Heartless

Heartless
Episode 181



🌻Tuhan yang dulu menolongmu masih akan tetap menolongmu hari ini, besok, dan hari kedepannya nanti🌻


.


.


.


.


Chloe berlari dengan cepat tidak memikirkan kakinya yang sudah luka. Pikirannya hanya mencari cara untuk lepas dari kejaran Adam dan Laura saat ini.


Ya Tuhan tolonglah hamba-Mu ini, batin Chloe sambil berdoa di dalam hatinya.


Adam terus berteriak kencang memanggil nama Chloe dari belakang. Dia dan Laura berlari mengejar Chloe dengan kencang.


Chloe mencari-cari tempat untuk bersembunyi karena ia sudah tidak sanggup untuk berlari lagi. Chloe lalu berlari masuk ke dalam salah satu rumah yang ia lihat pintunya tidak tertutup.


Chloe menarik napasnya dalam dan membuangnya perlahan. Dia merasa sangat kelelahan karena sudah berlari sangat jauh dan tidak bisa lagi untuk berlari.


Chloe mengintip lewat jendela saat mendengar suara Adam dan Laura yang telah sampai di depan jalan. Jantungnya berdetak dengan cepat berharap keduanya tidak melihat ke arah sini.


Chloe segera bersembunyi saat melihat Adam melirik ke rumah di seberang jalan. Ia diam tidak bersuara sedikit pun, Chloe lalu mendengar langkah kaki sudah jauh dari sana dan saat melihat ke luar sudah tidak ada lagi keduanya.


"Syukurlah" ucap Chloe dengan napas memburu.


Chloe seketika terduduk lemas dilantai karena tidak kuat lagi untuk berlari. Tanpa Chloe sedari ternyata sedari tadi ada seorang perempuan yang tersenyum sinis melihatnya.


Ia tersenyum penuh arti karena melihat perempuan yang sangat di bencinya saat ini ada di depannya. Ternyata perempuan dalam kamar gelap di samping tempat Chloe duduk adalah Queen.


Queen lalu melirik ke arah jendela dan tersenyum senang tahu jika orang yang mengejar Chloe adalah kedua orang tuanya.


Kayaknya malam ini adalah keberuntungan gue, batin Queen sambil tersenyum seperti seorang iblis.


Adam dan Laura yang berlari terus mengedarkan pandangan mereka mencari Chloe. Keduanya bingung karena Chloe sudah tidak kelihatan sama sekali.


"Berengsek cepat banget anak sial itu" ucap Adam dengan emosi.


"Apa dia sembunyi di suatu tempat" ucap Laura dengan napas ngos-ngosan.


"Mana ku tahu ini semua karena kamu yang ngak becus jaga si berengsek itu" ucap Adam sambil menunjuk Laura.


"Apa jadi kamu salahkan aku gitu!" bentak Laura dengan suara tinggi.


"Jika tadi kamu tidak menginterupsi aku pasti anak sialan itu saat ini sudah sekarat tinggal menunggu kematiannya!" bentak Adam dengan suara tinggi.


Baru saja Laura ingin membantah ucapan Adam tiba-tiba hpnya berbunyi ada pesan masuk. Laura lalu mengambil hpnya siapa tahu itu adalah berita penting.


Queen Anakku


"Mommy anak sialan itu ada di rumah yang barusan mommy sama daddy lewati"


Laura tersenyum senang saat membaca pesan dari sang anak. Adam yang melihat sang istri tersenyum memandangnya dengan bingung.


"Anak sialan itu berada di rumah yang barusan kita lewat" ucap Laura dengan senyum misterius.


"Darimana kamu tahu" ucap Adam dengan bingung.


Laura lalu menunjukan pesan dari Queen yang mengabari tentang keberadaan Chloe. Adam seketika tersenyum penuh arti saat mengetahui jika mangsa mereka berada di tempat yang salah.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


"Ayok kita ke sana sebelum kita kehilangan dia lagi" ucap Adam dengan sinis.


