
Di kediaman Abimanyu terlihat ramai dimana semua anggota keluarga sedang berkumpul di ruang tengah.
Saat ini Gauri Alindra Abimanyu istri dari Davan Alwan Abimanyu masih ketakutan. Sejak tadi Alin hanya diam dan melamun.
Davan yang duduk di sampingnya berusaha terus untuk mengajak istrinya bicara. Dirinya tahu bahwa saat ini istrinya masih ada rasa takut ketika untuk pertama kalinya dia mendapatkan sebuah tamparan.
"Sayang, sudah ya! Jangan diingat lagi kejadian beberapa menit yang lalu. Coba lihat Adam. Adam sedih loh lihat kamu yang sejak tadi diam dan tidak mau bicara. Apa kamu tega buat keponakan kamu sedih, hum?"
Mendengar perkataan dari suaminya dan mendengar nama keponakan manis disebut, seketika Alin menatap kearah suaminya. Setelah itu, Alin menatap kearah keponakan manisnya yang saat ini juga menatap dirinya. Dapat Alin lihat bahwa keponakannya itu menatap dirinya dengan tatapan sedih.
"Ma," panggil Harsha sembari memeluk tubuh ibunya. Hati Harsha sakit saat melihat ibunya seperti ini.
"Lupakan masalah ini ya. Adam sudah membalas orang yang udah nyakitin Mama. Apa yang orang itu lakukan ke Mama. Adam membalasnya dengan lebih. Jadi aku mohon sama Mama. Mama nggak takut lagi."
"Iya, Ma! Apa yang dikatakan Harsha benar. Jangan sedih lagi apalagi takut," ucap Reza.
"Dan satu lagi yang harus Mama ingat. Kita tidak perlu takut dengan siapa pun di dunia ini. Selama kita tidak bersalah dan tidak melakukan apapun, kita harus lawan orang yang ingin menyakiti kita. Jangan biarkan orang itu semena-mena kepada kita. Jadi aku minta sama Mama, sudah lupakan! Jangan diingat lagi kejadian itu!" Juan berucap penuh penekanan di setiap kata dengan tatapan matanya menatap wajah cantik ibunya itu. Hatinya juga sakit melihat ibunya yang masih terlihat ketakutan. Padahal kejadiannya sudah berlalu beberapa jam yang lalu.
Ketika semuanya sedang mengkhawatirkan Alin, tiba-tiba ponsel milik Adam berbunyi.
Adam yang mendengar bunyi ponselnya langsung mengambilnya yang dia simpan di saku celananya.
Setelah ponselnya berada di tangannya, matanya melihat ke layar ponselnya. Tertera nama 'Vino'.
Tanpa membuang waktu lagi, Adam langsung menjawab panggilan dari sahabatnya itu.
"Hallo, Vin! Ada apa?"
"Gue mau kasih tahu lo tentang orang yang udah nampar Bibi Alin ketika di cafe itu."
"Kenapa dengan bajingan itu?"
"Gini, Dam! Setelah kita pergi meninggalkan cafe itu, gue sebenernya nggak langsung pulang. Justru gue ngikutin sepasang suami istri itu. Nah, lo mau tahu apa yang direncanakan oleh istrinya itu?"
"Apa? Perempuan murahan itu melakukan apa?"
"Setelah perempuan itu membawa suaminya ke rumah sakit. Perempuan itu menghubungi semua anggota keluarganya. Mulai anggota keluarga dari suaminya sampai anggota keluarganya."
"Terus?"
"Perempuan itu mengarang cerita dengan mengatakan bahwa suaminya dipukul dan dikeroyok oleh seorang wanita dan seorang pemuda. Dan lo tahu siapa perempuan itu dan siapa pemuda itu?"
Mendengar perkataan sekaligus pertanyaan dari Vino seketika terukir senyuman di sudut bibirnya Adam. Dia langsung paham akan pertanyaan dari Vino.
"Ya, gue tahu. Perempuan itu adalah Mama Alin. Sementara pemuda itu adalah gue."
"Lo benar. Dan apa lo ingin tahu mereka ingin melakukan apa terhadap lo dan bibi Alin?"
"Ribet amat sih hidup lo, Vin? Lo niat nggak sih ngasih informasi ke gue?" tanya Adam kesal.
