THE FRATERNITY

THE FRATERNITY
S3. Alasan Dibalik Kepergian Melky



Markas Kartel


"Bos! Bos!" teriak seseorang memanggil Bos nya sembari menunjuk ruang pribadi sang Bos.


Laki-laki muda itu berlari secepat kakinya bisa. Setibanya di depan pintu ruang pribadi sang bos. Laki-laki itu langsung membuka pintu tersebut.


Brak..


Laki-laki itu membuka pintu tersebut dengan sedikit keras sehingga membuat Bosnya yang ada di dalam terkejut.


Zelo sang bos dari laki-laki terkejut ketika mendengar suara pintu yang dibuka sedikit kasar oleh salah satu anggotanya langsung melihat kearah anggotanya itu. Dapat dirinya lihat bahwa anggotanya sedang ngos-ngosan saat ini.


Zelo yang duduk di kursi kebesaran saat ini menatap iba anggotanya itu, lalu Zelo memintanya untuk duduk di kursi yang ada di hadapannya itu.


"Kemarilah dan duduk disitu."


"Ach, baiklah Bos!"


Lalu laki-laki itu melangkah memasuki ruangan pribadi Bosnya menuju meja kerja Bosnya. Kemudian laki-laki itu menduduki pantatnya di kursi yang ditunjuk oleh Bosnya.


"Ada apa?" tanya Zelo.


"Aku mendapatkan informasi baru Bos!"


"Informasi apa. Katakan?"


"Ini masalah tuan Melky, sahabatnya Bos Adam!"


Deg..


Mendengar jawaban dari anggotanya seketika membuat Zelo terkejut. Zelo menatap lekat wajah anggotanya itu.


"Sekarang katakan padaku, kenapa dengan Melky?"


"Begini Bos. Ternyata kepindahan tuan Melky dan kedua orang tuanya ke Australia itu karena dendam masa lalu. Lebih tepatnya ada seseorang yang tidak menyukai ayahnya tuan Melky."


Lagi-lagi Zelo terkejut ketika mendengar ucapan dari anggotanya. Awalnya Zelo berpikir bahwa kepergian Melky dan kedua orang tuanya ke Australia adalah urusan bisnis yang ada disana. Ternyata dugaannya salah.


"Bukan itu saja Bos. Ternyata tuan Melky memiliki satu orang kakak laki-laki. Dan kakaknya itu hilang dalam kecelakaan tragis 13 tahun yang dialaminya bersama ayah dan adiknya."


"Jadi maksud kamu mereka bertiga. Ayah dan dua orang anak laki-laki, salah satunya adalah Melky, begitu?"


"Benar Bos!"


"Tapi kenapa saat itu Adam mengatakan padaku bahwa Melky hanya putra tunggal di keluarga Pramana. Bahkan Adam juga mengatakan padaku bahwa Melky tidak memiliki kakak atau pun saudara sepupu," ucap Zelo.


"Kemungkinan besar ini semua memang disengaja oleh kedua orang tuanya tuan Melky. Saat kecelakaan itu Melky dan ayahnya juga korban kecelakaan. Dan kita tidak tahu apa yang dialami oleh mereka berdua, terutama tuan Melky.


"Eemm! Kau benar! Baiklah! Kau selidiki terus masalah ini sampai tuntas. Jika kau sudah mendapatkan semuanya. Baru kau hubungi aku."


"Baik Bos."


Setelah itu, laki-laki pun pergi meninggalkan ruangan pribadi sang Bos untuk melakukan pekerjaannya.


"Aku harus beritahu Adam masalah ini. Bagaimana pun Adam berhak tahu masalah yang menimpa Melky dan keluarganya," ucap Zelo.


***


"Sayang." Utari mengusap-usap lembut kepala putranya dan sesekali memberikan ciuman di pucuk kepalanya.


Adam saat ini tengah di peluk oleh ibunya. Sejak tadi tidak ada suara yang keluar dari mulutnya itu sehingga membuat Utari dan semua anggota keluarganya menatap dirinya khawatir.


