
π»Yang paham apa yang kamu rasakan adalah dirimu sendiri, orang lain hanya tahu kamu baik-baik sajaπ»
.
.
.
.
Tatapan mata Xavier seakan ingin membunuh Queen saat ini juga, Queen yang melihat tatapan mata Xavier seketika gemetar ketakutan karena auranya sangat mengintimidasi.
Meski dalam keadaan gemetar ketakutan tapi tidak membuat Queen tak terpesona dengan wajah tampan milik Xavier. Chloe yang melihat tatapan Queen seakan terpesona dengan suaminya menjadi kesal.
"Hubby" ucap Chloe dengan manja.
"Iya baby kamu tidak kenapa-napa kan" ucap Xavier dengan raut khawatir.
Melihat tatapan Xavier yang berubah saat melihat Chloe membuat Queen menjadi semakin emosi. Tak lama senyuman sinis muncul di bibir Queen saat melihat perut Chloe yang membuncit.
"Cih! Selain anak pembunuh apa loe juga seorang ja***g yang menjual tubuh loe itu" ucap Queen dengan sinis.
"Maksud loe apaan" ucap Chloe dengan tatapan tajam.
"Anak sial siapa yang ada dalam perut loe? Apa hasil jual diri ya gue yakin anak loe itu pasti anak haram?" tanya Queen sambil tersenyum mengejek.
Seketika amarah Chloe memuncak saat mendengar perkataan Queen yang menghina anak dalam perutnya.
Brugh..........
Queen terjatuh akibat dorongan Chloe. Tak puas mendorongnya Chloe menampar pipi Queen berulang kali dan menjambak rambutnya. Amarah Chloe seakan tidak bisa diredakan saat ini belum lagi hormon kehamilannya yang berubah-ubah tak perduli dengan sekelilingnya.
"Baby tenangkan diri kamu hati-hati sama kandunganmu sayang" ucap Xavier dengan khawatir.
Mendengar perkataan suaminya Chloe segera berhenti karena mengingat janin yang ada dalam perutnya. Chloe melihat Queen dengan tatapan tajam bak elang yang siap menghabisi mangsanya.
"Albert urus semua ini" ucap Xavier dengan wajah datar.
"Baik bos" ucap Albert dengan suara dingin.
Xavier lalu membawa Chloe kembali masuk ke mobil tak lupa menyuruh Thomas untuk memesan makanan yang diinginkan sang istri. Dalam mobil Chloe berusaha menetralkan rasa amarahnya.
"Tarik napas dan buang perlahan sayang" ucap Xavier sambil mengelus puncak kepala sang istri.
"Aku emosi saat dia ngomong kayak gitu sayang" ucap Chloe dengan kesal.
"Memang apa yang dia katakan sayang" ucap Xavier karena tak mengerti pembicaraan keduanya tadi.
"Hiks hiks.......dia bilang anak aku ini anak haram dari hasil aku jual tubuh sayang........hiks hiks" ucap Chloe sambil menangis.
Seketika Xavier menginjak rem mobil dan berhenti di tengah jalan. Rahangnya mengeras mendengar perkataan sang istri barusan, aura dalam mobil seketika berubah menjadi mencekam.
"Berengsek akan aku bunuh wanita j****g itu!" bentak Xavier dengan suara tinggi.
Chloe yang melihat amarah sang suami seketika menjadi takut, Chloe lalu mengelus lengan Xavier dengan lembut agar suaminya tidak marah lagi.
Cara Chloe berhasil merubah raut wajah Xavier yang mengeras menjadi lembut meski masih ada emosi di matanya. Xavier menarik Chloe ke pangkuannya dan memeluk dirinya dengan erat.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
"Aku akan buat wanita itu menyesal sudah menyebut anakku sebagai anak haram" ucap Xavier dengan gigi gemeletuk emosi.
