
π»Kamu adalah alasan kenapa hingga saat ini aku masih bertahan di dunia yang kejam iniπ»
.
.
.
.
Chloe terus menangis mengeluarkan semua yang ada di hatinya. Xavier naik ke mobil diikuti oleh Albert dengan cepat, ia tidak menyangka Chloe akan seperti ini.
Penampilan Chloe saat ini sudah tidak bisa dilihat lagi karena mukanya penuh bekas tamparan dan luka, rambutnya yang dijambak kuat membuatnya jadi sangat berantakan.
Xavier melihat lengan dan kaki sang istri yang lebam dan penuh luka menahan emosinya. Saat ini yang paling penting adalah membawa sang istri ke rumah sakit baru memberi pelajaran kepada dua berengsek itu.
"Albert tambah kecepatannya" ucap Xavier dengan suara dingin.
"Baik bos" ucap Albert.
"Sayang sakit hiks hiks hiks hiks" ucap Chloe sambil menangis tersedu-sedu.
Karena terlalu lama menangis dan tubuhnya sudah sangat lemah ia seketika pingsan di pelukan di sang suami. Xavier yang melihat istrinya pingsan semakin menjadi khawatir.
"Cepat Albert" bentak Xavier dengan suara tinggi.
Albert menambah kecepatan mobil lebih kencang lagi, ia juga panik melihat sang nyonya yang sudah tak sadarkan diri.
Jika sesuatu terjadi sama nyonya maka aku akan membunuh kalian berdua, batin Albert.
~ Rumah Sakit Wesly ~
Dokter dan suster sudah siap menunggu kedatangan Xavier pemilik rumah sakit ini. Setelah dihubungi oleh Mike seluruh dokter dan para suster yang bertugas malam ini menunggu kedatangan Xavier.
Cittt....
Bunyi decitan ban mobil terdengar sangat kuat saat sampai di lobby rumah sakit. Albert berlari keluar dengan cepat membuka pintu penumpang, Xavier turun dan mengendong sang istri berlari menuju ke dalam rumah sakit.
Para suster segera mendorong brankar menuju Xavier. Xavier menaruh Chloe di atas brankar dan segera mendorongnya bersama para suster dan dokter menuju ruang UGD.
Chloe lalu dibawa masuk ke dalam ruang UGD dan Xavier bersih keras tetap ikut masuk ke dalam meski sudah di larang oleh para suster.
"Selamatkan istriku jika tidak nyawa kalianlah yang hilang" bentak Xavier.
Dokter dan suster di dalam ruang UGD menelan saliva mereka dengan susah. Mereka sudah mengetahui bagaimana sifat dari pemilik rumah sakit.
Dokter Ratna dan dokter Susi yang menangani Chloe segera membersihkan luka di sekujur tubuhnya. Mereka kemudian memeriksa dan mengobati luka Chloe di tubuhnya.
Xavier keluar menemui Albert saat melihat wajah istrinya yang penuh dengan bekas tamparan. Dia sangat emosi saat melihat tubuh sang istri penuh lebam dan luka.
"Kamu tahu apa yang harus kamu lakukankan Albert" ucap Xavier dengan suara dingin.
"Iya bos"
"Berikan keduanya obat itu dengan dosis paling tinggi" ucap Xavier dengan senyuman iblis.
"Baik bos"
Albert lalu pergi dan menelpon anak buahnya yang berada di mansion. Ia memberi mereka perintah sesuai dengan perintah Xavier barusan.
γ γ γ π π π π γ γ γ
Selang 30 menit kemudian 2 dokter keluar dari ruang UGD, Xavier menatap keduanya dengan tatapan tajam meminta penjelasan mengenai kondisi sang istri.
"Tubuh nyonya hanya ada luka luar dan tidak ada luka di bagian dalam yang fatal tuan, nyonya Chloe saat ini masih dalam keadaan lemah jadi jangan membuat nyonya stres atau melakukan hal berat tuan" ucap dokter Ratna.
"Lalu bagaimana dengan anakku?" tanya Xavier dengan tatapan membunuh.