"Ayolah, sayang! Bicaralah sesuatu. Jangan buat Papa khawatir, Nak!" Evan berbicara sembari menatap khawatir putra bungsunya. Evan duduk di samping istrinya dengan tangannya mengusap pipi putih putranya itu yang saat berada pelukan istrinya.


"Hiks... Hiks..." Adam seketika terisak.


Mendengar isakan dari Adam membuat hati Utari, Evan, Garry dan Danish sakit dan juga sesak. Begitu juga dengan semua anggota keluarganya.


"Melky... Hiks... Aku merindukan Melky. Kenapa... Hiks... Melky jahat padaku? Kenapa dia ngomong gitu sama aku? Apa salah aku Pa, Ma! Apa salah aku?"


Mendengar rentetan pertanyaan dari Adam seketika air mata Utari dan Evan mengalir begitu saja membasahi wajahnya. Hati mereka benar-benar sakit mendengar isak tangis dan pertanyaan-pertanyaan dari Adam. Begitu juga dengan Garry, Danish dan semua anggota keluarga yang mendengarnya.


Seketika Adam melepaskan pelukannya lalu menatap wajah cantik ibunya yang saat ini menatap dirinya. Adam menatap wajah kedua orang tuanya secara bergantian.


"Apa ini hukuman untukku?"


"Hukuman apa, hum?" tanya Evan sembari tangannya menghapus air mata putranya itu dengan lembut.


"Dulu aku pernah meninggalkan Vino, Diego, Gino, Zio, Leon dan Vando untuk pindah kuliah ke Jakarta. Dan sebagai hukuman untukku kini Melky pergi meninggalkanku mengikuti kedua orang tuanya ke Australia." Adam menangis ketika mengatakan itu di hadapan kedua orang tuanya.


"Mama."


"Iya, sayang!" Utari mengusap lembut pipi putih putranya itu.


"Apa aku harus menyusul Melky seperti Vino, Diego, Gino, Zio, Leon dan Vando yang menyusulku kesini?"


"Setelah kamu tiba disana. Kamu memilih menetap disana, begitu?!" tanya Danish tak suka akan ide dari adiknya itu.


"Terus kalau itu rencana kamu. Bagaimana dengan kami disini? Bagaimana dengan Vino, Diego, Gino, Zio, Leon dan Vando? Apa kamu akan meninggalkan mereka lagi seperti satu tahun yang lalu?" tanya Ardi.


"Kamu jangan egois, Adam! Kamu nggak bisa berpikir dalam keadaan seperti ini. Kakak tahu perasaan kamu. Memang sangat sakit ditinggal pergi oleh sahabat yang sudah kita anggap sebagai saudara sendiri. Tapi nggak seperti cara kamu menghadapinya!" Harsh juga ikut bersuara mengeluarkan kata-kata yang sejak tadi dia tahan.


"Demi bertemu dengan Melky, kamu mengorbankan banyak orang yang ada disini! Kamu sayang sama Melky. Apalagi kakak. Kakak juga sayang sama Melky. Semuanya juga sayang sama Melky. Melky pemuda yang baik, sopan dan tulus dalam sebuah hubungan," ucap Vigo yang menatap khawatir Allan.


"Kita bisa pikirkan caranya bersama-sama. Kamu nggak sendirian Adam. Ada kita keluarga kamu. Dan jangan lupakan sahabat-sahabatnya kakak, sahabatnya Vigo dan sahabatnya Ardi dan Harsha yang juga sahabat kamu. Jangan lupakan juga Vino, Diego, Gino, Zio, Leon dan Vando. Satu lagi Zelo. Bagian kelompok Vagos dan kelompok Lilax." Danish berbicara sembari menatap wajah basah adiknya yang saat ini hanya diam.


Yah! Adam saat ini hanya diam mendengar ucapan demi ucapan dari Danish, Ardi, Harsha dan Vigo. Di dalam hatinya membenarkan apa yang dikatakan oleh keempat kakak-kakaknya itu. Disatu sisi dia sangat merindukan Melky dan ingin menyusul Melky ke Australia.