Mendengar perkataan dari Adam membuat Vino yang di seberang telepon terkekeh. Sementara anggota keluarganya yang mendengar serta melihat wajah kesalnya tersenyum.
"Apa salahnya main teka teki dulu. Jika jawaban lo benar. Itulah rencananya."
"Itu bukan teka teki, bodoh! Lo ngasih gue pertanyaan dan bodohnya gue malah nurut sama lo dengan menjawab pertanyaan dari lo."
"Hahahaha." Vino seketika tertawa keras ketika mendengar ucapan kekesalan dari Adam.
"Berarti kita berdua sama-sama bodoh dong."
"Gue nggak. Lo aja sendiri," jawab Adam kesal.
Melihat wajah kekesalan Adam membuat anggota keluarga Abimanyu tersenyum.
"Sekarang kasih tahu gue. Apa yang akan dilakukan oleh manusia-manusia menjijikkan itu? Lo jangan buat gue kesal Vino. Apa lo mau gue buat pergi dari dunia ini, hah?!"
Seketika Vino di seberang telepon menelan air ludahnya secara kasar ketika mendengar ucapan kejam dari Adam.
"Hah!" Vino seketika menghela nafasnya. "Oke.. Oke! Gue kasih tahu lo sekarang. Mereka merencanakan ingin menculik Bibi Alin. Setelah mereka berhasil menculik Bibi Alin. Mereka akan menyiksa Bibi Alin. Setelah itu, baru mereka berurusan dengan lo."
Mendengar penjelasan dari Vino membuat Adam seketika tersenyum di sudut bibirnya.
"Kapan mereka melakukannya?"
"Eemm... Lusa!"
"Baiklah."
"Lo nggak perlu khawatir. Gue udah cerita sama kakak gue masalah ini. Dan kakak gue akan bantu lo dengan meminta para anggotanya untuk mengawasi pergerakan keluarga dari suami istri itu."
"Terima kasih, Vin."
"Jangan dulu. Nanti aja setelah semua masalah itu selesai. Jika masalah itu selesai. Gue minta traktiran sama lo," ucap Vino bercanda.
"Tak masalah. Selama satu bulan keluarga Abimanyu dan keluarga Bimantara akan kasih makan lo sepuasnya. Jadi dengan begitu kedua orang tua lo akan hemat pengeluarannya karena biasanya ngasih makan tiga anaknya, sekarang hanya dua anaknya saja. Satu anaknya untuk satu bulan ini menjadi bagian keluarga Abimanyu dan keluarga Bimantara bukan lagi bagian keluarga Alessio."
"Sialan lo, Dam!"
"Hahahaha."
Setelah selesai berbicara dengan Vino. Adam pun langsung mematikan panggilannya.
"Mama, Mama Kamila!"
"Iya, sayang!" Utari dan Kamila menjawab secara bersamaan panggilan dari Adam.
"Aku mau tolong, boleh?"
"Tentu." Kamila menjawabnya sembari tersenyum.
"Minta tolong apa, hum?" tanya Utari.
"Aku mau Mama dan Mama Kamila membawa Mama Alin ke kamar. Ada sesuatu yang ingin aku bahas dengan Papa Davan dan yang lainnya." Adam berbicara sembari menatap wajah cantik Alin.
"Bibi Alin sayang sama aku kan?"
Mendapatkan pertanyaan dari keponakan manisnya, seketika Alin tersenyum. Kemudian Alin menganggukkan kepalanya.
"Kalau Mama sayang sama aku. Sekarang aku minta sama Mama untuk ke kamar bersama Mama dan Mama Kamila. Mau?"
Alin kembali tersenyum. "Baiklah sayang. Mama akan ke kamar."
Adam seketika tersenyum ketika mendengar jawaban dari Bibinya itu.
Setelah itu, Alin berdiri dari duduknya. Begitu juga dengan Utari dan Kamila. Keduanya menggandeng tangan Alin lalu membawanya ke kamar.
Kini tinggal para laki-laki. Semua anggota keluarga menatap kearah Adam. Mereka menatap penasaran kearah Adam terutama Davan, Juan, Reza dan Harsha.
"Ada apa, sayang? Apa yang dibicarakan oleh Vino di telepon sehingga kamu meminta Mama kamu untuk pergi ke kamar?" tanya Davan.
