
π»Diam bukan berarti kamu membiarkan orang lain menindasmu tapi diam berarti kamu menunjukan sikap dewasamu dalam menghadapi masalah dengan tenangπ»
.
.
.
.
Setelah membahas rencana mereka Juan dan Johan pamit pulang lebih dahulu. Melihat tamu mereka sudah pergi Reynald langsung bertanya pada sang mommy.
"Sejak kapan mommy mengenal mereka?" tanya Reynald dengan cepat.
"Apa kamu kaget?" tanya balik nenek Esma dengan sombong.
"Off course mom siapa yang tidak tahu siapa mereka itu" ucap Reynald dengan suara tinggi.
"Mommy kenal mereka semenjak mereka bekerja sama dengan mommy membunuh kakek dan kedua orang tua anak berengsek itu" ucap nenek Esma dengan emosi.
"Jadi mereka juga terlibat dengan kematian kedua orang tua Xavier"
"Heemmmm"
Reynald kaget karena tak menyangka jika Robert Nidas dan anaknya juga dalang dari kematian kedua orang tua Xavier. Ia lalu tersenyum penuh arti saat mengingat istri Xavier.
"Jadi cucu dari pembunuh kedua orang tua Xavier adalah istrinya sendiri mom" ucap Reynald sambil tertawa.
"Suatu kebetulan yang tidak bisa dibayangkan" ucap nenek Esma dengan sinis.
"Kita bisa memakai kesempatan ini untuk mengoceh keduanya mom"
"Kita ikuti alur rencana Juan tadi jika gagal baru kita pakai rencana ini" ucap nenek Esma sambil tertawa sinis.
"Ide yang sangat brilian mom" ucap Reynald memuji sang mommy.
Nenek Esma tersenyum membayangkan hancurnya Xavier saat istrinya mengetahui siapa dirinya. Pasti istrinya bakal pergi meninggalkan anak sialan itu, batin nenek Esma.
Tanpa keduanya sadari ternyata Chloe sudah lebih dulu mengetahui semuanya. Meski dia tahu tapi menurutnya Robert Nidas bukan keluarganya lagi semenjak mommynya di usir dari keluarga Nidas.
Tak jauh berbeda dengan nenek Esma di dalam mobil Johan yang penasaran kapan pertemuan sang kakak dengan nenek Esma pertama kali segera bertanya. Juan lalu menceritakan semuanya dengan jelas dari awal mereka pertama kali bekerja sama.
"Aku tak menyangka jika daddy juga ada dalam pembunuhan kedua orang tua Mr. Xavier Wesly" ucap Johan dengan kaget.
"Aku tahu kenapa daddy memberikan semua sahamnya untuk anak sialan itu" ucap Juan dengan emosi.
"Jangan bilang untuk penebusan masa lalu daddy" ucap Johan dengan cepat.
"Seperti yang kamu pikirkan" ucap Juan dengan datar.
"Arrrghhh! Aku yakin Mr. Wesly tidak akan pernah membiarkan keluarga kita lolos begitu saja" ucap Johan dengan kesal.
"Maka dari itu kita harus bertindak secepatnya untuk menghabisi istrinya lalu menghabisi dia juga" ucap Juan dengan senyum iblis.
"Iya kak aku setuju"
Tanpa keduanya sadari ternyata sejak masih di restoran Emilio sedang menghubungkan panggilan bersama dengan Robert. Robert dengan jelas mendengar semua perkataan anaknya dan nenek Esma.
Tak lama hp Juan berbunyi tanda panggilan masuk. Juan melihat siapa yang menelponnya dan itu adalah sang istri.
^^^"Halo"^^^
"Halo sayang kamu lagi ada dimana" ucap sang istri dari seberang.