"Ya ayok" ucap Laura.


Keduanya lalu pergi kembali ke rumah yang barusan mereka lewati. Chloe yang masih menetralkan napasnya tidak tahu jika saat ini ia masuk ke dalam sarang ular.


~ Mansion Alan Rosemary ~


Alan dan Steven lalu menghubungi Aldo untuk melacak keberadaan Queen saat ini. Tak lama Alan mendapat pesan berupa alamat dari Aldo tentang keberadaan Queen.


"Kek ayok kita ke sana" ucap Steven.


"Heeemmmm"


"Aku ikut mas" ucap Aurel.


"Nenek juga ikut" ucap Lidia.


Steven mengangguk kepala menyetujui perkataan keduanya. Keempatnya lalu berangkat menuju ke lokasi alamat Queen sekarang yang berada di Jakarta Selatan.


Sean dan Dimas juga mengendarai mobil mereka ke arah yang sama dengan Steven. Xavier yang berada di dalam mobilnya mendapat laporan dari Thomas jika pergerakan Chloe saat ini sudah berhenti dan ada di sebuah rumah di pinggiran kota.


Xavier melihat GPS dari anting-anting sang istri dengan perasaan bercampur aduk. Ia berharap kondisi sang istri dan anaknya baik-baik saja, jika tidak maka ia akan membunuh kedua penculik itu.


"Albert lebih cepat lagi!" bentak Xavier dengan suara tinggi.


"Baik bos" ucap Albert.


Albert yang mengendarai mobil sang bos menambah kecepatan mobil mereka. Para pengawal mereka juga tak kalah menambah kecepatan mobil mereka takut kehilangan jejak sang bos.


Anak buah Xavier yang lebih dulu pergi ke alamat Chloe segera berdiri di sepanjang hutan. Mereka bersembunyi menunggu perintah sang bos sambil mengintai musuhnya.


~ Jakarta Selatan ~


Tak lama pintu kamar di sebelah tempat Chloe duduk saat ini terbuka dengan kasar. Queen lalu berjalan dengan langkah santai sambil mengendong Ares yang tertidur saat ini.


Chloe melihat sosok perempuan melangkah keluar dari kamar gelap itu dengan perasaan takut. Tak lama ia kaget saat melihat sosok perempuan itu adalah orang yang sangat ia kenali.


"Queen" gumam Chloe dengan wajah kaget.


"Wah lihat siapa yang berada di depan gue saat ini" ucap Queen dengan senyum sinis.


Queen tersenyum sinis melihat Chloe yang saat ini tengah mengandung. Ia lalu tertawa seperti orang gila melihat muka Chloe yang saat ini seperti takut akan dirinya.


"Jadi anak haram siapa yang sedang berada di perut loe itu" ucap Queen dengan angkuh.


"Jaga ucapan loe b***h!" bentak Chloe dengan suara tinggi.


Seketika Ares terbangun dan menangis kencang mendengar suara tinggi Chloe barusan. Queen yang panik malah membentak Ares dengan kasar menyuruhnya untuk diam.


"Diam anak sialan gue bilang diam ya diam!" bentak Queen.


Bukan tambah diam malah Ares tambah menangis dengan kencang. Chloe yang melihat hal tersebut segera bangun dan merampas Ares dari tangan Queen.


"Balikin anak gue sekarang" ucap Queen dengan suara tinggi.


"Apa loe itu seorang ibu yang mendiamkan anaknya dengan cara kasar seperti itu" ucap Chloe dengan suara tinggi.


"Bukan urusan loe" ucap Queen dengan amarah.


Ia kembali merebut Ares yang masih menangis dari tangan Chloe. Chloe yang tengah mengandung tidak bisa berbuat apa-apa karena tenaganya sudah terkuras habis karena berlari tadi.


