THE FRATERNITY

THE FRATERNITY
S3. Perhatian Adam Terhadap Danish



Di kediaman Gennaro tampak sepasang suami istri tengah duduk di ruang tengah. Keduanya tengah membahas masalah tentang masalah perempuan yang mengaku hamil anak dari Prayoga Gennaro.


"Apa kamu sudah mendapatkan bukti tentang perempuan itu sayang?" tanya Maya.


"Belum sayang. Aku juga bingung. Kenapa sulit sekali mencari tentang perempuan itu?" jawab Yoga.


Yoga menatap wajah cantik istri, lalu kemudian tangannya menggenggam tangan istrinya itu erat.


"Sayang. Ini seandainya saja. Aku benar-benar tidak tahu apakah aku benar-benar melakukan hal menjijikkan itu atau tidak. Aku tidak mengetahui hal yang sebenarnya. Aku dijebak. Ketika aku sadar, aku sudah di kamar hotel. Tapi aku berharap jika tidak terjadi sesuatu antara aku dengan perempuan sialan itu."


Mendengar perkataan dari suaminya. Ditambah lagi ketika melihat wajah sedih dan berharap suaminya membuat Maya menjadi tidak tega.


"Aku percaya sama kamu. Apapun yang terjadi. Jika benar atau salah. Aku tidak akan meninggalkan kamu," ucap Maya.


Yoga seketika menangis ketika mendengar ucapan tulus dari istrinya. Kemudian Yoga mengecup punggung tangan istrinya itu dengan penuh sayang.


"Dengarkan aku sayang. Seandainya jika anak itu benar-benar anakku. Aku bersumpah tidak akan pernah mengakuinya sebagai anakku. Di dalam hidupku, aku hanya memiliki dua orang putra. Mereka adalah Farel dan Gino. Bukan juga dengan pasangan hidupku. Hanya kamu satu-satunya istriku. Tidak ada yang lain. Terserah perempuan itu mau melakukan apa. Aku tidak peduli."


Mendengar perkataan dari suaminya membuat Maya tersenyum bahagia. Diri percaya jika suaminya hanya mencintai dirinya dan hanya Farel dan Gino putranya.


"Seperti yang aku katakan barusan. Aku percaya padamu. Kita akan menghadapinya bersama-sama," sahut Maya.


***


"Ach, lelahnya!" seru Melky sembari merebahkan tubuhnya di sofa panjang.


Yah! Adam dan ketujuh sahabat-sahabatnya saat ini berada di lobi depan kampus. Di lobi depan kampus itu tersedia beberapa sofa panjang. Baik sofa itu berada di setiap dinding yang ada di dalam lobi itu maupun sofa panjang yang dibuat seperti konsep ruang tamu yang diberikan pembatas.


"Bukan lo aja yang lelah, Hitam!" sahut Leon dengan kejamnya.


"Sialan lo kucing garong," balas Melky dengan menatap kesal kearah Leon.


"Hahahahaha." Adam, Vino, Diego, Gino, Zio dan Vando tertawa keras ketika mendengar balasan dari Leon.


"Sejak kapan lo berubah jadi kucing garong, Leon? Hahahaha!" tanya Zio dengan tawa khasnya.


"Diam lo!" teriak Leon.


Leon seketika merebahkan tubuhnya di sofa lalu menutup kedua matanya dengan pergelangan tangannya.


"Mending gue tidur dari pada melihat wajah butek kalian," sahut Leon.


Mendengar perkataan dari Leon membuat Adam, Vino, Diego, Gino, Zio dan Vando mendengus kesal.


"Lo tuh yang butek!" seru Adam, Vino, Diego dan Gino bersamaan.


"Bukan hanya butek, tapi juga sepet!" seru Zio dan Vando.


"Terserah lo pada mau ngomong apa. Mending gue tidur," sahut Leon.


Setelah itu semuanya hening. Tidak ada yang bersuara. Melky dan Leon benar-benar sudah tertidur di sofa panjang karena lelah.


***


Harsha dan Gala saat ini berada di kantin. Banyak yang melihat kedatangan keduanya. Mereka semua menatap keduanya dengan tatapan kagum dan tatapan suka.


Harsha dan Gala duduk berhadapan. Mereka menikmati makan siangnya. Saat ini Harsha dan Gala tengah menikmati istirahat keduanya. Begitu juga para mahasiswa dan mahasiswi lainnya.


