THE FRATERNITY

THE FRATERNITY
Terbongkar Kebusukan Dhira



Evan dan Danish sudah sampai di rumahnya. Evan masuk terlebih dahulu. Sedangkan Danish masih berada di luar. Lima menit kemudian Kavi, Arya dan Prana datang.


"Seperti yang aku katakan di telepon. Kita akan pasang alat pelacak dan alat penyadap di mobil perempuan itu. Setelah alat-alat itu terpasang di mobilnya. Prana yang akan mengikuti perempuan itu pergi. Arya dan Kavi yang akan bertugas untuk melacak melalui laptop atau tablet." Danish menjelaskan rencananya.


"Baik," jawab mereka bertiga.


Mereka langsung menuju mobil Dhira dan memasang alat pelacak dan alat penyadap di mobil Dhira.


Saat mereka tengah sibuk memasang alat tersebut di mobil Dhira. Datanglah Garry dan teman-temannya.


"Danish," panggil Garry.


"Kakak!" seru Danish.


"Papa dimana?"


"Papa sudah ada di dalam."


"Kenapa kau masih di luar dan tidak masuk ke dalam?" tanya Garry.


"Aku sedang merencanakan sesuatu bersama ketiga temanku ini, kak."


"Kami sedang memasang alat pelacak dan alat penyadap di mobil Bibi Dhira," sahut Arya.


"Baguslah. Semoga semuanya berjalan lancar dan kita bisa segera tahu dimana Adam disekap oleh perempuan itu," ucap Garry.


"Aku juga minta tolong dengan teman-temanmu kak. Dua diantara mereka menemani Prana untuk mengikuti perempuan sinting itu!" Danish.


"Kami berdua yang akan pergi bersama Prana, temanmu." salah satu temannya Garry langsung menjawabnya.


"Terima kasih, kak." Danish menjawabnya. "Kalian bersembunyilah. Jangan sampai ketahuan atau dilihat oleh perempuan itu," ucap Danish.


Mereka semua mengangguk. Setelah mengatakan hal itu, Danish dan Garry masuk ke dalam rumah.


^^^


Kini semua telah berkumpul di ruang tengah. Ada Evan, Amirah, Danish dan Garry beserta Dhira.


"Dhira dari mana saja kau beberapa hari ini? Kenapa tidak ada kabar sama sekali darimu?" tanya Evan.


"Ooh, itu aku ada urusan. Kau tahukan aku memiliki sebuah perusahaan asuransi. Dan saat ini perusahaanku sedang sibuk-sibuknya membantu para nasabah baru. Mau tidak mau aku harus ikut membantu disana," jawab Dhira berbohong.


Danish dan Garry menatap tak percaya kearah Dhira.


"Aku tahu kau memiliki perusahaan asuransi, Dhira! Yang aku ketahui kau itu tidak pernah mau peduli dengan semua itu. Kau selalu mempercayakan semuanya pada karyawanmu tanpa harus turun tangan untuk membantu. Yang ada di pikiranmu hanya keuntungan saja." Evan berbicara sambil menatap intens Dhira.


"Kenapa kau bicara seperti itu, Van?" tanya Dhira tak terima atas ucapan suaminya.


"Memang begitulah kenyataan dirimu, Dhira. Kau ada di rumah saat aku dan kedua putraku masih berada di rumah. Saat kami sudah pergi, barulah kau pergi keluar rumah dan melakukan apa yang kau mau tanpa izin padaku. Dan pulang saat sudah hampir sore mendekati malam." Evan menjawab pertanyaan Dhira.


Dhira berdiri dari duduknya dan menatap suaminya tajam. "Sudah cukup, Van! Ada apa denganmu? Kenapa kau malah mencurigaiku? Memangnya apa yang sudah aku lakukan?!" bentak Dhira.


"Dimana putraku?" tanya Evan to the point yang tak kalah tajam menatap Dhira.


Dhira terdiam sejenak mendengar pertanyaan Evan suaminya. Dirinya berusaha sekuat mungkin untuk tidak memperlihatkan kegugupannya. Dirinya tidak mau rencananya diketahui oleh suaminya dan kedua putranya.


"Mama jangan pura-pura tidak mengerti dari pertanyaan Papa. Mama sudah tahukan sejak awal kalau Papa memiliki tiga orang putra. Putra yang dimaksud oleh Papa itu adalah Dirandra Adamka Bimantara." Danish menjawab menjawab pertanyaan Dhira dengan menatap tajam Dhira.


"Ya. Mama tahu Papa kalian memiliki tiga orang putra. Tapi mama tidak tahu siapa nama dari putra ketiga Papa kalian itu? Dan mama baru tahu sekarang. Itupun darimu, Danish," jawab Dhira berbohong.


