THE FRATERNITY

THE FRATERNITY
S3. Sifat Yang Sama Dan Tidak Berubah



"Ach, capek gue!" teriak Gino dan Diego bersamaan.


Baik Gino maupun Diego secara bersamaan mengambil minuman milik Melky dan Adam. Setelah itu, keduanya langsung meneguk habis minuman itu tanpa sisa sama sekali.


Melihat apa yang dilakukan oleh Gino dan Diego membuat Adam langsung memberikan tatapan tajamnya disertai dengan sebuah kata-kata yang indah.


"Gino/Diego setan!" teriak Adam dan Melky keras bersamaan.


"Hahahahaha!"


Seketika Vino, Zio, Leon dan Vando tertawa keras ketika mendengar ucapan dan teriakan dari Adam dan Melky.


"Itu minuman gue, sialan!" teriak Adam.


"Gue belum nyicip sama sekali tuh minuman. Dan lo seenaknya ngabisin minuman gue! Mati aja lo!" teriak Melky.


Baik Adam dan Melky memberikan tatapan tajam kearah Diego dan Gino. Keduanya mengeluarkan sumpah serapahnya untuk Diego dan Gino.


Ketika Adam dan ketujuh sahabat-sahabatnya sedang berkumpul bersama, sedang mengobrol sembari memberikan umpatan kesal dan sambil menjahili satu sama lainnya, tiba-tiba beberapa orang mengganggu mereka.


"Wah! Sedang asyik nih!" seru seseorang.


Mendengar seruan seseorang membuat Adam, Melky, Vino, Diego, Gino, Zio, Leon dan Vando langsung melihat keasal suara tersebut.


Seketika wajah Adam dan ketujuh sahabat-sahabatnya berubah tak mengenakkan ketika melihat kedatangan beberapa teman kampusnya.


"Mereka lagi," batin Zio.


"Mau apa lagi sih mereka," batin Vino.


"Nggak punya kerjaan apa sih mereka," batin Leon.


"Dasar pengganggu," batin Vando.


Sementara Adam, Melky, Diego dan Gino menatap tajam kearah Aziel dan kesembilan teman-temannya.


Yah! Yang datang mengganggu Adam dan ketujuh sahabat-sahabatnya adalah Aziel dan kesembilan teman-temannya.


"Mau ngapain lagi?" tanya Adam dengan tatapan meremehkan.


Aziel tidak menjawab pertanyaan dari Adam. Justru Aziel memberikan tatapan mematikan kearah Adam. Dirinya benar-benar dendam terhadap Adam. Gara-gara Adam, Ronny saudara sepupunya diberikan hukuman selama 1 bulan untuk tidak boleh masuk Kampus. Bukan itu saja, Ronny sepupunya juga diberikan hukuman oleh kakeknya berupa mencabut semua fasilitas mewahnya selama satu bulan. Jika Kampus sudah menerimanya kuliah lagi, maka dengan otomatis fasilitas mewahnya akan kembali.


Bukan hanya Aziel terlihat marah ketika Ronny sepupunya mendapatkan dua hukuman. Ibunya Ronny yang tak lain adalah bibinya, kakak perempuan dari ibunya juga marah. Sang Bibi tak terima anaknya diperlakukan tak adil oleh pihak Kampus.


Ronny bisa diberikan hukuman tidak boleh masuk Kampus selama satu bulan itu dikarenakan ulah dari Danish dan Ardi yang berstatus sebagai putra dan keponakan dari Erina Utari Bimantara. Serta putra dan keponakan dari Donatur terbesar nomor satu di Jakarta.


"Masalah yang sama," jawab Aziel dengan menatap tajam Adam.


"Oh, anak curut itu!" Adam berbicara sembari tersenyum.


Sementara Melky, Vino, Diego, Gino, Zio, Leon dan Vando tertawa sembari menatap meremehkan kearah Aziel dan kesembilan teman-temannya.


"Kenapa dengan dia? Lo dibayar berapa sama dia sehingga lo dan para kacung-kacung lo segitu niatnya mencari masalah sama gue?" tutur Adam dengan tersenyum manis.


"Gue nggak dibayar. Gue ngelakuin itu semua karena dia sepupu gue. Jadi gue minta sama lo, bilang sama rektor dan juga kedua kakak lo itu buat nyambut hukuman terhadap sepupu gue Ronny."


