THE FRATERNITY

THE FRATERNITY
S3. Dua Kabar Yang Membahagiakan



Setelah mencurahkan isi hatinya dan juga meluapkan kesedihannya kepada ibunya. Saat ini Adam sedang menyandarkan kepalanya di bahu ibunya sembari memejamkan matanya.


Utari, Evan dan anggota keluarganya masih berada di ruang tengah. Mereka semua menatap sendu kearah Adam terutama Evan, Garry dan Danish.


"Sayang," panggil Evan sembari tangannya mengusap lembut kepalanya.


Adam yang mendengar panggilan dari ayahnya dan merasakan sentuhan di kepalanya langsung membuka matanya dan langsung melihat kearah ayahnya.


Adam langsung memindahkan kepala dibahu kanan ayahnya itu. Evan seketika tersenyum melihat putranya menyandarkan kepalanya di bahunya.


"Apa masih pusing kepalanya?" tanya Evan sembari tangannya menepuk-nepuk pelan punggung tangan putra bungsunya.


Yah! Setelah menangis keras sembari menceritakan tentang Jasmine dan Ariel kepada ibunya, tiba-tiba Adam merasakan sakit di kepalanya.


"Udah nggak, Pa!" jawab Adam yang masih memejamkan matanya.


Dan detik kemudian, air matanya kembali jatuh. Adam masih mengingat tentang Ariel dan Jasmine.


"Hiks."


Evan seketika terkejut ketika mendengar isakan dari putra bungsunya. Dia melihat kearah putranya dan putranya sudah dalam keadaan menangis.


"Sayang," ucap Evan dan langsung memeluk erat tubuh putranya itu.


"Papa... Hiks. Aku rindu Ariel. Aku juga rindu Jasmine... Hiks."


"Papa tahu sayang. Papa sangat tahu akan hal itu. Yang sabar ya. Yang Ariel butuhkan saat ini adalah doa dari kamu. Kalau kamu nangis setiap hari, yang ada Ariel nya akan sedih di atas sana. Dia nggak akan tenang di atas sana." Evan berbicara lembut sembari tangannya mengusap bahu dan kepala putranya.


"Yang dikatakan sama Papa benar, Dam! Kamu harus ikhlas. Untuk saat ini kamu pikirkan bagaimana Jasmine? Apa yang akan kamu sampaikan ketika nanti kamu jadi menemuinya."


Garry ikut menghibur adik bungsunya. Dia tidak tega melihat adiknya yang kembali menangis. Kondisi kesehatan adik bungsunya itu tidak seperti dulu lagi. Adiknya itu gampang sekali jatuh pingsan dan gampang sekali merasakan pusing atau sakit kepala. Dia tidak ingin melihat adik bungsunya itu kesakitan.


Adam sudah memberitahu anggota keluarganya kalau dia akan pergi menemui Jasmine di Bandung. Jasmine saat ini berada di kota Bandung. Dia tinggal di kediaman keluarga besar ibunya. Semuanya keluarga ibunya begitu menyayanginya.


Untuk keluarga besar ayahnya ada di Jakarta. Jarak tempuh jika ingin kesana memakan waktu 5 jam. Jadi, jika Jasmine tinggal di Jakarta. Jasmine tidak tinggal di kediaman keluarga besar ayahnya, melainkan di rumah yang dibeli oleh ayahnya untuk dirinya dan ibunya. Jasmine akan mengunjungi keluarga besar ayahnya jika dihari libur kuliah. Begitu juga dengan anggota keluarga besar ayahnya. Mereka juga sering berkunjung ke rumah Jasmine.


Jasmine anak satu-satunya dan anak kesayangan kedua orang tuanya. Semua kekayaan pribadi milik kedua orang tuanya jatuh padanya. Perusahaan besar yang selama ini dikelola oleh Ayahnya sudah menjadi miliknya. Dia yang akan meneruskan perusahaan itu. Termasuk usaha butik dan hotel yang dimiliki ibunya. Semuanya juga jatuh padanya. Dan untungnya, kedua orang tuanya Jasmine memiliki masing-masing 5 orang kepercayaan untuk membantu semua pekerjaannya tersebut. Dan 5 orang kepercayaan dari kedua orang tuanya itu membantu Jasmine dalam mengelola usaha kedua orang tuanya. Dan dibantu oleh Paman, Bibi dan kakak-kakak sepupunya.