^^^"Aku ada tugas di luar negeri"^^^
"Oh kapan kamu pulang suamiku"
^^^"Setelah semua pekerjaanku selesai baru aku pulang"^^^
"Baiklah sayang ingat jaga kesehatan selama disana"
^^^"Heemmmm"^^^
"Oh ya sayang tadi ada paket untukmu mau aku simpan dimana"
^^^"Paket" ucap Juan dengan bingung.^^^
"Iya paketnya gede banget lagi"
^^^"Siapa pengirimnya"^^^
"Uhmm! Tidak ada nama pengirim hanya tertera untuk kamu sayang"
^^^"Kirim fotonya sekarang"^^^
"Baik sayang"
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Juan segera mematikan panggilannya dan tak lama pesan berisi foto paket dari sang istri masuk. Keningnya berkerut melihat paket yang sangat besar, setahunya ia tak pernah memesan barang atau apapun.
"Emilio minta cctv mansion sekarang"
"Baik tuan"
Emilio segera mematikan panggilannya dengan Robert, lalu mengirim pesan kepada anak buah mereka di mansion untuk mengirim cctv di mansion.
"Tuan sudah saya kirim ke email anda" ucap Emilio setelah mendapat rekaman cctv mansion.
Juan segera membuka cctv mansion dan melihat di bagian gerbang, Ia melihat mobil van hitam membawa paket itu ke mansion tapi orang yang menurunkan paket itu memakai topi dan masker.
"Emilio suruh anak buah kita bawa paket yang di ruang kerjaku ke markas" ucap Juan dengan suara tegas.
"Baik tuan" ucap Emilio dengan sopan.
"Suruh mereka buka paket itu dan kirim fotonya kepadaku" ucap juan.
"Baik tuan" ucap Emilio.
"Ada apa kak?" tanya Johan penasaran.
"Sepertinya ada yang mau main-main denganku" jawab Juan dengan gigi gemeletuk.
"Siapa ka" ucap Johan penasaran.
"Kita tunggu saja kabar dari anak buahku"
"Heemmmm"
Mobil mereka lalu sampai di kingdom apartemen. Juan dan Johan segera masuk ke dalam karena harus menyelesaikan tugas perusahaan mereka.
~ Roma, Italia ~
Setelah mendengar ucapan Juan barusan Robert segera bersiap pergi ke markas. Ia tahu jika sang anak pasti menyuruh anak buahnya untuk mengambil paket itu dan membawa ke markas.
Sampai di markas ia berpura-pura melihat barang mereka yang akan dijual ke berbagai negara. Anak buah mereka menunduk memberi hormat kepada bos besar mereka yaitu Robert.
Robert ditemani tangan kanannya melihat gudang obat terlarang yang mereka produksi, bahkan miras dan senjata ilegal mereka jual kepada negara-negara yang ingin membeli.
Tak lama matanya menangkap anak buah Juan yang masuk sambil membawa kotak besar.
Sesuai perkiraanku anak itu pasti akan membawanya kesini, batin Robert sambil tersenyum.
"Apa itu" ucap Robert dengan suara tegas.
"Tuan" ucap anak buah Juan sambil memberi hormat.
"Paket apa itu" ucap Robert sekali lagi.
"Ini paket milik tuan Juan tuan besar"
"Bawa kesini" ucap Robert.
Tangan kanan Robert lalu menunjuk meja di sebelah kanan mereka untuk menaruh paket itu disana. Robert lalu menyuruh anak buahnya untuk membuka paket tersebut.
Setelah dibuka semuanya dibuat kaget melihat isi di dalam paket itu. Robert tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini, tubuh wanita paruh baya yang penuh d***h dan luka yang sangat banyak.
"Ini" ucap Robert setelah melihat dengan jelas wajah wanita itu.
Ia kaget bukan main karena mengetahui siapa wanita itu. Ia lalu berpikir jika Xavier ternyata sudah mengetahui rencana sang anak dan paket ini pasti berasal dari Xavier.
"Siapkan jet sekarang" ucap Robert dengan suara dingin.
"Baik tuan" ucap tangan kanannya.
"Jangan kirimkan foto apapun ke Juan atau Johan jika tidak nyawa kalianlah taruhannya" titah Robert dengan tatapan membunuh.
"Baik tuan" ucap anak buahnya serentak.
Mereka lalu membawa tubuh mpok Risma dan di bakar di belakang markas. Robert sendiri sangat geram dengan sang anak yang tidak mendengar ucapannya.
