
π»Kesabaran adalah buah dari kebaikan dan kebaikan adalah buah dari kebahagiaanπ»
.
.
.
.
Tepat pukul 15:00 barulah Xavier melepas Chloe untuk kembali ke tempat magangnya. Saat di dalam ruangan Xavier terus saja mengomelinya akan bahunya tapi tetap mengompres bahunya dengan es.
Saat Albert masuk dan memberikan proposal yang dibawa Chloe tadi Xavier tidak melepaskan dirinya sedikit pun.
Chloe malu saat harus mengumbar kemesraan mereka di depan orang lain tapi yang namanya Xavier tidak akan mau mendengar pendapat orang lain.
Saat keluar dari ruangan Xavier, Chloe sangat malu jika berhadapan dengan ketiga sekretarisnya beruntung Xavier cepat tanggap dan menyuruh mereka berbalik.
Saat masuk ke dalam perusahaan Smith Chloe langsung naik ke lantai 20 tempat direktur mereka. Keluar dari lift Chloe langsung bergegas menuju ke meja Tika.
"Selamat sore bu Tika saya mau bertemu dengan ibu Lauren menyarahkan proposal ini" ucap Chloe dengan datar tapi sopan.
"Sebentar ya saya sampaikan ke ibu Lauren"
"Iya bu"
Tak lama Chloe disuruh masuk ke dalam. Saat masuk ke dalam Chloe melihat tatapan menyelidiki dari direktur Lauren kepada dirinya.
"Permisi bu saya mau mengantarkan proposal yang tadi ibu suruh saya antar ke perusahaan Wesly" ucap Chloe sambil memberikan map tersebut.
Lauren menerima map tersebut dan segera membukanya seketika ia tersenyum karena Chloe berhasil mendapatkan koreksi mengenai proposal mereka.
"Bagus saya suka dengan kerja kamu" ucap Lauren dengan senyum bahagia.
"Terima kasih bu"
"Bagaimana kamu bisa dapat koreksi proposal ini?" tanya Lauren penasaran.
"Tadi saat saya sampai disana saya melapor ke resepsionis dan mereka menyuruh saya untuk tunggu di lobby, meski lama tapi akhirnya saya disuruh ketemu dengan manajer mereka di lantai 50 bu"
"Heeemmm"
"Apa masih ada yang ibu butuhkan?" tanya Chloe dengan sopan.
"Tidak kamu boleh pergi" ucap Lauren yang sudah kembali ke mode culasnya.
Chloe pun segera berlalu menuju ke lantai 9 tempat magangnya. Sampai disana Sari langsung menanyakan bagaimana hasilnya.
"Semua berjalan dengan baik ka meski harus menunggu lama" ucap Chloe dengan datar.
"Wah berarti kamu beruntung banget Chloe bisa dapat koreksi proposal kita" ucap Sari.
"Loh memangnya kenapa ka?" tanya Chloe dengan bingung.
"Perusahaan Wesly itu tidak sembarang bisa menerima proposal dan jika kita masukan proposal ke sana bisa tunggu sampai 3-5 bulan baru dapat konfirmasinya"
"Yang benar ka?" tanya Chloe dengan tidak percaya.
"Benarlah makanya aku kaget waktu kamu bilang dapat koreksi dan proposal kita diterima"
"Mungkin karena aku lagi beruntung aja ka" ucap Chloe dengan cengesan.
"Uhhmmm! Bisa jadi" ucap Sari dengan senyum manis.
Setelah itu keduanya kembali ke meja kerja masing-masing, Chloe yang tidak ada kerja hanya duduk saja dan seketika ia teringat untuk memberi ucapan terima kasih ke Xavier.
Beruntung banget gue bisa punya pacar yang pengertian dan juga baik seperti Xavier, batin Chloe sambil tersenyum manis.
MyLovelyβ€
"Sayang terima kasih atas bantuan kamu hari ini I love you so much baby"
Setelah mengirimkan pesan Chloe segera menyimpan hpnya dalam tas karena tidak ingin membuat karyawan yang lain kesal karena dirinya hanya bermain handphone saat jam kerja.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
~ Jakarta, Indonesia ~
Setelah mendapat telpon dari papanya Sean segera berangkat ke mansion menemui papanya disana. Dirinya sangat penasaran akan ucapan papanya di telpon tadi.
