
Setelah selesai makan malam bersama. Kini semua anggota keluarga berkumpul di ruang tengah, lengkap dengan kesayangannya yaitu Adam.
Adam saat ini sedang bersandar pada ayahnya. Dirinya begitu nyaman setiap kali menyandarkan kepalanya di bahu ayahnya itu.
Bagaimana dengan Evan? Tentu saja Evan bahagia setiap kali putra bungsunya itu bersandar padanya sehingga dirinya bisa lebih memahami putra bungsunya itu.
Sementara anggota keluarganya tersenyum bahagia ketika melihat Adam yang bersandar pada ayahnya. Jika dulu Adam sering meminjam bahu Bagas, Davan dan Yodha jika dia merindukan sosok ayahnya. Dan dengan senang hati Bagas, Davan dan Yodha memberikannya.
Evan mengusap lembut pipi putih putra bungsunya itu sembari berkata, "Apa kamu nyaman, hum?"
"Nyaman banget," jawab Adam.
Evan tersenyum mendengar jawaban dari putra bungsunya. Begitu juga dengan anggota keluarga lainnya.
"Papa."
"Ada apa, hum?"
"Boleh minta sesuatu nggak?"
"Kamu mau minta apa? Katakanlah."
"Yakin?"
"Seratus persen Papa yakin. Memangnya kenapa?"
"Nanti ada yang cemburu padaku."
Mendengar jawaban dari Adam seketika membuat Danish langsung merasa tersindir. Dirinya langsung tahu maksud dari perkataan dari adiknya itu.
"Kalau mau minta sesuatu sama Papa, minta aja langsung. Nggak usah pake nyindir segala kelinci bongsor!"
"Siapa juga yang nyindir manusia kurus seperti kakak? Aku nggak nyindir kakak. Aku hanya bilang nanti ada yang cemburu jika aku meminta sesuatu sama Papa," elak Adam.
"Itu sama saja bodoh!"
"Beda goblok!"
"Dimana bedanya?"
"Yang jelas ada bedanya. Di rumah inikan bukan kakak aja yang tinggal. Bisa aja salah satu dari keluarga Abimanyu, keluarga Bimantara dan keluarga Palavi yang cemburu ketika aku meminta sesuatu dari Papa. Cemburu yang aku maksud itu adalah sesuatu yang aku miliki yang tidak dimiliki oleh orang lain."
"Alah! Nggak usah bohong deh. Bilang aja kalau kamu memang sedang nyindir kakak. Pake buat alasan lain."
"Bisa iya. Dan bisa juga nggak!"
"Terserah kamu aja deh. Capek kalau ngeladeni kamu. Ujung-ujungnya kakak juga yang bakal kalah."
"Hehehehe. Ngaku juga ya?"
"Dasar adik menyebalkan."
"Aku sayang kakak."
"Tapi kakak nggak."
"Oh, ya udah! Aku tarik lagi ucapanku tadi. Aku hanya sayang kakak Garry, kakak Ardi, kakak Harsha, kakak Vigo, kakak Nicolaas, kakak Juan, kakak Reza, kakak Dzaky dan kakak Rafig aja. Jika aku nanti nggak mau ngomong sama kakak. Kakak jangan nangis ya. Dan jangan ngejar-ngejar aku ketika aku abaikan kakak. Kakak kan memang seperti itu."
Mendengar ucapan demi ucapan dari Adam untuk Danish membuat semuanya tersenyum gemas. Apalagi Adam mengatakan itu sembari dirinya semakin menyamankan tubuhnya di samping ayahnya.
Sementara Danish seketika menatap syok kearah Adam ketika mendengar ucapan demi ucapan dari adiknya itu.
Semuanya tersenyum geli ketika melihat wajah syok Danish ketika mendengar ucapan dari Adam.
"Hahahaha!"
Seketika Ardi, Harsha dan Vigo tertawa keras ketika melihat wajah syok Danish ketika mendengar ucapan dari Adam.
"Nggak sabar gue lihat bagaimana seorang aksi dari seorang Danelio Danish Bimantara yang mengejar-ngejar seorang Dirandra Adamka Bimantara ketika dirinya diabaikan!"
"Gue bakal buat rekaman video jika hal itu terjadi," sahut Vigo.
"Dan kalau perlu kita abaikan rekaman tersebut ke media sosial Instagram milik kita masing-masing," sela Ardi.
"Iya, benar!" seru Vigo dan Harsha bersamaan.
"Setelah itu......." ucapan Vigo terpotong karena Danish sudah terlebih dulu bersuara.
"Setelah itu, gue gantung leher kalian di pohon dengan kedua tangan terikat di belakang. Setelah itu, gue jadikan tubuh kalian santapan anjing liar." Danish berucap sambil memberikan tatapan tajamnya kearah Vigo, Ardi dan Harsha.
Sementara Vigo, Ardi dan Harsha seketika menelan ludahnya secara kasar ketika mendengar ucapan kejam dan tak berperasaan dari Danish.
Adam seketika memposisikan tubuhnya duduk. Kini dirinya tidak lagi bersandar pada ayahnya. Tatapan matanya menatap kearah Vigo, Ardi dan Harsha.
"Aish! Cemen kalian. Baru diancam seperti itu saja udah takut. Dasar payah. Kalian kan bertiga. Sementara sikurus itu sendirian. Masa kalian nggak bisa ngelawan?"
Mendengar perkataan dari adiknya itu membuat Danish mendengus kesal. Seketika Danish berdiri dari duduknya, lalu berjalan menghampiri adiknya yang menyebalkan itu.
