
Allan sudah berada di kelas. Dia masih memikirkan perkataan dari perempuan yang bernama Jasmine.
FLASHBACK ON
"Lo gak kenal ama kita berdua, Dam?" tanya Jasmine. "Gue Jasmine dan yang barusan meluk lo tu Ariel. Kita berdua sahabat lo. Awal persahabatan kita itu terjalin saat kita duduk dibangku kelas 1 SD sampai lulus SMP. Hanya SMA saja yang kita tidak satu sekolah, tapi kita masih menjalin hubungan melalui komunikasi dan media sosial."
FLASHBACK OFF
"Siapa perempuan itu? Kenapa dia memanggilku dengan nama Adam?" tanya Allan pada dirinya sendiri.
Allan sibuk dengan pemikirannya sampai tidak menyadari bahwa Melky sudah duduk di sampingnya.
"Jangan lo pikirin apa yang dikatakan oleh perempuan itu. Ntar lo suka lagi," bisik Melky di telinga Allan.
Sontak hal itu sukses membuat Allan terkejut. Allan memberikan satu jitakan mulus di kening Melky.
PLETAK!
"Aww. Sialan lo," umpat Melky sembari mengelus keningnya. Sedangkan Allan hanya tersenyum menanggapinya.
Detik kemudian masuklah Dosen pembimbing mereka ke kelas. "Pagi murid-muridku semuanya."
"Pagi pak," para para mahasiswa dan mahasiswi bersamaan.
Dan Dosen tersebut pun mulai menjelaskan materi kuliah pada mahasiswa dan mahasiswinya.
^^^
Ardi, Harsha, Danish beserta sahabat-sahabatnya kini tengah bersantai di salah satu ruangan tempat latihan taekwondo Adam. Mereka melepaskan rasa rindu mereka terhadap adik kelinci kesayangan mereka.
"Aish. Aku benar-benar merindukan sikelinci nakal itu!" seru Kenzie.
"Aku juga kak. Aku merindukan wajah imutnya itu ketika lagi merajuk," sahut Gala.
"Kalau aku pribadi ada satu yang aku rindukan dari sosok Adam," ujar Prana.
"Apa itu?" tanya Danish.
"Sifatnya," jawab Prana.
"Kenapa? Alasannya?" tanya Harsha.
"Saat aku mengetahui bahwa Adam itu adik kandung Danish. Dari situlah aku mengetahui watak dan sifatnya. Sifatnya lebih dewasa. Dia berusaha menyelesaikan masalah tanpa adanya kekerasan. Dia berusaha untuk sabar agar tidak terjadi perkelahian. Dan dia juga tidak memiliki sifat dendam pada siapapun. Dulu kita adalah dua geng, tapi karena permintaan Adam kita menjadi satu tim dan tidak ada yang namanya geng-gengan lagi. Bahkan kita juga sudah berbaur dengan mahasiswa mahasiswa lainnya." Prana menjawabnya.
"Kau benar, Prana. Aku bisa lihat sendiri buktinya saat aku masih jadi musuhnya dulu. Adikku benar-benar memiliki sifat sabar dari pada diriku," sahut Danish.
"Karena sifat Adam itu menurun dari Mamanya. Sedangkan kau sifatnya menurun dari Papamu. Tidak sabaran, emosian dan pembangkang," edek Indra.
"Sialan kau, Indra." Danish menatap kesal kearah Indra.
"Pembangkang. Aku rasa sifat pembangkang Danish bukan turun dari Bibi Utari dan Paman Evan dech. Karenakan Paman dan Bibi anak yang penurut sama orang tua. Sedangkan Danish selalu menolak apa yang diinginkan oleh papanya," ejek Arya.
PLETAK!
Satu jitakan mendarat sempurna di kening Arya. Dan membuat Arya meringis.
"Aww." Arya mengelus-elus keningnya.
"Aish," kesal Arya.
Mereka pun tertawa. "Hahahaha."
"Oh iya. Di, Sha! Nanti kita pulang bareng ya. Aku mau ke rumahnya Mama. Aku mau mengunjungi Kakek, Paman, Bibi dan kakak-kakak sepupuku. Sekalian mau nginap di sana beberapa hari!" seru Danish.
"Benarkah?" tanya Ardi dan Harsha bersamaan sumringah.
"Hm," jawab Danish.
"Nanti saat tiba disana. Kau tidur di kamar Adam saja. Sekalian melepaskan rindu dengan adik kelincimu itu. Kau akan merasa nyaman di kamarnya nanti. Karena di kamarnya itu banyak sekali koleksi iron man, piala dan juga bingkai foto. Tidak ada satupun dari kami yang berani mengubah atau pun menata ulang isi kamarnya tersebut. Karena bagi kami itu adalah satu-satunya kenangan yang kami punya. Kalau kami merasa rindu, kami akan memasuki kamarnya itu." Harsha berbicara sembari menjelaskan isi kamar Adam.
