THE FRATERNITY

THE FRATERNITY
Perkelahian



Suasana pagi di Kampus harusnya tenang dan damai. Mahasiswa dan mahasiswi berjalan memenuhi koridor. Beberapa murid-murid tampak berlari dan menepuk bahu temannya seraya mengucapkan selamat pagi.


Beberapa para gadis tampak berkumpul membentuk kelompok kecil dan saling memamerkan pesan dari kekasih masing-masing. Sedangkan para laki-laki berdiri di koridor sambil menggoda perempuan atau laki-laki yang ia sukai.


Ya, suasana pagi sebuah Kampus harusnya seperti itu. Penuh dengan keceriaan masa remaja. Bukannya suram dan menegangkan seperti yang terjadi pada situasi ini.


Tidak ada mahasiswa yang berlari kecil. Tidak ada ucapan selamat pagi dengan riang. Tidak ada para gadis yang memamerkan pesan kekasih mereka. Tidak ada para laki-laki yang menggoda orang yang mereka sukai. Tidak ada. Tidak ada! Yang ada hanyalah mahasiswi yang berdiri kaku dan merapat pada dinding dengan raut takut tercetak di wajah mereka. Bukan tanpa alasan mereka seperti itu.


Adam tengah berjalan tenang menyusuri koridor. Mungkin bukan sesuatu yang harus ditakutkan. Namun, lihatlah siapa yang kini juga tengah berjalan menyusuri koridor namun dari arah yang berlawanan? Dia adalah Danish, ketua dari Geng Bruizer.


Para mahasiswa dan mahasiswi semakin merapat ke dinding dan tampak ketakutan. Mereka saling memeluk teman mereka. Sementara kedua mahasiswa tampan itu terus melangkah dan jarak mereka semakin dekat. Suara langkah kaki Adam dan Danish terdengar sangat tenang. Berbanding terbalik dengan detak jantung para mahasiswa dan mahasiswi.


Adam menyeringai. Sementara Danish menatapnya dengan tatapan tajam. Keduanya semakin dan semakin mendekat. Para mahasiswa dan mahasiswi kini bahkan sulit bernafas. Seharusnya tidak terjadi apa-apa. Seharusnya semuanya baik-baik saja. Tidak akan terjadi apapun kalau saja Danish tidak menabrakkan bahunya dengan sengaja pada bahu Adam.


Adam menggeretakkan giginya. Rahangnya mengeras. Tanpa aba-aba ia berbalik, meraih kerah belakang seragam Danish dan melempar tubuh mahasiswa itu ke dinding. Dan ya, teriakan pecah. Para mahasiswi menjerit histeris. Para mahasiswa berlomba menyelamatkan diri masing-masing. Hanya orang gila yang mau berada di sana.


Danish kembali menyeringai. Dirinya menegakkan tubuhnya, memperbaiki kerahnya yang rusak karena cengkeraman keras. Dengan langkah keras Danish menghampiri Adam dan menghadiahkan sebuah tinju pada wajah tampan Adam, tapi dengan sigap Adam menangkis tinju dari Danish. Malahan tinju itu berbalik mengenai wajah tampan Danish.


BUGH! BUGH!


Yah! Adam menghadiahkan tinju ke wajah dan perut Danish dengan sangat keras.


Danish tidak tinggal diam, dirinya membalas meninju wajah tampan Adam dengan keras. Dirinya memukuli Adam bertubi-tubi.


BUGH! BUGH!


Tapi saat pukulan ke keempat Adam berhasil menangkisnya dan membalas pukulan tersebut tepat di kedua wajah tampan Danish.


Adam menghantamkan kepalan tangannya pada perut Danish dengan keras berulang kali. Adam sedikit kelelahan. Memanfaatkan Adam yang sedikit kelelahan yang lengah karena perih di wajahnya dan juga perutnya, Danish menendang bahu Adam.


Adam tersungkur. Namun, dirinya bangkit dengan cepat. Meraih bahu Danish dan menghantamkannya ke dinding. Penuh amarah Adam memukuli wajah Danish.


