
Adam sedang berada di Apartemen milik kakeknya. Dirinya masih berada di sana dan belum mau kembali pulang ke rumah. Dirinya masih kesal pada ibunya dikarenakan ibunya tidak menceritakan semua kejadian yang sebenarnya padanya.
Rahasia yang selama ini disembunyikan oleh ibunya, berlahan-lahan terungkap. Adam mengetahui rahasia tersebut dari orang yang berbeda-beda dan dengan versi yang berbeda pula sampai membuat dirinya bingung. Intinya semua ada pada ibunya karena ibunya lah yang mengalaminya.
Ibunya juga yang mengetahui fakta yang sebenarnya. Tapi dirinya masih enggan untuk bertemu dengan ibunya. Walau berulang kali ibunya berusaha menghubunginya dan menemuinya di Apartemen. Tetap saja ditolak olehnya.
Waktu sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Sudah waktunya seorang Dirandra Adamka Abimanyu bersiap-siap untuk ke kampus.
Lima belas menit kemudian, Adam sudah rapi dengan pakaian kampusnya. Beberapa detik kemudian terdengar bunyi bell Apartemennya.
TING!
TING!
Mendengar bell Apartemennya berbunyi, Adam melangkah menghampiri pintu Apartemennya dan kemudian membuka pintu tersebut.
CKLEK!
DEG!
Adam terkejut saat melihat siapa yang datang mengunjunginya. Adam pergi begitu saja tanpa mempedulikan wajah rindu orang tersebut.
"Sayang," panggil orang itu.
"Mau apa Mama kesini?" tanya Adam ketus.
"Sayang. Kamu masih marah sama Mama. Mama minta maaf sayang. Mama tidak menceritakan semuanya padamu. Seharusnya Mama menceritakan semuanya tanpa ada yang Mama sembunyikan lagi darimu," ucap Utari.
"Kalau begitu ceritakan padaku sekarang? Semuanya?" pinta Adam dengan tatapan matanya yang penuh harap.
"Baiklah. Mama akan ceritakan semuanya. Tapi Mama akan cerita sambil kita makan ya. Pasti putra tampan Mama ini belum makan. Dan Mama memasakkan makanan kesukaanmu." Utari berusaha membujuk putranya.
Utari meletakkan makanan itu di atas meja, lalu kemudian membukanya. Dan keluarlah aroma wangi dari makanan itu.
Sedangkan Adam sedari tadi memperhatikan sang ibu menyiapkan makanan di atas meja dan tanpa sadar air matanya mengalir begitu saja.
Utari memandangi putra bungsunya yang hanya berdiri tak jauh darinya menjadi terkejut saat melihat putranya menangis. Utari pun menghampiri putranya dan menghapus air mata putranya itu.
"Kenapa menangis, sayang? Ada apa, hum? Mama menyayangimu. Selamanya menyayangimu. Kau malaikat kecil Mama. Maafkan Mama yang selama ini belum memberikan kebahagiaan penuh untukmu. Mama selalu membuatmu sedih dan terluka." Utari berucap, lalu langsung memeluk putra bungsunya.
"Hiks.. Aku merindukan, Mama. Aku sangat merindukan Mama.. hiks." Adam terisak.
"Mama juga merindukanmu, sayang! Ya, sudah. Ayo kita makan. Nanti kamu bisa terlambat kuliah," ucap Utari sambil menarik pelan tangan putranya dan menduduki putranya di kursi.
Mereka pun memulai menikmati sarapan pagi bersama.
"Adam. Maafkan papamu ya, sayang. Papamu tidak sepenuhnya salah. Papamu adalah pria yang baik dan bertanggung jawab. Papamu sangat mencintai Mama. Seperti yang pernah Mama katakan padamu. Semua ini salah nenekmu dan bibimu. Mereka yang sudah membuat Mama dan Papa berpisah."
"Dari awal mereka memang tidak pernah menyukai Mama. Bahkan mereka tidak merestui pernikahan Mama dan Papa. Tapi papamu tidak mempedulikan semua itu. Papamu tetap pada pendiriannya. Papamu hanya termakan dengan rencana yang dibuat oleh nenekmu dan bibimu karena menurut mereka berdua, papamu tidak akan pernah percaya apapun yang dikatakan oleh mereka berdua. Maka dari itu agar papamu percaya pada mereka berdua, nenekmu dan bibimu membuat Mama seolah-olah istri yang jahat untuk papamu. Dengan..." ucapan Utari terhenti. Dirinya tidak sanggup lagi untuk bercerita. Utari hanya bisa menunduk.
"Dengan menjebak Mama tidur dengan laki-laki lain. Dan saat itu terjadi, Papa pulang dari luar kota dan memergoki Mama tidur dengan laki-laki lain di kamar." Adam melanjutkan ucapan sang ibu.
Utari mendongakkan wajahnya menatap wajah tampan putranya itu.
"Kamu sudah tahu, sayang? tanya Utari.
"Kak Danish yang memberitahuku kalau Papa tidak salah," jawab Adam.
