THE FRATERNITY

THE FRATERNITY
S3. Hukuman Untuk Orang Yang Sombong



Mendengar perkataan dari wanita itu, Varo dan Salsa hanya diam dan tak menjawab. Namun tatapan matanya menatap marah kearah wanita tersebut.


"Aku sangat yakin jika orang tua kalian mendidik kalian untuk menjadi anak liar ketika berada diluar rumah. Dan orang tua kalian juga yang menyuruh kalian menyakiti teman-teman sekolah kalian! Benarkan?!" bentak wanita itu.


"Apa jangan-jangan orang tua kalian itu...."


"Jangan-jangan apa, hah?!" seru seseorang yang datang dari arah belakang wanita itu.


Mendengar seruan dari seorang wanita. Mereka semua termasuk Varo dan Salsa langsung melihat kearah orang itu.


"Mama/Bibi," panggil Varo dan Salsa. Keduanya langsung berlari menuju ibunya/Bibinya.


Vino mengirim pesan kepada ibunya dan meminta ibunya untuk datang ke sekolah Varo dan Salsa. Vino bahkan mengatakan bahwa akan ada yang membantu ketika ibunya datang ke sekolah Varo dan Salsa.


Misca sang ibu/sang bibi tersenyum dan membalas pelukan putra dan keponakannya.


Varo melepaskan pelukannya dan menatap wajah cantik ibunya itu. "Mama kenapa kemari? Aku dan Salsa belum pulang. Bahkan kita belum memulai pelajarannya sama sekali."


Mendengar perkataan dari putranya membuat Misca tersenyum. Dan tangannya mengusap-ngusap lembut kepala putranya itu.


"Mama kesini ada sesuatu yang ingin Mama selesaikan," ucap Misca.


Misca menatap putra dan keponakannya. "Apa boleh Mama minta sesuatu?"


"Apa, Mama!" tanya Varo.


"Iya, Bibi! Bibi mau minta apa?" tanya Salsa.


"Varo dan Salsa ikutlah bersama ibu guru ke kantor. Bisa?"


"Baik, Mama/Bibi!"


Misca menatap guru kelas dari putra dan keponakannya. "Tolong bawa mereka ke ruangan anda."


"Baik, nyonya."


Setelah itu, guru itu membawa Varo dan Salsa ke ruang kerjanya.


Misca menatap tajam wanita itu. Dirinya benar-benar tidak terima putra dan keponakannya diperlakukan buruk olehnya.


"Oh. Jadi anda adalah ibu sekaligus bibi dari kedua anak sialan itu, hah!" bentak wanita itu dengan menunjuk kearah wajah Misca.


"Iya. Saya ibu dan bibi dari kedua anak itu. Terus anda mau apa?" jawab dan tanya Misca.


"Baguslah anda datang kesini. Saya akan memberitahu anda apa yang telah dilakukan oleh putra dan keponakan anda yang tidak tahu diri itu," ucap wanita itu.


"Memangnya putra dan keponakan saya melakukan apa sehingga membuat anda semarah ini?" tanya Misca.


Misca masih berusaha bersikap tenang. Jika sudah waktunya, barulah Misca akan melakukan sesuatu terhadap wanita sombong yang ada di hadapannya itu.


"Apa anda yakin ingin tahu kelakuan kedua anak anda itu, hah?!" bentak wanita itu.


"Iya. Katakan padaku apa yang telah dilakukan oleh putra dan keponakan saya?" tanya Misca.


"Putra dan keponakan anda yang sialan itu sudah menyakiti anak saya dengan cara mendorongnya sampai terjatuh," jawab wanita itu.


"Kapan kejadiannya?" tanya Misca.


"Kemarin. Di toko buku," jawab wanita itu lagi.


"Oh, begitu! Baiklah," ucap Misca.


"Dan saya minta kepada anda untuk menghukum putra dan keponakan anda itu."


"Baiklah. Tapi sebelum aku menghukum putra dan keponakan saya. Saya juga mau meminta kepada anda untuk memberikan hukuman kepada anak anda jika terbukti anak anda yang terlebih dahulu bersalah. Dan jika tidak, maka saya yang akan melakukannya." Misca berbicara dengan menatap tajam wanita tersebut.


"Saya sangat yakin jika anak saya tidak bersalah. Anak saya ini anak baik-baik. Tidak seperti kedua anak anda itu."


"Iya atau tidak?" tanya Misca.


"Baik," jawab wanita itu.


"Baiklah. Saya pegang kata-kata anda. Awas, jika anda berani mengingkarinya."


Misca melihat kearah anggotanya Zelo yang sejak tadi berdiri di sampingnya.


"Nak Riyo."


"Iya, Nyonya!"


"Putra sulung saya yang bernama Vito mengirimkan video kepada putra kedua saya yaitu Vino. Dan putra saya Vino mengirimkan video itu kepada Bos kamu. Tolong perlihatkan video itu kepada wanita itu."


"Baik, Nyonya!"


Setelah itu, Riyo anggotanya Zelo memperlihatkan video dimana seorang anak kecil yang merebut buku milik Salsa. Dan Salsa berhasil merebutnya kembali.


Di saat Salsa ingin pergi, anak laki-laki itu merampas kembali buku milik Salsa.


Setelah mendapatkan buku itu, anak laki-laki itu mendorong tubuh Salsa hingga terjatuh di lantai.


Seketika mata wanita itu membelalak ketika melihat video dimana anaknya yang terlebih dahulu menyakiti anak orang lain.


Melihat keterkejutan dari wanita itu. Seketika Misca tersenyum di sudut bibirnya. Begitu anggotanya Zelo yang sejak tadi diam.


