
Deg..
Semuanya melihat kearah dimana seorang pemuda tampan yang berjalan menghampiri Adam.
"Danish," panggil Arya.
"Ada apa?" tanya balik Danish.
"Siapa dia?" tanya Arya.
Cakra, Kavi, Indra, Prana dan Rayan menatap kearah Danish. Kemudian kembali menatap kearah pemuda yang sudah berdiri di samping Adam.
Jordan dan Ghiska melihat kearah pemuda yang berdiri di samping Adam. Begitu juga dengan pemuda itu.
"Apa Paman bisa mengenal orang yang berdiri di sampingku ini?" tanya Adam.
Tanpa menjawab pertanyaan dari Adam. Baik Jordan maupun Ghiska berlahan melangkah mendekati Adam dan pemuda yang berdiri di samping Adam dengan tatapan tak pernah lepas menatap wajah pemuda itu.
Kini Jordan dan Ghiska sudah berdiri di hadapan pemuda itu. Tatapan keduanya masih menatap wajahnya. Begitu juga dengan pemuda tersebut.
Berlahan Ghiska mengangkat kedua tangannya ingin menyentuh wajah dari pemuda yang berdiri di hadapannya.
Setelah tangannya berhasil menyentuh kedua pipi pemuda itu, seketika air matanya jatuh membasahi wajah cantiknya.
"Ge-gerard! Ka-kamu Gerard putra Mami," ucap Ghiska dengan berurai air mata.
Jordan menatap lekat seluruh tubuh pemuda yang di hadapannya saat ini. Dari mulai atas sampai bawah. Lalu Jordan menyentuh tangan kanan pemuda itu dan mengusap-usap dengan lembut.
Berlahan Jordan menyentuh pipi pemuda itu, lalu beralih menuju kepala hingga memperlihatkan kening putih putranya itu. Bahkan Jordan melihat ada bekas luka di sudut di samping alisnya dimana luka itu sangat Gerard tahu apa penyebabnya.
"Hiks... Kamu Gerard. Kamu Gerard putra Papi... Hiks," ucap Gerard terisak.
"Jadi dia kakak kandungnya Melky," batin para sahabatnya Adam, Danish, Ardi, Harsha dan Vigo. Termasuk Vigo.
"Jadi Adam dan anggota keluarga Abimanyu sudah bertemu dengan kakak kandungnya Melky," batin Zelo.
Melihat kedua orang tuanya yang langsung mengenali dirinya. Ditambah lagi ketika mendengar ucapan dari kedua orang tuanya itu membuat isak tangis Gerard pecah seketika. Dirinya benar-benar bahagia bisa bertemu kembali dengan kedua orang tuanya dan juga adiknya.
"Hiks... Hiks... Papi... Hiks... Mami," isak Gerard.
Grep..
Jordan dan Ghiska langsung memeluk tubuh putra sulungnya begitu erat. Keduanya benar-benar bahagia Tuhan sudah mempertemukan dirinya dengan putra sulungnya.
"Papi/Mami rindu kamu, nak!" Jordan dan Ghiska berucap bersamaan dengan makin mengeratkan pelukannya pada tubuh putra sulungnya.
"Aku juga sangat merindukan Papi sama Mami. Selama 13 tahun ini aku selalu mencari keberadaan Papi, Mami dan Miky. Aku tidak pernah berhenti mencari kalian," ucap Gerard di dalam pelukan kedua orang tuanya.
Melihat pertemuan ayah, ibu dan anak membuat anggota keluarga Abimanyu, keluarga Bimantara, keluarga Palavi dan semuanya yang ada di ruang tengah itu juga ikut menangis. Mereka semua bahagia melihat keluarga yang dulu berpisah, sekarang telah berkumpul kembali.
Jordan dan Ghiska melepaskan pelukannya dan menatap wajah tampan putra sulungnya itu. Mereka berulang kali mengusap-usap pipi putih putranya dan juga kepalanya. Mereka juga memberikan beberapa ciuman di pipi dan kening putranya itu.
Sementara Melky yang sejak tadi menatap kearah pemuda yang disebut sebagai putra sulung dari kedua orang tuanya berusaha untuk terus mengingatnya. Di dalam hati dan pikiran Melky seakan-akan pernah melihat wajah pemuda yang bersama dengan kedua orang tuanya itu.
Flashback On
"Papi, itu siapa di belakang mobil kita?"
"Kakak sayang kamu. Tetaplah hidup karena kakak akan kembali."
Flashback Off
Seketika air mata Melky mengalir membasahi wajahnya ketika dirinya sudah mengingat akan pemuda yang bersama dengan kedua orang tuanya itu.
"Hiks... Kakak Gege!"
Tiba-tiba Melky memanggil kakaknya dengan panggilan sayangnya dengan disertai air matanya mengalir membasahi wajahnya.
Deg..
Jordan dan Ghiska terkejut sekaligus bahagia ketika mendengar putra bungsunya memanggil putra sulungnya dengan panggilan sayangnya.