"Anak pintar diam ya anak pintar" ucap Queen membujuk Ares.


Queen lalu mengambil botol susu yang tadi dia buat dan memberikan ke Ares. Ares seketika diam saat merasa botol dot di mulut kecilnya, ia meminum susu itu dengan rakus seperti sangat kelaparan.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


Chloe merasa lega saat melihat Ares sudah terdiam dan tidak menangis lagi. Tapi kelegaannya tidak berlangsung lama saat melihat senyuman smirk dari wajah Queen.


"Malam ini gue pastikan loe bakalan mati di tangan gue" ucap Queen dengan emosi.


Queen lalu menaruh Ares di sofa dekat jendela karena ia ingin memberi pelajaran kepada Chloe. Queen lalu berjalan mengambil pisau yang terletak di atas meja dapur dengan kekehan.


Chloe yang melihat hal tersebut menjadi takut. Ia berusaha memegang kursi agar saat Queen mendekatinya ia bisa melawan.


"Karena perempuan kayak loe gue harus kehilangan semuanya terlebih orang yang gue cintai" ucap Queen dengan teriakan kencang.


Queen berjalan menuju Chloe sambil mengangkat pisau dengan tinggi. Melihat hal tersebut Chloe lalu mengangkat kursi dan memukul Queen hingga jatuh.


Bruk.......


Queen terjatuh di lantai dan Chloe lalu menendang pisau yang dipegang Queen ke arah samping. Queen bangun dan langsung menjambak rambut Chloe tapi Chloe berhasil menendang perut Queen dengan sekuat tenaga.


D***h segar seketika keluar dari mulut Queen, ia lemas dan jatuh di lantai karena tak kuat menahan rasa sakit akibat tendangan Chloe.


Brak..........


Pintu di buka dengan kuat dan masuklah Adam dan Laura ke dalam. Chloe melihat keduanya dengan takut karena ia saat ini sudah tidak punya tenaga lagi untuk melawan.


"Sayang please datang cepat karena aku tidak kuat lagi melawan mereka" gumam Chloe dengan pelan.


"Sayang" ucap Laura dengan khawatir melihat Queen di lantai.


"Akan ku bunuh kamu" teriak Laura dengan tatapan emosi.


Laura lalu berjalan ke arah Chloe lalu menarik rambutnya. Adam menampar pipi Chloe dengan kuat sampai bibirnya kembali sobek.


Keduanya seperti kesetanan berkali-kali menampar Chloe bergantian. Chloe menahan rasa sakit di kepala dan kedua pipinya, ia sangat berharap suaminya muncul saat ini.


Mobil Xavier sampai di tempat GPS Chloe, ia lalu berlari masuk ke dalam saat mendengar suara teriakan Chloe saat di tampar.


Dor..........dor...........


Bunyi 2 kali tembakan langsung menggema di dalam ruangan tersebut. Sean yang baru saja tiba seketika berlari turun masuk ke dalam takut anaknya kenapa-napa.


Ares yang menangis kencang di dalam sana membuat suasana dalam ruangan tersebut menjadi sangat berisik. Sean masuk dan kaget melihat darah dari Adam dan Laura yang bercucuran di lantai.


Ia mengedarkan pandangannya saat melihat Chloe yang terduduk di lantai dengan wajah penuh lebam dan bibir sobek. Xavier berjalan ke dalam dengan mata tajam dan aura membunuh, aura di dalam ruangan tersebut seketika sangat mencekam.


Chloe menangis melihat suaminya yang datang tepat waktu, ia tidak tahu apa yang akan terjadi kepadanya dan anaknya saat sang suami datang terlambat.


Xavier berjalan ke arah sang istri dan langsung memeluknya dengan erat. Chloe tambah menangis dengan kencang saat Xavier memeluk dirinya, Sean yang melihat keduanya berpelukan merasa hatinya sangat sakit.


