
Saat ini Vigo berada di kamarnya. Dirinya benar-benar suntuk dan kesepian. Kedua orang tuanya masih di luar kota. Kemungkinan sore baru tiba di Jakarta. Sedangkan sang kakak Nicolaas masih di kantor.
"Aish. Lama-lama aku bisa gila kalau begini. Biasanya kalau ada Allan, aku pasti sudah membuatnya berteriak," ucap Vigo.
"Ah. Aku telepon Allan saja. Lalu aku membujuknya dan merayunya agar mau datang kesini." monolog Vigo.
Setelah mengatakan hal itu, Vigo langsung menghubungi Allan. Terdengar suara musik di seberang telepon.
Setelah beberapa menit menunggu, panggilan tak kunjung diangkat oleh Allan.
"Aish. Dasar kelinci tengil. Kenapa panggilan dariku tidak dijawabnya? Ini pasti ulah si Danish sialan itu. Saat ini Allan pasti bersama Danish. Makanya panggilan dariku tidak diangkat olehnya," ucap Vigo kesal.
Vigo berusaha menghubungi Allan sekali lagi. Namun hasilnya tetap sama. Panggilannya tidak diangkat.
"Ah, sudahlah. Mungkin saja saat ini ponselnya Allan di kamar. Sedangkan Allan nya ada ditempat lain. Biasanya Allan kan seperti itu. Nanti aku coba lagi." monolog Vigo.
Vigo berusaha untuk tidak berpikiran macam-macam. Walau awalnya barusan dirinya sempat berpikiran buruk tentang Danish. Vigo seperti ini dikarenakan rasa sayangnya terhadap Allan. Vigo benar-benar tulus menyayangi Allan.
***
Adam berada di ruang tengah. Dirinya menyandarkan tubuhnya serta kepalanya di punggung sofa. Dan tak lupa kedua matanya yang terpejam.
Saat Adam sedang asyik dengan dunianya sendiri, tiba-tiba Danish datang menghampirinya. Sesampainya di ruang tengah, Danish melihat adiknya tengah memejamkan kedua matanya di sofa.
Danish ingin sekali mengusili adiknya, tapi saat melihat adiknya yang begitu tenang dengan sandarannya serta matanya yang terpejam. Danish membatalkan niatnya. Dirinya juga tidak mau terus menerus mengusili sang adik. Danish mengelus lembut rambut Adam, kemudian mengecup keningnya.
"Kakak menyayangi, Dam! Sehat selalu," ucap Danish pelan.
Setelah itu Danish menduduki pantatnya di samping adiknya itu.
Adam yang merasakan sentuhan di kepalanya, kecupan di keningnya dan ucapan manis untuknya berlahan membuka kedua matanya lalu menolehkan wajahnya ke samping. Dan dapat dilihat olehnya, Kakaknya yang paling menyebalkan menurutnya telah duduk manis tak jauh darinya.
Melihat sang adik yang menolehkan wajahnya kearahnya, Danish memperlihatkan senyuman manisnya kepada adik manisnya itu.
Adam yang melihat kakaknya yang tersenyum padanya tak menunjukkan reaksi apa-apa. Detik kemudian, Adam mengalihkan pandangannya melihat ke depan.
"Jangan senyam senyum seperti itu. Kau tidak berniat untuk menjadi gilakan?" ucap dan tanya Adam.
"Aish. Dasar siluman kelinci sialan," batin Danish kesal akan ucapan adiknya.
"Kalau kakak memang berniat ingin menjadi orang gila. Lalu apa masalahmu?" Danish membalas pertanyaan adiknya dengan pertanyaan juga.
"Yang benar saja. Jika kau berubah menjadi orang gila. Maka satu keluarga bakal kerepotan mengurusmu. Ditambah lagi mereka semua itu super sibuk. Mereka harus bekerja untuk menafkahi keluarga," jawab Adam.
"Kan ada kamu," sahut Danish.
"Aku?" tanya Adam.
"Iya," jawab Danish.
"Ogah. Aku juga sibuk sama seperti anggota keluarga lainnya. Jadi mana ada waktu untuk aku menjaga orang gila sepertimu. Melihatmu dalam keadaan normal saja sudah membuatku pusing. Apalagi melihatmu gila setiap hari. Bisa-bisa aku mati muda," jawab Adam.
Kekesalan Danish sudah di ubun-ubun. Ingin rasa Danish menendang adiknya yang menyebalkan ini sekarang juga keluar rumah. Tapi dirinya tidak akan tega melakukannya. Danish terlalu sayang pada adik manisnya itu.
Sedangkan anggota keluarganya yang saat ini telah berdiri di dekat anak tangga sudah tersenyum gemas dan geleng-geleng kepala melihat perdebatan keduanya. Apalagi mendengar penuturan sarkas dari Adam.
