
Waktu menunjukkan pukul 7 malam. Saat ini Levi, Celina, Nicolaas dan Jeon Vigo berada di ruang tengah. Mereka menunggu kepulangan Allan.
"Kenapa Allan lama sekali?" tanya Vigo.
"Sabar kenapa sih, Vigo! Ini juga hasil dari kesalahanmu sendiri. Coba saat itu kau tidak menyakiti Allan. Mungkin hal ini tidak akan terjadi," balas Nicolaas.
Levi dan Celina tersenyum gemas melihat wajah merengut Vigo saat mendengar penuturan dari Nicolaas.
Lalu detik kemudian mereka dikejutkan dengan bunyi Bell.
TING!
TONG!
Seharusnya Allan bisa membuka pintu tersebut. Dikarenakan dirinya masih marah terhadap Vigo, makanya Allan malas membuka pintunya dan lebih memilih menekan bell. Dirinya pulang dikarenakan Nicolaas menghubunginya, lalu mendengar suara Levi dan Celina orang tua kedua baginya setelah kedua orang tua kandungnya. Dan Allan sangat menghormatinya.
CKLEK!
Pintu di buka oleh Vigo. Saat pintu telah terbuka dapat mereka lihat Allan yang sudah berdiri di depan pintu. Tanpa pikir panjang lagi, Vigo langsung memeluk tubuh Allan.
GREP!
"Hiks... Maafkan kakak. Maafkan kakak... hiks."
Allan hanya diam tanpa melakukan hal apa pun. Bahkan tidak membalas pelukan Vigo sama sekali.
Vigo melepaskan pelukannya dari Allan. Lalu detik kemudian Vigo memberikan kecupan sayang di keningnya.
Setelah puas melepaskan rasa rindunya pada Allan. Vigo langsung menarik lembut tangan Allan untuk masuk ke dalam rumah. Dan meninggalkan kedua orang tuanya dan juga kakaknya.
Hal itu sukses membuat ketiganya ngedumel tak suka. Terutama Nicolaas.
"Dasar adik kurang ajar. Mau enaknya saja. Disaat lagi galau karena tidak tahu keberadaan Allan dimana, ngadunya ke kita. Disaat Allan sudah balik, seenaknya saja main narik-narik anak orang ke dalam. Dan lebih sialnya lagi, gak ada kata terima kasih lagi." Nicolaas berucap kesal.
Levi dan Celina hanya tersenyum gemas mendengar rentetan kekesalan putra sulungnya.
"Sabar, sayang. Ini ujian buat kamu," ejek Celina sembari mengulas senyuman manis di bibirnya
"Aish, Mama."
Lalu mereka menyusul Vigo dan Allan di dalam dan tak lupa mengunci pintu.
Mereka sudah di ruang tengah. Allan duduk di samping Vigo. Ya, lebih tepatnya Vigo yang membawanya duduk di sampingnya.
"Allan. Dengarkan Papa sayang. Papa minta maaf padamu karena sudah membohongimu selama ini. Papa, Mama dan kedua kakakmu terpaksa melakukan hal itu. Karena demi menyelamatkanmu. Saat itu dokter bilang kalau kamu mengalami Amnesia berat dan kondisimu sangat-sangat tidak memungkinkan untuk mengetahui kebenaran tentang masa lalumu. Dan dokter itu juga bilang pada kami agar kami selalu memantaumu, menjagamu serta membuat dirimu nyaman. Makanya kami memberimu nama Allan Liam Adiyaksa saat kamu sadar dari koma selama empat hari. Setelah kamu dinyatakan sembuh, kami membawamu pulang ke rumah dan menjadikanmu putra kami."
"Soal kecelakaan itu. Papa benar-benar tidak sengaja menabrakmu malam itu. Karena saat itu pencahayaannya sangat minim. Baik Papa dan Nicolaas tidak melihat dengan jelas saat seseorang melintas di depan mobil kami," ucap Levi lagi.
"Sudahlah, Pa! Jangan membahas masalah itu lagi. Aku tidak marah atau pun membenci kalian. Bagaimana pun aku sudah menganggap kalian keluargaku?" jawab Allan.
"Jadi maksudmu, Allan?" tanya Nicolaas.
"Ingatanku sudah kembali, kak! Aku sudah mengingat siapa namaku dan keluargaku. Tapi hanya sebagian saja yang aku ingat," jawab Allan.
"Jadi kamu tidak marah pada kami?" tanya Celina.
"Tidak, Ma! Aku tidak marah dengan kalian. Aku menyayangi kalian," jawab Allan.
Mereka tersenyum bahagia mendengar penuturan dari Allan.
"Berarti kau juga sudah memaafkan kesalahan kakak, Lan?" tanya Vigo.
