
Duagh..
"Aakkhhh!" teriak seorang mahasiswa akibat tendangan dari Zio.
Yah! Zio sudah kembali masuk kuliah. Zio bisa sampai masuk kuliah sebelum waktunya karena Adam serta yang lainnya sudah memberitahu tentang pemilik vcd-vcd yang ditemukan di dalam tasnya.
Mendengar cerita serta penjelasan dari Adam dan sahabat-sahabatnya yang lain mengenai vcd-vcd itu dan alasan orang tersebut melakukan hal itu adalah karena orang itu sangat dendam pada ketika di SMP dulu hingga sekarang membuat Zio marah. Hal itulah yang membuat Zio untuk kuliah.
"Lo benar-benar menjijikan, Agra! Hanya karena permasalahan kita ketika di SMP dulu. Itupun bukan aku yang memulainya. Bahkan aku sama sekali tidak pernah mengusik lo!" bentak Zio.
Pemuda yang mendapatkan tendangan dari Zio adalah bernama Agra, teman satu SMP Zio yang selalu iri terhadap Zio.
Mendengar perkataan dari Zio membuat Agra menatap tajam kearah Zio sembari dirinya berusaha untuk bangun dengan tangannya memegang perutnya.
"Enak ya kalau ngomong. Apa lo lupa ketika di SMP dulu lo selalu dinomor satukan oleh para guru. Setiap ada perlombaan, lo selalu yang terpilih. Bahkan gue berulang kali mendaftar, nggak ada satu pun yang diterima."
"Terus apa masalahnya dengan gue?! Apa gue ada nyogok mereka? Apa gue sama kayak lo daftar sana sini? Nggak! Gue nggak lakuin apa-apa. Asal lo tahu saja. Gue juga nggak tahu kalau gue bisa ikut disetiap kegiatan di sekolah."
"Gue nggak percaya sama lo."
"Terserah lo. Yang jelas gue juga nggak suka ikut-ikutan dalam setiap kegiatan di sekolah. Asal lo tahu gue bahkan pernah nggak hadir selama satu minggu. Itu karena apa?! Karena gue stres karena tanpa sepengetahuan gue nama gue udah masuk dalam 15 jenis perlombaan. Dan gue tahunya saat ketika dua hari perlombaan itu akan diselenggarakan!"
"Dan lo mau tahu apa yang terjadi jika gue lari dari semua perlombaan itu, hah?! Pihak sekolah minta ganti rugi sama gue atas dana yang sudah mereka keluarkan. Lo bayangkan sendiri kalau lo diposisi gue!" teriak Zio.
Tes..
Seketika air mata Zio jatuh membasahi pipinya ketika harus kembali mengingat kejadian menyakitkan itu ketika di SMP dulu.
"Lo pikir enak jadi gue. Jawabannya adalah nggak. Gue tertekan bahkan gue sempat depresi akan perlakuan pihak sekolah!"
"Jika lo nggak percaya dengan semua yang gue katakan. Itu urusan lo. Jika masih penasaran, silahkan lo cari kebenarannya. Jika nanti lo tahu kebenarannya, maka lo akan menyesal telah membenci gue selama 7 tahun."
Mendengar ucapan demi ucapan serta penjelasan dari Zio membuat keenam sahabatnya terkejut. Mereka tidak menyangka jika kehidupan Zio ketika di masa-masa SMP sangat buruk.
Setelah Zio mengatakan semua tentang apa yang dialaminya saat duduk di bangku SMP. Zio pun pergi meninggalkan lapangan tersebut. Hatinya benar buruk saat ini.
"Kalian pergilah susul Zio," ucap Adam.
"Baiklah," jawab Melky, Vino, Diego, Gino, Leon dan Vando.
Kini tinggal Adam sendiri bersama dengan Agra. Adam menatap kearah Agra yang saat ini masih merasakan kesakitan di perutnya.
"Gue saranin. Berhentilah mencari masalah dengan Zio. Apa lo nggak kasihan lihat dia barusan. Tapi jika lo masih berpikir bahwa Zio adalah murid paling disayang. Saran gue. Carilah bukti terlebih dahulu."
Setelah mengatakan itu, Adam pergi meninggalkan Agra bersama teman-temannya. Untuk menuju ruang Aula bersamaan Adam menghubungi seseorang untuk datang ke kampus.
^^^
Adam saat ini sedang berdiri bersandar di sebuah dinding di depan ruangan wakil dekan. Saat ini Adam sedang menunggu seseorang sembari membawa sesuatu yang dia minta.
Tanpa Adam sadari para kakak-kakaknya beserta sahabat-sahabat kakaknya menatap kearah dirinya seperti orang yang tengah menunggu seseorang.
Danish, Ardi, Vigo beserta sahabatnya baru selesai memberikan materi kepada di kelasnya masing-masing. Selesai dengan tugasnya, mereka memutuskan untuk ke kantin. Namun mereka berpapasan dengan Gala dan Harsha.
"Tuh Adam ngapain berdiri di depan kantor wakil Dekan?" tanya Kenzie.
"Sepertinya Adam lagi nungguin seseorang. Coba perhatiin deh gerak geriknya itu," ucap Jose.