Adam yang melihat kakaknya sudah berdiri di hadapannya langsung menelan ludahnya secara kasar. Sedangkan anggota keluarganya yang melihat itu tersenyum gemas.
"Mau ngapain?" tanya Adam.
Danish tidak menjawab pertanyaan dari adiknya itu. Justru Danish memperlihatkan wajah super menyeramkan. Itu menurut dirinya.
"Oppss!" Adam seketika memukul mulut yang terang-terangan menyebut lo di hadapan kakaknya.
"Hehehehe. Kakak Danish mau ngapain?"
Danish seketika mengangkat tangannya keatas sehingga membuat Adam langsung menutup kedua matanya. Tanpa Adam ketahui bahwa kakaknya itu tersenyum gemas melihat wajah takutnya.
Bagaimana dengan anggota keluarga lainnya? Jangan ditanya lagi. Mereka semua sudah tersenyum geli melihat wajah berani plus takutnya Adam.
Dan detik kemudian...
"Hahahaha."
Seketika Adam tertawa ketika merasakan geli di perutnya. Yah! Danish memberikan hukuman kepada adiknya yang menyebalkan itu dengan gelitikan di perutnya. Danish sangat tahu kelemahan adiknya itu. Adiknya itu paling tidak suka jika ada yang menggelitik perutnya.
"Hahahahaha... Kakak Danish, hentikan. Ini geli tahu... Hahahaha."
Danish tidak mempedulikan keluhan dari adiknya itu. Tangannya masih terus menggelitiki perut adiknya itu.
Sementara Evan, Utari dan Garry tersenyum bahagia melihat Danish dan Adam. Begitu juga dengan anggota keluarga lainnya.
"Kakak Danish, hentikan. Aku benar-benar tidak tahan... Hahahaha. Sudah cukup!"
"Danish, sudah hentikan. Kasihan Adam," tegur Garry.
Danish pun langsung menghentikan aksinya menggelitiki perut adiknya. Dapat Danish lihat adiknya yang ngos-ngosan akibat ulahnya.
"Udah puas?" tanya Adam dengan mempoutkan bibirnya.
"Sangat puas," jawab Danish dengan memperlihatkan senyuman tak bersalahnya.
"Dasar kakak menyebalkan."
"Papa."
Adam langsung memeluk tubuh ayahnya itu dengan erat. Dan dibalas langsung oleh Evan dengan tangan mengusap-usap kepala putranya itu.
"Papa yang tadi."
"Yang mana?"
"Yang aku mau minta sesuatu sama Papa."
"Masih ingat ternyata," sahut Dzaky, kakak sepupunya.
"Masihlah. Gini-gini otakku ini sudah sama seperti flashdisk. Apapun tersimpan disini dengan aman," jawab Adam dengan bangganya.
"Iyain aja deh!" seru kompak semua kakak-kakak sepupunya.
"Aish!"
"Sekarang katakan pada Papa. Kamu mau minta apa sama Papa."
"Boleh?"
"Tentu! Apa?"
"Aku mau minta beli motor baru. Tapi yang keluaran terbaru. Motor yang belum ada yang pake sama orang diluar sana maupun sama manusia-manusia jelek di rumah ini!"
Mendengar ucapan kejam dari Adam membuat semua kakak-kakaknya termasuk kakak sepupunya mendengus kesal. Bahkan mereka semua mengeluarkan beribu sumpah serapahnya untuk Adam.
"Sesuai keinginan putra Papa yang tampan ini."
Mendengar jawaban dari ayahnya, Adam seketika melepaskan pelukannya. Adam menatap wajah tampan ayahnya itu.
"Benarkah, Pa?"
"Iya, kenapa? Nggak percaya sama Papa, hum?"
"Aku percaya. Lalu kapan Papa mau belikan?"
"Kamu maunya Kapan?"
"Eemm... Bagaimana besok? Aku akan naik taksi ke perusahaan Papa. Nanti dari perusahaan Papa. Kita pergi ke showroom untuk beli motor baru. Bagaimana? Papa setuju nggak?"
"Oke!"
Grep..
Adam Kembali memeluk tubuh ayahnya sembari berkata, "Aku sayang Papa banyak-banyak."
"Papa juga sayang kamu. Papa akan berusaha untuk membuat kamu bahagia. Seperti yang sudah Papa janjikan sama kamu sejak pertemuan pertama kita sebagai ayah dan anak bahwa Papa akan selalu membuat kamu nyaman, tersenyum dan bahagia. Papa akan menggantikan semua yang tidak pernah kamu dapatkan dari kecil."
Adam tersenyum mendengar ucapan dari ayahnya itu. Dirinya makin mengeratkan pelukannya pada ayahnya. Dirinya benar-benar bahagia saat ini.
"Papa tidak perlu melakukan hal apapun untuk menyenangkanku. Cukup Papa selalu ada di sampingku dan tidak pernah pergi lagi meninggalkanku. Itu sudah lebih dari cukup. Yang aku butuhkan dari Papa dan juga Mama adalah sebuah pelukan dan ciuman di keningku. Aku ingin kalian selalu ada di sampingku, baik suka maupun duka."
Mendengar ucapan tulus dan bijak dari putra bungsunya membuat Evan dan Utari tersenyum. Dan tanpa sadar keduanya menangis ketika mendengar ucapan putra bungsunya itu.
"Papa/Mam janji sayang!" Utari dan Evan berucap bersamaan.