
π»Jika kamu memiliki uang maka berbuatlah baik tapi jika kamu tidak memiliki uang maka jadilah orang baikπ»
.
.
.
.
Xavier yang baru saja duduk di ruang meeting seketika kaget karena Albert masuk ke dalam ruangannya dengan terburu-buru.
Wajah Albert membuat Xavier heran karena tidak biasanya asisten sekaligus tangan kanannya menginterupsinya saat meeting.
"Maaf bos nyonya diculik" bisik Albert dengan gugup.
"Apa!" ucap Xavier kaget.
Dirinya segera meninggalkan kliennya dan berlalu keluar dengan cepat. Albert menyuruh sang sekertaris untuk melanjutkan meeting yang baru saja dimulai.
"Suruh semua anak buah kita untuk mencari keberadaan istriku!" bentak Xavier dengan suara tinggi.
"Baik bos"
Xavier dan Albert segera menuju ruangannya. Sampai di ruangan Xavier ia langsung memukuli Albert dengan brutal tanpa ada rasa kasian.
"Bagaimana bisa istriku sampai diculik" teriak Xavier dengan kencang.
"Maaf bos aku kurang tahu bagaimana kejadiannya karena Mike hanya memberitahu aku kalau nyonya diculik" ucap Albert dengan suara bergetar menahan rasa sakit di tubuhnya.
"Hubungi Mike sekarang" ucap Xavier dengan tatapan membunuh.
Albert segera mengeluarkan hpnya dan menghubungi Mike. Pada dering kedua Mike langsung menjawab panggilannya.
"Halo bos"
^^^"Bagaimana ceritanya sampai nyonya bisa diculik?" tanya Albert dengan datar.^^^
"Nyonya pergi ke toilet tapi menolak untuk di kawal jadi kami tidak ada yang mengawal nyonya bos lalu saya mengikuti nyonya diam-diam dan melihat ada 2 orang berbadan besar dan bertopeng membawa nyonya yang sudah pingsan bos. Saya sempat mengejar mereka tapi saya ditembak 2 kali bos dan kehilangan jejak mereka"
^^^"Berengsek apa kalian tidak mendengar perintahku untuk selalu mengawasi istriku kemana pun dirinya pergi" teriak Xavier dengan penuh emosi.^^^
"Maaf bos"
^^^"Apa kalian berhasil mengikuti mobil tersebut"^^^
"Iya bos anak buah saya sedang mengejar mereka dan saya juga dalam perjalanan ke sana bos"
^^^"Kirimkan alamatnya sekarang" ucap Albert.^^^
"Baik bos"
Panggilan pun dimatikan tak lama pesan masuk dari Mike yang mengirimkan tentang lokasi para penculik sekarang.
"Mereka berada di jalan xxxx menuju ke luar kota bos"
Tiba-tiba Thomas masuk ke dalam ruangan Xavier dengan wajah panik. Dirinya kaget melihat wajah Albert yang penuh lebam dan luka di sudut bibirnya.
"Thomas lacak GPS yang sudah aku pasang di cincin Chloe" ucap Xavier dengan wajah dingin bak monster yang siap memangsa.
"Baik bos"
"Siapkan helikopter sekarang biar aku yang menangkap tikus-tikus itu karena sudah mengusik punyaku" ucap Xavier dengan aura membunuh.
"Baik bos"
Xavier segera berlalu menuju ke lantai 99 menuju landasan helipad di atas gedung perusahaannya. Sampai disana semua pengawal menunduk takut melihat aura wajah sang bos yang sangat menakutkan.
"Apa kamu sudah dapat lokasinya?" tanya Xavier dengan dingin.
"Sudah bos posisi nyonya berada di jalan besar menuju pinggiran kota" ucap Thomas sambil memberikan iPad kepada Xavier.