"Tidak tahu atau memang tidak tahu. Tahu tapi pura-pura tidak mengetahuinya," sindir Garry.


"Lalu ini apa? Bisa Mama jelaskan pada kami semua?" tanya Garry sambil melempar beberapa foto ke wajah Dhira.


Foto-foto yang diambil oleh Garry di dinding rumah mewah milik Dhira.


DEG!


Dhira sangat terkejut melihat foto-foto tersebut. Foto-foto tersebut dilihat oleh Evan, Amirah dan Danish.


"Kenapa, Ma? Kaget?" tanya Garry saat melihat raut terkejut di wajah Dhira. "Mama selama ini sudah mengetahui dimana keberadaan Mama kandungku dan adikku. Tapi Mama menyembunyikannya dari kami. Bahkan Mama membayar orang untuk mengawasi mereka berdua." Garry berbicara dengan menatap tajam Dhira.


"Mama juga yang sudah membayar orang untuk melukai Adam di rumah sakit dan mengeroyok dua temanku yaitu Prana dan Rayan. Tujuannya hanya satu membuat gengku dan geng Adam saling bertarung. Dan rencana Mama berhasil. Kami bertarung mati-matian saat itu dan berakhir terkapar tak sadarkan diri selama tiga hari di rumah sakit. Dan saat Adam ingin bertemu dengan kak Garry di sebuah Cafe. Mama juga yang menggagalkan rencana pertemuan itu. Mama menyuruh orang untuk mencegat Adam di jalan dan berakhirlah Adam di rumah sakit." Danish berbicara dengan senyuman sinisnya tercetak di bibirnya.


"Dan aku sangat yakin Mama lah yang sudah menculik Adam adikku!" bentak Danish.


Dhira kelabakan. Dirinya bingung sekarang. Semua rencananya diketahui oleh suaminya dan anaknya.


"Kau.. kau bicara apa, Danish? Mana mungkin Mama melakukan semua itu," sahut Dhira berusaha menutupi rencana busuknya.


"Apa mama mau aku memperlihatkan semua bukti-bukti itu? Lagian Papa juga sudah melihat bukti itu kok," kata Danish.


"Iya, itu benar. Aku sudah melihat semua bukti itu, Dhira. Bahkan kau terang-terangan menemui putra bungsuku di tengah jalan dan mengatakan padanya bahwa aku adalah suami sekaligus ayah yang paling brengsek. Kau berusaha meracuni otak putraku dengan kata-katamu. Tapi aku malah bersyukur ternyata putraku itu tidak terlalu percaya dengan semua kata-katamu itu." Evan berbicara sambil menatap marah dan kecewa terhadap Dhira.


"Sekarang katakan padaku dimana Adam? Dimana kau menyekapnya?!" bentak Evan dan tangannya memegang kuat kedua bahu Dhira.


"Lepaskan aku, Van." Dhira dan menepis kedua tangan suaminya yang ada di bahunya.


"Hahaha. Memang benar aku yang telah menyekap putra kesayanganmu itu. Aku akan melepaskan putramu itu, asal siwanita murahan itu datang kepadaku dan memohon padaku. Lalu berjanji padaku akan pergi meninggalkan dirimu selamanya!" bentak Dhira.


PLAAKK!


Evan melayangkan tamparan keras di wajah cantik Dhira istrinya.


"Berani sekali kau menghina Utari dengan menyebutnya wanita murahan. Utari itu istri sahku. Ibu dari anak-anakku. Dimataku Utari itu wanita baik-baik. Buktinya sampai detik ini Utari masih sendiri dan dia sendiri yang merawat dan membesarkan Adam." Evan berbicara dengan penuh emosi dan menatap nyalang Dhira.


"Kau berani menamparku, Evan!" bentak Dhira dengan menatap tajam wajah suaminya. "Demi perempuan murahan itu kau sudah berani bersikap kasar padaku. Kau lupa apa yang sudah dilakukan oleh ibu dan kakakmu. Kedua putramu itu harus berpisah dengan ibu kandung mereka. Akulah yang merawat dan menjaga mereka sampai mereka tumbuh dewasa. Setelah apa yang aku lakukan selama ini, kau mau meninggalkanku dan kembali pada istrimu, hah!" bentak Dhira.


Setelah mengatakan hal itu, Dhira pergi meninggalkan keluarga Bimantara.


"Tunggu kejutan dariku Evan, Utari!" Dhira berucap di dalam hatinya.


Saat tiba di luar, Dhira langsung memasuki mobil mewah miliknya dengan wajah marahnya. Dirinya tidak sadar beberapa orang sedang mengintainya.


"Itu Bibi Dhira sudah masuk ke mobilnya. Ayo, jangan sampai ketinggalan!" seru Prana.


Mereka pun mengikuti mobil Dhira dari belakang.