Adam kembali fokus pada makanannya. "Aku sudah memaafkan Papa. Kemarin Papa datang ke kampus. Dan aku tidak menolaknya saat Papa memelukku," jawab Adam tanpa menatap ibunya.
Utari tersenyum bahagia mendengar penuturan putranya. "Terima kasih sayang."
"Karena kamu sudah menjadi anak kebanggaan Mama dan Papa," jawab Utari.
"Lalu bagaimana dengan kedua kakakmu?" tanya Utari.
"Eeemm, mereka baik. Kak Garry! Pertama bertemu dengannya aku merasa nyaman. Dia pandai membuatku tersenyum. Kak Danis! Dia musuh bebuyutanku di kampus. Setiap hari dia selalu mengajakku ribut. Tak disangka dia ternyata kakak kandungku. Tapi akhir-akhir ini sikapnya begitu lembut dan lebih sabar padaku. Aku tidak pernah melihatnya emosi," jawab Adam jujur.
"Apa kamu mau menerima mereka, sayang?" tanya Utari.
"Tidak ada alasanku untuk menolak mereka. Bagaimana pun mereka berdua kakak-kakakku. Kemana pun aku pergi mereka tetap kakak-kakakku," jawab Adam lagi.
"Mama bangga padamu. Terima kasih, sayang. Mama menyayangimu. Ya, sudah habiskan makananmu. Hari ini biar Mama yang mengantarmu ke kampus," ucap Utari.
"Eemm, baiklah. Terserah Mama saja," jawab Adam.
Sedangkan Utari tersenyum bahagia melihat putra yang menurut begitu saja. Biasanya putranya selalu menolak untuk diantar ke kampus.
***
Suasana di meja makan tampak bahagia. Evan yang sedari tak lepas memperlihatkan senyuman bahagianya. Kedua putranya Garry dan Danish tersenyum bahagia melihat ayah mereka yang tengah bahagia. Hanya Danish yang mengetahui kebahagiaan yang dirasakan oleh ayahnya.
"Papa. Aku perhatikan dari tadi sepertinya Papa lagi bahagia, nih! Ada apa, Pa?" tanya Garry.
"Ya, sayang. Papa memang lagi bahagia hari ini," sahut Evan.
"Boleh beritahu aku, Pa. Apa yang membuat Papa bahagia?" tanya Garry.
"Adikmu, Dirandra Adamka Bimantara." Evan menjawabnya.
"A-adam!" seru Garry tersenyum. "Apa Adam sudah memaafkan Papa dan mau menerima Papa?" tanya Garry sumringah.
"Eemm. Adikmu itu benar-benar berhati malaikat. Dia tidak membenci Papa. Bahkan dia sudah memaafkan Papa sebelum Papa memintanya." Evab berucap dengan senyuman yang masih terpampang jelas di bibirnya.
"Benarkah?" tanya Garry lagi.
"Itu benar, kak. Bagaimana kalau nanti kakak yang mengantarku ke kampus? Jadi kakak bisa bertemu dengan Adam. Aku yakin Adam pasti merindukan kakak. Secara hubungan kalian awalnya kan baik-baik saja," pungkas Danish.
"Papa setuju dengan adikmu, Garry!" seru Evan.
"Apa benar kau sudah bertemu dengan cucu bungsu ibu, Van?" tanya Amirah Lashira Bimantara.
"Ya, Bu. Aku sudah bertemu dengan putra bungsuku," jawab Evan.
"Apa boleh ibu bertemu dengannya?" tanya Amirah.
"Untuk apa lagi nenek mau bertemu dengan adikku? Apa nenek mau menyakitinya lagi? Apa nenek mau menyuruhnya pergi meninggalkan kami keluarga kandungnya?" tanya Danish ketus.
Sedangkan Evan dan Garry hanya diam saja. Mereka juga bingung harus bersikap seperti apa di depan Danish.
"Tidak, sayang. Nenek ingin meminta maaf pada adikmu dan juga pada mamamu. Nenek benar-benar menyesal. Maafkan nenek Garry, Danish." Amirah berucap tulus sambil menatap lembut kedua cucunya.
"Bibi juga ingin meminta maaf pada adik dan mama kalian. Bibi benar-benar menyesal. Bibi sudah tidak sanggup hidup seperti ini terus. Bibi ingin bertemu dengan anak-anak bibi. Bibi sudah lama berpisah dengan mereka," tutur Nayyira Zaina Bimantara.
"Kami akan memberikan kesempatan kedua untuk Bibi dan juga Nenek. Ini adalah kesempatan terakhir untuk kalian. Kalau kalian masih menyakiti Mama dan adikku. Maka kami berdua tidak akan pernah memaafkan kalian berdua sampai kapanpun. Selamanya." Danish berbicara sambil menatap nenek dan bibinya. Perkataannya itu diangguki oleh Garry, kakaknya.
"Terima kasih, sayang." Amirah dan Zaina berucap secara bersamaan.
"Utari, Adam. Semoga kalian mau memaafkan kesalahanku selama ini. Aku akan berusaha menjadi ibu dan nenek yang baik untuk kalian. Aku akan menggantikan kesedihan dan penderitaan kalian selama ini dengan kebahagiaan," batin Amirah.