Saat Danish ingin membalas perkataan adiknya yang menyebalkan itu, tiba-tiba ponsel adiknya berbunyi. Adam yang mendengar ponselnya yang berbunyi langsung merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel tersebut.
Saat ponsel itu sudah di tangan dan Adam dapat melihat nama 'Kak Vigo' di layar ponselnya. Adam pun langsung mengangkatnya.
"Ya, ada apa?" Adam menjawab dengan sedikit ketus.
"Yak, Allan! Kenapa jawabnya gitu amat sih?"
"Terus kakak maunya aku bagaimana? Apa aku harus lemah lembut kayak cewek saat menerima panggilan darimu?"
Mendengar nada bicara Vigo membuat Allan menyesal.
"Baiklah. Maafkan aku. Ada apa kakak menghubungiku?"
Vigo yang mendengar nada bicara Allan melembut menjawab bahagia.
"Kakak merindukanmu, Allan! Saat ini kakak sendirian di rumah."
Wajah Adam seketika berubah sedih saat mendengar ucapan dari Vigo. Melihat perubahan wajah Adam. Danish menjadi khawatir.
"Adam. Kau kenapa?" tanya Danish.
Anggota keluarga yang masih memperhatikan Adam dan Danish sontak terkejut saat mendengar ucapan Danish. Mereka akhirnya memutuskan untuk menghampiri keduanya dan bergabung dengan mereka.
Adam yang mendengar pertanyaan dari kakaknya itu menolehkan wajahnyanya. Lalu menggelengkan kepalanya seakan memberikan isyarat kalau tidak ada apa-apa. Lalu kembali fokus berbicara dengan Vigo di telepon.
"Memangnya Papa, Mama dan kak Nicolaas belum pulang?"
"Belum Allan. Papa dan Mama sedang berada di luar kota. Kemungkinan pulangnya baru besok pagi. Sedangkan kak Nicolaas masih di kantor. Sepuluh menit yang lalu kak Nicolaas menelpon kakak, katanya dia akan pulang jam 10 malam."
"Allan pulanglah. Kakak kesepian di rumah. Kau kan sudah 1 minggu di rumah keluargamu."
"Iya, iya! Aku akan pulang. Tapi aku pulangnya nanti setelah makan malam."
"Benarkah, Allan?"
"Iya. Malam ini aku akan tidur di rumah menemani kakak."
"Baiklah. Kakak akan tunggu kedatanganmu. Kakak benar-benar merindukanmu."
"Aish, alasan aja. Padahal kita sering bertemu di Kampus. Bilang aja kakak itu rindu menjahiliku kan?"
"Hehehehe. Tahu aja."
"Siapa yang tidak tahu dengan sifat burukmu itu, kak? Selama aku tinggal bersamamu. Kakak tidak pernah berhenti menjahili. Selalu saja dapat ide untuk menjahiliku."
"Oke, oke! Kakak minta maaf kalau selama ini kakak selalu menjahilimu. Tapi kali ini kakak berkata jujur. Kakak memang merindukanmu saat di rumah. Walau kita sering bertemu di Kampus."
"Iya. Aku juga merindukan kakak. Nanti malam kakak bisa sepuasnya melepaskan rasa rindu kakak padaku."
"Hm! Kakak akan tagih itu."
"Sudah dulu ya, kak Vigo. Disini ada satu ekor singa yang sedang menatapku. Tatapannya itu seakan-akan ingin memakanku hidup-hidup."
Adam melirik sekilas kearah Danish yang kini menatapnya. Anggota keluarganya yang mendengar penuturan dari Adam tersenyum gemas. Mereka semua melihat kearah Danish. Dan benar apa yang dikatakan oleh Adam. Danish benar-benar cemburu saat melihat dan mendengar Adam yang berbicara dengan Vigo di telepon.
Vigo yang berada di seberang telepon tersenyum mendengar penuturan dari Adam. Vigo tahu siapa yang disebut singa oleh Adam.
"Kau harus hati-hati pada singa itu, Allan! Jangan sampai kau dimakan oleh singa itu."
"Kak Vigo tidak perlu khawatir. Singa yang ada didekatku sekarang ini sudah jinak, kok! Dia tidak galak-galak amat. Cukup diberi satu ancaman, singa itu pasti nurut dan patuh," ejek Adam.
Danish yang mengerti arah ucapan Adam adiknya benar-benar sudah kesal saat ini. Di dalam hatinya, Danish mengeluarkan semua sumpah serapahnya untuk sang adik.
"Ya, sudah! Kalau begitu kakak tutup dulu teleponnya. Jangan lupa setelah makan malam kau harus pulang ke rumah keluarga Adiyaksa."
"Iya, bawel! Udah tutup teleponnya sekarang!"
TUTT!
TUTT!