"Dasar anak kurang ajar" ucap Robert dengan sinis.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
~ Mansion Xavier ~
Setelah kepergian suaminya Chloe lalu dikagetkan dengan kehadiran Valeria bersama dua saudara angkatnya. Kevin yang melihat tamu tak diundang segera memberitahu Albert.
"Pak Max biarkan mereka masuk itu temanku" ucap Chloe.
"Tapi nyonya" ucap pak Max yang langsung dipotong Chloe.
"Udah cepetan pak Max" ucap Chloe dengan suara tegas.
"Baik nyonya" ucap pak Max.
Tak lama mobil sport jenis buggeti warna biru dan hitam masuk ke halaman mansion. Chloe ditemani pak Max dan Kevin berdiri di depan pintu mansion.
Sebelum datang Valeria sudah menyuruh Bryan dan Yorla untuk tidak berbicara dengan bahasa Indonesia. Meski bingung keduanya hanya menganggukkan kepala menyetujui ucapan Valeria.
"Valeria" ucap Chloe dengan semangat.
"Kulkas berjalan lagi" gumam Kevin dengan suara pelan.
"Chloe maaf aku datang tanpa pemberitahuan" ucap Valeria dengan wajah datar.
"It's okay aku senang kamu bisa berkunjung kesini, bagaimana keadaan kamu" ucap Chloe dengan senang.
"Seperti yang kamu lihat aku sudah sembuh" ucap Valeria dengan suara dingin.
Keduanya lalu di interupsi oleh pak Max untuk menyuruh mereka masuk saja ke dalam. Kevin melihat kedua orang di depannya dengan kening berkerut apalagi saat tatapan matanya bertatapan dengan mata Yorla.
"**** dia bencong" ucap Kevin dengan pelan.
Kevin masuk paling lebih dulu setelah melihat Yorla mengedipkan mata kepadanya. Bryan yang di samping Yorla menatap Yorla seakan berbicara untuk tidak membuat masalah selama disini.
"Oh ya kenalin ini kakak aku Bryan dan adik aku Yorla" ucap Valeria menunjuk keduanya.
"Hay aku Yorla salam kenal ya" ucap Yorla dengan suara centil.
"Aku Bryan" ucap Bryan dengan datar dan dingin.
"Kalian saudara tapi kok muka kalian beda" ucap Chloe dengan bingung.
"Iya kita saudara angkat" ucap Valeria.
"Oh pantesan" ucap Chloe sambil tertawa.
Mereka lalu bercerita dengan bebas dan lebih didominasi oleh Yorla dan Kevin. Valeria dan Bryan yang memiliki sifat datar dan dingin sesekali hanya menjawab saja jika ada yang bertanya pada mereka.
Pak Max mengirim video mereka kepada sang tuan. Kevin sendiri berbicara dengan nyaman dengan mereka seperti sudah kenal lama.
"Oh ya Chloe jika suatu saat kamu butuh bantuan apa saja jangan sungkan untuk hubungi aku" ucap Valeria.
"Tenang aja pasti aku hubungi kok" ucap Chloe dengan senyum manis.
"Jadi bentar lagi kamu lahiran ya" ucap Yorla dengan kepo.
"Ya tinggal 2 bulan lagi" ucap Chloe.
"Cowok atau cewek pengennya" ucap Yorla
"Apa aja yang penting bayinya sehat" ucap Chloe.
"Ya kamu benar" ucap Yorla dengan suara melo.
Chloe sangat lucu mendengar suara Yorla karena sejatinya dia adalah cowok jadi-jadian alias bencong. Mereka lalu makan siang bersama karena di paksa oleh Chloe.
Pak Max segera menyuruh koki menyiapkan makan siang untuk Chloe dan tamunya. Ia juga tak lupa menyiapkan hidangan khusus untuk Chloe karena sang nyonya sedang ngidam.
~ Wesly Group ~
Xavier yang mendapat informasi dari pak Max dan Kevin segera memanggil Albert dan Thomas. Saat masuk ke dalam keduanya di tatap tajam Xavier.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
"Ada apa bos" ucap Albert.