Saat Harsha dan Gala sedang menikmati makan siangnya, tanpa disadari oleh keduanya datanglah enam pemuda yang sering disebut sebagai pengacau. Sedangkan Harsha dan Gala hanya bersikap acuh. Keduanya masih fokus dengan makanan siangnya.


Melihat reaksi dari Harsha dan Gala membuat para pengacau tersebut menatap tajam kearah Harsha dan Gala. Mereka tidak terima jika Harsha dan Gala hanya diam tanpa beraksi apapun. Keenam pemuda itu menginginkan Harsha dan Gala takut dan tunduk di hadapannya.


"Mending kalian pergi dari sini," sahut Harsha sembari menyeruput minumannya.


"Nggak ada gunanya kalian disini. Wajah kalian merusak pemandangan," sela Gala yang juga asyik menikmati kentang gorengnya.


Mendengar perkataan serta ejekan dari Harsha dan Gala membuat keenam pemuda yang berstatus pengacau itu mengepalkan kuat kedua tangannya di samping. Mereka tidak terima jika Harsha dan Gala berani kepadanya.


"Berani kalian berdua pada kami, hah?!" bentak salah satunya dengan tatapan matanya menatap tajam kearah Harsha dan Gala.


"Apa kalian tidak tahu siapa kami?!" bentak pemuda yang kedua. Tatapan matanya tak kalah tajam dengan temannya.


Harsha dan Gala saling melirik, lalu melihat sekilas kearah enam pemuda yang telah mengganggu acara makannya.


Setelah itu, Harsha dan Gala kembali fokus pada makanannya sembari berkata secara bersamaan.


"Kalian itu adalah Wayan Kishan Pradipa, Srikant Alfan Narayan, Widipa Randi Naruna, Rajit Fikar Sheehan, Baldev Fahmi Shagufta, Chain Shafig Dirandra!"


"Siapa yang nggak kenal dengan kalian. Kalian itu biang pengacau di kampus ini," sahut Gala.


"Udah kan? Kita berdua udah kenal dengan kalian. Bahkan kita berdua menyebutkan satu persatu nama-nama kalian. Mending sekarang kalian pergi dari sini. Jika kalian ingin makan, tuh masih banyak meja yang kosong. Silahkan pergi kesana. Jangan ganggu kami," ucap Harsha sembari menyuruh pergi keenam teman kampusnya itu.


Kishan, Alfan, Randi, Fahmi dan Shafig mengepalkan kuat tangannya ketika mendengar ucapan sekaligus pengusiran yang dilakukan oleh Harsha.


"Brengsek! Berani lo sama gue dan teman-teman gue, hah?!" bentak Kishan.


"Ya, beranilah! Apa tadi lo nggak lihat apa yang gue lakuin sama lo dan pengikut busuk lo tuh," jawab Harsha.


Sementara Gala tersenyum di sudut bibirnya ketika mendengar perkataan Harsha dengan tatapan matanya menatap tajam kearah Kishan dan kelima teman-temannya.


"Lo....."


Kishan kemudian melayangkan tinjauan kearah Harsha. Begitu juga dengan kelima teman-temannya.


Dan pada akhirnya terjadilah perkelahian tak seimbang dimana Harsha dan Gala melawan Kishan dan kelima teman-temannya.


Bugh.. Bugh..


Duagh..


Bugh..


Duagh..


Brukk.. Brukk..


Brukk..


Tak butuh waktu lama, Harsha dan Gala berhasil membuat Kishan, Alfan, Randi, Fahmi dan Shafig tumbang.


"Jangan merasa bangga hanya karena kalian memiliki anggota lebih. Sementara kita hanya berdua," ejek Gala.


"Kalian salah sudah menganggap remeh kita berdua. Tidak selamanya diam itu lemah dan yang berkelompok itu kuat. Justru sebaliknya," ucap Harsha.


Harsha melihat kearah Gala. Begitu juga dengan Gala. Setelah itu, keduanya pun pergi meninggalkan kantin untuk kembali ke kelas.


^^^


Di lapangan basket dimana Danish dan keenam sahabatnya berada. Setelah selesai memberikan materi kepada mahasiswa dan mahasiswi, Danish dan keenam sahabatnya memutuskan untuk bermain basket untuk melepaskan rasa rindu mereka karena sudah lama tidak bermain basket.