Apa lagi saat melihat perut Chloe buncit yang menandakan dirinya sedang hamil saat ini. Ia lalu berjalan ke arah sofa dan mengendong anaknya yang sedang menangis kencang.


》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》


"Sial" ucap Adam menahan sakit di tangannya yang terkena tembakan.


Laura melihat Xavier mendadak gemetar ketakutan, ia merasa jika sebentar lagi mereka berdua akan mendapat sesuatu yang tidak pernah ia pikirkan.


"Mommy, daddy" ucap Queen dengan suara lemah.


Sean lalu menatap Queen dengan tatapan tajam karena telah menculik anaknya. Ia lalu menendang Queen tidak perduli jika ia adalah perempuan, Ares yang sudah berada dalam gendongan sang papa sudah terdiam.


Tendangan demi tendangan Queen dapatkan dari Sean. Laura berteriak kepada Sean untuk berhenti tapi tidak dipedulikannya sama sekali karena ia sangat emosi.


"Bos" ucap Albert yang baru saja masuk.


"Beri keduanya pelajaran tapi jangan sampai mati karena aku akan bermain dengan mereka nanti" ucap Xavier dengan aura membunuh.


"Oke bos" ucap Albert dengan tatapan dingin.


Albert lalu maju bersama dengan Mike dan memberi Adam dan Laura pukulan keras. Mereka seperti kesetanan saat memukul keduanya, Sean yang melihat hal tersebut menjadi takut dengan aura dari Xavier saat ini.


"Siapa orang ini kenapa auranya sangat kuat dan seperti monster" gumam Sean dengan pelan.


Tak lama mobil Riko dan Steven sampai di sana. Mereka semua lalu berjalan masuk ke dalam tidak menghiraukan begitu banyak orang berbaju hitam di sana.


Steven dan keluarganya kaget melihat Queen yang babak belur dan kedua orang tuanya yang sedang dipukul. Belum lagi Steven kaget melihat Chloe yang penuh dengan lebam di sekujur tubuhnya.


"Stop kenapa kalian pukul orang tua gue" ucap Steven dengan suara tinggi.


Albert dan Mike yang tidak mengerti perkataan Steven terus memberi pelajaran kepada Adam dan Laura. Steven berteriak dan maju ke depan tapi langsung dihentikan oleh Sean.


"Jangan menghentikan mereka jika loe masih ingin hidup" ucap Sean dengan sinis.


"Apa maksud loe mereka itu orang tua gue!" bentak Steven dengan suara tinggi.


"Loe lihat Chloe itu ulah kedua orang tua loe!" bentak Sean dengan suara tak kalah tinggi.


Steven dan lainnya kaget bukan main karena tak menyangka Adam dan Laura bisa setega itu. Steven lalu maju ke arah Xavier dan berlutut di depan Xavier karena ia tahu hanya Xavier yang bisa menghentikan mereka.


"Mas apa yang kamu lakukan" teriak Aurel dengan kaget.


"Steven apa yang kamu lakukan sayang" ucap Lidia.


"Mr. Wesly saya mohon tolong suruh mereka berhenti kedua orang tua saya bisa mati" ucap Steven dengan menangis.


"Aku tidak akan mengampuni orang yang sudah menyakiti istri dan anakku" ucap Xavier dengan suara dingin dan tatapan membunuh.


"Saya mohon Mr. Wesly tolong lepaskan keduanya" ucap Steven kembali memohon.


"Bawa mereka ke tempat biasa" ucap Xavier dengan suara dingin.


Ia lalu mengendong sang istri dan berjalan keluar dengan aura membunuh. Semua dalam ruangan seketika bergetar ketakutan merasakan aura Xavier yang sangat kuat.


Riko dan lainnya hanya diam tidak mengeluarkan satu kata pun. Albert memberi kode kepada anak buah mereka untuk membawa Adam dan Laura ke belakang mansion.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


Steven berlari ingin menghampiri kedua orang tuanya yang penuh dengan luka tapi dihadang oleh anak buah Xavier. Lidia menangis di pelukan suaminya melihat anak dan mantunya yang sudah berlumuran darah.


