THE FRATERNITY

THE FRATERNITY
Jatuh Pingsan



Suasana hiruk pikuk kota Jakarta yang tidak pernah mati aktifitas menyambut pagi Adam seperti biasanya. Pemuda berumur 20 tahun dan berada di semester 2 kuliahnya di Universitas Seoul itu lantas menuruni lantai 2 rumahnya dengan semangat.


"Adam, kau sudah mau berangkat, sayang? Tumben pagi-pagi sekali!"


Adam dengan segera melirik jam tangannya. Pukul 6 pagi. Senyum pemuda bermarga Abimanyu itu langsung mengembang dan dengan kecepatan kilat dirinya menghampiri ibunya, lalu mengecup singkat pipi wanita yang sudah mengandungnya selama 9 bulan itu.


"Mama yang tumben bangun sepagi ini," jawab Adam lalu segera duduk di meja makan menghindar dari amukan sang ibu.


"Kau ya. Sudah mulai berani sama Mama. Ya, sudah! Sekarang kamu makan sarapannya ada di atas meja. Mama sengaja bangun pagi dan memasak untukmu. Karena ini untuk pertama kalinya Mama memasak lagi untukmu. Terakhir Mama masak saat kamu mau berangkat ke Amerika," ucap Utari tersenyum bahagia.


Adam tertawa kecil sembari mengambil makanan di atas meja, lalu memakannya seperti perintah ibunya.


"Terima kasih," ucap Utari kepada putranya.


"Terima kasih untuk apa, Ma?" tanya Adam bingung.


"Terima kasih karena kamu sudah mau pulang dan kamu sudah tidak marah lagi sama Mama," jawab Utari tersenyum bahagia.


"Aku sayang Mama dan aku tidak bisa marah sama Mama. Mama adalah malaikat bagiku. Maafkan aku," lirih Adam.


Utari tersenyum "Kau adalah putra Mama. Sekalipun kau tidak mengucapkannya, Mama dengan rela memberikannya, sayang!" seru Utari.


Disaat mereka sedang asyik berduaan di meja. Melepaskan rasa rindu antara ibu dan anak, sarapan pagi bersama orang terkasih. Tiba-tiba ada yang datang merusak moment indah mereka dengan teriakan yang melengking yang bisa merusak gendang telinga.


"Adam!" teriak Harsha yang posisinya menuruni anak tangga yang disusul oleh Ardi di belakang yang hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan sepupu aliennya.


Mereka sudah berada di meja makan.


"Pagi Mama Utari," sapa Harsha dan Ardi bersamaan.


"Pagi juga, sayang." Utari membalas sapaan kedua keponakannya.


"Aish! Dasar perusak, pengganggu!" gerutu Adam pelan, tapi masih terdengar oleh mereka.


Sedangkan Utari tersenyum gemas melihat putranya menggerutu dan menggerak-gerakkan bibirnya.


"Kau bicara apa, Dam?" tanya Harsha.


"Tidak ada siaran ulang," balas Adam kesal.


"Eemm. Sepertinya ada yang lagi bahagia, nih." Ardi berbicara sembari menggoda bibinya.


"Mama Utari kelihatannya bahagia sekali pagi ini. Ini yang pertama kali aku melihat senyuman Mama Utari di meja makan. Biasanya tidak seperti ini. Mama Utari selalu murung dan tidak nafsu makan. Dan sekarang mama Utari sudah kembali. Apa semua ini karena Adam. Karena Adam sudah kembali ke rumah?" tutur Harsha.


Adam yang mendengar ucapan Harsha kaget "Apa? Jadi selama ini Mama menderita gara-gara aku. Mama selalu menangisiku. Maafkan aku, Ma." Adam berbicara di dalam hatinya, lalu tiba-tiba air matanya mengalir begitu saja membasahi wajah tampannya.


Utari yang menyadarinya, langsung beranjak dan pindah duduk di samping putranya.


"Hei, kenapa sayang? Kenapa kamu menangis? Lihat Mama." Utari berbicara lembut kepada putranya.


"Maafkan aku, Ma! Aku sudah buat Mama menangis. Itu semua karena aku. Aku anak yang jahat," jawab Adam yang masih menangis dan kepalanya menunduk.


Sedangkan Ardi menatap horor kearah Harsha. Yang ditatap malah kebingungan.