"Cakra, tolong panggilkan dokter!" seru Danish.


"Iya. Ini gue lagi menelpon dokter," jawab Cakra.


"Apa rasanya kaki lo tuh, Danish?" tanya Arya.


Kaki Danish mengalami pembengkakan di pergelangan kakinya akibat terjatuh ketika hendak memasukkan bola ke dalam ring.


"Bagaimana?" tanya Danish.


"Ambulance dalam perjalanan," jawab Cakra.


"Lebih baik kita pergi dari sini!" seru Rayan.


Setelah itu, mereka semua pergi meninggalkan lapangan basket yang ada di dalam ruangan yang luas.


"Yak, sialan kalian semua! Sahabat-sahabat setan! Tega kalian ninggalin gue, hah!" teriak Danish kesal.


"Hahahahaha."


Seketika tawa Cakra, Arya, Prana, Kavi, Indra dan Rayan pecah ketika mendengar ucapan serta teriakan dari Danish.


Baik Cakra, Arya maupun Prana, Kavi, Indra dan Rayan sengaja meninggalkan Danish hanya untuk menjahili Danish. Ditambah lagi mereka ingin mendengar ucapan, makian, umpatan dan teriakan dari seorang Danish.


Cakra Kavi kembali lalu membantu Danish berdiri. Setelah itu, keduanya memapah tubuh Danish pergi meninggalkan lapangan basket.


^^^


Adam dan ketujuh sahabat-sahabatnya tengah melangkahkan kakinya menuju kelas.


Setelah puas bersantai di lobi depan sembari tidur-tiduran sembari menghilangkan rasa lelahnya mereka memutuskan untuk kembali ke kelas.


Ketika Adam, Melky, Vino, Diego, Gino, Zio, Leon dan Vando melewati lapangan. Tatapan matanya Vando tak sengaja melihat kearah Danish dan sahabat-sahabatnya. Yang membuat Vando membelalakkan matanya ketika tatapan matanya melihat kakak kesayangannya Adam tengah dipapah oleh dua sahabatnya.


"Dam! Itu kakak Danish sedang sakit kayaknya. Lihat deh!" seru Vando sembari menunjuk kearah dimana Danish dan keenam sahabat-sahabatnya.


Seketika kedua mata Adam membulat sempurna ketika melihat kakaknya tengah kesakitan.


"Kakak Danish!" teriak Adam.


Adam langsung berlari menghampiri kakaknya itu dengan wajah kentara dengan ketakutan. Dan disusul oleh Melky, Vino, Diego, Gino, Zio, Leon dan Vando di belakang.


"Sial! Ini sakit banget," keluh Danish yang sejak tadi berusaha menahan rasa sakit di pergelangan kakinya.


Mendengar keluhan kesakitan Danish membuat Cakra, Kavi, Indra, Prana, Rayan dan Arya menjadi tidak tega. Mereka menatap wajah kesakitan Danish dengan tatapan sedih.


"Lo sabar sebentar ya. Ambulance segera datang. Gue yakin kaki lo baik-baik saja," ucap Cakra menghibur Danish.


"Ya, Danish! Cakra benar. Lo tahan sedikit ya. Sebentar lagi ambulance datang," ucap Prana yang juga ikut menghibur Danish.


Mendengar ucapan semangat dari Cakra dan Prana membuat Danish tersenyum. Dirinya berusaha untuk menahan rasa sakit dan ngilu di bagian pergelangan kakinya.


"Kakak Danish!"


Seketika Danish dan keenam sahabatnya dikejutkan dengan suara Adam. Lalu dengan kompak mereka semua melihat kearah Adam dimana Adam dan ketujuh sahabatnya berlari menghampirinya.


Kini Adam dan ketujuh sahabat-sahabatnya sudah berdiri di hadapan Danish dan keenam sahabatnya. Tatapan mata Adam menatap lekat wajah kakaknya yang dapat Adam yakini tengah menahan kesakitan.


Tatapan mata Adam turun ke bawah. Dan dapat dilihat oleh Adam pergelangan kaki kiri kakaknya sedikit membengkak dan juga membiru.


