THE FRATERNITY

THE FRATERNITY
S2. Rasa Bahagia Dan Rasa Syukur Adam



Di kediaman keluarga Kalyani terlihat dua pasang manusia sedang duduk di sofa ruang tengah. Mereka adalah Yohanes Kalyani dan Areta Dhira Kalyani.


Keduanya sedang membahas rencana mereka untuk menculik Evan Hara Bimantara dan Erina Utari Abimanyu.


Rencana awal mereka ingin menculik Evan. Namun mereka menambah satu orang lagi sebagai target kedua.


"Kapan akan kita mulai rencana kita, kak?" tanya Dhira.


"Besok. Kakak sudah mengerahkan anggota kelompok SCORPION untuk menculik bajingan itu bersama istrinya."


"Aku sudah tidak sabaran melihat wajah mereka berdua," sahut Dhira semangat.


"Kau tenang saja. Setelah kita berhasil menculik mereka. Kau bebas mau melakukan apapun kepada mereka berdua."


Dhira tersenyum menyeringai. "Evan, Utari. Tunggu kejutan dariku," batin Dhira.


"Apa kakak sudah memberitahu kak Dennis?"


"Hari ini belum. Tapi kemarin kakak mencoba menghubunginya selalu gagal. Ponselnya tidak aktif."


"Kemana dia? Kak Dennis tahukan tentang rencana kita ini?"


"Iya. Dennis sudah tahu."


"Baguslah kalau begitu."


***


Kediaman keluarga Abimanyu terlihat anggota keluarga berada di ruang tengah termasuk Celena, Nicolaas dan Vigo.


"Ini sudah pukul 7 malam. Kenapa Adam belum pulang juga?"


Utari benar-benar sangat mengkhawatirkan putra bungsunya. Putranya pergi dari ketika berangkat kuliah. Dan sampai sekarang belum pulang. Walau mereka tahu dimana Adam sekarang. Tapi tetap saja mereka semua benar-benar khawatir.


Ketika mereka semua tengah memikirkan Adam, tiba-tiba terdengar klason mobil dan juga pintu mobil yang ditutup di luar.


Mendengar hal itu, anggota keluarga langsung berlari menuju ruang tamu untuk membukakan pintu.


Ketika ketika sudah terbuka. Seluruh anggota keluarga Abimanyu dan keluarga Bimantara seketika membelalakkan matanya ketika melihat Adam yang dipapah oleh dua orang pemuda.


"Adam!" teriak Garry dan Danish sembari berlari menghampiri adiknya.


Garry dan Danish mengambil alih tubuh adiknya. Dan langsung membawa masuk ke dalam rumah diikuti para orang tua.


Sementara Ardi, Harsha para kakak-kakaknya masih berada di luar.


"Ada apa? Kenapa dengan Adam?" tanya Ardi.


"Adam hanya kelelahan saja. Dia terlalu memaksakan diri ketika menghajar bajingan itu tanpa ampun," jawab anggota Zelo.


"Ja-jadi kelompoknya Zelo dan Adam berhasil menyekap laki-laki yang sudah membunuh Paman Levi?" tanya Harsha.


"Iya, benar!"


"Kalau begitu kami harus kembali ke markas untuk mempersiapkan rencana besok. Adam sudah tahu. Silahkan kalian tanyakan langsung kepada Adam apa rencananya. Karena ini semua Adan yang membuat rencananya. Kami hanya menjalankannya saja."


"Baiklah. Terima kasih sudah membawa pulang adik kami," ucap Ardi.


"Tidak perlu berterima kasih. Itu sudah tugas kami. Adam adalah sahabat dari ketua kami."


Setelah selesai dengan tugas mereka yang mengantar Adam pulang. Ketiga anggotanya Zelo pun pamit untuk kembali ke markas.


