Heartless

Heartless
Episode 45



Pesta perkenalan Queen telah usai dan para tamu hadirin satu persatu sudah meninggalkan tempat pesta, kini tinggal keluarga besar Rosemary baik dari pihak Adam dan Laura.


Suasana yang awalnya meriah berubah seketika menjadi mencekam. Alan dan Lidia Rosemary selaku ayah dan ibu dari daddy Chloe melihat anak sulungnya dengan tatapan marah.


"Bisa kamu jelaskan semua ini Adam" ucap Alan dengan suara tinggi berwibawa meski umurnya sudah tua.


"Apa yang daddy lihat itu sudah menjelaskan semuanya" ucap Adam dengan santai.


"Siapa anak jalanan itu!" bentak Alan sambil menunjuk Queen.


Queen yang ditunjuk seketika air matanya jatuh karena takut dan sakit hati di bilang anak jalanan, Adam dan Laura yang melihat hal itu menjadi emosi.


"Daddy hati-hati dengan perkataan daddy!" bentak Laura dengan suara tegas.


"Jangan pernah kamu bicara dengan suara tinggi kepada daddy Laura!" bentak Aldo anak kedua Alan.


"Cukup diam semuanya" ucap Adam dengan suara tinggi menggelegar di dalam ballroom.


Para pelayan yang berdiri disekitar menjadi takut karena amukan dari Adam dan suasana yang sangat mencekam saat ini.


Ruangan itu seketika menjadi hening, Adam memberi isyarat kepada Steven untuk menenangkan adiknya. Steven beranjak dari duduknya dan memeluk Queen untuk menenangkan dirinya.


"Queen anak kandung aku" ucap Adam dengan suara lantang.


"Apa maksud kamu nak?" tanya Lidia dengan heran.


"Sepertinya aku harus sampaikan rahasia besar yang kami simpan selama ini"


Mendengar penuturan anaknya Alan mengangkat sebelah alisnya tidak mengerti semuanya ini. Melihat tatapan daddynya Adam pun meminta mereka semua untuk membahas semuanya di ruangan yang lebih private.


Mereka semua kemudian menuju private room yang sudah disediakan oleh manajer hotel Hilton. Tiba didalamnya Adam sekeluarga duduk di sofa panjang.


Semua mata didalam ruangan baik dari besar sampai kecil memandang mereka meminta penjelasan. Adam menghela nafas dalam dan membuangnya perlahan.


"Queen sebenarnya anak kandung aku dan Laura, selama ini Queen berada di Paris"


"Jelaskan lebih terperinci lagi" ucap Alan.


"Queen menderita penyakit langka sejak lahir. Kulitnya akan melepuh ketika berada di bawah terik matahari ditambah Queen kekurangan cairan imunim dalam tubuhnya pasca kecelakaan Laura dan Steven pada saat Laura mengandungnya 8 bulan"


Seketika Lidia mengingat peristiwa kecelakaan Laura dan Steven yang baru pulang dari kantor Adam. Air mata Lidia jatuh seketika.


"Hiks hiks........jadi Laura mengalami hal mengerikan pasca kecelakaan itu" ucap Lidia sambil berderai air mata.


"Betul mom saat itu Laura harus melahirkan Queen karena benturan cukup keras diperutnya dan ia harus rela rahimnya diangkat karena dinding rahimnya rusak"


Adam menjeda perkataannya karena harus mengingat kembali kejadian yang ingin sekali ia lupakan.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


Flashback on#


Adam berlari dengan kencang memasuki rumah sakit tempat anak dan istrinya dilarikan pasca kecelakaan tabrakan barusan.


Ia mendapat kabar dari asistennya sebelum menghadiri rapat. Saat mendapat kabar tersebut jantung Adam seketika berhenti tidak mempercayai ucapan asistennya.


"Dari mana kamu dapat kabar tersebut" ucap Adam dengan suara gemetar bahkan tubuhnya hampir jatuh jika tidak ditahan asistennya.


"Barusan ada dokter kenalan saya yang mengabari karena mengenali pasien kecelakaan yang baru masuk tuan" ucap Dion.


Adam tidak berpikir jernih lagi saat ini ia hanya berdoa untuk keselamatan istri dan anaknya. Adam bangkit dan berlari keluar secepatnya diikuti asistennya karena khawatir dengan keadaan tuannya.


"Tuan biar saya yang menyetir" ucap Dion sang asisten berdiri di samping Adam ketika tiba di depan mobil di depan lobby perusahaan.


Selama perjalanan Adam tidak pernah berhenti berdoa untuk keselamatan istri dan anaknya. Sampainya di rumah sakit Adam berlari menuju bagian informasi.


"Pasien kecelakaan yang baru masuk berada di ruangan mana" ucap Adam dengan suara gemetar.


"Ada 8 pasien yang baru masuk tuan"


"Pasien yang sedang mengandung dan anak kecil"


"Kalau pasien yang mengandung berada di ruangan operasi se..."