Koridor sekolah sepi. Tidak ada seorang pun yang berniat menghentikan perkelahian mereka, bahkan Dosen sekali pun.


Well, keselamatan diri sendiri lebih penting dari pada bertindak bodoh seperti pahlawan kesiangan.


Perkelahian semakin sengit. Baik Adam maupun Danish sama-sama terluka, namun Danish lebih parah. Adam baru saja akan menginjak perut Danish ketika seseorang menarik kerahnya dan melempar tubuhnya ke dinding.


Erangan tertahan meluncur dari bibirnya yang terluka ketika punggungnya menghantam dinding keras. Sebuah pukulan pada pipi Adam tak terelakkan. Dan orang itu akan memukul Adam lagi, namun ada sesuatu yang menarik bahunya dari belakang dan kini dialah yang terkena hantaman pada pipi.


"K-kak Ardi," gumam Adam lemah.


"Kau tidak apa-apa, Dam?" tanya Ardi yang panik lalu membantu Adam berdiri.


"Aku baik-baik saja, Kak. Tidak usah khawatir," jawb Adam


"Masih sanggup untuk bertarung. Permainan baru dimulai." ucap dan tanya Ardi.


"Ya! Aku masih sanggup. Anggap saja tadi hanya pemanasan," jawab Adam, lalu menatap tajam kearah Danish.


Ardi menyeringai dan menatap sengit pada Prana yang baru saja terkena hantamannya.


"Dua lawan satu, eoh!" Ardi menatap Prana dan Danish yang kini bersandar pada koridor secara bergantian, "Bukankah itu tidak adil?"


Prana mengeraskan rahang, menahan emosinya. Sungguh dirinya ingin berniat membalas menghajar Ardi siwajah pucat di hadapannya ini, namun niat itu ia urungkan ketika melihat siapa yang berada di belakang Ardi. Sakha, Kenzie, Gala, Harsha dan Arka. Jelas ia kalah jumlah.


"Apa kalian memang ingin mencari keributan dengan kami, hah?"


Prana tidak bisa menahan perasaan leganya ketika ia mendengar suara Cakra.


Dan benar saja, begitu Prana menoleh ke belakang dirinya mendapati Cakra, Kavi, Indra, Rayan dan Arya.


"Kau tidak apa-apa?" Indra berlari kecil menghampiri Prana.


Prana mengangguk, dirinya melirik ke arah Danish dan tampak Arya berada di dekatnya.


"Kami tidak pernah dan tidak ingin mencari keributan dengan kalian. Tapi kalian yang selalu mencari keributan dengan kami. Bahkan kalian selalu membully mahasiswa di Kampus inikan!" sergak Ardi


"Ketua brengsek kalian itu yang memulai duluan!" bentak Adam sambil menunjuk pada Danish.


"Pengecut!" decihnya.


"Kaulah yang pengecut dan juga pecundang. Kau beraninya mengancam orang dan menyuruh orang itu melakukan pekerjaan kotormu." Adam berucap ketus.


Sontak hal itu membuat Adam emosi dan berlari menerjang Danish tepat diperutnya.


DUUAAGGHH!


Danish tersungkur di tanah. Mereka yang menyaksikan hal itu, tidak terima atas apa yang dilakukan Adam pada Danish.


Adam masih menatap tajam pada Danish, dan tiba-tiba Kavi ingin menerjang Adam, tapi dengan gerakan lihai Adam berhasil mengelak. Dan tanpa membuang kesempatan itu, Adam memberikan tendangannya pada Kavi tepat pada perutnya.


DUUAAGGHH!


Kavi jatuh tersungkur di tanah.


Arya berseru keras melihat Danish dan Kavi tersungkur di tanah. Tidak terima, Arya ingin membalas perlakuan Adam. Tapi usaha dihalangi oleh Harsha.


"Mau main keroyokan, hah!" Harsha memukul keras pipi Arya dan dirinya mendapat pukulan balasan dari Indra.


"Aarrgghh!" Harsha meringis kesakitan.


BUGH!


Pukulan balasan yang diterima oleh Indra. "Beraninya main keroyokan, ya!" ucap Gala.