"Bisa kalian jelaskan dari mana mereka mengetahui mansionku" ucap Xavier dengan suara dingin.
"Maaf bos sepertinya mereka tahu dari informasi nyonya" ucap Thomas.
"Apa maksudmu" ucap Xavier dengan bingung.
"Nyonya pernah mengungah foto di mansion bos dengan lokasinya bos" ucap Thomas sambil menyodorkan iPad.
Xavier melihat ungahan sang istri dan mengangguk kepala. Ia masih penasaran dengan jati diri gadis itu karena informasinya hanya sedikit saja.
"Kenapa informasi pribadinya sedikit saja" ucap Xavier dengan suara dingin.
"Informasinya seperti sengaja di tutup dari dunia maya bos, tiap kali aku mencari informasinya semuanya kosong seperti ada hacker yang memasang kode pengaman bos"
"Cari lebih lanjut mengenai gadis itu" ucap Xavier dengan suara dingin.
"Baik bos" ucap Thomas.
"Bos sepertinya orang yang bersama gadis itu adalah Bryan Peterson dan Yorla Keung" ucap Albert dengan suara dingin.
"Siapa mereka?" tanya Xavier dengan bingung.
"Bryan Peterson adalah wakil direktur di perusahaan VA Corp sedangkan Yorla Keung adalah seorang desainer ternama asal Thailand yang menjabat sebagai asisten dua di VA Corp bos" ucap Thomas membaca informasi mengenai keduanya.
"VA Corp" ucap Xavier dengan suara dingin.
"Jika dia adalah asisten dua lalu siapa yang satu" ucap Albert dengan bingung.
"Valeria Anastasia atau VA Corp" ucap Xavier dengan senyum sinis.
"Jadi direktur utamanya" ucap Thomas dengan kaget.
"Gadis itu dan asisten satu adalah Bryan Paterson ketiganya adalah saudara angkat" ucap Albert dengan datar.
"Pantas aku tidak bisa mencari data dirinya tapi siapa hacker mereka karena dia sangat hebat" ucap Thomas dengan bingung.
"Well itu urusanmu mencari tahu karena kalian berdua geluti dunia yang sama" ucap Albert dengan sinis.
"Sialan kamu" ucap Thomas dengan kesal.
Albert hanya tertawa mencemooh kepada Thomas, berbeda dengan Xavier yang memikirkan kemungkinan yang akan terjadi. Saat ini prioritasnya adalah keselamatan sang istri jadi ia tidak perduli dengan orang lain.
"Apa paket itu sudah kalian kirim" ucap Xavier dengan suara tegas.
"Sudah bos dan menurut anak buah kita mereka membawa paket itu ke markas dan di sana ada Robert Nidas" ucap Albert dengan penuh dendam.
"Terus pantau mereka karena aku tahu mereka akan segera bertindak secepat mungkin" ucap Xavier dengan suara dingin.
"Baik bos" ucap keduanya serentak.
Tak lama sekertaris Xavier memberitahu jika 5 menit lagi klien mereka akan tiba di lobby perusahaan. Xavier segera bersiap karena meeting kali ini dia akan membahas proyek minyak di Dubai bersama direktur Syarif.
Selesai meeting kliennya mengajak makan malam bersama dengan istri masing-masing. Xavier mengangguk menyetujui ajakan dari direktur Ali Syarif.
"Sampai bertemu nanti malam Mr. Wesly" ucap direktur Ali.
"Ya Mr. Syarif" ucap Xavier dengan suara dingin.
Xavier lalu menyuruh Albert untuk mempersiapkan semuanya. Xavier lalu memberi kabar kepada sang istri untuk bersiap tepat pukul 19:00 malam di mansion.
~ Mansion Xavier ~
Setelah mendapat pesan dari suaminya Chloe lalu menyuruh pak Max untuk menyiapkan pakaiannya. Tak lupa sebelum itu ia dimanjakan dengan perawatan yang dikirim oleh Xavier ke mansion.
"Untung Valeria udah pulang jadi gue bebas nikmati perawatan kali ini" ucap Chloe dengan senang.
