THE FRATERNITY

THE FRATERNITY
S2. Mencoba Untuk Mengingat



Harsha kini sedang berada game room. Dirinya tidak bermain disana, melainkan hanya duduk dan matanya sibuk memperhatikan satu persatu jenis permainan yang ada di ruangan tersebut. Saat ini Harsha tengah merindukan adik kelincinya itu.


Ada lima belas jenis permainan di ruangan itu, tapi hanya tujuh permainan yang sering dimainkan oleh Adam dan sisanya hanya disentuh satu kali olehnya. Itu pun saat awal game room ini dibuka oleh kakek mereka, Yodha.


Alasannya adalah tidak seru dan tidak menantang. Tujuh permainan yang sering dimainkan oleh Adam adalah Bola Basket, Mobil Balapan, Hip Hop Dance, Karaoke, Prize Claw, Lemparan Pisau, Memanah.


"Dam. Kakak merindukanmu. Pulanglah. Disinilah tempatmu. Bukan di keluarga Adiyaksa," lirih Harsha.


"Disini kau ternyata!" seru seseorang yang melangkah masuk ke game room.


Harsha terkejut. Lalu menolehkan wajahnya melihat kearah orang tersebut.


"Kak Ardi, kak Danish." Harsha menyapa keduanya.


Ardi dan Danish duduk masing-masing di samping Harsha.


"Pasti lagi mikirin sikelinci nakal itukan?" tanya Ardi.


"Hmm," jawab Harsha.


"Kakak sekarang sangat yakin, Sha! Allan adalah Adam adik kita," ucap Ardi.


"Ya. Kau benar, Di! Aku juga sangat-sangat yakin. Allan adalah Adam adik kita. Kita sebagai kakak-kakaknya harus membawanya kembali pulang ke rumah ini lagi." Danish berbicara dengan tatapan amarah dan juga kerinduan.


"Tapi bagaimana caranya? Adam sedang sakit. Adam tidak mengenali kita. Yang Adam tahu, keluarga Adiyaksa itu adalah keluarga kandungnya," sela Harsha.


Harsha tidak mau egois. Harsha juga memikirkan kesehatan dan keselamatan adiknya itu. Orang yang Amnesia itu sangat rentan akan kondisi kesehatannya. Salah sedikit saja bisa fatal akibatnya. Itulah yang dipikirkan Harsha saat ini.


Danish merangkul pundak Harsha. "Kau tidak perlu khawatir. Kita akan memikirkan masalah ini secara baik-baik. Apa yang kau pikirkan dan apa yang kau takutkan, hal itu juga yang kami rasakan? Kita juga tidak mau Adam kenapa-kenapa." Danish berusaha menenangkan Harsha.


Ardi juga ikut merangkul Harsha. "Sudahlah. Yang penting saat ini kita harus bersyukur. Setidaknya jalan untuk kita bisa bertemu dengan Adam dan bisa lebih dekat dengannya terbuka lebar saat ini. Sekali pun Adam tak mengenali kita, itu tak masalah. Apa yang menjadi milik kita akan kembali pada kita?" Ardi berucap dengan penuh keyakinan.


"Hmn." Harsha mengangguk mantap.


"Lebih baik kita keluar. Jangan sampai kita mendengarkan teriakan para nyonya-nyonya besar di rumah ini," ejek Danish.


"Hahahahaha." mereka pun tertawa.


"Apa kita perlu memberitahu keluarga kita tentang Allan, kak?" tanya Harsha.


"Ya, harus dong! Kita akan memberitahu mereka," jawab Danish dan Ardi bersamaan.


^^^


Para orang tua tengah berkumpul di ruang tengah. Beginilah suasana keluarga Abimanyu disaat sedang berada di rumah.


"Oh, iya! Dimana Harsha, Ardi dan Danish?" tanya Bagas saat melihat putra bungsunya dan dua keponakannya tidak ada bersama mereka.


"Tadi aku melihat Danish dan Ardi menuju arah game room," jawab Reza.


"Begitulah dengan mereka kalau lagi kangen ama sikelinci nakal itu pasti akan berakhir di game room." Alin berbicara sambil mengingat kebiasaan putranya dan keponakannya.


"Kadang-kadang mereka juga akan tidur di kamarnya. Aku juga sering masuk ke kamar itu kalau lagi merindukannya," sela Kamila.


"Coba saja Adam masih hidup sampai saat ini. Mungkin saat ini sudah terjadi keributan antara Harsha dan Adam. Dan kita semua pasti saat ini sudah mendengar suara teriakannya," ucap Davan.


"Hah!" Yodha seketika menghela nafasnya.


Mereka semua mendengar helaan nafas sang kepala keluarga. Mereka mengerti arti dari helaan nafas tersebut.


"Papa merindukannya, Utari! Papa merindukan putra bungsumu."


Utari yang kebetulan duduk di samping Ayahnya langsung memeluk erat sang Ayah.


"Aku mengerti, Pa! Aku juga merindukannya. Aku juga berharap bertemu dengan pemuda yang telah menolong papa itu."


Saat mereka tengah asyik berbincang-bincang. Mereka dikejutkan dengan kedatangan Ardi, Harsha dan Danish.


"Hallo, semuanya!" sapa ketiganya dan langsung menduduki pantat mereka di sofa.