"Kandungan nyonya baik-baik saja tuan meski tubuh nyonya lemah tapi tidak dengan janinnya, usahakan nyonya jangan stres dan kelelahan karena itu bisa berbahaya buat kandungan nyonya" ucap dokter Susi.
"Heemmmm"
Dokter Susi dan dokter Ratna lalu pamit pergi. Chloe lalu dipindahkan ke ruang VVIP di lantai 7, Xavier melihat istrinya yqng terbaring lemah dengan sedih.
"Bagaimana jika tadi aku terlambat apa yang akan terjadi dengan kamu dan anak kita sayang hiks hiks" ucap Xavier sambil menangis.
Albert yang melihat sang bos baru kali ini menangis merasa sangat sedih. Ia sangat tahu bagaimana kehidupan Xavier dari sebelum kehilangan kedua orang tuanya hingga sekarang.
"Bos aku akan menjaga keluargamu tetap bahagia sampai kapanpun" ucap Albert dengan suara bergetar.
Xavier mencium kening Chloe sangat lama bahkan air matanya jatuh di atas wajah Chloe. Tak lama air mata Chloe jatuh seakan hatinya ikut bersedih meski belum sadar.
Keduanya seakan terikat batin dan bisa mengerti perasaan satu sama lain, Xavier duduk di samping ranjang sang istri dan memegang tangan Chloe dengan erat tidak tidur.
~ Mansion Xavier ~
Saat ini Thomas dan Mike sedang melihat anak buah mereka yang memberikan racun kepada Adam dan Laura. Sebelum itu keduanya tadi sempat memukul keduanya sampai puas.
"Aku rasanya ingin membunuh keduanya" ucap Thomas dengan emosi.
"Itu bagian bos besar bos" ucap Mike dengan suara dingin.
"Ya aku tahu makanya aku tahan supaya tidak lepas kontrol" ucap Thomas sambil bersedekap dada.
"Iya bos"
Thomas tertawa sinis melihat Laura yang mulai bereaksi dengan racun di tubuhnya. Silahkan nikmati kesakitan kalian malam ini, batin Thomas.
Seluruh ruangan dipenuhi dengan teriakan kesakitan Adam dan Laura. Keduanya berguling dilantai tak kuasa menahan rasa sakit di dalam tubuh mereka yang seperti di bakar dan di cincang dengan kasar.
Bahkan d***h segar sudah keluar dari lubang hidung, telinga, dan mata keduanya. Saat ini keduanya terlibat seperti zombie yang kehausan darah, ingin rasanya mati tapi seakan tidak bisa dan tubuh mereka seperti tidak bisa digerakan sesuai keinginan mereka.
Bau anyir d***h meruak di dalam ruangan membuat anak buah Xavier semuanya menutup hidung mereka. Thomas dan Mike lalu keluar kembali ke mansion setelah memberi printah pada Ken untuk mengawasi keduanya.
Sampai di dalam mansion Thomas segera berkutat dengan laptopnya untuk mengawasi perusahaan dan markas selama Xavier dan Albert sibuk. Tak lama Thomas memberi perintah kepada Mike untuk mengecek pergerakan di samping mansion.
"Berengsek itu tidak bosan-bosannya dia kesini terus" ucap Thomas.
Mike dan anak buahnya lalu menyusuri samping mansion tapi lagi-lagi orang itu sudah pergi. Mereka sebenarnya bisa menangkapnya tapi tidak mau berurusan dengan polisi di negara ini sesuai dengan perintah Xavier.
"Bos dia sudah kabur" ucap Mike lewat earpice.
"Ya i know suruh anak buah kita untuk tetap bersiaga" ucap Thomas.
"Baik bos"
Thomas segera memberi informasi barusan kepada Albert. Malam ini mereka semua tidak tidur karena harus berjaga takut ada penyusup.
γ γ γ π π π π γ γ γ
~ Mansion Sean ~
Setelah menceritakan bagaimana mereka bisa menemukan Ares, Maya tidak mau berpisah dengan sang cucu sedikit pun. Maya meminta Sean untuk tidak memecat Ati pengasuh Ares dan hanya di beri anggukan saja.