^^^


Kini semuanya sudah berada di ruang tengah termasuk Adam. Awalnya Garry dan Danish ingin membawa Adam ke kamar. Namun Adam menolaknya. Bagi Adam, tidak ada waktu untuk istirahat. Keselamatan kedua orang tuanya sangat penting dibandingkan rasa lelanya dan rasa sakit kepalanya.


Adam saat ini sedang bersandar di bahu Utari dengan memejamkan matanya. Adam saat ini benar-benar lelah dan juga kepalanya sedikit pusing.


Baik Utari, Evan dan anggota keluarga lainnya menatap khawatir Adam. Mereka menatap wajah sedikit pucat Adam dengan tatapan sedih.


"Sayang. Kita ke kamar saja ya. Biar kamu bisa istirahat. Wajahmu pucat loh." Utari berusaha membujuk putra bungsunya.


"Nggak mau. Disini saja. Enak tidur dengan nyender di bahu Mama."


Mendengar ucapan dari Adam mereka tersenyum. Mereka sangat tahu bagaimana manja Adam jika sudah berada didekat ibunya.


Tiba-tiba mereka semua terkejut ketika melihat air mata Adam yang mengalir. Adam menangis.


"Adam," lirih mereka semua.


Celena yang melihat putranya menangis terisak sembari menyebut nama suaminya membuat hatinya sesak. Celena beranjak dari duduk dan mendekati Adam.


Kini Celena berada di samping putranya itu. Tangannya mengusap lembut kepala Adam. "Allan sayang. Lihat Mama, Nak!"


Berlahan Adam membuka kedua matanya. Adam melihat kearah ibu angkatnya. Dan lagi-lagi air matanya jatuh membasahi wajahnya.


"Hiks... Maafkan aku. Aku... aku sudah membuat Mama terusir dari rumah. Bahkan bajingan itu sampai menyakiti Mama... Hiks," isak Adam.


Celena tersenyum ketika melihat wajah sedih dan mendengar kata maaf dari Adam. Kemudian tangannya terangkat untuk mengusap lembut air mata putranya itu.


"Dengarkan Mama. Tidak ada yang salah disini termasuk kamu. Kamu tidak salah sayang. Bajingan itu yang salah. Dia terlalu maruk dan serakah."


"Tapi..." ucapan Adam terhenti karena Celena terlebih dahulu berbicara.


"Mama tidak ingin mendengar apapun dari mulutmu. Mama paling tidak suka setiap ada masalah kalian selalu menyalahkan diri kalian sendiri."


Adam menatap wajah kedua orang tua kandungnya. Sedangkan Utari dan Evan yang melihat tatapan mata putra bungsunya sedikit khawatir dan juga takut. Mereka berpikir jika akan terjadi sesuatu sehingga membuat putra bungsunya memberikan tatapan seperti itu.


"Kenapa putra bungsuku menatapku seperti itu? Tatapan matanya mengisyaratkan ketakutan," batin Evan.


"Kamu kenapa sayang? Kenapa menatap Mama seperti itu? Tuhan, semoga tidak terjadi apa-apa kepada keluargaku. Lindungi keluargaku," batin Utari di dalam hatinya.


"Pa, Ma!"


"Iya, sayang!" Evan dan Utari menjawab bersamaan.


"Aku minta dengan kalian. Mulai besok sampai satu minggu kedepannya kalian harus di rumah saja. Jangan kemana-mana. Sekali pun kerjaan kalian menumpuk di Kantor." Adan menatap penuh harap kepada kedua orang tuanya.


Melihat tatapan memohon putra bungsunya, baik Evan maupun Utari langsung mengabulkan keinginan putra bungsunya itu. Mereka tidak ingin membuat putra bungsunya itu terluka atau pun kecewa.


"Baiklah sayang," jawab Utari dan Evan bersamaan. Seketika terukir senyuman manis di bibir Adam.


Adam mengalihkan pandangannya melihat kearah Nicolaas dan Vigo. "Kakak Nicolaas, kakak Vigo. Kalian berdua punya tugas!"


