
Kini Adam berada di kantin bersama para kakak-kakaknya, ketujuh sahabatnya dan para sahabat-sahabat kakak-kakaknya.
Mereka berada di kantin karena Danish, Vigo, Ardi, Alon, Tian, Cakra, Prana, Arka dan Kenzie langsung menarik tangan Adam beserta ketujuh sahabat-sahabatnya karena mereka akan kembali berkelahi dengan Aziel dan kesembilan teman-temannya dikarenakan Aziel berhasil memancing emosi Adam dan ketujuh sahabat-sahabatnya.
Ketika Ardi, Danish, Vigo, Alon, Tian, Cakra, Prana, Arka dan Kenzie serta yang lainnya tengah menyeret Adam dan ketujuh sahabat-sahabatnya menuju kantin, Gala dan Harsha datang.
Adam sampai saat ini masih dalam keadaan mood yang buruk. Sudah berulang kali Danish, Ardi, Vigo, Harsha serta yang lainnya membujuk bahkan mengajak Adam bicara, namun usaha mereka gagal.
"Ayolah, Dam! Jangan diam saja. Ngomong dong," ucap Danish yang tatapan matanya menatap sedih adiknya.
Adam seketika melihat kearah kakaknya dengan tatapan mata yang sendu.
"Kakak," lirih Adam.
"Ada apa, hum?" tanya Danish sembari mengusap pipi putih adiknya itu.
"Baju pemberian kakak Garry rusak. Itu semua gara-gara cewek sialan itu," adu Adam kepada kakaknya.
"Kakak tahu perasaan kamu. Tapi sudahlah, lupakan saja. Kamu bisa minta beli lagi sama kakak Garry. Dan kakak Garry pasti akan membelikan yang baru buat kamu," hibur Danish.
"Ini bukan masalah kakak Garry mau atau tidak. Tapi ini masalahnya, baju itu adalah hadiah ulang tahun dari kakak Garry. Baju itu hadiah ulang tahunku yang pertama, lalu berlanjut yang kedua sampai usia aku yang sekarang. Kakak Garry akan memberikan hadiah itu dua kali dalam sebulan."
Deg..
Mereka terkejut ketika mendengar penjelasan Adam mengenai baju pemberian Garry untuk Adam.
"Aku memakai baju yang dibelikan oleh kakak Garry ke kampus gunanya aku ingin perlihatkan sama kakak Ardi dan kakak Harsha. Aku akan bilang ke mereka bahwa baju yang aku pakai ini adalah dari kakak Garry. Selama ini kan yang sering belikan aku baju baru walau aku nggak minta adalah kakak Ardi, kakak Harsha, kakak Dzaky, kakak Rafig, kakak Reza dan kakak Juan. Ditambah lagi kita udah nggak tinggal di kediaman Abimanyu lagi."
Mendengar perkataan serta nada lirih Adam membuat hati mereka sesak dan juga ikut nangis.
Grep..
Danish menarik tubuh adiknya dan membawanya ke dalam pelukannya. Dan seketika tangis Adam pun pecah.
"Kakak... Hiks... Bajunya udah rusak. Warnanya nggak akan bisa hilang, walau dicuci berulang kali. Bajunya akan pudar."
"Sudah! Jangan nangis lagi ya. Bagaimana pulang kampung nanti kita jalan-jalan ke Mall. Sampai disana nanti kamu bisa bebas belanja apa aja," ucap Danish yang berusaha membujuk adiknya.
"Iya, Dam! Kita pergi sama-sama!" seru Ardi, Harsha dan Vigo bersamaan.
Adam langsung melepaskan pelukan kakaknya lalu menatap wajah kakaknya itu dan yang lainnya.
"Nggak ah. Malas. Selesai urusan di kampus aku mau langsung pulang aja."
Mendengar jawaban dari Adam membuat Danish serta yang lainnya hanya bisa pasrah.
Namun detik kemudian, Adam tersenyum sembari menatap kearah Danish, Ardi, Harsha dan Vigo.
"Bagaimana kalau kakak Danish, kakak Ardi, kakak Harsha dan kakak Vigo belikan aku beberapa macam cemilan kesukaan aku plus susu pisang ketika pulang Kampus nanti?"
Mendengar permintaan dari Adam membuat mereka semua merasakan kelegaan masing-masing. Setidaknya mood Adam sudah sedikit membaik.
"Dengan senang hati. Apapun untuk kamu!" Danish, Ardi, Harsha dan Vigo menjawab bersamaan.
