
π»Apapun yang kamu minta dalam doa dengan kepercayaan yang sungguh-sungguh maka kamu akan mendapatkannyaπ»
.
.
.
.
Suara teriakan nenek Esma disertai bantingan benda menggema di dalam mansion. Reynald dan istrinya yang mendengar teriakan sang mommy segera berlari ke ruang keluarga.
Sampai disana mereka kaget melihat ruang keluarga yang sudah seperti kapal pecah. Reynald menatap sang mommy dengan kening berkerut.
"Ada apa mommy kenapa ruangan ini seperti kapal pecah?" tanya Reynald dengan bingung.
"Anak sialan itu sudah membunuh orang suruhan kita" ucap nenek Esma dengan emosi.
"Apa" ucap Reynald dengan kaget.
Nenek Esma menunjuk berita yang sedang di tayangkan mengenai seorang pria yang mati saat baru keluar dari dalam pesawat. Tubuhnya di penuhi darah dan bekas lubang di kepalanya.
Di duga pria tersebut mati karena ditembak tepat di kepalanya. Reynald dan istrinya kaget mendengar berita tersebut.
"Sialan semua rencana kita gagal terus" ucap Reynald dengan emosi.
"Sayang tenangkan diri kamu" ucap Mita istrinya dengan lembut.
Reynald duduk di sofa dengan istrinya saling berhadapan dengan sang mommy. Nenek Esma sendiri sedang berpikir apa yang harus ia lakukan sekarang karena sudah mengeluarkan uang dengan jumlah banyak tapi hasilnya selalu gagal.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang mommy" ucap Reynald dengan frustasi.
Tak mengatakan apa-apa ia bangun dan pergi meninggalkan sang anak. Ia memilih mendinginkan pikirannya yang kacau karena emosi saat ini.
Reynald melihat sang mommy yang sudah pergi dan segera berdiri menuju kamarnya. Sintya anak Rita yang baru saja pulang kampus melihat mereka dengan bingung.
Tak mau ambil pusing ia segera berlalu menuju kamarnya untuk beristirahat. Tanpa Sintya sadari ternyata Zen yang haus dan ingin mengambil minum di dapur menatapnya dengan tatapan penuh nafsu.
"Sepertinya ada mainan baru" gumam Zen sambil menjilat bibirnya.
Ia lalu bergegas ke dapur dan mengambil minum disana. Saat melewati ruang keluarga ia bingung melihat ruangan itu yang seperti kapal pecah tapi tidak dihiraukannya.
Setelah mengambil minum saat ingin melangkah tiba-tiba hpnya berbunyi ada panggilan masuk dari anak buahnya.
^^^"Katakan"^^^
"Bos malam ini ada pertemuan dengan kolega kita di club Zero"
^^^"Atur semuanya jangan sampai ada masalah"^^^
"Baik bos"
^^^"Satu lagi lihat apa malam ini ada anggota devil dragon disana atau tidak, karena aku tidak ingin berurusan dengan monster itu" ucap Zen dengan suara tegas.^^^
"Akan aku periksa bos"
^^^"Heeemmmm"^^^
Zen segera mematikan panggilan karena tak mau ada yang mendengar pembicaraan mereka. Zen tidak mau berurusan dengan mafia devil dragon karena ia tahu klan mafia itu sangat kejam dan bengis kepada musuh-musuh mereka.
Apa lagi ini adalah daerah kekuasaan mereka jadi lebih baik tidak mencari masalah dengan mereka. Zen sendiri dari klan mafia Italia yang masih dibawah naungan devil dragon.
Klan mereka bernama wolf yang melakukan pekerjaan kotor apapun yang diberikan oleh klien mereka, tapi saat mendengar nama devil dragon mereka memilih mundur.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Selesai minum ia segera pergi ke kamar untuk kembali menikmati tubuh istrinya memuaskan hasratnya. Ia tak perduli dengan keadaan Cika yang penting hasratnya terpenuhi.
~ Mansion Xavier ~
Setelah kejadian tadi pagi semua pelayan dan pengawal di mansion tidak mau mencari masalah. Mereka semua takut di hukum seperti Desi seorang pelayan yang bertugas di rumah kaca.