"Tugas apa Allan?" tanya Nicolaas dan Vigo bersamaan.


Adam tersenyum di sudut bibirnya. Mereka yang melihat senyuman Adam menjadi paham. Di dalan hati mereka semua akan ada pertarungan dan penyerangan besar-besaran.


"Kalian berdua siap melakukan tugas kalian sebagai anak? Kalian siap untuk membalaskan kematian Papa?" tanya Adam dengan menatap tepat di manik Nicolaas dan Vigo.


Mendengar pertanyaan dari Adam membuat amarah Nicolaas dan Vigo seketika naik. Mereka memang ingin membunuh orang yang sudah membunuh Ayah mereka.


"Kami sangat siap Allan!" seru Nicolaas dan Vigo. Adam tersenyum.


"Kalian bisa melakukannya besok. Bajingan itu berada di markas milik Zelo. Dia disekap bersama istrinya," ucap Adam dengan tatapan amarahnya.


"Jadi... jadi kamu sudah berhasil merebut Perusahaan dan rumah kita, Nak?" tanya Celena.


"Sudah, Ma! Perusahaan dan rumah sudah kembali kepada kita. Setelah semuanya selesai. Aku akan memindahkannya kembali atas nama kalian."


"Bukan atas nama kalian. Tapi atas nama kita," jawab Celena.


"Maksud Mama?"


"Kau juga putra Mama. Apa kau melupakan hal itu, hum? Jadi baik Perusahaan dan rumah itu adalah milik kita. Milik Mama, milik kedua kakak kamu dan juga milik kamu." Celena berucap sembari tangannya mengusap lembut wajah Adam.


"Tapi Ma. Aku kan..."


"Yang dikatakan Mama benar Allan. Perusahaan dan rumah itu milik kita bersama. Kau adalah adiknya kakak. Selamanya akan menjadi adiknya kakak." Nicolaas menatap dengan tatapan hangat kearah Adam.


"Dan jangan kau lupakan satu hal Allan. Papa dan Papa kamu saudara kandung. Kau keponakan Papa sekaligus putranya Papa. Aku dan kak Nicolaas adalah keponakan dari Papa kamu. Jadi kita adalah saudara." Vigo juga menatap dengan tatapan hangat kearah Adam.


Mendengar penuturan dari ibu angkatnya dan kedua kakaknya. Adam tersenyum. Dirinya benar-benar-benar bahagia dan juga bersyukur memiliki orang-orang yang begitu tulus menyayanginya.


Adam menatap satu persatu wajah orang-orang yang ada di hadapannya. Mereka yang melihat Adam yang menatap mereka menjadi paham akan tatapan itu. Mereka semua tersenyum tulus kepadanya.


"Terima kasih. Terima kasih atas kasih sayang, perhatian dan kepedulian kalian selama ini kepadaku. Aku bahagia dan bersyukur memiliki kalian semua. Aku menyayangi kalian semua!"


GREP!


Adam memeluk erat tubuh ibunya. "Terima kasih, Ma! Selama ini Mama sudah menjagaku dan merawatku dari bayi. Mama berperan sebagai Ayah dan juga sebagai Ibu untukku. Mama tidak pernah mengenal kata lelah ketika merawat dan menjagaku. Maafkan aku yang selalu menyakiti Mama. Maafkan aku yang selalu menjadi anak yang keras kepala. Mama adalah malaikatku. Malaikat yang tak bersayap. Aku menyayangi Mama. Selamanya!"


Utari tersenyum bahagia ketika mendengar untaian kata yang keluar dari mulut putra bungsunya. Seketika air matanya lolos begitu saja membasahi wajahnya.


"Mama juga menyayangimu sayang. Kau adalah putra Mama. Belahan jiwa Mama. Bayi besar Mama," jawab Utari sembari memberikan bertubi-tubi kecupan di seluruh wajah putra bungsunya itu. Mereka yang melihat itu tersenyum bahagia terutama Yodha Akasha Abimanyu.