THE FRATERNITY

THE FRATERNITY
Hukuman



Ketika mereka tengah membahas Adam. Orang yang mereka bahas pun tiba. Harsha dan Adam tiba di Kampus beberapa menit yang lalu.


Saat Adam dan Harsha melangkah di halaman Kampus semua mata tertuju hanya pada Adam. Semua menatap Adam dengan tatapan jijik. Adam yang melihat tatapan mereka hanya mengerutkan keningnya.


"Kenapa mereka semua menatapku seperti itu? Apa ada yang salah padaku?" batin Adam.


"Mereka semua kenapa menatap Adam seperti itu," batin Harsha.


"Hei, Dan kau sudah datang. Kita ke kantin, yuuk." Ardi langsung merangkul Adam.


"Kakak akan teraktir apapun yang kau mau, Dam." Arka ikut merangkul Adam.


Tapi suara-suara umpatan dan tatapan jijik mereka masih bisa didengar dan dirasakan oleh Adam.


"Cih. Menjijikan."


"Tidak tahu malu. Buat malu saja kuliah disini."


"Apa memang itu tujuannya kuliah disini?"


"Kalau mau melakukan hal-hal yang menjijikkan, jangan di Kampus. Cari sana tempat yang lain."


"Kampus ini tempat menimba ilmu. Bukan tempat melakukan maksiat."


Mendengar perkataan tak mengenakkan yang tertuju untuknya membuat telinga Adam menjadi panas. Dan hatinya benar-benar sakit.


Dan detik kemudian, Adam dengan kuat melepaskan tangan Arka dan Ardi yang merangkul kedua bahunya.


"Brengsek! Kalian kalau berani mari kesini dan berdiri di depanku. Sekarang! Jangan beraninya kalian berbicara berbisik terus mengumpat di belakangku. Itu namanya manusia pengecut dan juga manusia sampah!" teriak Adam yang menggema di halaman Kampus.


"Ayoo, Dam. Kita pergi dari sini saja dan jangan dengarkan mereka," bujuk Arka.


"Tidak bisa, kak. Aku tidak akan membiarkan masalah ini berlarut. Aku kuliah disini bukan untuk main-main. Dan aku tidak mau membuat Mama kecewa," jawab Adam tegas.


"Tapi, Dam..." perkataan Ardi terpotong karena Adam tidak mempedulikan ucapan para kakaknya.


"Dengarkan aku baik-baik. Kalau


ada diantara kalian yang tidak suka denganku. Sekarang juga hadapi aku. Jangan beraninya mengumpat di belakangku. Aku beri kalian semua waktu sepuluh menit. Kalau dalam jangka waktu sepuluh menit, diantara kalian tidak ada yang berani maju. Aku akan membuat kalian menyesal!" teriak Adam penuh emosi.


"Apa kalian dengar yang dikatakan Adam? Jadi aku sarankan pada kalian semua. Maju dan selesaikan apa masalah kalian dengan Adam. Jangan jadi pengecut!" teriak Ardi.


"Waktu kalian tinggal tujuh menit lagi!" seru Gala.


"Waktu kalian tetap berjalan. Apa kalian masih tetap dengan pendirian kalian, hah?" ucap Kenzie.


"Kak Ardi. Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa dengan mereka semua?" tanya Harsha yang belum tahu persoalannya sama seperti Adam.


"Kak Ardi, jawab!" Adam berbicara dengan nada yang sedikit keras.


"Ada orang yang memajang fotomu dan Sonia sedang melakukan hal yang tak senonoh di mading," jawab Ardi.


"Brengsek! Ini pasti ulahnya Danish," ucap Adam.


"Waktu kalian habis. Dan bersiaplah kalian semua apa yang akan diberikan oleh Adam untuk kalian!" teriak Sakha.


Semua mahasiswa dan mahasiswi sontak kaget dan ketakutan. Mereka tidak tahu harus melakukan apa?


"Kak Arka," panggil Adam.


"Ya, Dam." Arka bersuara.


"Apa aku boleh minta tolong pada kakak?" tanya Adam.


"Boleh doong. Kau mau minta tolong apa?" ucap dan tanya Arka.


"Panggil Rektor kemari," pinta Adam.


"Kak Kenzie. Aku boleh minta tolong tidak?" tanya Adam.


"Ya, boleh. Kau mau minta tolong apa?" tanya Kenzie.


"Seret Sonia kemari," pinta Adam.


"Baiklah," jawab Kenzie lalu pergi menuju kelas komputer.


Selang beberapa menit, Arka dan Rektor datang. Dan sekarang Rektor tersebut sudah berdiri tepat di depan Adam.