"Sesuai kesepakatan kita barusan bahwa nyonya akan memberikan hukuman berat untuk anak nyonya. Sekarang hukum anak nyonya di hadapan saya."


Wanita itu menatap wajah putranya. Dirinya mana mungkin akan menyakiti putranya sendiri.


"Ayo, nyonya. Hukum putranya nyonya sekarang. Apa nyonya ingin saya mewakilkannya, hum?"


"Tidak!"


"Kalau begitu lakukan sekarang juga."


"Mami... Hiks. Jangan hukum aku."


"Ayo, nyonya! Waktuku tidak banyak. Masih banyak pekerjaan yang ingin saya selesaikan."


Wanita itu menatap putranya. "Maafkan Mami, sayang!"


Plak..


Wanita itu memberikan tamparan di wajah putranya. Ini adalah tamparan pertamanya untuk putranya itu.


Misca tersenyum ketika melihat wanita itu menampar putranya di hadapannya. Begitu juga dengan Riyo.


"Aku sudah melakukannya. Jadi masalah kita selesai. Dan aku minta maaf kepada anda," ucap wanita itu.


Seketika Misca dan Riyo tertawa keras ketika mendengar ucapan dari wanita itu.


Mendengar tawa keras Misca dan laki-laki yang berdiri di samping Misca membuat wanita itu seketika terkejut dan juga takut. Begitu juga orang yang ada di sekitar mereka.


"Apa anda pikir masalah sudah selesai, nyonya? Jawabannya tentu saja belum nyonya. Yang anda selesaikan barusan adalah anda memberikan hukuman kepada anak anda yang sudah mengusik putra dan keponakan saya. Sementara perlakuan buruk anda terhadap putra dan keponakan saya belum anda selesaikan."


Mendengar perkataan dari Misca membuat wanita itu terkejut dan juga takut.


"Anda telah berani menghina, memaki, menyumpahi dan membentak kedua putra dan keponakan saya. Saya ibunya belum pernah sekali pun bersikap buruk kepada putra. Bahkan keponakan saya itu juga belum pernah mendapatkan perlakuan kasar dari kedua orang tuanya."


"Maafkan saya," ucap wanita itu.


Mendengar permintaan maaf dari wanita tersebut membuat Misca kembali tertawa. Begitu juga dengan Riyo.


"Hei, nyonya. Apa anda tidak salah mengucapkan kata maaf kepada saya? Beberapa menit yang lalu anda begitu sombong dan arogan ketika menghina, memaki dan membentak putra dan keponakan saya. Bahkan anda membawa-bawa saya dan suami saya."


"Baiklah. Dikarenakan waktu saya sudah habis, maka saya harus segera menyelesaikan masalah ini secepatnya."


Misca menatap tajam wanita itu. "Perkenalkan nama saya Misca Alessio. Anda pasti sudah kenal dengan nama keluarga Alessio, bukan!"


Wanita itu terkejut ketika Misca menyebut nama keluarganya. Begitu juga dengan orang-orang yang berada di sekitarnya. Mereka semua tahu siapa itu keluarga Alessio. Keluarga Alessio itu hampir sama dengan keluarga Abimanyu dan Bimantara jika sudah menyangkut balas membalas para musuh.


"Karena anda sudah berani menghina, memaki, menyumpahi dan membentak putra dan keponakan saya, maka dengan sangat terpaksa saya harus melakukan ini kepada anda."


Misca melihat kearah Riyo.


"Nak Riyo."


"Ya, Nyonya!"


"Cari tahu tentang latar belakang wanita ini dan juga suaminya. Setelah itu, hancurkan mereka semua. Buat mereka kehilangan apa yang mereka punya."


"Baik, Nyonya."


Mendengar perkataan sekaligus ancaman dari Misca, ibu serta bibi dari dua orang anak yang telah dia hina membuat perempuan itu terkejut dan syok.


"Nyonya, tolong maafkan saya. Jangan lakukan itu Nyonya!"


Misca tidak mempedulikan ucapan serta wajah memohon perempuan tersebut.


"Itu adalah balasan setimpal untuk anda yang bersikap sombong dan suka merendahkan orang lain. Jika anda bertemu dengan putra sulung dan putra kedua saya, bukan hukuman ini yang akan anda dapatkan. Nyawa anda yang akan diambil oleh kedua putra saya itu. Berterima kasihlah anda kepada saya karena saya yang datang."


Setelah mengatakan itu, Misca pergi meninggalkan wanita tersebut untuk menuju ruangan guru kelas Varo dan Salsa. Sementara Riyo sudah pergi karena tugasnya sudah selesai.


Tujuan Misca kesana adalah ingin berpamitan kepada putra dan keponakannya itu agar keduanya tidak mencarinya.


^^^


"Mama sudah selesai?" tanya Varo.


"Sudah, sayang! Mama kesini mau pamit sama Varo dan juga Salsa."


"Kenapa Bibi harus izin sama Salsa dan Varo?" tanya Salsa.


Misca tersenyum mendengar pertanyaan dari keponakannya. Dan kemudian tangannya mengusap lembut kepala keponakannya itu.


"Kalau Bibi tidak pamit sama Salsa dan Varo. Nanti Salsa sama Varo nyari-nyari Bibi."


Mendengar jawaban dari Bibinya membuat Salsa tersenyum. Begitu juga dengan Varo.


"Ya, sudah! Mama harus pulang. Ingat! Varo dan Salsa nggak boleh nakal!"


"Baik, Mama/Bibi!"


Setelah mengatakan itu, Misca pun pergi meninggalkan Alpha High School untuk kembali pulang ke rumahnya.