Melihat sang ibu, tantenya, dan Ria sudah masuk ke kamar anaknya, Sean lalu bangun berdiri untuk pergi ke markas. Riko yang melihat hal tersebut segera bertanya kepada Sean.
"Mau kemana kamu son?" tanya Riko dengan penasaran.
"Markas aku harus memberi pelajaran kepada j****g itu pa" ucap Sean dengan emosi.
"Jangan sampai membunuhnya son biar bagaimana pun ia ibu dari anakmu"
"Ck! ibu anakku sudah mati saat melahirkan anakku pa" ucap Sean dengan tatapan dingin.
Riko dan lainnya seketika diam tidak bisa berkata apa-apa lagi. Mereka tahu jika saat ini memaksa Sean tidak akan memberi hasil yang baik karena Sean sangat keras kepala.
Sean lalu pergi meninggalkan mereka semua di sana. Riko lalu menyuruh Rio untuk mengikuti sang anak takut ia berbuat sesuatu yang tidak diinginkan di markas.
"Pa bagaimana jika Sean membunuh pe****r itu" ucap Riko.
"Siapa yang pe****r om?" tanya Denis.
"Anak kecil diam mending kamu tidur sana" ucap Riko dengan kesal.
"Papa" ucap Denis mengadu pada Riki sang papa.
Riki hanya mengelengkan kepalanya tanda tak mengerti lagi dengan sifat sang anak, kadang dia manja dan suka seenaknya sendiri tapi kadang juga seperti orang dewasa.
"Ck! papa lembek banget" ucap Denis dengan ketus.
"Apa awas kamu anak kurang ajar" ucap Riki dengan suara tinggi.
Denis lalu berlari cepat masuk ke kamar tamu di mansion Sean, Riki yang melihat sikap sang anak hanya menghela napasnya dengan kasar. Riko lalu tertawa cemooh kepada sang adik.
"Apa ada yang lucu ka" ucap Riki dengan wajah kesal.
"Ya muka kamu" ucap Riko.
Riki lalu melemparkan bantal sofa kearah sang kakak tapi berhasil dihindar Riko. Bima hanya memijit keningnya melihat kedua anaknya yang seperti anak kecil yang berebut permen meski umur mereka sudah tua.
"Apa kalian berdua bisa tenang" bentak Bima.
Keduanya seketika diam tidak saling melempar bantal sofa lagi. Bima melihat keduanya sudah diam membuang napasnya lega, para pelayan yang melihat aksi kedua orang tua itu tertawa cekikan di belakang.
"Riko usahakan bagaimana pun jangan sampai Sean membunuh Queen" ucap bima dengan suara tuanya.
"Iya pa aku usahain" ucap Riko.
"Heemmmm"
Bima lalu berjalan masuk ke kamar yang sudah disiapkan oleh pelayan untuknya. Malam ini mereka semua memilih untuk menginap di mansion Sean.
~ Markas Riko ~
Di markas papanya Sean turun dengan wajah dingin dan emosi. Dia sudah tidak sabar untuk memberi pelajaran kepada Queen karena sudah berani menculik anaknya bahkan ia yakin jika Queen juga sudah memberi wanita yang ia cintai luka.
Padahal luka di tubuh Chloe semuanya itu karena ulah Adam dan Laura bukan Queen. Tapi Sean tetap menganggap ini juga salah Queen karena ia juga berada di sana.
"Bawa j****g itu kesini" ucap Sean dengan datar.
"Baik bos" ucap anak buahnya.
γ γ γ π π π π γ γ γ
Queen di seret dengan kasar oleh anak buah Sean ke hadapannya. Sampai di depan Sean ia seketika di dorong hingga jatuh di depan kaki Sean.
Queen tidak bisa berkata apa-apa lagi karena saat ini tubuhnya sangat lemah dan tak bertenaga lagi. Sean lalu jongkok sama rata dengan Queen lalu memegang dagu Queen dengan kuat.
"Apa salah anak gue sampai loe tega culik dia hah" bentak Sean dengan suara tinggi.