"Kita juga akan membelikan beberapa cemilan dan susu pisang untuk kamu Adam!" seru para sahabat dari Danish, Vigo dan sahabatnya Ardi, Harsha yang juga sahabatnya Adam.
"Kita akan membelikan untuk kalian juga," sahut Vigo dan Viko bersamaan dengan menatap kearah Melky, Vino, Diego, Gino, Zio, Leon dan Vando.
"Terima kasih kak!" jawab Melky, Vino, Diego, Gino, Zio, Leon dan Vando bersamaan.
***
Di Alpha High School tampak murid-murid dan juga orang tua yang sedang memasuki perkarangan sekolah, termasuk Varo Alessio dan sepupunya Salsa. Keduanya diantar oleh Vito sang kakak.
Baik Varo maupun Salsa masuk jam siang sekitar pukul 11 siang.
"Kakak pulang dulu ya. Kalian belajar yang rajin," ucap Vito.
"Iya, kak! Varo dan Salsa menjawab bersamaan.
"Ya, sudah kalau begitu. Kakak pulang. Nanti yang akan menjemput kalian nanti adalah kakak Vino. Kakak Vino akan langsung dari Kampus menuju sekolah kalian," ucap Vito menjelaskan.
"Baik, kak!" keduanya kembali menjawab dengan kompak.
Setelah kedua adiknya berada di dalam perkarangan sekolah. Vito pun pergi meninggalkan Alpha High school.
Varo dan Salsa berjalan menuju kelasnya dengan Salsa bernyanyi kecil. Sedangkan Varo seperti biasa memperlihatkan wajah dinginnya.
Ketika Varo dan Salsa sedang berjalan menuju kelasnya, tiba-tiba salah satu murid laki-laki yang tengah bersama ibunya yang juga tengah menuju kelasnya melihat kearah Varo dan Salsa.
Murid laki-laki itu seketika ingat dengan Varo dan Salsa. Seketika murid laki-laki itu menatap ibunya dan memberitahu tentang orang yang sudah mendorong dirinya ketika di toko buku kemarin.
"Mami."
"Ada apa, sayang."
"Dia yang kemarin mendorong aku, Mami."
Wanita paruh baya itu melihat kearah tunjuk putranya. Dan dapat dilihat olehnya dua pasang anak yang tengah berjalan menuju kelas.
"Jadi mereka yang sudah menyakiti putraku. Awas kalian," ucap wanita itu.
Setelah itu, wanita tersebut menghampiri Varo dan Salsa yang kebetulan keduanya saat ini sudah bersama seorang guru.
"Hei, kau!" teriak wanita itu.
Mendengar teriakan dari wanita tersebut. Sontak membuat beberapa orang yang ada disan terkejut. Bahkan guru yang saat ini berdiri diantara Varo dan Salsa menatap bingung kearah wanita itu.
"Kau yang kemarin mendorong putraku kan?!" bentak wanita itu dengan menunjuk kearah Varo.
Mendengar perkataan dari wanita yang ada di hadapannya. Varo langsung melihat kearah anak laki-laki yang berdiri di samping wanita itu.
Setelah itu, Varo kembali menatap wanita itu dengan wajah dinginnya.
"Jadi dia anak Bibi?" tanya Varo.
"Kenapa Bibi membentak dan menyalahkan saudaraku? Yang salah itu anak Bibi," sahut Salsa.
"Diam kau!" bentak wanita itu dengan menatap tajam Salsa.
"Kenapa Bibi menyuruh aku diam. Ini kan mulut aku. Jadi terserah aku dong mau bicara. Bebas nggak ada larangannya," jawab Salsa.
Mendengar jawaban dari Salsa membuat wanita itu marah. Sementara guru dan yang lainnya tersenyum mendengar jawaban dari Salsa.
Wanita itu menatap Varo dan Salsa tajam. Dirinya tidak terima putranya disakiti oleh siapa pun.
"Aku berikan kamu satu kesempatan untuk meminta maaf kepada putra saya. Jika tidak terima akibatnya," ancam wanita itu.
"Kenapa aku harus minta maaf kepada anak Bibi? Aku nggak salah. Yang salah itu anaknya Bibi. Jadi yang seharusnya meminta maaf itu adalah anak Bibi itu," ucap Varo masih dengan wajah dinginnya.
Wanita marah ketika mendengar jawaban dari Varo. Dirinya tidak terima jika perintah darinya tidak dipatuhi.