Desi di cambuk 50x lalu di cabut k**u jari kaki dan tangannya. Bahkan ia saat itu langsung dipecat oleh pak Max karena dianggap tidak becus dalam bekerja.
Xavier yang sedang membahas semua masalah kantor dan markasnya bersama Thomas dikagetkan dengan kedatangan Albert. Albert yang baru tiba di California segera menuju mansion sang bos untuk melapor.
"Hay dude bagaimana perjalananmu" ucap Thomas.
"Seperti biasa" ucap Albert dengan suara dingin.
"Heemmm! Aku pikir ada yang berbeda kali ini" ucap Thomas sambil cekikan.
"Heeemmmm"
Tak lama pintu ruangan Xavier diketuk dan Albert segera membuka pintu untuk melihat siapa yang datang. Ternyata itu adalah Mike yang baru pulang menyelesaikan misinya.
"Good job Mike" ucap Xavier dengan suara dingin.
"Thanks bos" ucap Mike dengan muka datar.
"Bos memangnya apa yang dikerjakan Mike" ucap Thomas dengan bingung.
"Kamu lihat berita terkini" ucap Xavier sambil tersenyum sinis.
Thomas dan Albert yang penasaran segera membuka berita terkini. Keduanya langsung tersenyum puas saat membaca berita tersebut.
"Good job Mike aku suka sekali kerjamu" ucap Albert dengan puas.
"Terima kasih bos" ucap Mike.
"Akhirnya bajingan itu mati juga aku penasaran bagaimana kondisi nenek tua itu" ucap Thomas sambil terkekeh.
"Cctv" ucap Albert dengan cepat.
Thomas segera menghack cctv di mansion nenek Esma. Seketika ia tertawa puas melihat wajah nenek Esma yang stres bahkan ruangan keluarganya seperti kapal pecah.
"Wah nenek tua itu sangat stres saat ini bos" ucap Thomas sambil terkekeh.
Xavier melihat rekaman cctv itu dan tersenyum sinis. Tak lama matanya menangkap seseorang yang sangat dikenalinya berada di mansion tersebut.
"Albert cari tahu maksud kedatangan Zen" ucap Xavier dengan suara dingin.
Albert lalu melihat cctv yang berisi video tentang Zen di mansion nenek Esma. Ia lalu menyuruh anak buahnya untuk menyelidiki maksud kedatangan Zen di California.
Tak berselang lama anak buahnya segera mengirimkan informasi mengenai kedatangan Zen, Albert membaca informasi tersebut dan segera melapor kepada Xavier.
"Bos ia datang dengan istrinya untuk bertemu dengan keluarga istrinya serta sebentar malam mereka akan bertemu dengan kolega mereka di club Zero"
"Rekam pembicaraan mereka" ucap Xavier dengan tatapan tajam.
"Baik bos" ucap Albert.
Beruntung club Zero adalah club milik Xavier sehingga mereka bisa menyadap pembicaraan lawan mereka disana. Xavier lalu menyuruh Mike untuk kembali ke paviliun belakang.
"Albert persiapkan pesta pernikahanku dua minggu lagi" ucap Xavier dengan tegas.
"Apa tidak menunggu setelah nyonya melahirkan saja bos" ucap Albert memberi ide.
"Aku ingin memberikan informasi kepada publik agar mereka tahu siapa istriku terlebih keluarga kandung istriku"
"Maksudnya bos" ucap Albert dan Thomas dengan serentak.
"Keluarga Nidas akan berusaha mencari informasi istriku dengan memberi tahu siapa Chloe sebenarnya mereka tidak akan bisa berbuat aneh-aneh untuk menganggu istriku"
"Berarti kita harus selalu siap jika nenek tua itu bekerja sama dengan keluarga berengsek itu bos" ucap Albert dengan emosi.
"Ya kamu benar itu yang aku takutkan" ucap Xavier dengan suara dingin.
"Kita akan menjaga nyonya dengan nyawa kita bos" ucap Albert dengan suara tegas.
