
"Inikan rumah kediaman Abimanyu? Tuan, kenapa kita kesini? Kenapa tidak langsung pulang ke rumah saja?" tanya Melky yang masih bingung.
Mendengar pertanyaan dari Melky membuat Raafe Maroun tersenyum. Begitu juga dengan para anggotanya.
"Lebih baik kita masuk dulu tuan. Nanti setiba di dalam tuan akan tahu sendiri kenapa kami membawa tuan dan kedua orang tuanya tuan kesini bukan ke rumah tuan."
"Ayo, sayang! Nurut kali ini ya," ucap Ghiska lembut sembari mengusap lembut kepala putranya.
"Baiklah, Mi!"
Setelah itu, mereka pun keluar dari dalam mobil dan melangkahkan kakinya menuju gerbang rumah besar dan mewah milik keluarga Abimanyu.
[Keluarga Abimanyu adalah keluarga terkaya, keluarga paling berpengaruh dalam dunia bisnis di seluruh dunia dan keluarga yang dilindungi oleh hukum. Berlaku juga untuk keluarga Bimantara]
[Jadi, keluarga Abimanyu dan keluarga Bimantara akan terbebas dari hukuman jika membunuh orang yang ingin menyakiti anggota keluarganya. Bukan hanya keluarga Kalyani dan keluarga Adiyaksa saja. Berlaku untuk orang-orang yang mengusik keluarga Abimanyu dan keluarga Bimantara, termasuk orang-orang yang dekat dengan kedua keluarga tersebut]
^^^
Di dalam rumah dimana di ruang tengah tampak ramai. Semua anggota keluarga berkumpul termasuk Zaina, Alex dan kedua anak perempuannya yaitu Alia dan Adila, Celena dan kedua putranya yaitu Nicolaas dan Vigo. Bahkan di ruang tengah itu juga ada para sahabatnya Adam dan para sahabatnya Danish, Ardi, Harsha dan Vigo.
Mereka semua ada di kediaman Abimanyu karena memang mereka datang berkunjung.
Namun untuk para sahabatnya dan para sahabat kakak-kakaknya. Kedatangan mereka atas permintaan Adam.
Tanpa mereka bertanya kepada Adam alasan Adam meminta mereka untuk datang. Mereka semua sudah tahu. Ini semua ada hubungannya dengan masalah Melky dan keluarganya. Dan Adam ingin segera menyelesaikan masalah tersebut.
"Dam, apa rencana kamu sekarang?" tanya Luis.
Mendengar pertanyaan dari Luis yang ditujukan untuk Adam seketika semuanya melihat kearah Luis, lalu setelah itu, mereka beralih menatap kearah Adam yang saat ini terlihat sedang menunggu seseorang.
Ketika Adam ingin menjawab pertanyaan dari Luis, sahabatnya Vigo. Terdengar bunyi bell rumahnya.
Ting..
Tong..
"Biar aku saja yang buka pintunya!" seru Harsha.
Setelah itu, Harsha pun berdiri dari duduknya lalu pergi meninggalkan ruang tengah untuk menuju pintu utama.
^^^
Harsha sudah berada di ruang tamu. Kemudian tangan kanannya menyentuh knop pintu, sedangkan tangan kirinya memutar kunci yang tergantung.
Stekk..
Cklek..
Pintu dibuka oleh Harsha. Setelah pintu terbuka, Harsha keluar. Dan seketika Harsha terkejut ketika melihat sahabat adiknya yaitu Melky berdiri di hadapannya.
"Melky."
"Hallo kak Harsha. Kita bertemu kembali."
Harsha tersenyum ketika melihat Melky. Kemudian Harsha memeluk tubuh Melky.
Grep..
"Kakak senang kamu kembali lagi ke Jakarta, Melky!"
"Apalagi aku kak. Aku yang lebih bahagia lagi bisa kembali ke Jakarta lagi."
Setelah puas memeluk tubuh Melky. Harsha pun kemudian melepaskan pelukannya itu.
"Ini Papi dan Mami aku kak Harsha."
" Selamat sore, nak Harsha!" sapa Jordan dan Ghiska bersamaan.
"Sore juga Paman, Bibi! Senang bertemu dengan kalian! Lebih baik kita masuk ke dalam!"
^^^
"Kenapa Zelo tidak mengabari aku? Apa Melky sudah sampai di Jakarta? Apa mereka baik-baik saja?" batin Adam.
Melihat keterdiaman Adam membuat semua anggota keluarganya menatap dirinya khawatir.
Danish yang berada di samping adiknya langsung menepuk pundak adiknya itu pelan sehingga membuat adiknya terkejut.
Danish seketika tersenyum ketika melihat wajah terkejut adiknya itu. Begitu juga dengan yang lainnya.
"Ada apa, hum?" tanya Danish sembari mengusap lembut kepala belakang adiknya itu.
"Aku memikirkan Melky dan keluarganya," jawab Adam.
"Kalau ditanya sabar atau tidaknya. Jawabannya adalah aku tidak sabar untuk bertemu dengan Melky dan keluarganya. Tapi bukan itu masalahnya," jawab Adam.