"Hemmmm"
Chloe tidak mau ambil pusing masalah tadi karena tahu sang suami akan membalas semua rasa sakit hatinya. Chloe semenjak hamil perubahan dirinya semakin jelas, dulu ia adalah pribadi yang akan memaafkan seseorang dengan mudah tapi sekarang tidak.
Ia seperti jiplakan dari sang suami yang egois dan tak berperasaan. Chloe lalu memeluk Xavier dengan erat menaruh kepalanya di dada sang suami.
"Kita pulang ke mansion ya sayang" ucap Xavier dengan lembut.
"Tapi ikan bakarnya sayang" ucap Chloe dengan cepat saat mengingat tujuan mereka tadi.
"Aku sudah menyuruh Thomas membelinya dan membawa ke mansion baby" ucap Xavier.
"Iya sayang"
Keduanya lalu melajukan mobil kembali ke mansion, tidak perduli dengan kekacauan yang barusan terjadi akibat mobil Xavier yang berhenti mendadak di tengah jalan membuat kemacetan parah.
~ Mansion Xavier ~
Sampai di mansion Chloe langsung mengambil ikan bakar dan udang bakar yang dibawa oleh Thomas. Tanpa berlama-lama ia segera menyantap kedua makanan tersebut dengan lahap.
"Baby aku ke ruang kerja dulu" ucap Xavier sambil mengecup kening Chloe.
"Kamu tidak makan sayang" ucap Chloe sambil mengunyah ikan bakar.
"Buat kamu dan baby dalam perutmu saja sayang" ucap Xavier dengan senyuman manis.
"Aku habiskan loh sayang" ucap Chloe dengan polos.
"Iya sayang"
Xavier mencium pipi Chloe dan berjalan ke ruang kerja diikuti oleh Albert dan Thomas. Kevin sendiri berdiri di dekat Chloe masih memakai kostum ala bumblebee.
"Kevin kamu bisa lepas kostum itu" ucap Chloe.
"Makasih nyonya" ucap Kevin dengan senang.
Di dalam ruang kerja milik Xavier aura mencekam seketika menyeruak saat ketiganya masuk ke dalam. Xavier duduk di kursi kebesarannya sambil menatap Albert dan Thomas dengan dingin.
"Kirimkan bukti perselingkuhan ja***g itu sekarang" ucap Xavier dengan tegas.
"Sudah otw bos ke kantor suaminya" ucap Albert dengan dingin.
"Albert culik wanita itu" ucap Xavier dengan senyuman iblis.
"Maksudnya bos" ucap Albert dengan bingung.
"Cabut k**u jarinya dan cambuk dia 30 kali karena sudah berani bilang anak ku adalah anak haram" ucap Xavier dengan rahang mengeras.
Thomas dan Albert kaget mendengar perkataan bosnya. Keduanya seketika merubah wajah mereka menjadi emosi karena anak bosnya di bilang anak haram.
"Bos kalau perlu robek saja mulutnya" ucap Albert dengan emosi.
"Biarkan suaminya yang melakukan hal tersebut" ucap Xavier dengan senyuman iblis.
"Maksud bos" ucap Thomas dengan bingung.
"Suaminya adalah seorang mafia dan seorang mafia sangat membenci yang namanya pengkhianatan apalagi itu adalah istrinya sendiri" ucap Albert sambil tersenyum penuh arti.
"Oh kalau begitu lebih bagus lagi dan pastinya akan semakin seru" ucap Thomas sambil tertawa puas.
"Albert kamu lakukan sekarang dan jangan sampai ada kesalahan" ucap Xavier.
"Siap bos" ucap Albert sambil menunduk dan berlalu pergi.
Xavier dan Thomas lalu membahas semua pekerjaan mereka dan mengecek beberapa email yang masuk dari perusahaan pusat dan markas mereka.
Di waktu yang sama saat di tengah jalan tiba-tiba mobil Queen berhenti karena ada yang menghadang mobilnya.
Siapa mereka kenapa hadang mobil gue, batin Queen.