"Sayang, dengar Mama. Kamu jangan bicara seperti itu. Kamu tidak salah sama Mama. Kalau dibilang siapa yang salah. Yang salah itu Mama. Karena mama sudah membuatmu tidak pernah tahu tentang papamu. Selama ini kamu bertanya pada Mama tentang papamu dan Mama hanya menjawab kalau papamu sudah meninggal. Mama akan kasih tahu kamu, apa papa sudah meninggal atau masih hidup? Tapi Mama minta, kamu jangan memaksa Mama untuk mengatakan semuanya. Karena mama tidak mau mengingat masa lalu Mama lagi," tutur Utari.


Adam berlahan mengangkat kepalanya dan menatap wajah cantik mamanya dengan wajah yang dipenuhi air mata. Utari tersenyum dan menghapus air mata putra bungsunya.


"Apa yang akan Mama katakan padaku soal Papa?" tanya Adam.


"Papamu masih hidup. Dia masih hidup," jawab Utari.


Adam membelalakkan kedua bola matanya. Dirinya benar-benar kaget atas ucapan ibunya.


"Apa?!" tanya Adam sedikit berteriak.


Tidak jauh beda dengan Ardi dan Harsha. Mereka juga kaget mendengar ucapan dari Bibinya.


Mendengar teriakan Adam membuat anggota keluarga lainnya berlari keluar. Mereka melihat Utari dan Adam sedang bersitegang. Mereka menghampiri Utari dan Adam.


"Ada apa ini, Utari?" tanya Yodha sang Ayah.


Hening..


Adam beranjak dari kursinya dan pergi meninggalkan mereka semua, tapi tangannya dengan cepat diraih oleh ibunya.


"Maafkan Mama," lirih Utari.


Adam menatap ibunya dan meminta penjelasan darinya. "Kenapa Mama membohongiku selama ini? Kenapa Mama mengatakan Papa sudah meninggal, tapi kenyataannya Papa masih hidup. Kenapa Mama lakukan ini padaku? Kenapa, Ma? tanya Adam menangis terisak.


"Hiks.. asal Mama tahu alasan aku mau pulang ke rumah itu demi Mama. Hanya Mama yang aku miliki. Dan aku tidak mempermasalahkan soal Papa lagi. Hiks.. aku berusaha untuk menerima semuanya dan mempercayai Mama kalau Papa memang sudah meninggal. Tapi.. hiks.. ini apa, Ma? Barusan Mama mengatakan kalau Papa masih hidup." Adam makin terisak.


Mereka yang melihatnya Adam yang sudah terisak menjadi tidak tega. Mereka semua ikut menangis dan merasakan kesedihan ibu dan anak itu.


"Maafkan Mama.. maafkan Mama yang sudah membohongimu selama ini. Mungkin kesalahan Mama tidak bisa dimaafkan, tapi Mama melakukan ini bukan tanpa sebab. Mama melakukan ini bukan untuk memisahkanmu dengan papamu. Tapi semua ini terpaksa dan keadaan yang mendesak." Utari tidak bisa membendung air matanya. Dirinya juga menangis.


"Keadaan mendesak? Kalau begitu katakan padaku apa alasan Mama melakukan ini semua kepadaku? Aku bukan anak kecil lagi, Ma! Usiaku sudah 20 tahun. Jadi, aku sudah mengerti masalah kalian para orang tua," ucap Adam yang berubah dingin saat menatap mata ibunya. "Katakan padaku, Mama!" Adam berucap dengan penuh penekanan.


Utari hanya bisa diam dan membisu saat melihat kemarahan putranya. Dirinya dapat melihat tatapan marah dan kecewa pada kedua mata putranya itu.


"Baik. Kalau Mama tidak mau mengatakan alasannya. Aku pergi dari rumah ini. Aku menyesal sudah kembali ke rumah ini," ucap Adam dan langsung melangkahkan kakinya menuju pintu keluar.


Sedangkan semua anggota keluarga yang mendengar ucapan Adam kaget dan tak percaya. Baru kemarin Adam pulang. Baru sehari Adam berada di rumah, tapi dia mau pergi lagi.


Lalu tiba-tiba saja suara seseorang menghentikan langkah Adam.


"Kau tidak boleh pergi kemana-mana Dirandra Adamka Abimanyu! Dan jangan sekali-kali kau berniat untuk kabur dari rumah ini. Beginikah caramu menyelesaikan masalah, hah? Setiap ada masalah kau selalu kabur. Apa ini yang disebut sudah dewasa? Kakak rasa belum, kau masih anak kecil yang manja!" teriak Fahreza Rahka Abimanyu.


Lalu dirinya menghampiri Adam yang masih setia berdiri membelakangi anggota keluarganya. Jangan lupa air matanya masih mengalir. Reza menepuk pelan bahu Adam, tapi dengan kasarnya Adam menepis tangan tersebut. Reza hanya tersenyum. Dirinya tahu kalau mood adik sepupunya lagi buruk dan dirinya tidak mau menambah buruk lagi.