"Hermmmm"
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Xavier tersenyum tipis mendengar perkataan Albert barusan. Ia tahu resiko apa yang akan ia hadapi saat memberi tahu publik mengenai identitas istrinya.
Awalnya ia tak mau untuk publikasikan jati diri Chloe tapi akhirnya Xavier berubah pikiran. Ia tahu keluarga Nidas akan berusaha mencari keberadaan Chloe dan mengusiknya.
Oleh sebab itu ia harus mempublikasi jati diri Chloe sebagai istrinya agar mereka tidak coba-coba mendekati istrinya. Entah itu ingin menyakiti atau hanya sekedar ingin menyapa saja.
"Aku sangat tahu jika keluarga mereka itu licik seperti ular" gumam Xavier dengan emosi.
Ia masih ingat saat kematian sang daddy dan mommy yang tak lain itu juga campur tangan dari keluarga Nidas. Ia sangat membenci keluarga itu karena merekalah kedua orang tuanya meninggal.
Albert lalu pergi setelah disuruh Xavier agar ia bisa beristirahat. Di lantai dua Kevin sedang menjadi percobaan Chloe, sedari tadi Chloe sangat ingin untuk menyuruh Kevin memindahkan foto kedua orang tuanya.
"Ya geser ke sebelah kanan kamu sedikit Kevin" ucap Chloe.
"Segini nyonya"
"Bukan itu Kevin kamu itu bodoh banget sih masa buta sama arah!" bentak Chloe dengan suara tinggi.
Kevin meringis mendengar bentakan sang nyonya yang entah sudah ke berapa kali. Ia berharap semoga ada yang menolongnya saat ini.
"Ayok Kevin pindahin lagi jangan lambat kamu" ucap Chloe dengan kesal.
"Iya nyonya"
Tak lama Kevin melihat Albert yang baru saja keluar dari ruang kerja Xavier dan segera memanggilnya.
"Albert" panggil Kevin dengan suara keras.
"Kapan kamu sampai Albert" ucap Chloe.
"Sejam yang lalu nyonya" ucap Albert.
"Syukurlah kamu datang tepat waktu Albert" ucap Kevin dengan senang.
Albert memandang Kevin dengan sebelah alis terangkat bingung dengan pernyataan Kevin. Kevin sendiri tersenyum bahagia karena ia bisa menyuruh Albert membantunya.
"Kamu bantuin aku dong Albert mengatur foto tuan dan nyonya besar" ucap Kevin dengan mata berbinar-binar.
"No" ucap Chloe dengan tegas.
"Tapi nyonya" ucap Kevin dengan raut wajah sedih.
"Albert kamu pulang dan istirahat pasti kamu capekan, biar Kevin yang membantuku disini" ucap Chloe dengan suara tegas.
"Baik nyonya" ucap Albert.
Sebelum pergi Albert melihat Kevin sambil tersenyum penuh arti. Kevin melihat senyum Albert membuat ia ingin melempar kepala Albert dengan sendal yang ia pakai.
"Ayok Kevin cepat kamu atur semua foto-foto orang tuaku dan milik suamiku" ucap Chloe dengan nada perintahnya.
"Iya nyonya" ucap Kevin dengan pasrah
Kenapa sih selalu aku yang di bully oleh anak bos, baru aja bahuku sembuh sudah disuruh ini itu, batin Kevin sambil menggerutu.
Hari itu Chloe terus menyuruh Kevin memindahkan foto-foto milik orang tuanya ke berbagai tempat. Tepat pukul 13:00 barulah Kevin bisa bernapas dengan lega karena sudah sesuai keinginan sang nyonya.
~ Bandung, Jawa Barat ~
Hari berlalu dengan cepat tak terasa Mira sudah kembali ke Bandung. Setelah pulang dari Jakarta ia segera menceritakan semuanya kepada sang ibu.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Ibunya hanya mengelus bahu Mira dengan lembut sambil menyuruhnya untuk sabar.
Ya betul kata ibu ini semua cobaan untuk ku kalau jodoh pasti tidak akan kemana, batin Mira.