Ucapan suster tersebut terhenti karena Adam sudah berlari mencari ruang operasi. Dion sang asisten yang melihat tuannya sudah berlari melanjutkan pembicaraan tuannya dengan sang suster.


Sampai di depan ruangan operasi Adam melihat lampu tanda operasi sedang menyala, ia saat ini sangat kacau dan tidak bisa berpikir dengan jernih.


"Keluarga pasien ibu Laura" ucap dokter dengan terburu-buru dari dalam ruangan operasi.


"Saya suaminya dok bagaimana keadaan istri saya"


"Keadaan istri bapak saat ini sangat kritis karena benturan yang cukup keras di bagian perutnya dan beliau mengalami pendarahan dan air ketuban ibu Laura pecah sebelum waktunya pak. Saya ingin mengatakan kalau ibu Laura harus segera di operasi untuk menyelamatkan bayi dalam kandungannya"


"Lakukan apapun dok selamatkan anak dan istri saya dok.......hiks hiks" pinta Adam sambil memegang baju dokter tersebut sambil menangis.


"Baik pak saya akan berusaha semaksimal saya dan bapak silahkan urus biaya administrasinya agar bisa dilakukan operasi secepatnya"


"Lakukan sekarang dok jangan menunda lagi" ucap Adam dengan emosi karena pikirannya sudah kacau memikirkan keadaan istri dan anaknya yang belum lahir.


"Baik pak"


Dokter lalu kembali masuk ke dalam ruang operasi, Adam terjatuh dilantai tidak kuat menahan beban tubuhnya karena pikirannya hanya pada anak dan istrinya.


Seketika Adam terkejut karena ia belum melihat anaknya Steven yang berumur 4 tahun. Dion yang baru datang melihat tuannya kesusahan berdiri membantu tuannya dan mendudukkan di kursi.


"Dion bagaimana keadaan Steven aku harus melihatnya"


"Tuan muda hanya mengalami luka ringan tuan dan saat ini sudah mendapat pengobatan dan sedang berada di ruang VVIP tuan"


"Ah! Terima kasih Tuhan" ucap Adam sedikit lega.


"Dion cari tahu bagaimana semuanya bisa terjadi dan tolong jangan beritahu orang tua saya dan orang tua Laura dulu dan bawa pengawal serta pengasuh Steven untuk berjaga di ruangan Steven"


"Baik tuan kalau begitu saya permisi dan saya mohon tuan tegar untuk bisa mendukung istri dan anak tuan" ucap Dion dengan tulus.


"Itu pasti Dion terima kasih" ucap Adam dengan senyum tulusnya.


Dion lalu meninggalkan Adam sendiri untuk mencari tahu semuanya dan mengunjungi pihak kepolisian, serta mengurus wartawan agar tidak ada nama nyonya dan tuan mudanya.


3 jam sudah berlalu tapi operasi Laura belum juga selesai. Adam tidak bisa tenang memikirkan keadaan istrinya didalam sana.


Oeek........oeekk........oeek.........


Pintu operasi lalu terbuka dan dokter keluar dari dalam ruangan dengan wajah tidak bisa ditebak. Adam seketika sudah mengetahui ada yang tidak beres di dalam.


"Dok bagaimana keadaan istri dan anak saya" tanya Adam dengan suara sangat kecil.


"Anak bapak perempuan sehat dan berat badannya normal tapi masih harus berada diruang inkubator untuk melihat perkembangan putri bapak lebih lanjut karena belum saatnya harus dilahirkan, dan juga maaf pak Adam tapi ibu Laura harus kehilangan rahimnya karena dinding rahimnya rusak parah akibat benturan tersebut dan mengalami pendarahan hebat dan pak kondisi ibu Laura kritis dan saat ini beliau koma"


Ucapan sang dokter seketika menghantam Adam ia hampir terjatuh tapi ditahan oleh dokter. Pikirannya sudah tidak bisa berpikir dengan jernih saat ini.


"Pak Adam yang sabar dan selalu banyak berdoa untuk kesembuhan ibu Laura dan ibu Laura akan berada diruang ICU , serahkan semuanya pada Tuhan pak" ucap sang dokter menepuk bahu Adam untuk menguatkan.


Adam hanya mengangguk lemah, Laura sudah dipindahkan keruangan ICU. Adam masuk ke dalam menggunakan pakaian steril dan air matanya seketika jatuh melihat banyaknya alat di tubuh sang istri.


"Sayang........hiks hiks hiks.......jangan tinggalin aku........hiks hiks" ucap Adam sambil menangis berlutut di samping Laura.


Ia mencurahkan isi hatinya dengan menangis, Adam seperti orang yang tidak punya arah tapi seketika bayangan Steven dan putrinya menguatkan dirinya untuk kuat dihadapan wanita yang ia cintai.


"Sayang kamu harus berjuang demi aku, Steven, dan putri kecil kita ya" ucap Adam sambil mencium kening istrinya.