Mendengar perkataan dari Aziel membuat Adam tersenyum di sudut bibirnya. Sedangkan Melky, Vino, Diego, Gino, Zio, Leon dan Vando langsung tertawa keras.


"Hei, bung! Memangnya situ siapa! Nggak salah situ ngasih perintah sama sahabat gue, hah!" ucap Melky dengan senyuman mengejeknya.


Aziel mengepal kuat tangannya ketika mendengar ucapan dari salah satu sahabatnya Adam. Tatapan matanya menatap marah kearah Melky.


"Diem lo! Jangan ikut campur!" bentak Aziel.


"Gue bukannya mau ikut campur. Tapi hanya sekedar ngingetin doang. Lo nggak berhak menyuruh sahabat gue untuk cabut hukuman sepupu lo yang curut dan jelek itu," jawab Melky.


Aziel menatap tajam Melky. Begitu juga dengan Melky yang tak kalah menatap tajam kearah Aziel.


Setelah itu, Aziel kembali menatap wajah Adam. Kali ini dirinya benar-benar marah.


"Gue nggak peduli bagaimana caranya. Pokoknya gue mau lo bilang sama rektor dan kedua kakak lo buat cabut hukuman untuk Ronny." Aziel berucap dengan penuh penekanan.


"Kalau itu mau lo, baiklah! Gue bakal temui rektor dan kedua kakak gue," jawab Adam.


Mendengar perkataan dari Adam membuat Aziel tersenyum puas karena berhasil membuat Adam takut dan menuruti kemauannya. Begitu juga dengan kesembilan teman-temannya.


"Tapi sayangnya, gue datang menemui rektor dan kedua kakak gue bukan buat cabut hukuman sepupu lo, melainkan buat nge D.O sepupu lo yang jelek itu dari kampus ini." Adam berbicara dengan lemah lembut dan juga dengan senyuman yang manis.


Sedangkan Melky, Vino, Diego, Gino, Zio Leon dan Vando seketika tertawa keras ketika mendengar ucapan demi ucapan dari Adam.


Sementara untuk Aziel dan kesembilan teman-temannya mengepal kuat tangannya disertai tatapan mata yang penuh dendam.


"Brengsek! Berani lo sama gue, hah?!" bentak Aziel.


"Memangnya sejak kapan gue takut sama lo dan para babu-babu lo itu, ha!" bentak Adam balik.


Aziel dan kesembilan teman-temannya mengepal kembali kedua tangannya. Mereka tidak terima dengan perkataan kejam dari Adam.


"Jaga ucapan lo tuh sialan! Mulut lo tuh...."


"Kenapa dengan mulut gue? Mulut gue biasa aja. Oh, apa karena ucapan gue barusan ya? Sorry! Gue memang seperti ini bicaranya kalau sedang berhadapan dengan para tikus-tikus jelek kayak lo lo pada."


"Brengsek!"


Detik kemudian, Aziel dan kesembilan teman-temannya menyerang Adam dan ketujuh sahabat-sahabatnya.


Dan terjadilah perkelahian tak seimbang tujuh lawan sembilan. Namun bagi Adam, Melky, Vino, Diego, Gino, Zio, Leon dan Vando tak masalah. Mereka bisa menghadapinya.


Bugh.. Bugh..


Duagh..


Baik Adam dan ketujuh sahabat-sahabatnya maupun Aziel dan kesembilan teman-temannya saling memberikan pukulan dan tendangan.


Sementara para mahasiswa dan mahasiswi yang melihat seketika bergidik ketika melihat bagaimana Adam dan ketujuh sahabat-sahabatnya melawan Aziel dan kesembilan teman-temannya.


Ketika para mahasiswa dan mahasiswi sedang melihat perkelahian tersebut, ada dua mahasiswi yang berlari menuju ruang dosen. Kedua mahasiswi itu ingin memberitahu kalau ada perkelahian di lapangan.


^^^


Brak..


Pintu dibuka paksa oleh dua mahasiswi itu. Setelah itu, keduanya langsung masuk ke dalam ruangan dosen itu.


"Ma-maafkan kami Prof!"


Baik Danish, Ardi, Vigo dan para sahabatnya melihat kearah dua mahasiswinya itu. Terlihat mereka tengah ngos-ngosan.


"Ada apa?" tanya Arka.


"Itu di lapangan."


"Ada apa di lapangan?" tanya Vigo.