***
Adam berada di kelas bersama dengan sahabat-sahabatnya. Dirinya saat ini tengah berkutat dengan buku tulisnya. Beberapa jam yang lalu Vino dan sahabat-sahabatnya mendapatkan tugas dari dosen bahasa Inggris. Dan tugas itu harus selesai dalam waktu satu jam.
Ketika Adam dan ketujuh sahabat-sahabatnya tengah sibuk dengan tugas bahasa Inggris nya, tiba-tiba ada sebuah notifikasi masuk ke ponsel milik Vino.
Vino yang mendengar ponselnya berbunyi langsung mengambil di saku celananya. Setelah itu, Vino melihat ke layar ponselnya. Ada sebuah pesan video yang terpampang di layar ponselnya.
Setelah itu, Vino mengklik video tersebut. Dan video itu pun berputar.
Beberapa detik kemudian...
Kemarahan Vino keluar ketika melihat kedua adiknya dihina dan dibentak.
"Berani kau menyentuh adik-adikku, maka bisa aku pastikan aku akan mematahkan tanganmu," ucap Vino.
Mendengar perkataan dari Vino membuat Adam dan yang lainnya langsung melihat kearah Vino.
"Ada apa?" tanya Adam.
Vino langsung melihat kearah Adam dan sahabat-sahabatnya.
"Adikku Varo dan adik sepupuku Salsa dalam masalah di sekolah. Ada yang ingin menyakiti mereka," jawab Vino.
"Siapa?" tanya Zio.
"Ini lihatlah," ucap Vino sembari memperlihatkan video tersebut kepada Adam dan sahabat-sahabatnya yang lain.
Baik Adam, Melky maupun Diego, Gino, Zio, Leon dan Vando bersamaan melihat ke layar ponsel milik Vino.
Detik kemudian..
"Dasar perempuan gila," geram Diego.
Setelah melihat video itu, Adam menghubungi Zelo dan memintanya untuk datang ke Alpha High School dan menunggunya disana.
"Hallo, Dam!"
"Hallo, Zelo. Aku boleh minta tolong nggak?"
"Tentu. Minta tolong apa?"
"Bisa tidak kau utus tiga anggotamu ke Alpha High school."
"Apa ada masalah?"
"Iya. Ada yang ingin menyakiti kedua adiknya Vino."
"Baiklah!"
"Terima kasih, Zelo!"
"Sama-sama, Dam!"
Setelah selesai berbicara dengan Zelo. Adam mematikan panggilannya.
Adam menatap kearah Vino yang masih khawatir akan kedua adiknya.
"Tenang, oke! Anggotanya Zelo dalam perjalanan ke sekolah Varo dan Salsa."
"Terima kasih, Dam!"
"Kamu dapat dari mana video itu?" tanya Melky.
"Dari kakak Vito. Kakak Vito memintaku untuk datang kesana karena kakak Vito sudah terlanjur janji dengan rekan kerjanya."
***
"Apa begini cara kedua orang tua kalian mendidik kalian, hah?!" bentak wanita itu.
"Jangan bawa-bawa Papa sama Mama aku. Mereka tidak salah. Mereka tidak tahu apa-apa," ucap Varo.
"Papa sama Mama tidak pernah mengajarkan aku dan Varo yang jelek-jelek. Kalau pun aku dan Varo nyakitin teman-teman. Itu mereka yang terlebih dahulu mengusik kami berdua," ucap Salsa.
"Berani kamu menjawab perkataan saya, hah!" bentak wanita itu.
"Maafkan aku, Bibi! Aku nggak bermaksud melawan. Tapi itulah kenyataannya. Mereka diam, maka kami berdua juga akan diam. Jika mereka mengusik kami berdua, maka kami berdua bakal balas mereka." Salsa menjawab perkataan dari wanita itu dengan tatapan marahnya.
Wanita itu benar-benar marah dan muak melihat kelakuan Varo dan Salsa. Wanita itu beranggapan bahwa Varo dan Salsa sedang mempermainkan dirinya.
"Kalian benar-benar anak kurang ajar, tidak tahi diri, tidak tahu sopan santun dan tutur kata kalian itu tidak mencerminkan anak sekolah. Pantas saja kalian seperti ini. Orang tua kalian mengajarkan kalian kan?!" bentak wanita itu dengan menatap tajam Varo dan Salsa.
"Maaf, nyonya jika saya menyela. Seharusnya nyonya tidak berbicara seperti itu kepada Varo dan Salsa. Bagaimana pun mereka masih anak-anak," ucap guru kelas Varo dan Salsa. Dan juga guru kelas dari anak laki-laki itu.
"Anda jangan ikut campur!" bentak wanita itu.