
Adam saat ini tengah duduk di kursi yang ada balkon kamarnya. Setelah ingatan Adam kembali dan hanya satu orang yang baru bisa diingat olehnya yaitu sang ibu. Kini dirinya tidak masalah kalau dipanggil Adam. Apalagi saat ibunya yang memanggil dengan nama tersebut.
Walau bayangan-bayangan tentang masa lalunya selalu hadir di dalam kepalanya, tapi Adam masih belum bisa untuk mengingatnya. Makin keras dirinya untuk mengingatnya, makin keras pula sakit yang dirasakannya di kepalanya.
Saat Adam yang masih bermain-main dengan pikirannya. Seseorang memasuki kamarnya. Dan orang itu langsung menghampirinya.
PUK!
Orang itu memukul pelan bahu Adam. Dan hal itu sukses membuat Adam terkejut. Lalu mengalihkan pandangannya melihat kearah samping.
"Kak Danish," ucap Adam.
Danish pun menduduki pantatnya di kursi yang ada di samping Adam.
"Ada apa, hum?"
"Tidak ada," jawab Adam singkat.
"Kau tidak bisa berbohong pada kakak, Dam! Kau pasti saat ini sedang berusaha untuk mengingat semuanya," batin Danish.
"Kakak harap kau tidak terlalu memaksakan untuk mengingat semuanya, Dam! Kakak tidak mau kau sakit dan juga tersakiti," ucap Danish.
"Aku tidak melakukan hal itu. Aku hanya memikirkan keluarga Adiyaksa," balas Adam.
"Kenapa harus memikirkan mereka? Mereka bukan siapa-siapa kita," kata Danish.
Danish memang tidak menyukai keluarga itu. Apalagi Vigo Liam Adiyaksa. Danish tidak ingin adiknya kembali lagi pada keluarga itu. Walaupun kenyataannya bahwa keluar Adiyaksa lah yang telah menyelamatkan adiknya.
Adam menatap tak suka kearah Danish. "Kenapa kakak bicara seperti itu?"
Danish berpindah posisi. Kini Danish duduk berjongkok di hadapan Adam. Danish memegang dan menggenggam kedua tangan Adam.
"Kau adik kandung kakak. Kau adalah Dirandra Adamka Bimantara. Kau adalah putra bungsunya Evan Hara Bimantara dan Utari Abimanyu. Jadi lupakan keluarga Adiyaksa itu," ucap Danish yang setiap katanya penuh penekanan.
Adam menatap tajam kearah Danish. Lalu menarik kasar kedua tangannya. "Kau tidak bisa memaksaku melakukan hal itu. Bagaimana pun mereka yang telah menyelamatkan nyawaku? Aku tidak bisa meninggalkan mereka begitu saja. Aku ini masih punya hati dan setidaknya aku tahu bagaimana mengucapkan kata terima kasih pada mereka. Tidak seperti kau yang kejam."
Setelah mengatakan itu. Adam pergi meninggalkan Danish sendirian. Saat ini dalam pikiran Adam, kenapa semua orang bersikap egois? Hanya mementingkan diri mereka sendiri. Keluarga Adiyaksa menginginkan dirinya menjadi bagian keluarga mereka. Dan keluarga kandungnya menginginkan dirinya kembali.
TAP!
TAP!
TAP!
Adam menuruni anak tangga. Dan seluruh anggota keluarga yang memang saat ini tengah berada di ruang tengah melihat kearahnya.
"Adam," panggil Dzaky.
Namun yang dipanggil tak menghiraukan panggilan tersebut. Justru Adam tetap melangkah menuju pintu utama.
"Ada apa dengan Adam?" tanya Harsha.
Utari pun akhirnya berdiri dan menghampiri Adam, putra bungsunya. Tangannya mengelus lembut rambutnya dan mengecup keningnya.
"Ada apa, hum? Putra Mama mau pergi kemana?"
Saat Adam ingin menjawab pertanyaan dari ibunya. Terdengar suara seseorang berbicara.
"Putra bungsunya Mama itu ingin pulang ke rumah keluarga Adiyaksa. Dia lebih memilih ingin tinggal di sana dari pada keluarga kandungnya sendiri," sahut Danish.
Semua anggota keluarganya melihat kearah Danish yang kini tengah berjalan menghampiri Ibu dan adiknya.
Adam enggan melihat wajah Danish. Kedua tangan sudah mengepal kuat saat mendengar penuturan darinya.
"Danish," ucap Utari lembut.
Danish menatap wajah adiknya. "Apa yang kakak katakan barusan memang benarkan? Kalau kau ingin kembali ke keluarga itu."
Adam tak menjawab. Dirinya masih setia bungkam. Saat ini pikirannya benar-benar kacau dan bingung. Ditambah lagi ingatan belum sepenuhnya pulih.
"Sayang," Utari membelai rambut Adam. "Katakan saja sayang. Mama tidak akan marah," ucap Utari lembut.
Hal itu sukses membuat hati Adam sakit. Dan tanpa diminta air matanya mengalir begitu saja membasahi wajah tampannya. Seluruh anggota keluarganya yang melihatnya menangis menjadi iba dan tidak tega. Hati mereka juga menangis saat melihatnya menangis.
"Katakan saja Adam. Itu Mama sudah memberikan izin padamu. Dan Mama juga tidak akan marah. Kau memang ingin tinggal dengan keluarga Adiyaksa kan?" ucap dan tanya Danish.
