THE FRATERNITY

THE FRATERNITY
S3. Penyesalan Ringga



Krekk..


Krekk..


Terdengar bunyi suara pematik senjata api sehingga membuat seseorang yang baru keluar dari rumah sewa dan melangkah kakinya menuju area kampus seketika berhenti. Kemudian orang itu melihat ke sekelilingnya. Dan sontak membuat orang itu terkejut. Orang itu melihat banyak senjata yang mengarah kearah dirinya yang sewaktu-waktu akan menyemburkan timah panas ke seluruh tubuhnya.


"Kau kalah Ringga Ardana Pramana!" seru seorang pemuda yang datang bersama Adam, keenam sahabatnya para kakak-kakaknya dan para sahabat-sahabatnya kakaknya.


Orang itu adalah Ringga Ardana Pramana, kakak sepupu dari Olaf Jordan Pramana.


Ringga berniat untuk memasuki area kampus. Tujuannya hanya satu adalah Adam. Dengan membawa Adam atau menculik Adam sehingga Ringga bisa membuat Jordan dan keluarganya keluar.


Kini semuanya telah berada di luar Kampus. Tepatnya di depan gerbang kampus. Orang-orang yang mengarahkan senjatanya kearah Ringga adalah anggota dari kelompok KARTEL dan kelompok mafia CAMORRA. Hanya beberapa saja. Selebihnya berpencar dan bersembunyi di beberapa tempat jika sewaktu-waktu Ringga berniat untuk kabur.


Bisa dipastikan siang ini seorang Ringga tidak akan bisa lolos karena gerak-geriknya sudah terlacak oleh komputer milik Diego (anggota Vagos). Bahkan kelompok Vagos dan kelompok Lilax sudah standby di lokasi masing-masing yang tak jauh dari area Kampus.


Ringga menatap kearah pemuda yang saat ini berdiri tak jauh dari hadapannya. Bahkan Ringga juga bisa melihat wajah Adam yang berdiri di samping kanan pemuda itu.


"Hallo, Paman Ringga! Kenalkan namaku adalah Faas Gerard Pramana! Putra sulung dari Olaf Jordan Pramana!"


Deg..


Ringga seketika terkejut ketika mendengar ucapan dari pemuda yang ada di hadapannya itu. Dirinya tidak menyangka jika Gerard keponakannya itu selamat dari kecelakaan 13 tahun yang lalu.


"Ka-kau," ucap gugup Ringga.


"Kenapa? Apakah Paman kesayanganku ini terkejut karena keponakannya masih hidup, hum?" tanya Gerard dengan nada mengejeknya.


Gerard menatap penuh amarah kearah Ringga. Dirinya benar-benar dendam akan perlakuan pamannya itu terhadap dirinya dan keluarganya.


"Aku tidak menyangka. Hanya karena demi sebuah harta dan kekayaan. Paman sampai rela melakukan hal keji itu padaku dan keluargaku!" bentak Gerard.


"Kau tidak pantas disebut manusia! Kau lebih pantas disebut iblis!" teriak Gerard.


Mendengar perkataan dan teriakan dari Gerard membuat Ringga seketika tertawa keras.


"Hahahahaha."


Mendengar suara tawa yang begitu keras dari Ringga membuat Gerard menatap makin penuh amarah. Begitu juga dengan yang lainnya. Semuanya menatap marah kearah Ringga.


"Salahkan saja ayahmu yang serakah itu! Dia merebut semuanya dariku! Dia mengambil hakku!" teriak Ringga.


Flashback On


"Kakek tidak bisa seperti itu. Aku juga cucu kakek. Bahkan aku yang paling tua di dalam keluarga Pramana! Kenapa dia diberikan hak penuh akan semua kekayaanmu. Sementara aku tidak mendapatkan apapun!" teriak Ringga menatap marah kakeknya.


Ringga tidak terima atas perlakuan tak adik kakeknya. Dulu kakeknya tidak bersikap adil terhadap ayahnya. Kakeknya lebih memilih putra keduanya dari pada putra sulungnya.


Sekarang kakeknya itu melakukan hal yang sama dengan tidak bersikap adil padanya dan adik sepupunya Olaf Jordan Pramana.


"Kalau Kakek menyerahkan semua kekayaan kakek dan semua tanggung jawab padamu, maka semua itu akan hancur di tanganmu. Kakek tahu siapa kamu. Kamu suka berjudi, mabuk-mabukan, main perempuan dan bahkan kamu sudah banyak menghabiskan uang terutama uang perusahaan. Apa jadinya jika kakek menyerahkan semua kepada kamu!"


"Itu hanya alasan kakek saja. Bilang saja kalau kakek tidak pernah menyayangiku dan tidak pernah menganggap aku sebagai cucu kakek!" teriak Ringga.


"Jaga ucapanmu, Ringga!" teriak sang kakek.


"Kenapa?! Apa kakek mau marah?! Aku benarkan? Kalau aku cucu kakek, maka kakek tidak akan berat sebelah."


Flashback Off


"Ayahmu seorang laki-laki bejat, tamak dan serakah! Bahkan ayahmu laki-laki tidak tahu diri!" teriak Ringga.


"Jangan beraninya kau menghina ayahku! Yang tidak tahu diri itu adalah kau!" teriak Gerard.


"Hahahaha... Kenapa? Apa kau marah, hah! Bahkan ayahmu itu seorang pembunuh. Ayahmu sudah membunuh ayahku karena ketamakannya akan harta kakek!"


"Brengsek!" teriak Gerard lalu berlari hendak memberikan pukulan ke wajah Ringga.


Bugh..


"Kau benar-benar manusia busuk. Manusia yang tidak memiliki hati!" teriak Gerard.


Bugh..


"Aakkhhh!"


