
Mereka semua mengalihkan pandangan mereka untuk melihat ke arah orang yang sangat mereka sayangi. Mereka semua kaget bercampur panik saat melihat wajah Yodha, Ayah dan Kakek mereka.
Bagas langsung beranjak dari duduknya diikuti oleh Davan dan Utari untuk menghampiri Ayah mereka yang tengah dipapah oleh sopirnya.
"Papa kenapa, pa?" tanya Utari dan langsung mengambil alih tubuh Ayahnya dari sang sopir dibantu oleh Bagas.
Utari dan Bagas menduduki Ayah mereka di sofa. Sedangkan Kamila sudah berlari ke dapur untuk mengambil minuman.
"Pa. Katakan padaku ada apa? Kenapa Papa pulang dari kantor seperti ini? Apa yang terjadi?" tanya Utari.
Yodha masih bungkam. Pikiran masih tertuju pada cucu kesayangannya, Adam. Dan lagi-lagi air matanya mengalir begitu saja membasahi pipinya.
"Pa. Katakan pada kami. Apa yang terjadi? Papa Jangan diam saja. Jangan buat kami semua khawatir," sahut Bagas.
Reza menatap kearah sopir pribadi kakeknya. "Paman. Katakan padaku. Apa yang terjadi pada Kakek? Kenapa Kakek jadi seperti ini?"
Semuanya menatap sopir tersebut dan menginginkan jawaban atas apa yang terjadi pada ayah, Kakek mereka.
"Tadi di jalan kami dicegat empat orang preman. Dan preman-preman itu berhasil menyakiti tuan besar. Lalu...!" ucapan sopir itu terhenti dan kepalanya menunduk.
"Lalu apa? Buruan katakan. Jangan membuat kami makin khawatir!" tanya Bagas dengan nada sedikit meninggi.
"Sayang, sabar." Alin berusaha menenangkan emosi suaminya.
"Ada seorang pemuda yang datang menolong kami berdua, termasuk tuan besar. Dan pemuda itu berhasil melumpuhkan keempat preman tersebut dan membuat keempat preman itu pergi. Yang membuat tuan besar menjadi seperti ini adalah karena tuan besar sangat kaget dan juga bahagia saat melihat wajah dari pemuda tersebut. Wajah pemuda itu mirip dengan.. dengan..."
"Dengan siapa?!" teriak Ardi.
"Tuan muda Adam," jawab sopir itu.
"Apa?!" teriak mereka semua.
"Ya, sudah. Kembalilah ke kamarmu dan beristirahatlah," kata Alin.
Mereka semua menatap Yodha. "Pa." Lirih Utari
"Dia cucuku. Cucuku kembali. Cucuku masih hidup," lirih Yodha.
"Pa. Lihat aku. Aku mohon lihatlah ke arahku." Utari memohon pada ayahnya.
Yodha melihat kearah Utari dan juga menatap semua anggota keluarganya. "Papa bertemu dengan putra bungsumu Utari. Dia Adam. Papa sangat yakin dia Adam, cucu papa. Wajahnya, senyumannya, bentuk tubuhnya dan tinggi badannya semuanya sama seperti Adam. Bahkan tahi lalat di bawah bibirnya itu juga sama. Saat Papa memeluknya, Papa merasakan kehangatan dan kenyamanan."
"Adam," batin Danish, Ardi dan Harsha.
"Utari. Papa sangat yakin. Jika kau yang bertemu dengannya. Pasti kau akan merasakan apa yang Papa rasakan. Apalagi kau adalah seorang ibu. Kau yang menjaga dan merawatnya dari bayi. Karena perasaan seorang ibu itu lebih kuat dari apapun."
"Di dunia ini tidak ada manusia yang mirip 100% dengan orang lain. Kecuali mereka saudara kembar. Sedangkan saudara kembar saja ada yang mirip dan ada juga yang tidak mirip. Sedangkan kau tidak melahirkan bayi kembar sama sekali saat itu. Jadi mana mungkin ada orang yang benar-benar mirip dengan Adam, cucuku," tutur Yodha yang menatap wajah putrinya.
Yodha menggenggam tangan Utari. "Papa yakin dan sangat yakin. Pemuda itu adalah Adam. Putra bungsumu. Cucu Papa."
"Apa benar yang dikatakan kakek kalau pemuda yang menyelamatkan kakek mirip Adam?" batin Harsha.
"Apa benar dia Adam? Adam adikku!" batin Danish.
"Aku penasaran dengan pemuda yang telah menyelamatkan kakek. Apa benar yang dikatakan kakek kalau wajahnya mirip dengan Adam," batin Ardi.
***
Nicolaas dan Vigo berada di ruang tengah. Mereka sibuk dengan urusan masing-masing. Dan tiba-tiba mereka berdua dengan kompak teringat akan sang adik yaitu Allan Liam Adiyaksa.