Tak lama 2 orang berbadan besar keluar dengan masker mulut dan kaca mata hitam dari mobil di depannya. Melihat hal tersebut Queen seketika menjadi takut dan panik, ia ingin menghidupkan mobil dan pergi dari sana tapi sialnya mobilnya sudah dikepung.
Tok...........tok......tok.........
Kaca mobil diketuk, melihat hal tersebut Queen tidak membuka kaca mobilnya. Para penculik yang melihat hal tersebut langsung membuka pintu Queen beruntung tidak dikunci.
Queen lalu ditarik keluar dengan paksa, meski ia berontak dan berteriak tapi tetap tidak bisa karena keadaan yang sepi dan tenaganya yang tidak sebanding dengan para penculik.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Tak lama Queen tak sadarkan diri karena dibius oleh para penculik tersebut. Mereka lalu membawa Queen ke tempat yang sudah diberitahu oleh Albert.
Mereka semua memakai masker agar Queen tidak mengenali wajah mereka semua. Sampai di sebuah gedung kosong Queen lalu di ikat berbentuk huruf X.
Byur.........
Anak buah Xavier menyiram tubuh Queen dengan air agar ia cepat sadar. Queen seketika sadar dan membuka matanya, ingin bergerak tapi tidak bisa.
Queen kaget melihat ada sekitar 20 orang berbadan besar memakai masker, dia seketika gemetar ketakutan karena tidak mengenali siapa pun disana.
"Siapa kalian apa mau loe semua!" bentak Queen dengan suara gemetaran.
Mendengar perkataan Albert seketika Queen menjadi takut. Ia tidak mengetahui kenapa ia diculik oleh orang-orang ini dan apa salahnya.
"Apa yang mau kamu lakukan dengan cambuk itu" ucap Queen dengan bahasa Inggris saat mendengar Albert berbicara dengan bahasa Inggris.
"Siapkan saja dirimu b***h" ucap Albert dengan senyuman sinis di balik topengnya.
Albert lalu mencambuk punggung Queen dengan brutal tanpa ampun. Ia sangat emosi saat mengingat ucapan Xavier tentang apa yang Queen ucapkan tadi.
Arghhhh........
Teriak Queen kesakitan entah sudah berapa kali ia dicambuk, d***h segar sudah merembes di bajunya dan ia yakin punggungnya sudah terkelupas.
Tak sampai disitu Albert lalu men***ut k**u jari Queen dengan tang. Teriakan kesakitan Queen tidak di anggap oleh Albert seakan itu hanya angin lalu saja.
"Kirim j****g itu ke mansion suaminya" ucap Albert dengan wajah datar.
"Baik bos"
Anak buah Albert lalu membopong tubuh Queen ke mobilnya sendiri dan mengantar pulang ke mansion Sean. Sepanjang jalan Queen hanya menangis menahan rasa sakit di punggung dan jarinya.
~ SR Company ~
Sean dan Dimas baru saja selesai meeting dengan kliennya di luar. Setelah kembali ke perusahaan Sean segera masuk ke dalam ruangannya, saat masuk ia segera mengambil hpnya untuk mengecek kondisi anaknya Ares.
Sean tersenyum senang melihat Ares yang sedang bermain bersama Ria sepupunya itu.
Papa sangat menyayangi kamu nak, batin Sean sambil tersenyum hangat.
Tak lama pintu ruangannya diketuk dari luar, setelah menyuruh masuk Sean melihat kedatangan sekertarisnya dengan tatapan dingin dan datar.
"Maaf tuan tadi ada paket buat tuan" ucap Siska sang sekertaris.
"Dari mana" ucap Sean dengan datar.
"Maaf tuan tapi tidak ada nama pengirimnya dan hanya ditujukan kepada tuan saja di depan amplopnya" ucap Siska sambil menyodorkan amplop coklat tersebut.
Sean menerimanya dan menyuruh sang sekertaris pergi. Saat Siska sudah keluar Sean melihat amplop tersebut dengan bingung.