Xavier naik ke helikopter bersama dengan Albert dan Thomas. Raut wajah Xavier sudah tidak bisa diajak bicara karena saat ini dirinya hanya memikirkan Chloe.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Chloe yang masih tak sadarkan diri tidak mengetahui jika saat ini dirinya sedang berada dalam bahaya. Mobil yang dinaikinya melaju dengan kecepatan tinggi karena mobil pengawal Chloe mengejar mereka dari belakang.
"Hubungi bos kalau kita diikuti" ucap penculik A.
"Kan tadi sudah kubilang jangan dulu menculiknya ini akibatnya kita ketahuan" ucap penculik B dengan wajah emosi.
"Sudah seperti ini jangan bikin tambah runyam lagi" teriak penculik A.
Penculik itu segera menghubungi bosnya dengan panik. Tak lama orang yang menyuruhnya langsung mengangkat panggilannya.
^^^"Halo bos" ucap penculik B dengan cepat.^^^
"Bagaimana"
^^^"Kami berhasil mendapatkan gadis itu tapi kami diikuti bos" ucap penculik itu sambil melihat kearah belakang.^^^
"Cari cara agar tidak ada yang mengikuti kalian usahakan buang semua benda elektronik gadis tersebut"
^^^"Gadis itu tidak membawa barang apapun bos"^^^
"Bagus segera menuju ke tempat yang sudah kita tentukan"
^^^"Baik bos"^^^
Penculik tersebut langsung mengambil pistolnya dan menembak mobil pengawal Chloe.
Dor........dor..........dor........
Bunyi tembakan 3 kali mengenai ban mobil depan sehingga mobil itu terbalik karena kehilangan kendali.
Penculik itu tersenyum bahagia karena berhasil melumpuhkan lawan mereka. Tanpa mereka sadari ternyata Xavier sedang mengikuti mereka dengan helikopter dari radius tidak terlalu jauh dari posisi GPS.
"Suruh Mike dan anak buahnya jangan sampai ketahuan musuh" ucap Xavier dengan suara tinggi.
"Baik bos" ucap Albert.
Albert segera menyuruh Mike untuk jangan terlalu dekat dengan mobil penculik itu. Mereka ingin melihat siapa sebenarnya dalang dari semua ini.
Tak lama mobil penculik itu berhenti di tengah hutan di sebuah rumah di pinggir danau. Xavier dan Albert serta anak buahnya lalu berjaga-jaga di sekitar rumah itu.
"Bos ada 3 orang disana tapi kita tidak tahu siapa bos mereka" ucap Albert yang sudah mendapat berita dari anak buah mereka yang berjaga di dekat rumah tersebut.
"Dalang semua ini belum datang suruh semua untuk bersiap saat aku memberi perintah" ucap Xavier dengan aura membunuh.
"Baik bos" ucap Albert dengan wajah datar.
Sayang kamu bertahan ya di dalam sana aku akan segera menyelamatkanmu baby, batin Xavier.
Selang 10 menit sebuah mobil BMW series terbaru berhenti di depan rumah tersebut. Tak lama seorang pria turun dari mobil itu dengan angkuh.
"Berengsek aku akan membunuhmu" ucap Xavier dengan penuh emosi melihat wajah Arnol.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Arnol yang mendapat telpon dari anak buahnya segera beranjak menuju lokasi penyekapan Chloe. Sampai disana ia turun dengan angkuh dan salah satu penculik datang menghampirinya.
"Dimana gadis itu" ucap Arnol dengan cepat.
"Ada di dalam kamar bos"
Arnol dan penculik itu segera masuk ke dalam. Sampai di dalam Arnol melihat Chloe yang masih tidak sadarkan diri di atas tempat tidur, Arnol menjilat bibirnya dengan sensual melihat Chloe yang tergeletak di depannya.
"Kerja kalian bagus" ucap Arnol sambil memberikan amplop besar kepada penculik B.
Penculik itu menerima amplop itu dengan senang. Ketiganya berlalu keluar meninggalkan Arnol dan Chloe sendiri di kamar itu.