Ketika semuanya tengah bersedih karena melihat kondisi Adam saat ini, seketika mereka dikejutkan dengan suara bunyi ponsel. Ponsel itu milik Adam.


Adam mengangkat kepala dari bahu ayahnya bersamaan tangannya mengambil ponselnya di saku celananya.


Setelah ponselnya di tangannya, Adam melihat nomor yang tidak dia kenal. Adam memicingkan matanya menatap nomor tersebut.


Dikarenakan dirinya merasa penasaran. Adam akhirnya memutuskan untuk menjawab panggilan tersebut.


"Hallo."


"Ini kak Adam ya?"


"Iya, saya Adam. Kamu siapa?"


"Maafkan saya kak. Saya Ditta, adik kelasnya kakak di Kampus. Gini kak. Saya ingin memberitahu masalah vcd-vcd yang ditemukan di dalam tas sahabat kakak itu."


Mendengar perkataan dari gadis di seberang telepon membuat Adam seketika membelalakkan matanya terkejut.


"Apa kamu tahu siapa pemiliknya?"


"Kalau dibilang tahu nggak kak. Tapi aku ingin memberikan sebuah rekaman sama kakak. Siapa tahu dengan rekaman itu kakak dapat petunjuknya."


"Rekaman apa?"


"Aku kemarin nggak sengaja lewat di depan kelas anak Sastra. Kebetulan hanya ada sekitar 10 orang saja di dalam kelas itu. Niatku mau ke kantin. Aku dengar pembicaraan mereka karena mereka menyebut nama kakak Zio dan kakak Adam. Nah, ketika aku mendengar nama kakak Zio dan nama kakak Adam disebut. Aku langsung merekamnya kak."


Seketika terukir senyuman manis di bibir Adam ketika mendengar cerita sekaligus penjelasan dari adik kelasnya itu.


"Kalau kakak mau. Aku akan kirim sekarang rekamannya."


"Tentu. Kalau kamu tidak keberatan."


"Saya tidak keberatan sama sekali kak. Saya melakukan ini semata-mata untuk menolong kakak Zio. Kasihan kakak Zio harus dihukum atas apa yang tidak dia lakukan."


"Sebelumnya aku ucapkan terima kasih."


"Sama-sama kak. Kalau begitu aku tutup teleponnya agar aku bisa kirim rekamannya ke nomor kakak."


"Ach, baiklah!"


Setelah mengatakan itu, Ditta langsung mematikan panggilannya karena dia akan mengirimkan rekaman itu kepada Adam.


Melihat Adam yang tersenyum membuat mereka semua merasakan kebahagiaan. Dan mereka semua meyakini bahwa ada sesuatu yang diberikan oleh orang itu.


"Dam," panggil Danish.


Adam langsung melihat kearah kakaknya itu. "Iya, kak!"


"Siapa?"


"Ditta, adik kelas di kampus."


"Ngomong apa dia?" tanya Harsha.


"Dia mau mengirimkan sebuah rekaman."


"Memangnya rekaman apa?" tanya Juan.


"Kepo," jawab Adam.


Mendapatkan jawaban yang kurang memuaskan dari adik sepupunya itu membuat Juan mendengus kesal.


Ting...


Mendengar bunyi notifikasi masuk ke ponselnya, Adam langsung membuka dan melihatnya. Sebuah rekaman sekaligus video.


Klik..


Adam menekan tanda segitiga putih di layar ponselnya itu. Dirinya sudah penasaran apa yang direkam oleh adik kelasnya itu.


VIDEO :


Gue senang melihat pertengkaran Adam dan keenam sahabat-sahabatnya. Jadi dengan begitu, gue bisa bermain-main dengan Zio.


Kalau gue boleh tahu kenapa lo benci banget sama Zio? Apa lo udah kenal lama sama Zio?


*Iya. Gue sudah kenal lama dengan Zio. Lebih tepatnya, gue satu sekolah ketika SMP dulu. Selama gue kenal sama Zio, dia selalu mengambil apa yang menjadi milik gue.


Apa?