Allan menatap wajah Vigo. Lalu kembali menatap ke depan. "Siapa bilang? Aku masih belum memaafkan kesalahan kakak. Aku hanya berbaikan dengan Papa, Mama dan kak Nicolaas saja. Jadi kakak jangan mengharapkan lebih," jawab Allan.
Mendengar jawaban dari Allan. Hal itu sukses membuat Vigo melongo dan melotot tak percaya. Sedangkan Levi, Celina dan Nicolaas tersenyum melihat wajah terkejut Vigo. Ya, lebih tepatnya senyuman mengejek.
"Pa, Ma, kak Nicolaas. Aku ke kamar ya! Aku lelah mau istirahat," kata Allan.
"Baik, sayang. Istirahatlah," balas Levi dan Celina bersamaan.
"Iya, Allan." Nicolaas menjawabnya.
Lalu Allan melangkahkan kakinya menuju kamarnya dilantai dua.
"Hahahaha. Terima saja nasibmu Vigo Liam Adiyaksa. Kali ini kakak tidak akan membantumu. Berusahalah untuk menjinakkan hati kelincimu itu," ucap Nicolaas dengan lantangnya.
"Ya, kak! Kau tega melihat adikmu ini tersiksa karena diabaikan oleh sikelinci itu. Bantu kenapa?" mohon Vigo.
Setelah mengatakan hal itu, Nicolaas pergi ke kamarnya.
"Pa, Ma!" Vigo menatap wajah kedua orang tuanya dengan wajah memelas.
"Maafkan Papa dan Mama, sayang! Apa yang dikatakan oleh kakakmu itu ada benarnya juga? Kau harus berusaha sendiri untuk meminta maaf pada adikmu itu. Karena kau sudah menyakitinya," kata Levi.
"Siapa tahu, dengan kau berjuang dan berusaha untuk memperbaiki kesalahanmu padanya. Adikmu itu mau memaafkanmu. Dan bisa melihat ketulusan dari dalam dirimu itu," kata Celina.
"Berjuanglah. Anggap saja kau sedang berjuang. Berjuang mendapatkan kata maaf dari Allan," ucap Levi.
***
Saat ini Adam berada di kantin. Adam duduk sendirian disana dengan ditemani segelas jus alpukat kesukaannya.
"Lu sendirian saja, Allan!" seru seseorang yang datang menghampirinya dan langsung duduk tepat di hadapannya.
"Memangnya gue sama siapa lagi? Emangnya lo gak bisa lihat ya!" Allan menjawab datar.
"Aish. Kok jutek sih. Gue kan cuma nanya doang," kesal Melky.
"Pertanyaanmu gak bermutu tahuuu. Udah jelas-jelas gue sendirian. Masih aja nanya," sahut Allan dengan menyeruput jus nya.
"Dasar kelinci sensitif."
"Yak! Apa lo bilang?"
"Nggak. Gua gak bilang apa-apa. Telinga lu aja yang sensitif."
"Dasar kurap, hitam sialan."
"Ya, ya."
Mereka saling lirih sesaat. Dan kemudian...
"Hahahaha." mereka pun tertawa.
Sontak semua penghuni kantin melihat ke arah Allan dan Melky. Sedangkan Allan dan Melky hanya melihat mereka semua masa bodoh.
"Jadi?" tanya Melky.
"Apanya?" tanya Allan balik.
"Masalah elu dengan keluarga Adiyaksa," ujar Melky.
"Selesai," jawab singkat Allan.
"Selesai maksudnya?" tanya Melky bingung.
"Udah kelar. Nggak ada masalah apa-apa lagi. Gue udah tahu alasan mereka membohongi gue selama ini," jawab Allan.
"Sekarang gue harus manggil apa ke lo?" tanya Melky.
"Terserah," jawab Allan.
"Ya, udah! Mulai sekarang aku manggil lo dengan nama asli lo, ya!"
"Hm."
Saat ini Danish, Ardi, Harsha dan para sahabatnya sedang berada di lobi. Mereka berada disana hanya untuk menunggu kedatangan Adam adik manis mereka. Sedangkan yang ditunggu sudah berada di kantin.
"Kalian yakin kalau hari ini kelinci nakal itu akan masuk kuliah?"
"Ya. Kami yakin," jawab Danish, Ardi dan Harsha kompak.
"Semoga saja adikku itu tidak di kerangkeng oleh si kurus sialan itu," kesal Danish.
"Aish, kau ini ada-ada saja. Bagaimana pun Vigo itu tidak sekejam itu kali?" ucap Prana.
"Bodo amat," jawab Danish.
"Nah, itu si bodoh amat datang!" seru Kenzie menunjuk ke arah Vigo dan sahabat-sahabatnya.
Mereka semua mengalihkan pandangannya melihat kearah Vigo dan sahabat-sahabatnya itu. Danish menatap tak suka kearah Vigo. Tak jauh beda dengan Harsha dan Ardi. Jujur mereka juga tidak suka dengan Vigo. Tapi mereka tidak memperlihatkannya.