"Kakak tahu perasaanmu, Dam! Sangat tahu. Kau adik kakak. Walaupun pun hanya adik sepupu, tapi kau sudah kakak anggap seperti adik kandung kakak sendiri. Kakak sangat menyayangimu. Kakak sudah pernah bilang padamu. Kau kehilangan satu orang Papa. Tapi kau memiliki dua orang Papa yang lain. Papa kakak papamu juga. Kita ini satu keluarga," tutur Reza.


"Apa sudah selesai bicaranya? Apa ada lagi yang mau disampaikan atau yang lainnya mau menambahkan?" tanya Adam ketus tanpa sedikit pun menatap kakak sepupunya.


Semuanya kaget dan benar-benar kaget mendengar ucapan yang keluar dari mulut Adam.


"Kau memang benar-benar keras kepala Dirandra Adamka Abimanyu," ucap Ghaisan Rafig Abimanyu kesal.


Adam membalikkan badannya dan menatap tajam kearah Rafiq.


"Yah! Kau benar, kak. Aku anak yang keras kepala. Aku begini juga gara-gara kalian. Kalian saling kerja sama membohongiku mengenai papaku. Apa aku salah ingin memiliki seorang papa seperti kalian? Apa aku tidak berhak memiliki seorang Papa? Apa aku memang ditakdirkan untuk tidak memiliki Papa, hah?!" teriak Adam.


Adam menatap ibunya "Hiks.. apa salahku, Ma? Kenapa Mama melakukan ini kepadaku.. hiks? Aku hanya ingin memiliki keluarga yang utuh, sama seperti kak Ardi dan kak Harsha. Apa aku salah meminta hal itu? Apa aku harus mengorbankan nyawaku dulu, baru aku bisa mendapatkan apa yang aku mau? Kalau memang dengan cara itu aku bisa mendapatkan apa yang aku mau, aku bersedia melakukannya," ucap Adam putus asa.


Utari menggeleng-gelengkan kepalanya. Dirinya terus menangis.


"Tidak, sayang.. Tidak, nak! Jangan berkata seperti itu, sayang."


"Ya, sudahlah. Aku muak dengan semua ini. Lebih baik aku pergi dari sini." Adam berbicara dengan nada ketus


Setelah itu, Adam melangkahkan kakinya menuju pintu keluar. Lagi-lagi langkahnya terhenti.


"Papamu tidak menginginkan keberadaanmu. Dia tidak mengakuimu sebagai anaknya. Dia mengatakan kau adalah anak haram. Bahkan keluarganya. Nenekmu dan Bibimu, mereka membenci Mama dan juga dirimu. Mereka sudah mengusir kita berdua dari rumah mereka, karena Nenek dan Bibimu menganggap Mama wanita miskin yang sudah berani menikah dengan seorang pria kaya raya. Dan Mama tidak sebanding dengan mereka. Apa kau masih menginginkan pria brengsek itu menjadi papamu? Dan apa kau masih tetap menganggapnya sebagai Papa untukmu?!" teriak Utari dan seketika tubuh lemahnya merosot ke lantai.


Sedangkan Adam, pandangannya kosong menatap ke depan. Pikiran melayang ntah kemana. Dirinya berdiri tetap di posisinya tanpa ada reaksi sama sekali. Tubuhnya seakan-akan membeku seperti es tidak bisa digerakkan. Hal itu membuat semuanya panik dan khawatir karena melihat Adam yang tidak bergeming ataupun bergerak dari posisinya berdiri. Lalu tanpa komando apapun Ardi dan Harsha menghampiri Adam. Saat mereka berada tepat di depan Adam. Sementara Adam tidak bereaksi sama sekali.


"Adam!" teriak Ardi.


Tidak ada jawaban dari Adam.


"Dirandra Adamka Abimanyu!" teriak Ardi lagi sambil menggoyang-goyangkan tubuh Adam.


Namun, hasilnya tetap sama. Adam tidak memberikan respon sedikitpun. Dan tiba-tiba satu tamparan melayang di pipinya.


PLAAKK!


Harsha menampar Adam dengan keras dan hasilnya Adam memalingkan wajahnya ke arah Harsha. Adam menatap Harsha dengan mata yang sendu, lalu pandangannya menghitam. Semuanya gelap.


Daaannnnn...


BRUUKK!


"Adam!" teriak mereka semua, lalu menghampiri Adam.