
Mendengar pertanyaan dari kakaknya, Danish akhirnya bercerita.
FLASBACK ON
"Wooi, Danish. Apa yang akan kau lakukan setelah lulus SMA? Apa kau akan melanjutkan kuliah?" tanya Terry.
"Aku tidak tahu dan aku belum memikirkannya. Untuk apa buru-buru membicarakan hal itu, lulus saja belum? Dan belum tentu juga kita akan lulus," ujar Danish cuek.
"Aiish, Kau ini. Setidaknya buat rencana bolehkan," ucap Terry.
"Ya, ya, ya!" balas Danish.
Bell pulang sekolah telah berbunyi dan waktunya para pelajar untuk pulang. Tidak jauh beda dengan Danish. Dia tidak sabaran untuk segera sampai di rumah agar bisa bermanja dengan Neneknya.
...***...
Danish sudah sampai di depan rumahnya. Danish langsung membuka pintu rumahnya.
CKLEK!
Pintu terbuka dan Danish langsung masuk ke dalam dan tidak lupa menutup kembali pintu tersebut.
"Kok sepi. Pada kemana orang-orang?" ucap Danish.
*Danish terus melangkahkan kakinya menelusuri setiap ruangan yang ada di rumahnya. Dan seketika dia mendengar suara orang-orang yang lagi berbicara. Karena merasa kepo dan penasaran, Danish memutuskan untuk mendekati asal suara itu.
Asal suara itu berasal dari ruang kerja ayahnya. Danish bisa melihat anggota keluarganya berkumpul disana. Papanya, Mamanya, Neneknya, Kakaknya dan Bibinya*.
"Apa yang ingin ibu bicarakan?" tanya Evan.
"Ini soal Utari istrimu," ucap kakak perempuannya.
"Sudahlah. Aku tidak mau membahasnya." Evan berbicara ketus.
"Papa! Dengarkan penjelasan dari Nenek dan Bibi. Baru Papa bisa menilai bagaimana Mama!" bentak Garry.
"Evan. Maafkan ibu. Maafkan ibu," lirih ibunya.
"Langsung saja dan jangan bertele-tele, nek!" sergah Garry.
"Utari tidak bersalah. Ibu dan kakakmu yang bersalah. Utari istri yang baik. Dia istri yang sempurna untukmu, Van! Dia mencintaimu dengan sepenuh hatinya. Apa yang kau lihat waktu itu. Semua itu adalah rekayasa ibu dan kakakmu? Laki-laki yang kau lihat bersama Utari di kamarmu itu suruhan ibu. Ibu membayar laki-laki itu untuk menjebak Utari agar saat kau pulang dari luar negeri, kau dengan sendiri melihat kelakuan bejat istrimu. Melihat kau murka pada Utari, ibu tersenyum puas karena rencana ibu dan kakakmu berhasil. Dan disaat kau bertengkar hebat dengan Utari, ibu masuk dan memanas-manasimu dengan terus menyalahkan Utari. Dan disaat itulah Utari berani membentak ibu dan tak terima atas perlakuan Utari pada ibu, kau langsung menamparnya dengan keras, lalu dengan kau langsung mengusir Utari beserta bayi itu pergi dari rumah. Dan kau bahkan tidak mengakui bayi itu didepan Utari. Setelah kau bertengkar dengannya, ibu menemui Utari yang sedang berbicara pada Garry dan Danish. Dia berniat untuk membawa kedua putranya, tapi ibu melarangnya dan mengatakan padanya "Kau bawa saja anak harammu itu. Jangan kau bawa kedua cucuku".
BRAAKKK!
Evan langsung menggebrak meja kerjanya dengan sangat keras sehingga membuat semua yang ada di ruangan itu terlonjak kaget.
"Apa yang sudah ibu lakukan? Ibu sudah keterlaluan kepada Utari, istriku. Apa salah istriku padamu, bu? Apa dia pernah melakukan kesalahan padamu sampai ibu melakukan hal keji ini kepada Utari? Aku tidak habis pikir ibu bisa melakukan hal kotor semacam itu."