"Dan kadang-kadang secara bergantian Mamaku atau Mamanya Harsha yang akan membersihkan kamarnya itu," kata Ardi.
Saat mereka sedang asyik mengobrol. Terdengar suara bell yang menandakan bahwa kelas dari mahasiswa dan mahasiswi junior sudah berakhir. Dan dilanjutkan dengan kelas mahasiswa dan mahasiswi senior.
"Ya, sudah. Lebih baik kita ke kelas. Jangan ada yang membolos," ucap Arka sambil melirik Danish and the geng.
"Yak! Kenapa melihat kami seperti itu, Arka?" tanya Cakra kesal.
"Hehe. Hanya ngingetin aja," jawab Arka santai.
"Iya, nih. Lagian bukan kami saja yang suka membolos. Kalian juga pernahkan? Malahan saat ada Adam dulu kalian sering nongkrong disini dari pada ke kelas." Kavi berbicara sambil menaik naikkan kedua alisnya.
Mereka saling tatap satu sama lainnya. Lalu kemudian mereka.
"Hahahaha."
^^^
Di kelas Allan dan Melky sedang merapikan buku-bukunya.
"Allan. Lo hari ini pulang sendiri?" tanya Melky.
"Iya. Kenapa? Mau nebeng? Mana mobil lo? Tumben sekali." ledek Allan.
"Sialan lo, Allan." Melky berucap kesal.
"Alah. Pura-pura malu lagi. Kalau mau nebeng bilang aja napa. Nggak usah kayak perempuan yang lagi tebar pesona," ejek Allan.
TAK!
"Aww. Sakit sialan," umpat Allan yang menerima pukulan di kepalanya.
"Rasain. Salah sendiri," jawab Melky.
"Mobil gue di bengkel. Berangkat kampus aja Papa gue yang anter. Dan sekarang Papa gak bisa jemput karena ada Meeting di kantor," kata Melky.
"Hahaha. Ngomong itu aja dari tadi susah bener. Kayak perempuan lo, Melky!" Allan tersenyum.
Setelah selesai membereskan buku-buku mereka. Allan dan Melky pun pergi meninggalkan kelas mereka. Mereka terus melangkahkan kaki menelusuri setiap koridor kampus. Dan akhirnya sampailah mereka di parkiran.
"Jangan perlihatkan wajah kucel lo itu sama gue," ledek Allan. "Ini ambil." Allan melemparkan helm cadangan pada Melky dan disambut dengan bagus oleh Melky.
"Sialan lo cacing." Melky mendekati Allan lalu mencubit pinggangnya Allan.
"Yak, Melk! Sakit tahu. Cubitanmu itu bisa membahayakan nyawaku. Kalau aku mati bagaimana? Apa kau mau aku gentayangin setiap malam?"
"Ach. Lebay. Udah cepatan naik buruan. Gue mau cepatan sampai rumah. Panas nih. Bisa-bisa hitam nih badan gue," perintah Melky.
"Kalau sudah dasarnya hitam yang tetap hitam. Nggak bakal mau putih tuh kulit lo."
"Bacot diam. Buruan!"
"Dasar cumi hitam sialan."
"Dari pada lo kelinci kudisan."
"Jadi pulang tidak?" ancam Allan.
"Ya, jadilah. Lo aja yang sedari tadi ngajak gue ribut."
"Naik."
"Gue sudah dari tadi naik goblok. Mau naik kemana lagi? Punggung lo," kesal Melky.
Allan menghidupkan motornya dan kemudian mereka pun pergi meninggalkan kampus.
"Pegangan yang kencang. Ntar anak mamih kejengkang lagi."
"Ogah."
"Hahahaha." Allan tertawa.
Setelah satu jam perjalanan menuju rumahnya Melky. Akhirnya mereka sampai juga. Sekarang mereka sudah berada di gerbang Mansion milik Melky.
"Masuk dulu yuk, Lan." ajak Melky.
"Enggak ah. Males," jawab Allan.
"Kenapa?" tanya Melky.
"Ntar ketemu ama Mama dan Papa lo malah gue disuruh jadi tukang ojek buat antar jemput lo ke kampus. Makanya gue lebih milih langsung pulang aja," jawab Allan.
"Brengsek lo," umpat Melky.
"Ya, udah. Aku pulang ya," pamit Allan.
"Hati-hati, Lan."