Ghiska menghampiri putra bungsunya itu yang tatapan matanya menatap kearah putra sulungnya.
"Melky, kamu?"
Adam serta yang lainnya ikut merasakan kesedihan dan juga bahagia ketika melihat Melky yang sudah mengingat akan sosok kakaknya yang selama ini dia lupakan.
"Apa kakak Gege tidak ingin memelukku? Apa kakak Gege tidak sayang lagi padaku?" tanya Melky dengan tatapan matanya menatap kearah sang kakak.
Gerard yang mendengar pertanyaan dari adiknya tidak mampu untuk membendung tangisan. Gerard menangis ketika melihat adiknya yang sudah menangis untuk minta dipeluk.
"Kakak Gege... Hiks."
Gerard langsung melangkah kakinya mendekati adik laki-laki satu-satunya. Dirinya sudah benar-benar merindukan adiknya itu.
Grep..
Gerard langsung menerjang tubuh adiknya ketika sudah berada di hadapan adiknya itu.
"Kakak... Hiks," isak Melky.
"Kakak rindu kamu Miky."
"Kau juga rindu kakak Gege. Sangat!"
Semuanya menangis ketika melihat Melky yang kembali bertemu dengan kakak kandungnya. Selama mereka kenal dan selama Melky yang selalu terbuka mengatakan bahwa dirinya tidak memiliki saudara sama sekali.
Namun nyatanya bahwa Melky memiliki satu kakak laki-laki. Dan kakak laki-lakinya itu begitu menyayat dirinya.
***
Brak..
"Aarrgghh!" teriak seorang pria paruh di ruang kerjanya.
Pria itu marah ketika mendapatkan laporan dari tangan kanannya yang mengatakan bahwa Jordan serta keluarganya sudah tidak ada di negara Australia.
Yang membuat pria itu lebih marah lagi adalah ketika tangan kanannya itu mengatakan bahwa Jordan dan keluarganya sudah berada di Jakarta. Mereka kembali ke Jakarta berkat bantuan dari kelompok CAMORRA.
"Brengsek! Kenapa kelompok mafia CAMORRA ikut campur dalam urusanku? Dan kenapa Jordan dan keluarganya bisa kenal dengan kelompok yang terkenal kejam itu."
"Sial! Apa yang harus aku lakukan sekarang? Sekarang Jordan memiliki pendukung yang begitu kuat. Kelompok mafia CAMORRA bukan kelompok sembarangan. Salah sedikit saja, nyawa bisa melayang. Ditambah lagi tidak ada yang tahu dimana keberadaan kelompok mafia itu. Kelompok itu begitu sulit untuk dilacak dan juga ditembus. Bahkan tidak ada satu pun yang tahu mereka memakai topeng dan pakaian apa jenis apa."
Pria itu berucap sembari mengingat bagaimana kejam, licik dan pintarnya kelompok mafia CAMORRA menyembunyikan keberadaannya.
Ketika pria itu tengah marah sambil memikirkan tentang kelompok mafia CAMORRA, tiba-tiba ponselnya kembali berbunyi. Yang menghubunginya adalah tangan kanannya yang sama.
"Hallo."
"Hallo, Bos! Gawat!"
"Gawat kenapa?"
"Semua anak buah yang kita tempati di lima kecamatan di Jakarta telah diketahui. Mereka semua ditangkap oleh kelompok yang dikenal kejam dan berbahaya di Indonesia, terutama untuk semua Jakarta baik itu Jakarta Pusat, Jakarta Selatan, Jakarta Barat, Jakarta Timur dan Jakarta Utara."
"Apa?! Bagaimana bisa?"
"Saya juga tidak tahu Bos! Dua hari saya tidak mendapatkan kabar dari sehingga saya memutuskan untuk menemui mereka. Namun ketika tiba disana, mereka semuanya tidak ada. Dan bahkan saya menemukan beberapa mayat anggota kita Bos!"
"Brengsek! Siapa lagi yang membantu Jordan dan keluarganya?"
"Apa kau tahu dari kelompok mana yang membawa semua anaknya buah kita"
"Kelompok KARTEL, Bos!"
"Apa rencana kita sekarang Bos?"
"Berapa jumlah anak buah kita sekarang?"
"Sedikit Bos. Tersisa hanya 300 orang. Kita bahkan banyak kehilangan anak buah Bos."
"Baiklah. Sekarang dengarkan aku. Kau cari kelompok yang lebih kejam diatas kelompok mafia CAMORRA. Ajak mereka menjadi sekutu kita agar bisa melawan kelompok mafia CAMORRA."
"Baik Bos. Saya akan cari kelompok yang bersedia menjadi sekutu kita dan bersedia melawan kelompok mafia CAMORRA."
Setelah mendengar jawaban dari tangan kanannya itu, pria itu langsung mematikan panggilannya.
"Aku tidak akan kalah begitu saja. Tunggu saja apa yang menanti kalian," ucap pria itu.