Adam lalu keluar dari ruangan istrinya menuju ruangan anaknya. Tiba disana ia melihat 2 pengawal berjaga didepan pintu anaknya, mereka memberi hormat ketika Adam sampai didepan mereka.


Adam masuk ke dalam dan melihat sang pengasuh sedang duduk di sofa menunggu anaknya.


"Tuan"


"Keluar tinggalkan saya sendiri"


"Baik tuan"


Sepeninggal pengasuh Adam duduk di samping putranya sambil mengelus kepala putranya dengan lembut.


Melihat ada pergerakan dari mata anaknya Adam menekan tombol di bagian atas ranjang anaknya. Dokter dan suster lalu datang ke tempat Steven pada saat mata anak itu terbuka.


Dokter memeriksa keadaan Steven dan memberi tahu suster untuk mengganti infus 3 jam lagi.


"Bagaimana keadaan anak saya dok"


"Anak bapak sudah melewati masa kritisnya dan kondisinya sudah membaik tinggal menunggu pemulihan luka-lukanya saja dan jangan lupa untuk minum obat teratur"


"Baik dok terima kasih"


"Sama-sama pak kalau begitu saya permisi"


"Iya dok"


Adam melihat putranya yang sedang mengerjap matanya melihat sekeliling dan seketika melihat orang yang dikenalinya ia pun menangis.


"Daddy............hiks hiks hiks"


"Iya boy jangan nangis ya sayang"


"Where is mommy daddy?"


"Mommy sedang tidur boy karena baru aja ngelahirin dedek bayi"


"Dedek bayi udah lahir daddy" ucap Steven dengan suara cadelnya sambil menangis.


"Sudah sayang jadi Steven harus makan dan minum obat yang teratur supaya bisa cepat sembuh dan lihat mommy sama dedek bayi"


"Iya daddy" ucap Steven sambil mengangguk kepalanya.


Adam pun menyuapi anaknya sampai habis dan memberi obat. Beruntung Steven anak yang cerdas dan tidak rewel pada saat meminum obat. Karena efek obat Steven pun kembali terlelap.


Adam keluar untuk melihat keadaan putrinya di ruangan inkubator. Tiba disana ia melihat anaknya dari luar karena tidak bisa masuk kedalam.


"Pak Adam silahkan masuk untuk melakukan kontak skin to skin dengan putri bapak" ucap salah seorang suster.


Adam masuk dan melihat wajah cantik sang putri yang sangat cantik. Ternyata wajahnya perpaduan wajah sang istri dan dirinya. Adam memasukan jari tengahnya dan di pegang oleh sang anak.


Ada rasa nyaman dan bahagia dalam hatinya. Ia sangat senang karena ia bisa tegar melewati semuanya ini. Pada saat itu Adam melihat ada seorang bayi perempuan yang baru lahir dan ditempatkan di sebelah ruang inkubator sang putri.


Adam keluar dan masih memandang sang putri dari balik kaca. Pada saat itu ia mendengar dua orang suster yang tidak jauh darinya berbicara.


"Kasian bayi itu baru lahir tapi langsung ditinggal oleh ibu dan ayahnya" ucap suster A.


"Iya kasian banget ayahnya meninggal ditempat kecelakaan sedangkan ibunya meninggal pasca melahirkan dirinya" ucap suster B.


"Apa ada kerabat keluarganya yang sudah dihubungi"


"Belum karena identitas mereka belum ditemukan"


"Kasian banget nasib si bayi tersebut"


Mendengar perkataan mereka seketika Adam melihat bayi tersebut dan ada rasa iba dalam hatinya. Kasihan sekali nasib kamu nak, batin Adam.


Bunyi dering telpon Adam membuyarkan lamunan Adam, ia melihat ternyata daddynya yang menelpon.


^^^"Halo daddy"^^^


"Halo Adam bagaimana keadaan cucu dan mantu daddy"


^^^"Cucu daddy semuanya baik-baik saja tidak ada luka yang berat hanya Laura dad......hiks hiks" ucap Adam sambil menangis.^^^


Mendengar anak sulungnya yang baru pertama kali menangis tersedu-sedu dan tangisannya terdengar pilu, ia langsung mengetahui kalau keadaan anak mantunya tidak baik.


"Sedikit lagi daddy sama mommy akan terbang ke sana"


^^^"Iya dad"^^^


"Kamu yang kuat dan sabar"


^^^"Baik daddy hati-hati diperjalanan"^^^


"Heeemmm"


Panggilan lalu diputuskan oleh Alan, Adam menarik nafasnya dalam karena dirinya sendiri sangat rapuh saat ini. Ia melihat wajah putrinya sekali lagi dan memberikan nama untuk putrinya.


"Nama kamu Queen Alexis Rosemary itu adalah nama yang sudah disiapkan oleh mommy kamu princess" ucap Adam sambil tersenyum bahagia melihat wajah putrinya.


...❄❄❄❄❄❄...


To be continue........