"Adam dan ketujuh sahabat-sahabatnya sedang berkelahi dengan Aziel dan kesembilan teman-temannya di lapangan, Prof!"


"Apa!"


Danish, Ardi, Vigo dan para sahabatnya langsung berdiri dari duduknya. Mereka seketika berubah panik.


Dan detik kemudian, mereka semua pergi meninggalkan ruang Dosen untuk menuju lapangan. Di otak mereka, terutama Danish, Ardi dan Vigo hanya Adam.


^^^


Di lapangan masih terlihat perkelahian antara Adam dan ketujuh sahabat-sahabatnya melawan Aziel dan kesembilan teman-temannya. Tidak ada yang mau mengalah. Kedua pihak saling memberikan perlawanan, walau Aziel dan kesembilan teman-temannya beberapa mendapatkan pukulan dan tendangan dari Adam dan ketujuh sahabat-sahabatnya.


"Sial," umpat Aziel.


"Nggak nyangka gue. Bela diri Adam begitu luar biasa. Berulang kali gue nyerang dia, justru berbalik sama gue. Gue sekali memberikan pukulan sama dia. Sementara dia sudah berulang kali memberikan pukulan sama gue," ucap Aziel pelan.


Adam tersenyum di sudut bibirnya ketika melihat Aziel yang tiba-tiba berhenti menyerang dirinya.


"Kenapa? Kehabisan tenaga? Atau nggak bisa ngalahin gue. Atau jangan-jangan...."


"Jangan-jangan apa, hah?!"


Adam tersenyum. "Lo lagi muji kehebatan bela diri gue kan? Ayo, ngaku aja lo! Nggak usah bohong sama gue. Lo kagum kan sama bela diri gue?" Adam berucap dengan tersenyum bangga.


Mendengar perkataan dari Adam membuat Aziel menatap marah kearah Adam.


Sementara para mahasiswa dan mahasiswi yang melihat dan mendengar ucapan dari dirinya itu hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala. Di dalam hati mereka masing-masing, bisa-bisanya Adam berkat seperti itu disaat lagi melawan musuh.


Tak jauh beda dengan para kakaknya beserta para sahabat kakak-kakaknya. Mereka juga ikutan tersenyum dan geleng-geleng kepala ketika mereka mendengar ucapan dari Adam untuk Aziel.


Yah! Danish, Ardi, Vigo dan para sahabatnya datang ke lapangan dan langsung menghentikan langkahnya ketika melihat Adam dan Aziel saling memberikan tatapan. Bahkan mereka mendengar ucapan dari keduanya.


"Itu benaran Adam kan?" tanya Jose yang tatapan matanya menatap Adam dan Aziel.


"Iya, dia Adam! Kenapa memangnya?" tanya Vigo.


"Nggak! Hanya nggak nyangka aja. Bisa-bisanya dia berbicara seperti itu. Padahal dia sedang berhadapan dengan musuh," sahut Jose.


"Seperti itulah tabiatnya Adam. Sama seperti kita dulu," sela Kavi.


"Dulu sebelum kita tahu bahwa Adam adalah adik kandungnya Danish. Kita dulu musuh bebuyutan Adam, Ardi, Harsha, Gala, Arka, Sakha dan Kenzie. Kita sering adu mulut dan adu kekuatan," sahut Arya.


"Setiap kita berkelahi apalagi kalau sudah berurusan sama Adam. Tuh bocah mulutnya! Kita semua dibuat emosi," sahut Prana.


"Terutama sama Danish. Danish yang merasakan dua kali lipat akan mulut pedasnya Adam kalau lagi bertarung berdua," sela Indra.


"Adam pandai sekali membuat musuhnya emosi," ucap Rayan.


"Bahkan Adam dengan bangganya mengatakan bahwa tidak ada yang bisa mengalahkan dirinya," sahut Cakra.


Baik Danish maupun keenam sahabatnya tersenyum kala mengingat kata-kata Adam ketika mereka menjadi musuh dulu.


"Dan sampai sekarang sifatnya nggak pernah berubah," sahut Sakha.


"Sifatnya masih sama sampai sekarang," ucap Kenzie.


"Seperti sekarang ini," sela Arya.


Ketika mereka sudah puas memperhatikan Adam dan ketujuh sahabat-sahabatnya, Aziel dan kesembilan teman-temannya. Danish dan yang lainnya memutuskan untuk menghampiri Adam dan yang lainnya.