"Kau tidak apa-apa, Sha?" tanya Gala sambil membantu Harsha.


"Aku tidak apa-apa, Gal." Harsha menjawabnya.


Perkelahian semakin parah. Baku hantam terus terjadi. Arka dengan Cakra, Harsha dengan Indra, Ardi dengan Prana, Kavi dengan Sakha dan Gala dengan Rayan. Suara tinjuan, pukulan, tendangan serta erangan sakit mewarnai koridor kampus pagi itu.


Adam berdiri dengan tenang, setelah dia berhasil melakukan serangan pemanasan bersama Danish. Kedua tangannya di masukkan pada saku celananya. Matanya yang bulat menatap lurus pada Danish yang juga balas menatapnya. Tidak terlalu jelas karena ada perkelahian di antara kedua ketua geng tersebut.


"Bukankah ini pagi yang indah Danish?" Adam bersuara sedikit keras agar terdengar oleh Danish.


"Sangat," balas Danish sambil menggulung lengan ke mejanya.


"Bagaimana? Apa kau masih ada tenaga untuk melawanku? Apa rasa sakit di wajah dan perutmu itu sudah hilang?" tanya Adam menyindir.


"Apa kau baru saja mencemaskanku?" Danish membuka dua kancing teratasnya.


"Well." Adan tersenyum, "Bukan gayaku menghajar manusia lemah."


"Begitukah?" Danish balas tersenyum.


Dan detik berikutnya senyum itu hilang. Tergantikan oleh raut wajah penuh amarah.


Adam memukuli wajah dan perut Danish dengan sangat keras.


BUGH! BUGH!


Danish tersungkur ke tanah darah bercucuran dari sudut bibirnya. Danish tidak menyerah begitu saja, dirinya bangkit dan membalas pukulan Adam.


BUGH! BUGH!


Adam hendak memberikan pukulan ketiga kepada Adam, dengan sigap Adam menangkis tangan Danish dan melintirnya dengan sangat kuat ke belakang dengan menggunakan tangan kanannya dan tangan kirinya mencekal lehernya.


Adam berbisik ditelinga Danish. "Kau pikir aku takut denganmu hanya karena aku berstatus sebagai mahasiswa baru disini, hah! Aku tidak takut sama sekali denganmu, Danish!"


"Hei, kalian. Lihat kemari! Ketua kalian sudah dalam genggamanku sekarang!" teriak Adam menyeringai.


Dan mereka semua menghentikan pertarungan mereka. Dan menatap kearah Adam dan Danish.


Meraka tidak percaya ternyata sianak baru itu kemampuan bela dirinya diatas rata-rata melebihi dari kemampuan mereka.


"Dengarkan aku. Jangan pernah mengusik kehidupanku. Kalau kalian tidak mau jika kehidupan kalian juga aku usik. Aku tahu! Orang tua kalian adalah seorang donatur di Kampus ini. Tapi aku bisa pastikan pemilik Kampus ini akan mencabut kerja samanya dengan orang tua kalian. Bahkan bisa saja pemilik Kampus ini meminta kepada orang tua kalian untuk tidak menjadi donatur lagi di Kampus ini. Kalau sampai hal itu terjadi. Bagaimana dengan reaksi orang tua kalian? Nama baik mereka bakal hancur atas ulah kalian. Seorang donatur terbesar. Tapi memiliki seorang putra yang preman dan sering melakukan kekerasan di Kampus. Waaww! Aku tidak bisa membayangkan kalau hal itu sampai terjadi!"


Adam melepaskan cengkraman tangannya dari tangan dan leher Adam, sedikit mendorong tubuhnya. Setelah itu, Adam pun pergi meninggalkan mereka semua dan diikuti oleh para kakak-kakaknya. Langkah nya terhenti saat mendengar teriakan Danish.


"Aku belum kalah, Dirandra Adamka Abimanyu. Lain kali aku akan mengalahkanmu. Kau dengar itu!" teriak Danish.


Adam kembali melangkahkan kakinya tanpa memperdulikan ucapan Danish dan hanya menganggapnya angin lalu sembari mengacungkan jari tengahnya.