Chloe lalu mulai mengikuti perawatan tubuh dari tahap awal sampai akhir. Pak Max selalu berdiri tidak jauh dari Chloe sambil membelakangi mereka menjaga sang nyonya.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Tepat pukul 18:40 Chloe sudah selesai di dandani. Ia melihat wajahnya di cermin dengan takjub dan seketika sepasang lengan kekar memeluk dirinya dari belakang.
"You are so beautiful baby" ucap Xavier dengan suara lembut.
"Hubby kamu sudah sampai" ucap Chloe mengelus rahang Xavier dengan lembut.
"Heemmm"
Xavier membalikan tubuh sang istri dan segera mencium b***r Chloe dengan lembut. Chloe mengalungkan tangannya di leher Xavier menikmati ciuman itu.
"Apa kita tidak usah pergi saja sayang" ucap Xavier dengan suara serak.
"No baby kamu sudah berjanji akan datang jadi kita tetap pergi" ucap Chloe dengan tegas.
"Baiklah" ucap Xavier dengan pasrah.
Keduanya lalu turun menggunakan lift ke lantai satu. Tangan Xavier setia merangkul pinggang Chloe dengan posesif, semua pelayan dan pengawal menunduk saat keduanya lewat.
"Selamat malam nyonya" ucap Albert.
"Malam juga Albert" ucap Chloe dengan senyum manis.
Xavier dan Chloe lalu masuk ke dalam mobil mewah Xavier. Mobil mereka lalu pergi meninggalkan mansion diikuti 6 mobil pengawal.
~ Kindom Apartment ~
Di lantai 50 tepatnya di kamar Juan saat ini mereka dikejutkan dengan kehadiran sang daddy bersama tangan kanannya. Juan tak menyangka Robert akan datang mengikuti mereka sampai kesini.
Plak...........plak..........
Bunyi dua tamparan bergema di dalam kamar apartemen Juan. Keduanya kaget tak menyangka akan di tampar oleh daddy mereka.
"Daddy" ucap Johan.
"Dasar anak kurang ajar apa begini kerja kalian!" bentak Robert dengan suara tinggi.
"Apa maksud daddy?" tanya Juan dengan suara tak kalah tinggi.
Robert lalu melemparkan beberapa foto ke atas meja. Juan dan Johan mengambil foto itu dan seketika keduanya kaget melihat siapa yang ada di dalam sana.
"Ini" ucap Johan dengan panik.
"Ini akibat dari keteledoran kalian dan sudah daddy bilang jangan dekati keluarga Xavier Wesly lagi" ucap Robert dengan suara tinggi.
"Sampai kapanpun aku akan menghancurkan keluarga anak itu persis seperti kedua orang tuanya" ucap Juan dengan sinis.
"Apa kamu tidak lihat perbuatanmu nyawa seseorang melayang Juan" ucap Robert dengan suara tinggi.
"Ckk!! Sejak kapan daddy peduli dengan orang yang bukan keluarga kita" ucap Juan dengan sinis.
"Diam kamu Juan kamu harusnya dengar omongan daddy" bentak Robert.
"Aku bakal diam setelah aku berhasil menghancurkan keluarga anak sialan itu" ucap Juan dengan emosi.
"Coba saja dan saat itu juga namamu daddy coret dari daftar ahli waris" ucap Robert dengan suara tegas.
Robert segera pergi meninggalkan keduanya. Juan yang emosi langsung membanting semua barang yang ada di hadapannya.
"Aku berjanji akan menghabisi keluarga anak sialan itu meski daddy tidak setuju" ucap Juan dengan emosi.
Johan dan Emilio hanya diam tidak berkata apa-apa. Mereka tahu jika saat ini bukan saat yang tepat untuk membuka suara atau mengatakan sesuatu, karena Juan sedang emosi dan tidak akan mendengar siapapun.
"Akan ku bunuh anak kamu Sintia dengan keluarganya juga" gumam Juan dengan emosi.
...βββββ...
To be continue..........
Jangan lupa vote, like, dan komen yang sebanyak-banyaknya ya guysπβ€