"Lalu apa?" tanya Danish.
"Aku takut terjadi sesuatu terhadap mereka. Zelo mengatakan padaku bahwa mereka akan sampai sekitar pukul 4 sore. Tapi sekarang sudah pukul 5 sore. Namun sampai sekarang belum ada kabar apapun dari mereka. Bahkan dari Zelo pun tidak."
Mendengar jawaban dari Adam membuat mereka semua menatap khawatir Adam dan juga khawatir akan Melky, keluarganya serta orang-orang yang membawa Melky dan keluarganya kembali ke Jakarta.
"Semuanya akan baik-baik saja, oke! Kita berdoa saja semoga tidak terjadi sesuatu terhadap mereka."
Danish berusaha menghibur adiknya. Dirinya tidak ingin adiknya tertekan karena rasa khawatirnya terhadap Melky dan yang lainnya.
"Semoga saja. Aku berharap akan hal itu kak," jawab Adam dengan suara lirihnya.
"Adam!"
Deg..
Seketika terdengar suara seseorang yang memanggil Adam dengan suara langkah kakinya menghampiri ruang tengah.
Semua yang ada di ruang tengah langsung menolehkan wajahnya melihat keasal suara. Begitu juga dengan Adam.
Seketika air mata Adam jatuh membasahi wajah tampannya ketika melihat sosok orang yang begitu dia rindukan beberapa bulan ini.
"Mel-melky," lirih Adam.
Yah! Orang yang memanggil Adam barusan adalah Melky. Sama seperti Adam. Melky juga menangis ketika bisa melihat wajah sahabatnya.
Harsha melangkahkan kakinya menuju ruang tengah dan diikuti oleh Melky, kedua orang tuanya, Raafe Maroun dan orang-orangnya.
Melky masih berdiri dengan tatapan matanya menatap wajah Adam. Dan jangan lupakan air matanya masih mengalir membasahi wajahnya. Begitu juga dengan Adam.
Adam berdiri dari duduknya dengan tatapan matanya menatap kearah Melky disertai air matanya yang mengalir membasahi wajahnya.
"Melky... Hiks," isak Adam.
Melky berlahan melangkah mendekati Adam. Dirinya benar-benar sudah tidak sabar untuk memeluk tubuh sahabatnya itu.
Kini Melky sudah berdiri di hadapan Adam. Keduanya saling memberikan tatapan kerinduan, terutama Melky.
Sementara anggota keluarganya, keenam sahabatnya dan para sahabat kakak-kakaknya sudah menangis melihat pertemuan dua sahabat yang telah berpisah beberapa bulan. Begitu juga dengan Jordan dan Ghiska.
"Adam!"
Grep..
Melky langsung memberikan pelukan kepada Adam. Dan detik kemudian terdengar isak tangis dari keduanya.
"Hiks... Hiks... Hiks."
Mendengar isak tangis dari Adam dan Melky membuat mereka semua yang ada di ruang tengah itu juga ikut menangis, terutama Jordan dan Ghiska. Mereka ikut merasakan kesedihan dan kebahagiaan ketika melihat putranya kembali bertemu dengan sahabatnya.
"Gue kangen lo, Dam! Gue benar-benar kangen lo."
"Gue juga Melky. Apalagi lo pergi ninggalin gue ketika gue koma di rumah sakit."
Melky kemudian melepaskan pelukannya. Kemudian Melky menatap wajah tampan sahabatnya itu.
"Maafin gue yang ninggalin lo ketika lo koma di rumah sakit. Itu semua bukan kemauan gue."
Adam tersenyum. "Lupakan! Jangan diingat lagi. Yang terpenting sekarang lo sudah disini."
Adam melihat kearah kedua orang tuanya Melky yang juga tengah menatap dirinya.
"Selamat datang kembali ke Jakarta Paman Jordan, Bibi Ghiska! Aku merindukan kalian."
Jordan dan Ghiska tersenyum menatap wajah Adam. "Paman/Bibi juga merindukan kamu, nak!" Jordan dan Ghiska menjawab bersamaan.
Setelah itu, Adam beralih menatap kearah dimana Raafe Maroun dan anggotanya juga menatap dirinya.
"Pasti tuan yang bernama Raafe Maroun, sahabatnya Zelo yang juga berstatus sahabat saya?" tanya Adam.
Mendengar perkataan dari Adam seketika Raafe Maroun tersenyum sembari sedikit menundukkan kepalanya tanda ucapan salam.
"Iya, saya adalah Raafe Maroun. Senang bertemu dengan anda tuan Adam!"
"Saya tersanjung bisa bertemu dengan anda tuan. Terima kasih anda sudah membawa sahabat saya beserta keluarganya kembali ke Jakarta dengan selamat."
"Sama-sama. Itu sudah tugas saya. Dan janji saya terhadap Zelo."
Setelah saling bertegur sapa dan berkenalan. Kini mereka melanjutkan pembahasan lainnya untuk menyelesaikan masalah Melky.