"Hei, lihat disana!" seru Prana sembari tangannya menunjuk kearah dimana sekitar tujuh laki-laki berjalan menghampiri Adam.
"Itu mereka menghampiri Adam," ucap Sakha.
"Siapa mereka?" tanya Aryan.
"Kita lihat saja dulu. Jika mereka orang jahat. Barulah kita kesana nolongin Adam,"! ucap Vigo.
"Tuan, ini!" seseorang itu memberikan sesuatu kepada Adam.
"Orang itu sepertinya memberikan sesuatu kepada Adam," sahut Kavi.
"Adegan mereka udah seperti perdagangan narkoba saja," celetuk Arya ketika melihat seseorang yang memberikan sesuatu kepada Adam.
"Danish, yang disana itu benaran adik lo?" tanya Cakra.
"Siapa lagi tuh yang datang?" tanya Arka.
Danish, Ardi, Harsha, Vigo dan para sahabat-sahabatnya masih terus menatap Adam yang sedang bersama beberapa orang.
"In tuan!" orang itu memberikan sebuah map kepada Adam dan langsung diambil oleh Adam.
Adam membuat map itu lalu membaca isinya yang tertulis di dalam kertas-kertas putih tersebut.
"Ini sangat memuaskan. Sekarang, kalian masuk ke dalam dan seret para penipu koruptor itu ke lapangan."
"Baik."
Setelah itu, masuklah sekitar sepuluh laki-laki ke dalam ruang wakil Dekan dan ruangan para Dosen.
"Hei, lihat! Kenapa Adam menyuruh mereka masuk ke ruang wakil dekan dan ruangan para Dosen?" tanya Juna.
"Siapa kalian!"
"Mau dibawa kemana kami!"
Sekitar empat dosen dan satu Wakil Dekan ditarik paksa menuju lapangan oleh beberapa laki-laki.
"Waktunya beraksi," sahut Adam.
Setelah mengatakan itu, Adam pergi menyusul para anggota dari Rasky dan diikuti oleh Rasky di sampingnya.
Melihat kepergian Adam. Danish, Ardi, Harsha, Vigo dan para sahabat-sahabatnya langsung menyusul Adam. Mereka tidak ingin kalau Adam sampai kelepasan menyakiti Wakil Dekan dan empat Dosen itu.
^^^
Semuanya sudah di lapangan, termasuk Adam dan Rasky. Tatapan mata Adam menatap nyalang kearah Wakil Dekan dan empat Dosen tersebut.
"Apa-apaan kau, Adam?!" bentak Wakil Dekan tersebut.
"Huft! Adam langsung meletakkan jari telunjuknya di bibirnya bertanda dia tidak ingin ada yang bicara sebelum dirinya.
Adam maju beberapa langkah mendekati orang-orang yang ada di hadapannya itu dengan tatapan yang menakutkan.
"Langsung aja ya. Mulai detik kalian resmi dikeluarkan dari BINUS UNIVERSITY!" seru Adam dengan suara yang keras.
Mendengar ucapan Adam membuat semua yang melihat kejadian itu terkejut. Begitu juga dengan Danish, Ardi, Harsha, Vigo dan para sahabat-sahabatnya.
"Jadi mereka yang sudah menipu Mama selama ini," batin Danish.
"Brengsek! Beraninya mereka menipu Mama Utari," batin Ardi dan Harsha.
Danish, Ardi dan Harsha langsung paham akan ucapan dan tindakan Adam terhadap wakil Dekan dan empat Dosen tersebut.
"Kau tidak memiliki kuasa apapun untuk memecat kami dari kampus ini!" bentak Wakil Dekan itu.
"Begitukah?"
"Iya!"
"Jadi lepaskan kami!"
"Tapi seperti keinginan kalian itu tidak bisa aku penuhi. Maafkan aku," ucap Adam.
"Kau...."
Wakil Dekan tersebut hendak memukul Adam, namun salah anggota Rasky langsung memberikan tendangan tepat di perut sang wakil Dekan tersebut.
Bruk..
Seketika sang wakil Dekan itu tersungkur di lapangan dengan perut yang terlebih dahulu menghantam lantai lapangan.
Adam menatap nyalang kearah empat Dosen tersebut yang saat ini tengah ketakutan. Bahkan mereka tidak berani menatap wajah Adam sama sekali.
"Adam," panggil seseorang.
Mendengar namanya dipanggil Adam langsung mendengus kesal. Kemudian Adam melihat keasal suara. Dapat Adam lihat kakaknya, kakak sepupunya dan para sahabat-sahabatnya.
"Kenapa sih? Mengganggu saja," gerutu Adam.
Mendengar ucapan ketus dan melihat wajah tak mengenakkan dari Adam membuat mereka semua hanya bisa menghela nafas pasrahnya.
"Tiba-tiba semangatku hilang gara-gara kedatangan kalian," sahut Adam.
"Ini." Adam memberikan map yang sejak tadi dia pegang kepada Danish kakaknya.
"Apa ini?" tanya Danish sembari mengambil map yang diberikan oleh Adam.
"Punya mata dan mulut. Lihat sendiri dan baca apa isi," jawab Adam sewot.
Danish bertahan membuat sampul map itu. Setelah terbuka, Danish pun membacanya isinya dari kertas-kertas putih tersebut.
Deg...