Berbeda dengan semangatnya hati Mira terus saja kepikiran akan permasalahan dirinya dan Albert. Tak lama Mira mendapat sebuah ide untuk menjelaskan semuanya.
Mira segera bergegas menuju ruang kontrol untuk meminta cctv tentang kejadian hari itu. Setelah mendapat ijin untuk mengambil video cctv ia segera mengirimkan ke Albert.
"Semoga dia bisa nonton video yang gue kirim" gumam Mira dengan pelan.
Mira berharap video yang baru saja ia kirimkan bisa ditonton oleh Albert. Ini adalah usaha terakhirnya karena ia tidak bisa pergi ke California karena biaya.
Mira lalu kembali ke ruangannya dan mulai mengerjakan pekerjaannya. Bagas yang hari ini ingin menyapa Mira merasa sangat malu.
Mira seandainya loe tahu apa yang gue rasain saat ini apa yang bakal loe buat, batin Bagas dengan sedih.
Karena kejadian kemarin Bagas dan Mira yang biasanya saling menyapa satu sama lain seakan tidak mengenal. Hubungan pertemanan yang dibangun sejak SMA seakan runtuh dalam sekejab.
~ California, Los Angeles ~
Waktu berlalu dengan cepat tanpa terasa sudah malam hari. Albert yang saat ini berada di apartemennya di kawasan blue ocean memandang jalanan California dari kaca.
Ia masih memikirkan permasalahannya dengan Mira. Meski ia sangat emosi dan benci tapi dia tak bisa berbohong mengenai hatinya yang masih terukir jelas nama Mira.
"Sial" ucap Albert meramas gelas berisi tequila yang ia pegang hingga hancur.
Sepulang dari mansion sang bos ia melampiaskan rasa sakit dan emosinya di minuman keras. Albert merasa hati dan dunianya hancur seperti saat kehilangan kedua orang tuanya.
Puas menghabiskan 2 botol tequila ia seketika ambruk di atas sofa. Ia terus bergumam nama Mira dalam tidurnya bahkan ia meneteskan air mata untuk pertama kali.
Waktu berlalu dengan cepat tepat pukul 07:00 pagi Albert bangun dari tidurnya. Ia meramas kepalanya yang terasa sakit akibat miras semalam, Albert lalu bangun dan segera pergi ke kamar mandi membersihkan tubuhnya.
Setelah membersihkan tubuhnya ia segera mengambil hp yang dimatikannya sejak kemarin. Saat menyala begitu banyak panggilan masuk dari Mira dan email masuk dari markas serta perusahaan.
Mata Albert tertuju pada video yang dikirim oleh Mira, karena penasaran ia segera membuka pesan berisi video tersebut.
Albert menonton video tersebut dengan saksama dan tak lupa membuat pengaturan penerjemah otomatis. Seketika bibirnya melengkung penuh menjadi senyuman bahagia.
"Ternyata aku salah paham" ucap Albert dengan hati berbunga-bunga.
Perasaan marah dan sakit hati seketika lenyap saat itu juga. Ia ingin menelpon Mira tapi ia sadar jika ia sudah terlambat ke kantor.
Albert lalu memutuskan untuk menghubungi Mira saat tiba di perusahaan nanti. Ia lalu bergegas turun ke bawah sambil mengecek email yang masuk di hpnya.
~ Mansion tua Wesly ~
Suasana pagi ini di meja makan sangat mencekam. Semua penghuninya duduk dengan diam sambil menikmati sarapan mereka dengan hening.
Sedari tadi Sintya merasa risih karena pandangan Zen selalu tertuju kepadanya. Ia yang risih dipandang seperti itu berusaha cepat-cepat menyelesaikan sarapannya.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
"Aku sudah selesai aku pamit semuanya" ucap Sintya.
"Heemmm! Pergilah" ucap nenek Esma dengan acuh.
"Iya nek" ucap Sintya.
"Zen ada yang mau nenek bicarakan dengan kamu setelah sarapan" ucap nenek Esma dengan nada arogan.
"Oke" ucap Zen dengan santai.
Semuanya kaget mendengar jawaban Zen yang seakan tidak menghargai nenek Esma. Reynald melihat anak mantunya dengan tatapan emosi tapi ia tahan karena tahu siapa Zen sebenarnya.