"Langsung saja ya. Pria yang sudah aku buat tak sadarkan diri karena telah menampar Mama Alin dan wanita yang sudah aku permalukan karena terlebih dulu mempermalukan Mama Alin sedang merencanakan pembalasan."
Mendengar perkataan dari Adam membuat semua anggota keluarga terkejut. Yang paling terkejut disini adalah Davan dan ketiga putranya yaitu Juan, Reza dan Harsha.
"Apa yang akan mereka lakukan, Adam?" tanya Juan.
"Pertama, mereka akan menculik Mama Alin. Jika mereka berhasil, mereka akan menyekap Mama Alin lalu menyiksanya. Kedua, setelah rencana pertama berhasil dilakukan. Mereka mengincarku dengan menekan Mama Alin."
Mendengar penjelasan tentang rencana sepasang suami istri tersebut membuat Davan, Juan, Reza dan Harsha marah.
"Brengsek!" Juan benar-benar marah saat ini. Dia bersumpah akan membunuh orang-orang itu dengan tangannya.
"Kapan mereka akan melakukan rencana itu, Dam?" tanya Harsha.
"Lusa!" jawab Adam.
"Berarti hari Rabu!" seru Garry, Danish, Dzaky, Rafig dan Ardi bersamaan.
"Pastikan Mama Alin jangan keluar rumah untuk dua minggu ini. Jika Mama Alin tetap ingin keluar. Jangan biarkan Mama Alin pergi sendirian. Harus ada yang mengawal Mama Alin. Setidaknya sekitar enam orang. Dan keenam orang itu harus jago dalam bela diri. Dan minta keenam orang itu tidak meninggalkan Mama Alin apapun yang terjadi, sekali pun itu permintaan Mama Alin. Baik itu mereka mendapatkan telepon atau pesan, melihat kejadian di depan mata dan lain sebagainya."
Mendengar ucapan demi ucapan dari Adam membuat Davan, Juan, Reza dan Harsha langsung menganggukkan kepalanya.
"Oh iya! Apa aku boleh menanyakan sesuatu sama Papa Bagas dan Papa Davan?" tanya Adam.
"Apa itu sayang?" tanya Bagas menatap wajah keponakannya itu.
"Kamu mau nanya apa, Nak?" tanya Davan.
"Bagaimana dengan perusahaan yang sudah menipu perusahaan Papa Bagas dan perusahaan Papa Davan?"
Deg..
Mendengar pertanyaan dari Adam seketika membuat Juan, Reza, Harsha, Dzaky, Rafig dan Ardi terkejut. Begitu juga dengan Evan dan Yodha.
"Bagas! Davan!" Yodha memanggil kedua putranya itu.
"Iya, Pa!"
"Apa itu benar?"
"Iya, Pa!"
"Kenapa kalian tidak cerita?" tanya Yodha dengan wajah kecewanya.
"Pa," lirih Bagas dan Davan.
"Kakek," panggil Adam.
Yodha langsung melihat kearah cucu bungsunya. Dapat Yodha lihat bahwa cucunya itu memberikan kode agar tidak membuat kedua Paman makin tertekan akan masalah yang datang.
Setelah itu, Yodha kembali menatap kedua putranya. "Bagas, Davan! Maafkan Papa. Papa tidak bermaksud berbicara seperti tadi. Hanya saja tadi Papa benar-benar terkejut ketika mendengar pertanyaan dari Adam. Selama ini semuanya baik-baik saja."
Mendengar perkataan dari ayahnya. Ditambah lagi melihat wajah menyesal ayahnya membuat Davan langsung berdiri dari duduknya. Davan mendekati ayahnya lalu bersimpuh di hadapan ayahnya itu.
"Papa tidak perlu merasa bersalah. Semuanya akan kembali membaik. Aku janji sama Papa untuk segera menyelesaikannya. Papa harus tetap sehat. Papa tidak perlu memikirkan masalah ini. Cukup Papa doakan aku dan kak Bagas agar bisa segera menyelesaikan masalah kami."
Yodha mengusap lembut kedua pipi putra keduanya. "Doa Papa selalu menyertai kamu, kakak kamu, adik perempuan kamu dan keluarga kecil kalian. Papa menyayangi kalian semua."
"Kami juga menyayangi Papa!"
"Kami semua menyayangi Kakek. Tetaplah sehat!"