"Papi sangat menyayangi Paman. Bahkan Papi selama ini mencari keberadaan Paman karena ingin mengajak Paman untuk memimpin perusahaan keluarga Pramana bersama-sama. Papi tidak bisa memimpin perusahaan itu sendiri karena menurut Papi perusahaan itu juga milik Paman!" teriak Gerard.


"Paman tahu tidak. Perusahaan tersebut tidak memiliki pimpinan. Papi menyerahkan semua tanggung jawab perusahaan kepada orang-orang kepercayaan kakek. Mereka yang menggantikan Papi untuk sementara waktu. Papi melakukan semua itu hanya untuk mencari Paman!"


Gerard menatap penuh amarah kearah Ringga sang Paman. Dirinya menatap marah sekaligus menatap kasihan dan juga iba.


"Papi rela mengorbankan segalanya dengan meninggalkan semua yang diberikan oleh kakeknya demi bisa bertemu dengan Paman. Bahkan Papi mendirikan perusahaan sendiri sebagai bentuk bahwa Papi bukanlah laki-laki yang haus akan kekuasaan dan tamak dengan harta kekayaan. Namun justru Paman melakukan kebalikannya. Paman memerintahkan orang-orang untuk mencelakai Papi. Paman menyuruh orang kepercayaan Paman untuk selalu meneror Papi dengan mengatakan akan menghancurkan Papi melalui aku Melky. Bahkan kecelakaan 13 tahun yang lalu itu juga ulahnya Paman!"


"Dan satu lagi kenyataan yang harus Paman ketahui tentang kakek Rasyid yang tak lain adalah ayahnya Paman. Sebenarnya kakek Rasyid mengetahui alasan kenapa semua kekayaan dan tanggung jawab perusahaan keluarga besar Pramana di tangan Papi. Itu karena untuk membuat Paman berubah. Kakek Rasyid ingin Paman berubah menjadi laki-laki yang bertanggung jawab. Masalah warisan. Sebenarnya semuanya dapat. Semua cucu-cucunya mendapatkan pembagian yang sama rata, termasuk Paman sendiri! Masalah Papi yang menjadi ahli waris dan memikul semua tanggung jawab untuk hanya alibi saja. Sebenarnya Paman mendapatkan setengahnya karena Paman adalah cucu tertua!"


Mendengar ucapan demi ucapan dari Gerard seketika membuat Ringga terdiam di tempatnya. Tubuhnya mematung ketika mendengarkan semua kebenaran tentang adik sepupunya itu.


Ringga menatap tepat di tatapan mata Gerard keponakannya itu. Terlihat ada kejujuran disana. Semua yang dikatakan oleh keponakannya itu adalah kenyataannya.


Bruk..


Seketika tubuh Ringga terjatuh terduduk di tanah. Setetes air matanya mengalir membasahi wajahnya ketika mendengar semua kebenaran tentang kakeknya yang tidak memberikan haknya.


"Ka-kakek... Papa," lirih Ringga.


Melihat kondisi sang Paman saat ini membuat Gerard menatap kasihan. Begitu juga dengan yang lainnya. Beberapa orang kemudian menurunkan senjatanya. Mereka semua menatap kearah Ringga waspada.


"Papi begitu menyayangi Paman. Begitu juga dengan kakek Rasyid. Mereka ingin yang terbaik untuk Paman. Mereka ingin Paman berubah."


"Hiks... Hiks." Ringga terisak.


Ringga benar-benar menyesal telah melakukan kebodohan di masa lalu hingga berdampak dirinya kehilangan orang-orang yang menyayanginya.


"Maafkan Paman. Maafkan Paman. Jika kau ingin menghukum Paman. Bawa Paman ke kantor polisi. Paman siap menerima hukumannya. Paman siap menerima sanksinya."


Mendengar perkataan dari Ringga membuat mereka semua menatap dengan senyuman. Mereka semua bahagia karena Ringga benar-benar berubah. Begitu juga dengan Gerard.


Gerard menatap tepat di manik hitam pamannya itu. Dapat Gerard lihat ada ketulusan dan kesungguhan disana. Pamannya benar-benar menyesali perbuatannya di masa lalu.


Gerard seketika memeluk tubuh Ringga. Dirinya benar-benar tidak tega melihat kondisi Ringga saat ini.


"Aku sayang Paman. Aku tidak membenci Paman. Yang aku benci dari Paman adalah sifat Paman."


"Hiks... Hiks... Maafkan Paman Gerard. Maafkan Paman yang sudah membuat kamu... Hiks... adikmu dan ayahmu celaka sehingga kau berpisah dengan mereka."


Gerard tersenyum mendengar untaian maaf dari Ringga. Dirinya bersyukur jika Paman berubah dan menyadari kesalahannya.


"Lupakan saja. Kita tidak perlu mengingatnya lagi."


Beberapa detik kemudian, terdengar serine polisi.


"Tuan Ringga. Anda ditahan atas kasus kecelakaan 13 tahun yang lalu."


Ringga langsung berdiri. Kemudian menatap kearah beberapa polisi.


Ringga kembali menatap kearah Gerard lalu kemudian Ringga memeluk tubuh Gerard untuk pertama kalinya.


"Terima kasih sudah mau memaafkan kesalahan Paman. Paman berusaha untuk menjadi laki-laki yang baik sesuai keinginan ayahnya Paman!"


"Paman pasti bisa. Aku yakin itu."


Setelah itu, Ringga melepaskan pelukannya lalu sedikit berjalan menuju beberapa polisi.


Ringga kemudian menyerahkan kedua tangannya untuk diborgol, namun polisi tersebut tidak melakukannya. Justru polisi itu membawa Ringga menuju mobil polisi dengan cara memegang pergelangan tangannya dengan lembut.