Setelah selesai sarapan semuanya segera pergi ke ruang keluarga. Zen yang pikir cuma dia dengan nenek Esma saja seketika bingung melihat seluruh keluarga nenek Esma di ruang keluarga.
"Apa yang mau nenek katakan" ucap Zen to the point.
"Nenek butuh bantuanmu untuk menghabisi seseorang" ucap nenek Esma dengan sombong.
"Who is that"
"Cucu sialanku"
Mendengar ucapan nenek Esma membuat Zen tambah kebingungan. Pasalnya dia hanya tahu jika nenek Esma memiliki 3 orang cucu dan menurutnya mereka tidak berselisih.
Apa gadis itu yang sudah pergi, batin Zen penuh tanda tanya.
Melihat cucu mantunya yang kebingungan, nenek Esma segera memberitahu perihal siapa yang harus dihabisi oleh Zen.
"Orang yang harus kamu habisi adalah dia" ucap nenek Esma sambil menyodorkan foto Xavier.
"Ini" ucap Zen dengan kaget.
"Xavier Arthur Wesly" ucap Reynald dengan emosi.
"Dia adalah cucu dari suamiku yang pertama sekaligus cucu yang paling aku benci di dunia ini melebihi apapun" ucap nenek Esma dengan wajah emosi.
"Apa yang akan aku dapatkan sebagai imbalannya?" tanya Zen dengan senyum sinis.
"5% saham di perusahaan Wesly Group" ucap nenek Esma dengan tegas.
"Make it 15%" ucap Zen.
"Tidak bisa 5% itu sudah cukup untukmu!" bentak Reynald dengan suara tinggi.
"Terima atau perjanjiannya batal" ucap Zen dengan tatapan tajam.
Semuanya diam memikirkan ucapan Zen barusan. Nenek Esma memandang Zen dengan wajah emosi tak menyangka jika Zen akan tergila-gila juga dengan saham milik Xavier.
Untuk saat ini biar aku ikut kemauannya saja yang penting anak sialannya itu mati barulah aku menyingkirkan dirimu, batin nenek Esma sambil tersenyum sinis dalam hati.
"Deal" ucap nenek Esma.
"Mommy" ucap Reynald dan Rita dengan serentak.
Keduanya tak menerima jika Zen harus mendapatkan 15% saham di perusahaan Wesly. Zen sendiri tersenyum menyeringai setelah puas mendapatkan apa yang ia mau.
Aku tahu apa yang ada di otak kalian, setelah berhasil menyingkirkan Mr. Wesly kalian akan membunuhku tapi kalianlah yang akan terbunuh, batin Zen dengan sinis.
Keduanya memikirkan apa yang akan mereka lakukan setelah berhasil membunuh Xavier. Nenek Esma lalu membicarakan rencana mereka yaitu untuk menghabisi lebih dulu wanita Xavier baru Xavier.
"Bagaimana jika kita serang mereka bersamaan tapi berbeda tempat" ucap Zen memberi ide.
"Apa maksudmu" ucap Reynald dengan bingung.
"Kita pisahkan keduanya supaya membuat pertahanan Xavier lengah, nah di situ kita masuk dan membunuh mereka berdua dalam satu tepukan" ucap Zen.
"Heeemmm! Itu ide yang bagus" ucap Rita yang sedari tadi hanya mendengar saja.
"Ya aku setuju dengan rencana Zen" ucap nenek Esma sambil mengangguk kepalanya.
"Jadi kapan kita mulai rencananya" ucap Zen.
"Kita awasi pergerakan mereka terlebih dahulu baru kita bergerak" ucap Reynald dengan tegas.
"Heemmmm"
Mereka semua lalu membahas apa yang akan mereka lakukan untuk mengawasi Xavier dan Chloe. Tanpa mereka sadari ternyata Xavier tengah tersenyum bagai iblis menonton cctv di mansion sang nenek di kantornya.
...βββββ...
To be continue.............
Jangan lupa vote, like, dan komen yang sebanyak-banyaknya ya guysπβ€