Sampai di mansion Sean memarkirkan mobil sportnya sembarang dan segera berlari masuk ke dalam mansion. Para pelayan yang memberi hormat tidak di pedulikannya.
"Papa, papa" teriak Sean dengan kencang.
"Sean jangan seperti tarzan deh ini tuh bukan hutan" ucap Maya dengan tegas.
"Maaf bu" ucap Sean dengan suara lembut.
"Cepat juga kamu datang son" ucap Riko sambil tertawa cibir.
"Maksud papa tadi apa jangan buat orang penasaran pa" ucap Sean dengan cepat dan duduk di samping papanya.
"Memangnya apa yang papa ucapkan" ucap Riko bertanya-tanya.
"Ihhhh! Papa jangan bercanda deh orang lagi serius juga" ucap Sean dengan kesal.
"Mas" ucap Maya yang juga ikut kesal dengan sikap suaminya.
Melihat kedua orang yang di sayangnya menatap tajam dirinya Riko pun hanya tertawa saja. Riko kemudian berdeham dan mengambil hpnya lalu menyodorkan ke Sean.
"Baca email itu" ucap Riko dengan suara tegas.
"Dr. Irwan Salim" ucap Sean membaca nama seorang kakek disana.
Sean melihat papanya dengan raut bingung tidak mengerti apa maksud papanya.
"Dokter Irwan yang menolong Chloe saat kejadian dia diusir dari mansion Adam" ucap Riko.
"Jadi kakek ini tahu dimana Chloe pa"
"Heemmm! Bisa jadi karena dirinya yang menyiapkan tempat tinggal bagi Chloe di desa Wirajaya dan kemungkinan dia tahu dimana posisi Chloe saat ini"
"Apa papa tahu dimana kakek ini sekarang" ucap Sean dengan cepat.
"Tenang son besok kamu bisa bertemu dengannya di kantor papa karena papa sudah membuat janji dengan dr. Irwan" ucap Riko dengan tatapan tajam.
"Kenapa ngak sekarang aja sih pa" ucap Sean dengan kesal.
"Sabar son kita harus menghargai urusan dr.Irwan yang tidak bisa dibatalkan sekarang" ucap Riko dengan santai.
"Malas harus tunggu sampai besok pa" ucap Sean dengan lemah.
"Tunggu aja sayang orang sabar itu banyak rejeki loh" ucap Maya.
"Iya bu" ucap Sean dengan terpaksa.
"Cih! Sama ibu saja kamu lembut" cibir Riko dengan kesal.
"Biarin situ syirik" ucap Sean dengan santai.
"Dasar anak kurang ajar" hardik Riko.
Perang bantal sofa pun terjadi di ruang keluarga Rahardian, Maya hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan anak dan suaminya yang tak ubah seperti tikus dan kucing.
Puas saling melempar bantal sofa Sean dan papanya menjatuhkan diri di atas sofa sambil tertawa. Sifat dingin mereka akan hilang jika sudah mulai berargumen pendapat karena sama-sama keras kepala dan egois.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Dibelahan dunia sebelah tak terasa Chloe dan Jeni sudah menyelesaikan magang mereka di perusahaan Smith dan mendapat nilai A. Begitu juga dengan Mira dan Julian yang mendapatkan nilai A dari perusahaan Johnson.
Chloe yang sudah kangen dengan sahabatnya segera berangkat ke kampus mereka. Sampai di depan kampus UCLA Chloe langsung memeluk Mira dan Jeni dengan erat.
"Kangen banget deh kumpul di kampus bareng lagi" ucap Chloe dengan senyum manis.
"Sama aku juga udah kangen suasana kampus selama 2 bulan" ucap Jeni.
"Heemmm! Benar suasana kampus itu beda banget sama saat aku magang" ucap Mira.
"Btw dimana Julian?" tanya Chloe yang dari tadi belum melihat batang hidung Julian.
"Belum datang kali" ucap Mira.
"Hay guys"
Ketiganya berbalik dan tidak mengenali orang yang berbicara di depan mereka.
"Maaf cari siapa ya" ucap Jeni dengan bingung.