Saat keluar ketiganya langsung ditodongkan senjata oleh anak buah Xavier. Ketiganya berdiri dengan kaku tidak bisa berkata apa-apa, seketika mereka merasakan aura membunuh dari pintu masuk.
Xavier berjalan masuk dengan tatapan bak monster yang siap membunuh mangsanya. Ketiganya langsung berlutut karena tidak bisa menahan tubuh mereka yang gemetaran ketakutan.
Xavier menendang pintu dengan sekali tendangan. Arnol yang sedang naik ke atas ranjang seketika kaget melihat Xavier yang sudah berdiri di depan pintu.
Bugh........bugh.........bugh........bugh........
4 pukulan di perut dan pipi Arnol dengan cepat. Tubuh Arnol seketika ambruk di lantai karena tidak kuat menahan rasa sakit, Xavier yang sudah berubah menjadi monster semakin brutal memukul Arnol.
Semua anak buahnya bergidik ngeri melihat bos mereka yang seperti monster saat ini. Arnol seketika pingsan tak sadarkan diri d***hnya bercucuran dilantai dan wajahnya sudah tidak berbentuk lagi.
Xavier bangun dan menuju ranjang melihat sang istri yang masih belum sadarkan diri. Ia mengangkat Chloe dan menggendongnya menuju helikopter.
"Bawa mereka ke markas malam ini aku akan bersenang-senang dengan mereka" ucap Xavier dengan tatapan membunuh.
"Baik bos" ucap anak buahnya.
Albert segera membuka pintu helikopter untuk Xavier. Xavier mengendong Chloe dan mencium puncak kepalanya sesekali merasa lega karena sang istri sudah selamat dan tidak ada yang terluka.
Sampainya di mansion semua pelayan merasa takut melihat aura Xavier yang bagai seekor monster kelaparan. Albert memberi perintah untuk menjauh dari dalam mansion hanya boleh ada pak Max saja.
Kevin langsung bersiap memeriksa Chloe bersama satu dokter perempuan disana. Chloe ditidurkan di atas ranjang dan dokter tersebut langsung memeriksa Chloe.
"Keadaan nyonya baik-baik saja dan kandungan obat bius tidak terlalu banyak dihirup oleh nyonya jadi tidak berbahaya tuan" ucap dokter tersebut.
"Heeemmmm"
Semuanya segera keluar dari kamar Xavier meninggalkan sepasang suami istri tersebut. Xavier mencium kening Chloe dengan lembut dan mengelus pipi sang istri dengan lembut.
Xavier mencium bi**r Chloe dengan lembut lalu berlalu keluar. Sampai di depan pintu kamar pak Max bersama Albert, Kevin, dan Thomas sudah menunggu dirinya didepan.
"Jaga istriku dengan baik dan jika ia bangun layani dia" ucap Xavier dengan tegas.
"Baik tuan" ucap pak Max.
"Kevin tinggal dan lihat kondisinya setiap 30 menit" ucap Xavier sambil menatap tajam Kevin.
"Baik bos" ucap Kevin dengan gugup.
Xavier lalu bersama Albert menuju ke markas untuk bermain bersama dengan para penculik itu. Senyuman iblis terpaut di wajah Xavier dengan misterius.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Tiba di markas Xavier langsung berjalan dengan aura membunuh menuju ruang bermainnya di belakang. Semua anak buahnya menunduk memberi hormat tapi diabaikannya.
Saat ini pikirannya hanya ingin bermain bersama dengan para penculik itu karena sudah berani menyentuh tubuh sang istri.
Xavier masuk dan menatap kelima orang yang berada di dalam ruangan itu dengan posisi digantung. Xavier duduk di kursi sambil memberikan isyarat untuk menyiram mereka.
Anak buahnya langsung menyiram mereka dengan air dingin agar sadar. Tatapan tajam Xavier langsung mengarah ke mereka seperti pedang yang tajam.