"Garry. Katakan pada Papa, sejak kapan kau mengetahui hal ini?!" bentak Evan pada putra sulungnya.
"Sejak awal!! Aku melihat dan menyaksikan semua yang dilakukan oleh Nenek dan Bibi," jawab Garry dengan lantang.
"Kenapa kau tidak menceritakannya pada Papa?!" bentak Evan lagi.
"Pertama, Papa tidak akan percaya padaku. Karena papa akan lebih percaya pada Nenek. Sedangkan Papa saja tidak mempercayai Mama istri Papa sendiri, apalagi aku hanya seorang anak. Kedua, aku diancam oleh Nenek. Kalau aku membuka mulut dan memberitahukan kebenarannya kepada Papa, Nenek akan mengirimku keluar negeri. Aku tidak mau itu terjadi dan aku tidak mau berpisah dengan Papa dan Danish. Karena aku sudah berpisah dengan ibu dan adik bungsuku," tutur Garry.
"Ibuuuu!" bentak Evan yang matanya sudah berair. Dan seketika tubuhnya jatuh terduduk di lantai.
"Papa." Garry mendekati ayahnya dan memeluknya.
"Maafkan Papa," lirihnya pada sang putra.
"Papa tidak salah. Papa hanya khilaf dan itu semua gara-gara Nenek dan Bibi," hibur Garry pada ayahnya.
Sementara ibu dan kakaknya hanya diam membeku. Mereka menyesal. Benar-benar menyesal.
Di luar ruang kerja Evan. Danish masih terus menguping pembicaraan anggota keluarganya. Dia sangat.. sangat kaget dengan penuturan dari Neneknya
"Apa? Jadi perempuan yang selama ini aku panggil dengan sebutan Mama ternyata dia bukan mama kandungku. Nama Mama kandungku adalah Utari bukan Dhira. Kenapa Nenek tega sekali melakukan ini semua pada Mama kandungku dan juga adikku? Nenek sudah memisahkanku dengan Mama dan adik kandungku selama ini." tanpa sadar air matanya mengalir. Danish menangis.
Danish masih setia mendengarkan semuanya.
"Apa alasan ibu sampai membenci Utari, istriku?" tanya Evan sedikit lembut.
"Karena waktu itu ibu tidak menyukainya. Ibu tidak ingin kau menikah dengannya. Ibu ingin kau menikah dengan wanita pilihan ibu. Wanita itu adalah Dhira. Tapi kau menolaknya dan tetap menikahi Utari wanita miskin itu. Kalian tidak setara. Sampai akhirnya timbullah rasa benci ibu pada Utari. Sampai ibu nekat melakukan hal keji ini agar kau bisa menikah dengan Dhira. Dan kenapa Dhira mau menikah denganmu? Ibu mengarang cerita kalau Utari telah mengkhianatimu dengan laki-laki lain dan sampai akhirnya kau menceraikannya. Dan ibu juga mengatakan bahwa kau tertekan. Saat itulah Dhira masuk ke kehidupanmu. Walaupun ibu tahu kau masih mencintainya. Kau menikah dengan Dhira hanya karena rasa kecewamu pada Utari bukan karena cinta. Tapi kau tetap memperlakukan Dhira dengan sangat baik," tutur ibunya.
"Maafkan ibu, Van. Maafkan ibu."
"Jadi ini alasannya, kenapa kak Garry selalu bersikap acuh dan selalu mengabaikan Nenek? Kak Garry tidak pernah peduli terhadap Nenek bahkan saat Nenek sakit. Bahkan aku selalu membentaknya saat dia tidak peduli pada Nenek."
"Maafkan aku kak," lirih Danish.
"Kau benar-benar kejam, nek! Tunggu saja pembalasanku."
FLASBACK OFF
"Sekali lagi. Maafkan aku kak!" ucap Danish, lalu mereka pun kembali berpelukan.
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang mengintai. Menatap mereka dengan tajam dan sinis.
"Aku tidak akan membiarkan kalian bersatu," ucap orang itu.