Bukannya menjawab malah Queen tertawa terbahak-bahak. Ia melihat Sean dan tertawa seperti orang gila, melihat hal tersebut Sean menjadi emosi dan memukul Queen berkali-kali.
Queen yang dipukul dan di tendang Sean tertawa terus bahkan kadang dia berteriak kesakitan hingga menangis. Sesaat kemudian Sean berhenti dan melihat tubuh Queen yang sudah dipenuhi d***h.
Sean lalu menyuruh anak buahnya untuk mengambil pi**u mainannya. Dimas tahu jika saat ini tuannya akan memberi hukuman paling mengerikan kepada Queen.
Sean lalu menerima pi**u miliknya dari sang anak buah, ia tersenyum penuh arti seakan mendapat mainan baru. Seketika teriakan kesakitan bergema di dalam ruangan tersebut.
Sean mengukir wajah Queen dengan pi**u di tangannya, tak perduli d***h yang keluar begitu banyak ia seakan merasa sangat puas. Rio yang melihat aksi tuan mudanya bergidik ngeri saat itu juga.
Semua yang Sean lakukan saat ini Rio rekam untuk diberikan kepada sang tuan. Entah sudah berapa lama Sean terus menusuk dan meng****i k***t tubuh Queen di beberapa bagian hingga terlepas dari tubuhnya.
Bau anyir semakin meruak membuat banyak anak buah Sean berlari keluar tidak tahan. Sean tersenyum sinis dengan apa yang diperbuatnya saat ini.
Crash......crash......crash.......
J**i tangan Queen sudah terlepas dari tangannya. Melihat hal tersebut membuat Dimas semakin bergidik ngeri melihat keganasan tuannya yang baru kali ini menghukum musuhnya seperti tak berperasaan.
"Jari-jari ini yang sudah menculik anak gue jadi harus di beri hukuman" ucap Sean sambil tertawa puas.
Queen seketika pingsan karena sudah tak kuat merasakan sakit saat ini. Melihat hal tersebut Sean lalu bangun karena tak puas jika mainannya tidak berteriak kesakitan.
"Kurung dia dan jangan beri obat untuk luka-lukanya dan perlakukan dia layaknya binatang" ucap Sean dengan sinis.
"Baik bos" ucap anak buah Sean dengan tubuh gemetar.
Sean lalu pergi diikuti oleh Dimas sang asisten sekaligus tangan kanannya. Rio menunduk memberi hormat saat Sean melewatinya, tapi Sean segera berhenti di samping Rio.
"Jangan sampai video itu tersebar" ucap Sean dengan wajah dingin sambil menepuk bahu Rio.
"Baik tuan muda" ucap Rio dengan sopan.
"Hemmmm"
Sean lalu berlalu menuju ruangannya untuk membersihkan diri sebelum pulang. Rio lalu menyuruh anak buah mereka membersihkan tempat interogasi yang dipenuhi d***h Queen.
"Sepertinya besok baru aku bisa memberikan video ini ke tuan karena pasti tuan sudah tidur" gumam Rio memikirkan video Sean di hpnya.
~ Rumah Sakit Wesly ~
Albert yang mendapat kabar dari Thomas seketika menampilkan wajah dengan aura dingin. Para pengawal yang berjaga di sekitar ruang VVIP bergidik ngeri merasakan aura dari tangan kanan sang bos.
"Gila bos Albert auranya sangat mengerikan" itulah kalimat yang ada di pikiran semua pengawal.
Albert ingin memberitahu sang bos mengenai masalah ini tapi ia urungkan. Ia lalu mengirim pesan ke Thomas agar memperketat penjagaan mansion terlebih dua tawanan mereka saat ini.
γ γ γ π π π π γ γ γ
Sementara di dalam ruangan rawat Chloe ia masih belum sadar sedari tadi. Xavier duduk menunggu sang istri sadar dengan wajah penuh kekhawatiran.
Perasaannya saat ini ada sedih, marah, kesal, egois, dan begitu banyak pikiran bercampur satu. Ia merasa gagal menjadi pelindung sang istri sehingga Chloe masih harus merasakan sakit dari musuh-musuhnya.