Seketika air mata Adam jatuh membasahi wajah tampannya. Hatinya sakit ketika melihat kakaknya yang sedang kesakitan.


"Dam," panggil Danish.


Adam langsung melihat wajah kakaknya dengan wajah basahnya.


Danish terkejut ketika melihat adiknya yang sudah menangis. Dirinya tahu apa penyebab adiknya itu sampai menangis.


"Kak, kenapa jadi kayak gini? Memangnya kakak habis ngapain?" tanya Adam.


Danish seketika tersenyum mendengar pertanyaan dari adiknya itu. Danish bersyukur dan bahagia melihat adik seperti Adam. Adiknya itu langsung peka akan keadaan dirinya, walau hanya sekali lihat saja.


"Kakak nggak apa-apa. Hanya sakit sedikit kok," sahut Danish yang berusaha membuat adiknya tidak terlalu khawatir.


"Apanya yang tidak apa-apa. Dari wajah kakak saja terlihat kalau kakak tengah berusaha menahan rasa sakit yang luar biasa," jawab Adam.


Tidak ingin mendengar alasan-alasan dari kakaknya itu. Adam seketika membalikkan badannya. Kemudian Adam sedikit membungkuk di hadapan kakaknya itu.


"Naik." kata itu yang keluar dari mulut Adam.


"Dam....."


"Aku bilang naik!"


"Tapi Dam?"


"Apa kakak mau kakinya makin parah karena dipaksa jalan terus sampai gerbang kampus. Aku tahu kalau kakak dan yang lainnya sedang menunggu ambulance datang. Biarkan aku gendong kakak sampai depan."


Seketika air mata Danish mengalir membasahi wajahnya ketika mendengar ucapan demi ucapan dari adiknya. Dirinya tidak menyangka jika adiknya akan menggendong dirinya untuk membawanya ke depan gerbang kampus. Adiknya melakukan hal itu agar dirinya tidak merasakan kesakitan.


"Danelio Danish Bimantara! Aku bilang naik ke punggungku, sekarang! Apa kakak mau kakinya makin membesar seperti paha gajah. Atau kakak ingin kakinya besar sebelah! Atau kakak lebih memilih kehilangan satu kaki!"


Seketika Danish membelalakkan matanya ketika mendengar ucapan terakhir dari adiknya. Dan kemudian, Cakra dan Prana membantu Danish untuk naik ke punggung Adam.


Adam seketika tersenyum ketika merasakan tubuh kakaknya sudah diatas punggungnya.


"Nah, gitu dong! Nurut kek sama adiknya. Jangan keras kepala jadi orang. Apalagi gengsian," ejek Adam.


Tak..


Danish langsung memukul pelan kepala belakang adiknya karena kesal akan ucapan adiknya itu.


Setelah itu, Adam berlahan menggendong tubuh kakaknya untuk dibawa ke depan gerbang kampus.


Sementara para sahabat-sahabat dari Danish dan Adam tersenyum bangga akan kasih sayang dan perhatian Adam terhadap Danish. Adam rela menggendong kakaknya hanya demi sang kakak tidak kesakitan berlama-lama.


Sebenarnya Cakra dan yang lainnya sudah menawarkan diri untuk menggendong Danish. Bagaimana pun sakitnya kaki Danish tak main-main. Mereka takut jika sakit di kakinya Danish makin parah jika Danish memaksa jalan. Tapi Danish menolak karena tidak ingin membebani mereka semua.


"Berat nggak badan kakak?"


"Nggak. Justru bobot tubuh kakak sangat ringan sekali. Apa kakak kurang makan? Kalau tubuh kakak ringan gini, sekali banting langsung menghadap Tuhan."


"Hahahahaha."


Para sahabat-sahabatnya langsung tertawa keras ketika mendengar ucapan dari Adam.


"Kalau misalkan kakak benar-benar menghadap Tuhan karena dibanting. Apa kamu bakal nangis?"


"Nggak."


"Loh, kenapa?" Danish terkejut.


"Karena aku yang bakal banting kakak. Jadi aku nggak perlu nangis. Hahahahaha."


Mendengar perkataan sekaligus jawaban dari Adam membuat mereka semua kembali tertawa. Termasuk Danish.


Danish juga ikut tertawa. Bahkan Danish geleng-geleng kepalanya mendengar perkataan seenaknya dari adiknya ini.