Karena penasaran ia membuka amplop tersebut. Saat dibuka mata Sean seketika ingin keluar dari tempatnya melihat foto-foto perselingkuhan Queen dengan seorang laki-laki yang tak lain adalah Henki.
Bahkan foto-foto itu diambil saat keduanya sedang melakukan hubungan suami istri. Rahangnya mengeras menandakan Sean yang sudah sangat emosi. Sean mengambil flashdisk yang ada dalam amplop tersebut dan membukanya di laptop.
Waktu dibuka Sean lebih kaget lagi karena itu adalah video Queen saat tengah berhubungan badan dengan Henki di resort milik Chloe.
"Berengsek loe Queen udah berani bermain di belakang gue" ucap Sean dengan wajah merah padam karena sangat emosi.
Sean lalu melampiaskan amarahnya dengan membanting semua benda yang berada dalam ruang kerjanya.
"Datang ke ruangan gue sekarang!" bentak Sean lewat interkom.
Dimas segera pergi ke ruangan Sean saat mendapat panggilan tersebut. Sampai disana Dimas kaget melihat ruangan Sean yang sudah berantakan seperti kapal pecah, bukan cuma itu saja wajah Sean saat ini seperti seorang monster.
"Bawa Queen ke markas sekarang!" bentak Sean.
"Baik tuan" ucap Dimas.
"Bawa foto dan flashdisk itu ke markas" ucap Sean sambil menunjuk foto di atas meja kerjanya.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Tak beda jauh dengan Sean ia juga kaget bukan main saat melihat foto-foto Queen dan seseorang yang tidak dikenalinya. Dimas mengambil foto dan flashdisk itu lalu memasukkan ke dalam amplop coklat tadi.
Keduanya lalu pergi menuju ke markas saat Dimas selesai memerintahkan anak buah mereka membawa Queen ke markas. Saat sedang dalam perjalanan tiba-tiba hpnya berbunyi itu panggilan dari sang papa.
^^^"Ada apa pa"^^^
"Kamu kemana Sean papa lagi di perusahaan kamu" ucap Riko dari seberang dengan suara datar.
^^^"Aku ada di jalan menuju markas pa" ucap Sean dengan suara dingin.^^^
"Memangnya ada masalah di markas"
^^^"Tidak ada pa ini hanya masalah rumah tangga Sean pa" ucap Sean dengan suara serak menahan emosinya.^^^
"Apa yang terjadi son"
^^^"Namanya pengkhianat harus di musnahkan pa"^^^
Sean segera mematikan panggilannya sepihak. Di ruangan Sean papanya sangat kesal karena lagi-lagi Sean memutuskan panggilannya sepihak.
Riko lalu berpikir tentang perkataan Sean barusan. Tiba-tiba ia kaget saat mengetahui maksud dari sang anak mengenai pengkhianat dalam rumah tangganya yang berarti itu adalah Queen.
"Apa Sean sudah tahu" ucap Riko dengan panik.
Riko segera bergegas pergi ke markas bersama dengan Rio tangan kanannya. Tak lupa ia mengabari Bima untuk pergi ke markas karena takutnya ramalan Arka menjadi kenyataan
Selama di perjalanan Riko memikirkan apa yang sudah diperbuat Sean di markasnya. Di markas sang papa Sean tiba dan turun dengan wajah penuh emosi.
Sean masuk ke dalam diikuti oleh Dimas dengan langkah cepat di belakang tuannya. Sampai di dalam markas Sean membuka ruang interogasi dengan kasar.
"Selamat datang tuan muda" ucap anak buahnya dengan serentak.
Sean tidak membalas sapaan anak buahnya, matanya hanya tertuju kepada Queen yang saat ini tengah tidak sadarkan diri, Sean bingung melihat tubuh Queen yang penuh luka di punggungnya seperti bekas cambuk.
"Apa kalian sudah mencambuk ja***g itu" ucap Sean dengan suara tinggi.