Air matanya jatuh mengenai telapak tangan Chloe, tiba-tiba mata Chloe bergerak dengan pelan terbuka. Ia mengerjap matanya untuk bisa melihat dengan jelas.
Chloe melihat ruangan serba putih dengan bau obat-obatan, seketika ia tahu ia berada di rumah sakit. Chloe mengedarkan pandangannya ke samping saat mendengar isak tangis.
Chloe tak kuasa melihat suaminya yang saat ini menangis, entah alasan apa suaminya yang arogan, dingin, angkuh, kejam, dan sombong bisa sampai menangis.
Air matanya jatuh melihat sang suami yang seperti itu, Chloe ingin mengelus kepala suaminya tapi tangannya terasa sangat lemah. Chloe mengedarkan pandangannya ke arah perutnya dan merasa sangat lega.
"Hubby" ucap Chloe dengan suara pelan dan lemah.
Tubuh Xavier menegang mendengar suara indah istrinya. Ia mengangkat kepala dan seketika melihat senyuman manis sang istri meski wajahnya penuh lebam dan luka.
"Baby kamu sudah sadar" ucap xavier dengan suara serak.
"A..i..r" ucap Chloe dengan suara terbata-bata.
Xavier segera mengambil air dan memberi kepada Chloe menggunakan sedotan. Perasaannya menghangat saat melihat mata indah sang istri yang sudah terbuka saat ini, Xavier lalu menekan tombol di atas ranjang Chloe memanggil dokter.
Tak lama dokter Ratna dan dokter Susi masuk bersama 2 orang suster. Mereka lalu memeriksa keadaan Chloe dan menganti infus Chloe dengan yang baru.
"Keadaan nyonya baik-baik saja tuan dan tinggal menunggu pemulihan saja" ucap dokter Ratna.
"Hemmmm"
"Untuk kandungan nyonya juga tidak ada masalah semuanya baik-baik saja, usahakan jaga pola makan dan makan makanan yang bergizi serta jangan stres dan lelah ya nyonya karena itu akan berpengaruh pada kandungan nyonya" ucap dokter Susi.
Chloe mengangguk kepalanya tanda mengerti, Xavier lalu menyuruh mereka untuk keluar. Saat keluar dokter Ratna dan dokter Susi di hadang oleh Albert untuk menanyakan keadaan sang nyonya.
"Maaf sayang" ucap Xavier dengan tatapan sedih.
Chloe memberi isyarat kepada suaminya untuk berbaring di sampingnya. Xavier lalu naik ke brankar milik Chloe beruntung tempatnya cukup untuk keduanya.
"Jangan pernah katakan maaf sayang karena ini bukan kemauan dan keinginan kamu baby" ucap Chloe dengan pelan.
"Maaf sayang" ucap Xavier menatap mata teduh sang istri.
"No hubby that is not your fault dan aku mau bilang terima kasih karena kamu hadir tepat waktu saat aku sudah tidak mempunyai kekuatan lagi untuk melawan mereka. Saat itu aku hanya berharap kedatangan kamu waktu itu dan apa yang aku mau akhirnya terwujud sayang hiks hiks, terima kasih karena sudah datang di waktu yang tepat sayang hiks" (tidak ini bukan salah kamu sayang) ucap Chloe sambil terisak.
Xavier memeluk tubuh sang istri dan mencium puncak kepalanya dengan lembut. Chloe menutup mata merasakan ciuman hangat dari sang suaminya, ia sangat bersyukur mendapat suami seperti Xavier.
"Terima kasih karena sudah bertahan dan menjaga anak kita sayang" ucap Xavier.
"Seorang ibu rela memberikan apapun untuk anaknya sayang, aku dan anak kita sangat bersyukur dan bangga memilikimu sebagai suami dan daddy yang terhebat untuk kami, we love you till end of us life hubby" (kami menyayangimu sampai akhir hidup kami sayang) ucap Chloe dengan tulus.
βββββ
To be continue................
Jangan lupa like, vote, dan komen yang sebanyak-banyaknya ya guysπβ€