"Sepertinya kalian sudah bosan untuk hidup" ucap Xavier sambil berjalan menuju ke berbagai macam pisau mainannya.
Ke-5 orang itu langsung menelan saliva dengan susah karena takut melihat begitu banyak macam pisau yang ada di atas meja.
"Tuan ampuni kami, kami hanya disuruh orang itu" ucap penculik A dengan gugup.
"Maafkan kami tuan" ucap ketiganya dengan takut.
"Maaf kalian bilang. Hahahahaha! Apa kalian pernah berpikir sebelum bertindak" ucap Xavier dengan tawa cemooh.
Xavier kemudian memanggil Albert untuk membawa Arnol ke ruangan lain karena dia akan mendapat bagian paling membahagiakan.
Albert segera menyuruh anak buahnya membawa Arnol ke ruangan lain. Saat Arnol sudah pergi Xavier tersenyum bak iblis.
Teriakan kesakitan dari 3 orang penculik bergema di dalam ruangan itu, sedangkan Zach yang kemarin hanya mengawasi saja menelan salivanya dengan kasar melihat kekejaman seorang Xavier yang bak monster.
"Sepertinya mainan aku kali ini tidak menarik" ucap Xavier dengan santai.
Albert bergidik ngeri mendengar perkataan bosnya karena yang ia lihat ternyata 3 orang tersebut sudah merenggang nyawa.
Xavier berjalan ke seorang yang berdiri dengan pucat meski dirinya sudah babak belur dari kemarin. Seketika Xavier tersenyum bak iblis di depannya.
"Kamu beruntung karena tidak ambil bagian dalam penculikan wanitaku" desis Xavier dengan tatapan membunuh.
"Ampun tuan" ucap Zach dengan takut.
Hahahaha............
Tawa Xavier pecah melihat ketakutan di wajah Zach. Xavier berjalan dan mengelap sisa d***h ditangannya. Albert menyuruh anak buahnya untuk membuang 3 jenasah itu ke kandang peliharaan Xavier.
"Berikan amplop itu ke dia" ucap Xavier dengan suara dingin.
"Baik bos" ucap albert.
Albert menuju ke anak buahnya dan memerintahkan mereka mengembalikan Zach dan memberikan amplop yang diterima 3 orang tadi.
"Hiduplah dengan benar jika ingin nyawamu selamat" ucap Albert dengan datar.
"Baik tuan" ucap Zach dengan gemetar.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Xavier berlalu menuju ruangan Mike dimana ia sedang diobati oleh dokter di markasnya.
"Bos maafkan saya" ucap Mike sambil bangkit berdiri dari brankar.
Xavier menatap tajam semua pengawal yang bertugas mengawal Chloe hari ini dengan tatapan tajam.
Bugh.........bugh..........bugh.........bugh..........
Bunyi pukulan dan tendangan bersahutan dalam ruang medis. Mike dan anak buahnya langsung tumbang mendapat pukulan dari Xavier. Xavier kembali memukul mereka dengan membabi buta tidak mengenal ampun.
"Sudah ku bilang jangan pernah lengah sedikit pun mengawasi istriku!" bentak Xavier penuh emosi.
"Ampuni kami bos" ucap mereka semua serentak.
"Albert berikan mereka hukuman selama 3 hari di ruang latihan" ucap Xavier dengan nada tinggi.
"Baik bos" ucap Albert dengan suara dingin.
Mike dan lainnya pasrah menerima hukuman dari Xavier, menurut mereka itu adalah hukuman paling mudah meski akan mendapat banyak pukulan dari semua anggota mafia Xavier dalam markas ini.
"Suntik obat itu ke tubuh Arnol dan kirimkan dia sebagai hadiah terindah untuk nenek tua itu" ucap Xavier dengan tatapan tajam.
"Siap bos" ucap anak buah Xavier.