"Kalian bertiga kenapa sih tidak kenal sama aku ya ini aku Julian" ucap Julian dengan cengesan.
"Apa" ucap ketiganya dengan kaget.
"Aduh telinga aku bisa tuli" ucap Julian dengan kesal.
Mira, Chloe, dan Jeni melihat penampilan Julian yang berubah drastis dari bawah sampai atas. Biasanya ia akan memakai kaca mata tebal tapi sekarang tidak lagi.
"Kamu beneran Julian kan?" tanya Mira dengan muka kaget.
"Iya Mira ini aku Julian teman magang kamu! Ckckckck" ucap Julian dengan kesal.
"Sumpah kamu ganteng banget Julian" ucap Jeni dengan mulut menganga.
"Aku tahu kok aku ganteng" ucap Julian dengan sombong.
"Cih! Sombong banget tampang pas-pasan juga gantengan cowok aku kali" ucap Chloe dengan ketus.
"What" teriak Julian dan Jeni dengan kaget.
"Kalian kenapa?" tanya Chloe dengan bingung.
"Sejak kapan kamu punya pacar dan Mira apa kamu tahu?" tanya Julian dengan cepat.
"Heemmm! Tahulah orang waktu itu dia ke apartemen aku nangis mewek karena pacarnya ada foto sama cewek lain" ucap Mira dengan santai.
"Ihhh! Chloe kenapa tidak cerita ke kita sih kita kan penasaran siapa cowok kamu" ucap Jeni.
"Kalian jangan percaya deh Chloe thu bakal bilang pacarnya itu Xavier Arthur Wesly" ucap Mira.
"Chloe kamu tidak sakit kan?" tanya Julian dengan cepat.
"Tidak kok memangnya kenapa?" tanya Chloe dengan cepat.
"Chloe sabar ya jangan terlalu berangan-angan terlalu tinggi ya" ucap Jeni menepuk pundak Chloe dengan pelan.
"Kalau kamu memang mau cowok yang kayak tuan Wesly jangan sampai mimpi yang tinggi-tinggi ya Chloe beda jauh kita sama dia" ucap Julian.
"Ihhh! Kalian kenapa sih orang aku udah jujur kok pacar aku thu namanya Xavier" ucap Chloe dengan tegas.
"Heemmm! Kita tahu kok yang namanya Xavier banyak tapi jangan mimpi yang tinggi-tinggi ya nanti kamu bisa sakit hati akhirnya" ucap Mira.
"Terserah kalian deh" ucap Chloe dengan kesal.
Chloe kemudian berlalu pergi menuju ruang dosen untuk menyerahkan berkas penilaian magangnya. Ketiga sahabatnya segera berlari mengikuti Chloe dan membuat temannya tidak cemberut lagi.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Saat mengantar berkas penilaian mereka, keempatnya sangat kaget melihat rektor mereka yang sedang memarahi Roseline dan gengnya. Chloe yang sudah tahu masalahnya tidak kaget.
Berbeda dengan Mira, Julian, dan Jeni yang tidak menyangka Roseline dan gengnya mendapat nilai F dari tempat magang mereka, bahkan mereka diusir keluar dari tempat magang sebelum masa magang berakhir.
"Cih! Syukurin tuh nenek lampir akhirnya dapat karma juga" ucap Mira dengan senyum puas.
"Benar kata kamu aku juga tidak suka sama mereka seenaknya sendiri tagar ayahnya donatur terbesar jadi bisa berbuat semaunya" ucap Jeni dengan emosi.
Chloe hanya diam saja tidak menggubris perkataan temannya meskipun dirinya kasihan kepada mereka, seandainya Xavier tidak tahu pasti mereka berlima tidak akan mendapat nilai F.
"Kenapa loe?" tanya Mira dengan cepat.
"Ehhmmm! Ngak kenapa-napa" jawab Chloe dengan cepat.
"Guys gimana kalau kalian ikut aku ke tempat sepupu aku?" tanya Julian yang mendapat pesan dari sepupunya untuk ke sana.
"Kemana?" tanya ketiga dengan kompak.
"Ke restoran Kenzi" ucap Julian.
"Kamu mau traktir kita ya" ucap Mira dengan cepat mendengar kata makanan.
"Uhmmm! Boleh juga sih kebetulan itu restoran milik sepupu aku" ucap Julian sambil berpikir.