"Kenapa Allan belum pulang?" mereka berucap secara bersamaan.
Mereka saling melirik..
"Apa kau juga memikirkan Allan, kak?" tanya Vigo.
"Eemm."
"Tapi kenapa Allan perginya lama sekali?" tanya Vigo.
"Kakak akan menghubunginya," sahut Nicolaas lalu menekan nomor ponsel adiknya itu.
"Aish. Ponselnya tidak aktif lagi," kesal Nicolaas.
"Kakak. Apa terjadi sesuatu pada Allan?" tanya Vigo khawatir.
"Kau ini bicara apa, Vigo! Semoga Allan baik-baik saja. Kita tunggu sampai jam tiga sore. Kalau belum juga kembali. Kita akan cari dia." Nicolaas berucap dengan tegas.
Vigo hanya bisa menuruti perkataan kakaknya.
***
Di sebuah Cafe O'SULLOC TEA HOUSE JAKARTA terlihat seorang pemuda tampan, manis, imut dan juga bantet siapa lagi kalau bukan Zahir Gala Meidiawan. Gala berada di cafe itu bersama kakak kesayangannya yaitu Omar Carlo Meidiawan.
"Dalam rangka apa kau mengajakku makan di cafe, kak?" tanya Gala menyelidiki sikap kakaknya itu.
"Pertanyaan macam apa itu?" tanya balik Carlo pada adik bungsunya yang fokus pada makanannya.
"Yak! Kau bilang apa? Jadi kau mencurigai kakakmu sendiri, begitu?" kesal Carlo dibuat-buat.
"Bukan begitu. Habisnya kakak tumben sekali mengajakku makan di cafe. Biasanya setiap aku ingin mengajak kakak makan di cafe, jawabannya selalu sibuk," jawab Gala.
"Kakak minta maaf kalau selama ini kakak terlalu sibuk dengan tugas-tugas kuliah kakak. Ditambah lagi kakak membantu Papa di perusahaan. Kasihan Papa mengurus perusahaan besar itu sendirian. Sedangkan kak Ammar mengurus perusahaan kita di Jerman dan hal itu membuat kakak maupun kak Ammar tidak ada untukmu." Carlo berbicara dengan raut menyesal
"Aku mengerti, kak. Maafkan aku. Tapi kalau boleh jujur, aku sangat-sangat merindukan kalian berdua. Aku ingin kalian membagi waktu untukku, walaupun hanya dua kali dalam seminggu juga tak apa. Dulu saat masih ada Adam, aku bisa menghabiskan waktuku bersamanya. Bersama yang lainnya juga. Kami selalu berkumpul bersama. Tapi semenjak kepergiannya, kami jarang berkumpul lagi. Kemarin adalah hari pertama kami berkumpul bersama kembali, setelah lima bulan kami cuti kuliah dengan alasan karna kami akan selalu mengingat Adam saat kami berada di kampus." seketika Gala menangis mengingat adik kelincinya.
Melihat adiknya menangis, Carlo menjadi tidak tega. Carlo pun menghapus air mata adiknya itu. "Sekali lagi maafkan kakak. Kakak akan berusaha untuk membagi waktu kakak untukmu."
"Apa kau merindukan sahabat kelincimu itu?" tanya Carlo.
"Sangat. Aku sangat merindukannya kak. Aku tidak menyangka Adam akan pergi secepat itu. Dan kepergiannya pun sangat-sangat tragis. Meninggal dalam ledakan di sebuah gudang. Setiap kami mengingat kejadian itu, kami semua selalu menyalahkan diri kami sendiri, karena merasa gagal menyelamatkannya. Ditambah lagi pada saat itu, harapan dan keinginannya sudah terpenuhi." Gala menjawab dengan suara bergetar.
"Apa itu?" tanya Carlo.
"Bertemu dengan ayah kandungnya," jawab Gala.
"Maksudmu?" tanya Carlo bingung.
"Dari Adam lahir sampai Adam tumbuh menjadi pemuda yang sangat tampan, Adam tidak pernah mengenal Ayahnya. Baik nama maupun wajah Ayahnya. Dikarenakan ada permasalahan antara kedua orang tuanya. Dan Adam juga tidak mengetahui bahwa dia juga memiliki dua orang kakak," jawab Gala.
"Jadi maksudmu Adam tinggal bersama ibunya dan keluarga ibunya. Dan Adam selama ini hanya tahu Ardi dan Harsha sebagai saudaranya?" tanya Carlo.
"Eemm," Gala mengangguk.
"Tapi disaat Adam sudah bertemu dengan ayahnya dan dua kakaknya. Justru takdir berkata lain. Mereka kembali dipisahkan," lirih Gala.