Namun disisi lain, dirinya pasti akan membuat keluarganya dan sahabat-sahabatnya yang ada disini menangis.


Ketika Adam dalam suatu buruk. Ditambah lagi pikiran yang bimbang saat ini, tiba-tiba ponselnya berdering menandakan panggilan masuk.


Adam seketika terkejut ketika mendengar deringan ponsel miliknya. Kemudian tangannya merogoh saku celananya guna untuk mengambil ponselnya itu.


Setelah ponselnya ada di tangannya. Tatapan matanya melihat nama 'Zelo' di layar ponselnya.


"Ze-zelo," ucap Adam.


Mendengar Adam yang menyebut nama Zelo membuat anggota keluarga langsung paham. Terutama Danish, Ardi, Harsha dan Vigo. Mereka berpikir pasti ada sesuatu yang ingin disampaikan oleh Zelo kepada Adam.


Mereka semua dengan kompak memasang telinga masing-masing untuk mendengar obrolan Adam dengan Zelo di telepon.


"Hallo, Zelo!


"Kau ada dimana, Dam?"


"Aku ada di rumah. Kenapa?"


"Aku ada informasi mengenai Melky dan keluarganya."


Deg..


Seketika tubuh Adam menegang ketika Zelo mengatakan bahwa dirinya tahu tentang Melky dan keluarga Melky.


"Soal apa? Apa yang kau tahu tentang Melky dan keluarganya? Apa kau juga tahu alasan Melky dan keluarganya pindah ke Australia?"


"Iya. Setidaknya dengan informasi dariku ini bisa menyelesaikan masalah Melky dan keluarganya."


"Ja-jadi maksud kamu kalau keluarganya Melky...."


"Iya."


Seketika air mata Adam jatuh membasahi wajahnya ketika mendengar jawaban dari Zelo. Sejak pertama kali bersahabat dengan Melky, sahabatnya itu tidak pernah membicarakan permasalahan keluarganya dengan dirinya.


"Kita tidak bisa membahas masalah ini di telepon. Aku akan menemui di rumah Abimanyu."


"Baiklah. Aku tunggu!"


Setelah itu, baik Adam maupun Zelo sama-sama mematikan panggilannya. Dan lagi-lagi air mata Adam mengalir membasahi wajahnya.


"Hiks... Melky. Kenapa kamu tidak perlu cerita tentang masalah keluargamu? Kenapa kamu kamu merahasiakannya dariku? Hiks... Melky, maafkan aku."


Deg..


Danish, Ardi, Harsha dan Vigo terkejut ketika mendengar ucapan dari Adam yang mengatakan bahwa Melky dan keluarganya ada masalah.


Grep..


Utari langsung memeluk tubuh putranya dan mengusap-usap lembut punggung putranya itu.


Evan berdiri dari duduknya lalu berpindah duduk di samping putranya. Tangannya kemudian ikut memeluk tubuh putranya itu.


Merasakan pelukan hangat dari kedua orang tuanya seketika isak tangis Adam pun pecah.


"Hiks... Hiks... Mama, Papa! Ternyata aku telah salah mengatakan Melky jahat padaku. Mama... Hiks... Papa. Melky dan keluarganya sedang ada masalah. Itulah alasannya kenapa mereka pergi meninggalkan Jakarta."


Mendengar penuturan dari Adam membuat Utari dan Evan terkejut. Begitu juga dengan semua anggota keluarganya.


"Kita akan membantu Melky dan keluarganya. Kamu jangan sedih lagi ya. Papa tidak mau kamu jatuh sakit hanya memikirkan masalah ini."


Adam melepaskan pelukan ibunya. Setelah terlepas, Adam melihat ke samping dimana ayahnya duduk.


Grep..


Adam langsung memeluk tubuh ayahnya erat dengan wajahnya dia benamkan di ceruk leher ayahnya itu.


Mereka semua tersenyum melihat sifat manja Adam terhadap ayahnya, terutama keluarga Abimanyu. Apa yang diinginkan oleh Adam selama ini. Sekarang Adam sudah mendapatkannya.