"Maaf tuan muda tadi saat kami menculik nyonya, kami menemukan mobil nyonya di depan pintu gerbang mansion dan nyonya dalam keadaan tidak sadar serta tubuh nyonya sudah seperti itu bahkan kuku jari tangannya tidak ada lagi tuan" ucap salah satu anak buah Sean.
Sean melihat kuku jari tangan Queen dan bingung karena setahunya ini bukanlah perbuatan orang biasa. Tak mau memikirkan hal tersebut ia lalu menyuruh anak buahnya untuk menyiram Queen dengan air.
Queen seketika sadar saat tubuhnya di guyur oleh air dingin. Ia melihat ternyata di depannya adalah Sean yang sedang berdiri dengan tatapan bagai iblis.
"Mas" ucap Queen dengan suara lemah.
"Sudah sadar b***h" ucap Sean dengan suara dingin.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Sean yang mengingat foto-foto tadi langsung mengambilnya dari tangan Dimas. Sean melemparkan foto tersebut ke muka Queen dengan tatapan jijik, Queen melihat foto yang dilemparkan Sean dan seketika kaget bukan main.
Tubuhnya yang gemetar karena dingin dan perih menjadi tambah gemetaran. Queen melihat Sean dengan gugup dan takut.
Plak........plak.......plak.......plak.......
4 tamparan kuat berbunyi di dalam ruang interogasi. Sean seperti kesetanan memukul Queen dan menendangnya dengan tidak berperasaan karena sangat emosi.
D***h seketika keluar dari mulut Queen saat Sean menendang perutnya dengan kuat. Sampai Queen terbatuk mengeluarkan da**h yang sangat banyak.
"Beraninya loe berselingkuh di belakang gue hah" bentak Sean dengan suara tinggi.
"Ampun mas, ampun mas........hiks hiks.......sakit.........hiks hiks" ucap Queen dengan berderai air mata.
Tak sampai disitu Sean menjambak rambut Queen dan kembali menampar Queen berulang kali. Suara teriakan kesakitan Queen bergema di ruang interogasi saat Sean men****t k**u kaki Queen.
D***h segar keluar dengan sangat banyak dan membuat tubuh Queen penuh dengan d***hnya sendiri. Riko dan Bima yang baru masuk kaget saat melihat tangan Sean penuh d***h dan tang di tangan kanannya bahkan ruangan tersebut penuh dengan d***h.
"Sean cukup kamu bisa membuatnya mati" ucap Riko dengan suara tinggi.
"Hahahaha! Sepertinya itu ide bagus pa" ucap Sean sambil tertawa bagai iblis.
Bukannya berhenti Sean mengambil pisau dari tangan Dimas dan mulai mengukir lengan Queen. Sean terus membuat ukiran di kulit tubuh dan wajah Queen dengan pi**u miliknya.
Riko dan Bima hanya diam melihat aksi Sean karena tidak bisa menghentikan Sean saat ini. Puas dengan hasil karyanya Sean lalu bangkit dan pergi keluar dengan tatapan bagai monster.
"Dimas urus perceraian gue dengan j***g itu!" bentak Sean dengan suara tinggi.
"Baik tuan" ucap Dimas.
"Oh jangan lupa kirim dia ke rumah orang tuanya bilang ini hadiah perpisahan perceraian kami karena perselingkuhan putri mereka kalau perlu putar video putri mereka" ucap Sean dengan suara dingin.
"Baik tuan"
Sean segera keluar tak menghiraukan tatapan sang papa dan sang kakek yang melihatnya dengan perasaan sedih. Saat ini ia sangat kepikiran karena Queen tega berselingkuh saat masih mengandung sang anak.
"Apa anak gue benar darah daging gue" gumam Sean dengan gusar di dalam mobil.
...βββββ...
To be continue..............
Jangan lupa vote, like, dan komen yang sebanyak-banyaknya ya guysπβ€