***
Allan saat ini berada di Taman Kota. Allan duduk di sebuah bangku yang tersedia di sana. Pikiran kini sedang kacau, kalut dan juga bingung. Allan memikirkan banyak hal. Kemudian Allan mengingat dengan ucapan dan perkataan dari dua teman kampusnya dan seorang laki-laki tua yang ditolongnya.
FLASHBACK ON
"A-adam," lirih Ariel dan langsung memeluk tubuh Allan. "Hiks.. Lo masih hidup, Dam? Gue bahagia banget bisa bertemu lo lagi," ucap Ariel dan hal itu sukses membuat Allan terkejut dan juga bingung.
"Lo gak kenal ama kita berdua, Dam?" tanya Jasmine. "Gue Jasmine dan yang barusan meluk lo tu Ariel. Kita berdua sahabat lo. Awal persahabatan kita itu terjalin saat kita duduk dibangku kelas 1 SD sampai lulus SMP. Hanya SMA saja yang kita tidak satu sekolah, tapi kita masih menjalin hubungan melalui komunikasi dan media sosial." Jasmine menjawab dengan deraian air mata.
"Cucuku. Adam cucuku. Kakek merindukanmu. Kau kemana saja selama ini? Kenapa tidak pulang ke rumah?" ucap dan tanya Yodha.
FLASHBACK OFF
"Adam? Siapa Adam? Kenapa mereka memanggilku dengan sebutan Adam?"
"Siapa mereka? Apa aku mengenali mereka? Kenapa seakan-akan mereka begitu dekat denganku? Kalau mereka mengenaliku, kenapa aku sama sekali tidak mengenali mereka?" batin Allan.
"Ini benar-benar membuatku bingung. Kalau seperti ini terus, lama-lama aku bisa gila dan mati dalam rasa penasaran," gumam Allan.
***
Setelah mendengar cerita dari sang kepala keluarga yaitu Yodha mengenai pemuda yang telah menyelamatnya. Dimana pemuda itu sangat mirip dengan orang yang sangat amat mereka sayangi yaitu Dirandra Adamka Bimantara/Abimanyu. Pikiran mereka kini terus memikirkan pemuda tersebut, terutama Utari.
"Apa benar itu kau, sayang? Ya, Tuhan. Aku mohon pertemukan aku dan pemuda itu. Apabila benar dia putra bungsuku, kembalikan dia ke dalam pelukanku," batin Utari.
"Tuhan. Aku berharap padamu. Apabila pemuda itu benar-benar Adam, adikku. Kembalikan dia padaku. Kembalikan dia pada kami keluarganya," batin Danish, Garry, Ardi dan Harsha dan saudara-saudara lainnya berdoa.
"Adam, sayang. Apa benar itu kau, nak?" batin Evan.
***
Lima belas menit yang lalu, baik Gala dan Carlo selesai menikmati makan bersama mereka di Cafe. Dan mereka kini dalam perjalanan untuk pulang ke rumah.
"Kita langsung pulang atau jalan-jalan dulu, hum?" tanya Park Carlo.
"Bagusnya bagaimana?" tanya Gala balik.
"Yak! Kakak bertanya kepadamu. Kenapa kau malah balik nanya kepada kakak?" kesal Carlo.
"Hehehe." Gala terkekeh. "Bagaimana kalau kita ke Taman Kota?"
"Baiklah. Kita kesana," jawab Carlo.
Mereka pun pergi menuju taman kota. Taman Kota itu juga tempat favorit para Geng Brainer. Setiap mereka lelah di kampus atau selesai berkelahi dengan Geng Bruizer yang ketika itu masih menjadi musuh, geng Brainer selalu pergi ke Taman Kota hanya untuk sekedar melepaskan beban mereka.
Setelah berperang lama dengan pikirannya. Allan pun beranjak dari duduknya. Dirinya tidak mau mati dalam rasa penasaran dan juga menjadi gila hanya karena orang-orang memanggilnya dengan sebutan Adam.
Adam pun akhirnya memutuskan untuk meninggalkan Taman Kota dan pulang ke rumah dan melupakan apa yang telah terjadi pada dirinya dalam satu hari ini.
"Ach. Bodo amat. Mau Allan atau pun Adam. Bagiku, aku adalah Allan. Allan Liam Adiyaksa," gerutu Allan.
Allan melangkahkan kakinya menuju motor sport miliknya.
Di tempat lain dan di lokasi yang sama. Gala dan Carlo telah sampai di Taman Kota. Begitu menginjakkan kaki di Tanah Kota yang ada dalam pikiran Gala adalah kebersamaannya dengan geng Brainer, terutama kebersamaannya dengan Adma.
Gala dan Carlo menduduki diri mereka di salah satu bangku yang ada di sana. Sudah lima bulan lamanya, baik Gala maupun yang lainnya tidak pernah lagi pergi ke Taman Kota. Mereka lebih memilih mengurung diri mereka masing-masing di rumah, lebih tepatnya di dalam kamar.