seperti itu.


"Dam," panggil Danish dengan tangannya mengusap air mata Adam.


Adam langsung melihat kearah kakaknya yang menatap dirinya dengan senyuman.


"Batalkan kegiatan KKN nya. Jangan ada yang pergi," ucap Adam dengan menatap Danish sendu dan suara lirih.


Mendengar perkataan dari Adam membuat Danish serta yang lainnya terkejut. Mereka semua melihat kearah tatapan mata Adam. Tersirat disana raut ketakutan.


Adam menatap kearah ketujuh sahabat-sahabatnya, Ardi, Harsha, Vigo serta para sahabat kakak-kakaknya dengan tatapan sedih dan tatapan memohonnya.


"Batalkan kegiatan KKN ini. Jangan ada yang pergi. Tetaplah disini. Ricky yang bilang begitu padaku. Ricky juga bilang padaku jika ingin selamat, maka batalkan kegiatan KKN tersebut."


"Aku mohon. Batalkan! Aku tidak ingin terjadi sesuatu terhadap kalian," ucap Adam dengan air matanya kembali membasahi pipinya.


Grep..


Danish langsung memeluk tubuh adiknya. Dan Danish dapat merasakan tubuh adiknya yang bergetar.


"Batalkan. Jangan pergi," lirih Adam.


"Baiklah. Kakak akan menuruti keinginan kamu. Kakak nggak akan pergi. Kakak juga akan batalkan kegiatan KKN itu," jawab Danish bersungguh-sungguh.


"Kita juga tidak akan pergi, Adam!" Melky, Vino, Diego, Gino, Zio, Leon dan Vando berucap bersamaan.


"Kakak juga tidak akan pergi!" seru Ardi, Harsha dan Vigo.


"Kita juga!" seru para sahabat-sahabatnya dari kakak-kakaknya.