"Kalau begitu ayok ke sana" ucap Mira dengan cepat.
Julian hanya menggelengkan kepalanya melihat ke tiga sahabatnya yang sudah berjalan lebih dahulu menuju ke parkiran saat mendengar kata traktiran.
Julian, Mira, Chloe, dan Jeni sudah berdiri di depan restoran Kenzi. Ketiganya tidak menyangka jika Julian mengajak mereka ke restoran paling mahal dan laris disini dan bahkan untuk makan saja harus merogoh uang sangat besar dan harus reservasi dulu.
"Julian kita tidak salah tempat kan" ucap Chloe menatap tajam Julian.
"Tidak ini memang restoran sepupu aku" ucap Julian.
"Julian sebenarnya kamu itu siapa sih kok punya sepupu kaya amat" ucap Jeni.
Mira dan Chloe juga berbalik menatap tajam Julian meminta jawaban dan Julian hanya cengesan saja. Ia kemudian mengajak ketiganya masuk ke dalam dan langsung duduk di tempat yang sudah di sediakan oleh sepupunya.
"Kak Kenzi" ucap Julian saat sudah sampai meja pojokan.
"Udah sampai Ian" ucap Kenzi sambil memeluk Julian.
"Oh ya ka ini kenalin teman aku" ucap Julian mengenalkan ketiganya"
"Hay. Aku kakak sepupunya anak ini nama aku Kenzi" ucap Kenzi.
"Hay juga ka aku Mira" ucap Mira dengan senyum manis.
"Hay ka aku Jeni" ucap Jeni dengan senyum manis.
"Aku Chloe" ucap Chloe dengan wajah datar.
Suasana seketika berubah karena suara datar milik Chloe, Kenzi melihat ke arah Julian dan mengangkat alisnya sebelah sambil menunjuk Chloe.
"Heemm! Ka Chloe orangnya kayak gitu kok tapi sifatnya baik banget ka kalau udah kenal lama" ucap Julian cengesan.
"Oh iya" ucap Kenzi yang gugup dengan tatapan dingin Chloe dan datar tidak ada senyum sedikit pun.
Kenzi kemudian menyuruh ketiga sahabat adiknya untuk duduk disana sambil memanggil Julian ke ruangannya.
Tak lama para pelayan menyediakan makanan 4 macam jenis untuk ketiganya, mereka saling menatap apa harus makan atau tidak.
"Kita tunggu Julian aja ya takutnya dia bohongin kita mana harga makanan disini mahal lagi" ucap Mira.
"Iya aku setuju sama kamu" ucap Jeni.
"Aku juga" ucap Chloe.
Ketiganya bercerita sambil menunggu kedatangan Julian. Tanpa Chloe sadari ternyata Xavier sedang melakukan meeting di restoran yang sama.
Saat keluar dari ruang VIP Albert melihat ponsel bosnya yang berkedip di bulan dan bintang yang tertempel di belakang ponsel bosnya.
Ia tahu itu adalah stiker couple milik bosnya yang disuruh untuk menjaga handphone itu seperti dirinya sendiri.
"Bos"
"Heemmmm"
"Sepertinya nona Chloe ada disini" ucap Albert sambil menunjukan ponsel Xavier yang berkedip-kedip.
Xavier berhenti dan mengedarkan pandangannya mencari sosok yang dicintainya. Tak lama Xavier tersenyum melihat sosok yang dicarinya sedang berada di pojok restoran bersama sahabatnya.
Xavier segera melangkah cepat ke arah Chloe yang sedang bercerita dengan Mira dan Jeni tanpa mengetahui kehadirannya.
"Baby" ucap Xavier dengan lembut saat sudah berada tepat di belakang kursi Chloe.
Ketiga gadis itu langsung mengangkat kepala melihat siapa yang memanggil Chloe. Chloe tersenyum bahagia dan langsung berdiri memeluk Xavier tanpa memperdulikan keadaan.
Berbeda dengan Mira dan Jeni yang melotot kaget melihat siapa yang sedang dipeluk Chloe dengan mulut menganga lebar.
...βββββ...
To be continue..................
Jangan lupa vote, like, dan komen yang sebanyak-banyaknya ya guysπβ€