Adam menatap tajam wajah Danish. Keduanya saling memberikan tatapan tajamnya.
Sedangkan anggota keluarganya menatap ngeri keduanya. Baru kali ini mereka melihat tatapan Danish dan Adam. Lain halnya dengan Ardi dan Harsha. Mereka sudah mengetahuinya sejak awal, bagaimana keduanya bersitegang.
"Kau memang ingin tinggal bersama mereka kan? Kau ingin meninggalkan dan melupakan keluarga kandungmu demi keluarga angkatmu itu." Danish berucap sembari menuduh Adam.
"Kenapa diam? Katakan saja pada Mama dan pada kita semua, kalau kau..." ucapan Danish terpotong.
BUGH!
"Aakkhhhh!" ringis Danish.
"TIDAK! ADAM!" teriak anggota keluarganya, kecuali Ardi dan Harsha.
"Kau benar-benar brengsek, Danish! Kau tidak jauh beda dengan Vigo. Kalian berdua itu sama-sama brengsek. Manusia yang paling egois dimuka bumi ini. Manusia yang hanya mementingkan kebahagiaannya sendiri. Si brengsek Vigo itu ingin menjauhkanku dari kalian keluarga kandungku. Dan kau ingin aku melupakan keluarga Adiyaksa!" teriak Adam di depan wajah Danish.
Semua anggota keluarganya terkejut mendengar ucapan Adam. Terutama Danish. Dirinya yang paling terkejut.
"Sifatmu tidak pernah berubah dari dulu! Kau masih saja keras kepala, egois, mementingkan kepentingan sendiri. Dan kata-katamu selalu membuat orang tersulut emosi. Kalau memang itu maumu. Baiklah... aku akan tinggal bersama mereka dan aku akan melupakan kalian semua. Puas!" teriak Adam lagi.
Adam pun langsung pergi meninggalkan anggota keluarganya dengan pikiran yang benar-benar kacau saat ini.
"Adam!" teriak Utari dan langsung memeluk tubuh putra bungsunya dari belakang. "Jangan pergi sayang. Mama mohon jangan pergi."
"Danish," panggil Garry.
Danish melihat kearah kakaknya. Dan dapat dilihat olehnya sang Kakak memberikan kode padanya agar dirinya meminta maaf pada adiknya.
"Sayang. Mama mohon jangan pergi."
"Maaf. Aku harus pergi," ucap Adam dan Adam melepaskan kedua tangan ibunya yang memeluknya.
"Adam," panggil Danish.
Sedangkan Adam tetap melangkah menuju pintu utama tanpa menghiraukan panggilan dari Danish.
Danish berlari, lalu dirinya berdiri di depan pintu tersebut. Tangannya mengunci pintu itu dan kuncinya dimasukkan ke dalam saku celananya.
"Apa yang kau lakukan? Buka pintunya aku mau pergi!" teriak Adam.
"Kalau aku tidak mau, kau mau apa?" tantang Danish.
"Jangan memancing perkelahian, Danelio Danish Bimantara!"
"Aku tidak peduli," jawab Danish.
Adam menggeram menatap tajam Danish. Lalu tanpa pikir panjang lagi, Adam pun menyerang Danish dengan pukulan-pukulannya yang bertubi-tubi. Dan Danish pun tak tinggal diam. Dirinya juga menyerang Adam dengan pukulan-pukulannya.
Anggota keluarganya yang melihatnya pun hanya ketakutan. Mereka takut kalau salah satu dari mereka akan tersakiti dan terluka.
BAGH! BUGH!
DUAGH!
BAGH! BUGH!
DUAGH!
"Adam, Danish. Hentikan!" teriak Evan.
Tapi yang jadi korban teriakan masih tetap melanjutkan perkelahian mereka. Baik Adam maupun Danish, mereka sama-sama kuat. Sama-sama lelah. Tidak ada diantara keduanya yang terkena pukulan dan juga tendangan. Mereka begitu lihai menangkis dan menghindar setiap pukulan dan juga tendangan yang diterima.
"Ternyata ilmu bela dirimu makin kuat dan hebat, Dam!" Danish memuji adiknya.
"Aku tidak butuh pujianmu. Yang aku butuhkan sekarang kau buka pintu itu. Aku mau pergi!" teriak Adam.
"Hahahaha. Ternyata kau masih ingat dengan kuncinya ya." Danish mengejek adiknya.
"Danish!" teriak Adam.
"Hei, panggil aku kakak. Aku ini kakakmu, Dirandra Adamka Bimantara!" teriak Danish.
"Danish. Kembalikan kuncinya!" teriak Adam.
"Yak! Panggil aku kakak. Bagaimana pun aku ini kakakmu?" kesal Danish.
"Kau bukan kakakku. Kau itu Danelio Danish Bimantara. Dan aku Dirandra Adamka Abimanyu. Kau putra dari Evan Hara Bimantara. Dan aku putra dari Utari Abimanyu. Cucu kesayangannya Yodha Akasha Abimanyu!" teriak Adam.
Baik Danish maupun anggota keluarganya yang lainnya melotot saat mendengar ucapan dari Adam. Terutama Yodha. Di dalam hatinya Yodha sangat bahagia dan bangga saat mendengar ucapan dari Adam cucu kesayangannya itu.
Danish memperlihatkan wajah sedihnya. Sedangkan Adam tersenyum kemenangan. Tanpa Adam sadari. Danish diam-diam melangkah menuju kearahnya.
GREP!