"Lakukan tugasmu kali ini dengan benar Mike" ucap Xavier dengan tajam.
"Terima kasih bos" ucap Mike dengan senyum bahagia.
Mike sangat senang karena diberi kesempatan untuk kembali mengawal nyonya mereka. Mike kaget melihat Albert dengan wajah penuh lebam dan terluka di bagian bibirnya.
"Bos" ucap Mike dengan rasa bersalah.
"Lakukan yang terbaik jangan sampai mengecewakan bos lagi" ucap Albert dengan nada dingin.
"Baik bos"
Albert segera berlalu mengikuti Xavier yang sudah berjalan keluar menuju mobil rolls roycenya yang berada di depan markas. Semua anak buahnya menunduk takut melihat tatapan tajam sang bos.
Aura dari Xavier sangat mencekam dan membuat siapapun merasa ketakutan.
~ Mansion Xavier ~
Di mansion Chloe bangun dengan kepala yang sangat pusing. Ia melihat keadaan dimana dirinya dan seketika ia tahu ia berada dalam kamar miliknya dan Xavier.
"Nyonya" ucap pak Max dengan wajah khawatir.
"Dimana Xavier pak Max dan bagaimana aku bisa berada disini?" tanya Chloe dengan bingung.
"Tuan sedang keluar nyonya apa ada yang nyonya inginkan?" tanya pak Max.
"Kepalaku pusing sekali" ucap Chloe dengan suara lemah.
"Saya panggilkan dokter Kevin kesini nyonya" ucap pak Max.
"Jangan pak Max panggil dokter perempuan" ucap Chloe memperingati pak Max.
"Baik nyonya"
Pak Max segera keluar dan memberitahu Kevin mengenai kondisi Chloe. Beruntung dokter perempuan tadi belum pulang dan segera mengecek kondisi Chloe.
"Nyonya baik-baik saja hanya akan sedikit pusing karena efek bius tadi dan nyonya harus beristirahat dengan cukup" ucap dokter menjelaskan kondisi Chloe.
"Terima kasih dok" ucap Chloe dengan lemah.
"Sama-sama nyonya"
"Nyonya apa anda baik-baik saja?" tanya Kevin dengan khawatir.
"Aku baik-baik saja Kevin tolong jangan panggil aku nyonya" ucap Chloe.
"Maaf nyonya tapi itu semua sudah sepatutnya dan kewajiban kami semua disini" ucap Kevin dengan tegas.
"Terserah kamu saja tolong panggilkan Xavier kepalaku pusing sekali" ucap Chloe dengan nada lemah.
"Baik nyonya"
Kevin dan lainnya segera keluar meninggalkan Chloe untuk beristirahat. Kevin mengambil hpnya dan menghubungi Xavier.
"Ada apa?" tanya Xavier dengan suara dingin dari seberang.
^^^"Nyonya sudah siuman bos dan mencari bos"^^^
"10 menit lagi aku sampai"
^^^"Baik bos"^^^
Xavier menyuruh sopir untuk melaju dengan cepat menuju mansion. Tepat 8 menit kemudian Xavier tiba di mansion dan berlari menuju ke kamar mereka. Xavier masuk ke kamar dengan wajah khawatir dan segera naik ke ranjang melihat keadaan Chloe.
"Sayang" panggil Xavier dengan lembut.
"Xavier pusing" adu Chloe dengan nada lemah.
"Apa yang sakit sayang?" tanya Xavier khawatir.
"Kepalaku pusing sayang"
Xavier memeluk Chloe dan mengelus kepalanya dengan lembut, tak lama Chloe yang merasa nyaman terlelap dalam dunia mimpi.
"Aku akan menjagamu dengan nyawaku sendiri baby" gumam Xavier dengan pelan.
...βββββ...
To be continue..................
Jangan lupa vote, like, dan komen yang sebanyak-banyaknya ya guysπβ€