"Ada apa kau memanggilku, Adam?" tanya Rektor tersebut.


"Aku mau anda perintahkan semua murid-murid anda untuk berkumpul di halaman kampus ini. SEKARANG! Atau aku akan lapor masalah ini pada ibuku dan kakekku." Adam berbicara dengan suara yang cukup keras.


"Baiklah," Rektor tersebut langsung mematuhi perintah Adam.


Tidak butuh waktu lama. Semua mahasiswa dan mahasiswi telah berkumpul di halaman Kampus. Sesuai keinginan Adam. Dan disusul oleh datangnya Sonia dan Kenzie.


"Apa yang sebenarnya terjadi, Adam? Kenapa kau menyuruh saya untuk mengumpulkan mereka semua?" tanya Rektor penasaran.


"Nanti anda akan tahu," jawab Adam singkat.


"Perlihatkan foto itu pada Sonia. Biar dia tahu alasan dia dipanggil kesini," pinta Adam.


Dan dengan segera Ardi menunjukkan foto itu kepada Sonia. Ketika melihat foto itu, sontak membuat Sonia membelalakkan matanya.


"Sekarang kau sudah mengerti?! Sekarang jelaskan semuanya. Biar orang-orang brengsek disini tahu yang sebenarnya!" bentak Adam sambil jari telunjuknya menunjuk kearah mahasiswa dan mahasiswi tersebut.


"Soal foto itu. A-aku yang memulai menggoda dan mengganggu Adam. Se-sebenarnya aku terpaksa melakukannya. A-aku diancam oleh seseorang. Kalau aku tidak mau melakukannya, mereka akan menyakitiku lebih parah lagi," tutur Sonia yang tubuhnya sudah bergetar.


"Sudah cukup. Sekarang kau boleh kembali ke kelasmu," sahut Adam.


"Terima kasih A-adan," jawab Sonia gugup, lalu pergi meninggalkan mereka semua.


"Kalian sudah dengarkan apa yang barusan dikatakan, Sonia." Gala berbicara sambil menatap tajam semua mahasiswa dan mahasiswi.


"Dan kalian pasti bertanya-tanya, kenapa Adam seorang anak baru bisa langsung dekat dengan kami geng Brainer. Karena Adam itu adalah adik sepupunya Ardi dan Harsha. Berarti dia juga adik kami!" seru Arka tegas dan dengan sedikit nada yang keras.


Semua mahasiswa dan mahasiswi hanya bisa diam dan menundukkan kepalanya mereka.


"Terus apa yang harus saya lakukan pada mereka?" tanya Rektor itu.


"Aku mau mereka semua diberi hukuman. Hukumannya adalah beri tambahan jam kuliah untuk mereka sampai jam sembilan malam," ucap Adam dengan seringai di sudut bibirnya.


"Lalu bagaimana dengan para Dekan?" tanya Rektor itu.


"Itu urusan anda. Anda yang mengaturnya. Yang saya inginkan hanya mereka semua. Pastikan mereka pulang jam sembilan malam dan berangkat lagi ke Kampus jam tujuh pagi. Jadi mereka semua sudah harus berada di Kampus ini tepat jam tujuh pagi. Kalau ada yang terlambat, hukuman akan bertambah."


Adan berbicara dengan nada tegas dan penuh penekanan. Dan jangan lupa tatapan matanya yang menatap tajam kearah mahasiswa dan mahasiswi tersebut.


"Sampai berapa lama?" tanya Rektor lagi.


"Tergantung moodku. Kalau moodku lagi baik, aku akan mengakhiri hukuman mereka semua. Tapi kalau moodku lagi buruk, ya tunggu sampai moodku menjadi baik," jawab Adam tanpa beban.


"Baiklah, kalau begitu." Rektor tersebut hanya bisa menuruti perintah dari Adam.


"Oh, ya! Ada satu lagi. Soal Danish dan gengnya itu. Aku tahu dialah biang masalahku dan Sonia. Aku ingin menyelesaikan masalah ini dengannya. Dengan caraku sendiri. Harap anda mengizinkannya."


"Baik. Saya izinkan," ucap Rektor itu.


"Terima kasih."


"Ayooo, kak. Kita pergi dari sini. Aku benar-benar jijik melihat wajah mereka semua," ucap Adam.


Setelah itu, mereka semua pun pergi meninggalkan Kampus. Mereka berencana untuk membolos hari ini. Mereka sudah tidak semangat untuk mengikuti kuliah gara-gara masalah barusan, terutama Adam.