Mereka yang ada di ruang tengah mengalihkan pandangannya menatap Ardi, Harsha dan Danish.


"Kalian lagi ngobrol apaan sih?" tanya Harsha.


"Anak kecil tidak boleh tahu," jawab Juan.


"Dan kalian belum cukup umur," ejek Garry.


"Aish!" Danish, Harsha dan Ardi merengut kesal.


"Ma," panggil Danish.


"Iya, sayang! Ada apa?" tanya Utari.


"Aku, Ardi dan Harsha sudah bertemu dengan pemuda yang mirip dengan Adam," ucap Danish.


DEG!


"Apa?" mereka, kecuali Yodha terkejut. "Apa benar wajahnya mirip Adam?" tanya Davan.


"100% mirip Pa," jawab Harsha.


"Seperti saudara kembar," ucap Ardi menambahkan.


"Sifatnya, kelakuannya, cara bicaranya sama seperti Adam. Bahkan cara dia menghadapi musuhnya juga tak jauh beda dengan Adam," ujar Danish.


"Dan kami bertiga sangat amat yakin kalau Allan itu adalah Adam." Danish berucap dengan penuh keyakinan.


"Vigo! Vigo Liam Adiyaksa selaku kakaknya Allan Liam Adiyaksa bukanlah kakak kandung Allan. Keluarga Adiyaksa telah menyelamatkan Allan dan merawat Allan selama lima bulan ini," ucap Ardi.


"Dari mana kalian mengetahui semua ini?" tanya Evan.


"Vigo sendiri yang mengatakannya pada kami. Saat itu kami dan teman-teman kami tak sengaja melihat Allan diserang oleh beberapa seniornya di Kampus, lalu kami juga melihat Allan yang sedang kesakitan di bagian kepalanya. Saat Allan jatuh pingsan, kami membawanya ke ruangan latihan taekwondo Adam. Saat Allan sadar, kami semua mengobrol dengannya," tutur Harsha.


"Dan saat itulah Vigo datang dan mengajak Allan pergi. Memang saat itu Vigo berstatus sebagai kakaknya. Dan Vigo begitu menyayanginya," pungkas Ardi.


"Kalau benar Allan adalah Adam. Kenapa Adam tidak pulang ke rumah?" tanya Kamila.


"Kemungkinan hanya satu," sela Bagas.


"AMNESIA!" seru Harsha, Ardi dan Danish.


Anggota keluarganya yang lainnya membenarkan perkataan Danish, Ardi dan Harsha.


***


Saat ini Allan berada di kamarnya. Setelah selesai makan malam bersama kedua orang tuanya dan kedua kakaknya, Allan memilih masuk ke kamarnya. Allan duduk di sofa. Pikirannya kini tertuju pada orang-orang yang telah menyelamatkannya. Allan pun mengingat semua percakapannya dengan mereka.


FLASHBACK ON


"Kau mirip sekali dengannya," ucap Harsha. Allan mengerutkan keningnya bingung.


"Siapa?"


"Adikku," jawab Harsha.


"Wajahnya dan kelakuannya sama sepertimu," ucap Ardi menambahkan.


"Apa jangan-jangan kau itu dia?" tanya Harsha menatap wajah tampan Allan.


DEG!


Allan melotot. "Apa? Aku dia?" batin Allan


"Hei. Kok malah ngelamun?" Cakra menepuk pelan bahu Allan.


"Ach. Maaf." Allan terkejut.


"Kalau boleh tahu siapa nama adik kalian itu?" tanya Allan.


"Adam," jawab mereka bersamaan.


"Yak! Kenapa kalian semua ikut menjawabnya? Aku kan hanya nanya sama mereka berdua," ucap Allan sembari menunjuk kearah Ardi dan Harsha.


"Karena Adam juga adik kami. Kami menyayanginya," jawab mereka lagi, selain Ardi dan Harsha.


"Dan Adam itu adik kandungku!" seru Danish.


"Coba lihat foto ini," Harsha memberikan ponselnya kepada Allan.


FLASHBACK OFF


"Apa benar aku ini Adam? Bukan hanya satu orang saja yang memanggilku Adam. Tapi ini sudah kesekian kalinya orang-orang memanggilku dengan sebutan nama itu. Bahkan mereka juga mengatakan padaku kalau sifat dan cara bicaraku sama persis dengan Adam adik mereka. Apa itu benar? Saat aku melihat semua foto-foto itu. Seakan-akan akulah yang ada di foto itu. Apa benar aku bagian dari mereka? Apa benar aku adik mereka?" monolog Adam.


Tanpa Allan sadari, ada sepasang mata yang mengintip dirinya. Orang itu mendengar apa yang diucapkan olehnya.


"Aku tidak akan membiarkanmu pergi dari keluarga Adiyaksa, Allan! Kau adalah Allan Liam Adiyaksa bagian dari keluarga ini. Kau adikku dan selamanya akan seperti ini. Aku tidak akan membiarkan siapapun merebutmu dariku ataupun dari keluargaku. Aku akan menjauhimu dari mereka semua dan tidak akan membiarkanmu terlalu dekat dengan mereka. Kalau kau terlalu dekat dengan mereka, bisa-bisa ingatanmu tentang masa lalumu kembali. Aku tidak mau hal itu terjadi. Aku tidak akan membiarkanmu mengingat masa lalumu dan kembali kepada mereka."