Dia merebut posisi gue menjadi ketua OSIS. Dia merebut cewek yang gue taksir, walau gue tahu dia nggak suka sama cewek itu. Tapi gara-gara dia cewek yang gue taksir itu tidak mau berpaling dari dia.


Dan sudah saat gue membalas rasa sakit hati gue sama dia. Dan satu balasan sudah gue jalankan*.


Di obrolan terakhir membuat Adam seketika mencerna ucapan pemuda itu.


"Satu balasan sudah gue jalankan," batin Adam.


Adam menatap ke depan sembari berucap. "Jangan-jangan vcd-vcd itu...."


Seketika Adam tersenyum di sudut bibirnya ketika telah mendapatkan sebuah petunjuk tentang kepemilikan vcd-vcd itu.


"Aku mendapatkanmu. Tunggu saja! Kejutan apa yang akan mendatangimu," ucap Adam.


Dan ucapannya itu didengar oleh kedua orang tuanya, kedua kakaknya dan semua anggota keluarganya.


Drrtt..


Drrtt..


Ponsel Adam berbunyi menandakan sebuah panggilan masuk. Adam melihat ke layar ponselnya, terlihat disana nama Rasky, tangan kanannya Zelo.


"Mudah-mudahan kabar baik lagi. Jadi aku bisa sekali membalas para tikus busuk itu," ucap Adam.


Sementara anggota keluarganya tersenyum dan geleng-geleng kepala mendengar ucapan kejam dari Adam.


"Hallo, Rasky."


"Hallo, tuan. Saya sudah mendapatkan apa yang tuan inginkan."


Tak bisa disembunyikan lagi. Adam seketika tersenyum lebar ketika mendengar ucapan dari Rasky.


"Katakan Rasky. Apa yang kau dapatkan tentang para tikus busuk di kampus ibuku?"


"Kecurigaan tuan tentang mereka benar. Selama ini mereka melakukan kecurangan di kampus nyonya Utari. Salah satunya adalah mereka mengambil keuntungan dari uang yang dibayarkan oleh para mahasiswa dan mahasiswi persetengah semester."


"Bukannya persemester?"


"Bukan tuan. Mereka membuat kebijakan baru dengan meminta para mahasiswa dan mahasiswi membayar uang kuliahnya setiap persetengah semester."


"Brengsek! Apa rektor dan dekan ikut dalam hal ini?"


"Tidak tuan. Rektor dan Dekan, mereka bersih. Tapi untuk wakil dekan, seperti terlibat tuan. Justru dia sebagai kepalanya."


"Apa kau sudah menyimpan semua bukti-bukti itu?"


"Sudah tuan. Buktinya sangat lengkap dan akurat."


"Apa kau juga sudah mendapatkan latar belakang keluarga mereka termasuk usaha yang mereka kelola?"


"Sudah tuan. Semua yang tuan minta ada pada saya."


Adam tersenyum penuh kebahagiaan ketika mendengar jawaban dari Rasky.


"Aku mau kau melakukan satu hal lagi."


"Apa itu tuan? Katakan!"


"Tekan dan buat usaha-usaha yang dimiliki oleh keluarga para tikus busuk itu diambang kehancuran. Setelah itu, kita akan datang sebagai dewa penolong. Dan dengan begitu aku akan merebut milik mereka."


"Ida yang bagus tuan. Baiklah tuan. Sesuai keinginan anda, tuan!"


"Terima kasih Rasky."


"Sama-sama, tuan! Kalau begitu saya tutup teleponnya agar saya bisa langsung melakukan apa yang tuan inginkan."


"Oke."


Tutt.. Tutt..


"Kalian sudah salah bermain-main denganku dengan bersikap curang di kampus milik ibuku," ucap Adam.


Deg..


Seketika Utari terkejut ketika mendengar ucapan dari putra bungsunya yang mengatakan ada yang bermain curang di kampus miliknya.


"Adam," panggil Utari.


Adam seketika melihat kearah ibunya dan dapat Adam lihat wajah sedih dan juga takut ibunya itu.


"Mama tidak perlu khawatir masalah itu. Aku janji sama Mama. Aku akan bawa para tikus busuk itu ke hadapan Mama biar Mama bisa melihatnya. Dan Mama bisa langsung memberikan hukuman kepada mereka."


Utari tersenyum dengan tangannya mengusap-usap lembut pipi putih putra bungsunya itu.