"Kek kita harus menolong daddy dan mommy" ucap Steven.


Alan hanya diam tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia bingung harus berbuat apa sekarang karena memang ini kesalahan anak dan menantunya.


"Son bagaimana dengan Ares" ucap Riko.


"Ares baik-baik aja pa" ucap Sean.


"Syukurlah" ucap Riko dengan lega.


"Dimas bawa ja***g ini ke markas" ucap Sean dengan suara tinggi.


Steven kaget saat mendengar suara Sean, ia lalu melihat adiknya yang tadi tidak sempat ia perhatikan. Steven kaget melihat tubuh sang adik yang juga penuh dengan lebam dan luka.


"Mau bawa kemana adik gue!" bentak Steven.


"Ja***g itu harus mendapat hukuman atas perbuatannya menculik anak gue" ucap Sean dengan suara dingin.


"Tapi biar bagaimanapun Queen itu ibu dari Ares nak" ucap Lidia.


"Ibu yang menelantarkan anaknya sejak ia lahir" ucap Sean dengan sinis.


"Apa maksud loe?" tanya Steven.


"Asal kalian semua tahu selama ini j****g itu ngak sekalipun memberi kasih sayang seorang ibu kepada anak gue bahkan untuk menggendongnya saja tidak pernah" teriak Sean dengan emosi.


Semua keluarga Rosemary kaget mendengar ucapan Sean barusan, mereka tak menyangka jika Queen akan berbuat seperti itu kepada anaknya sendiri.


Princess kenapa kamu setega itu sama anak kamu sendiri, batin Steven dengan sedih.


Sean lalu berlalu pergi sambil mengendong Ares dengan erat. Riko yang melihat anaknya sudah pergi juga ikut pergi tapi sebelum itu ia menatap tajam Alan Rosemary.


"Aku rasa kalian jangan mencampuri masalah Sean saat ini karena saat ini ia tidak bisa diajak berkompromi" ucap Riko dengan datar.


"Tuan Rahardian saya mohon jangan bunuh adik saya" ucap Steven.


"Aku tidak bisa berjanji karena semua itu adalah urusan Sean" ucap Riko.


Ia lalu pergi meninggalkan keluarga Rosemary disana. Mereka sudah tidak perduli lagi dengan keluarga Rosemary karena saat ini pikiran mereka hanya penuh dengan Ares yang sudah selamat.


"Arrrggghhh! Kenapa semua bisa kayak gini" teriak Steven dengan kencang.


"Mas sabar mas kita pulang dulu baru pikirkan cara menyelamatkan mereka mas" ucap Aurel dengan suara lembut.


Meski belum tahu harus dengan cara apa menyelamatkan ketiganya tapi untuk saat ini ia harus bisa membuat suaminya berpikir dengan kepala dingin. Steven lalu bangun dan pergi keluar meninggalkan rumah itu.


Ke empatnya pulang ke mansion dengan pikiran kemana-mana. Suasana hening menyelimuti mereka hingga tiba di mansion.


~ Mansion Sean ~


Bima, Maya, Ria dan sang mama sedari tadi menunggu kabar dari Riko dan lainnya. Maya terus menangis memikirkan bagiamana keadaan sang cucu.


"Pa apa mereka sudah ada kabar" ucap Maya dengan suara parau.


"Belum nak" ucap Bima.


"Bagaimana dengan Ares apa dia sudah ditemukan............hiks hiks hiks" ucap Maya kembali menangis.


"Mbak sabar pasti bentar lagi mereka akan datang membawa kabar baik" ucap istri Riki.


Tak lama bunyi deru mobil terdengar di depan mansion. Maya lalu berdiri dan berjalan dengan cepat menuju ke depan melihat siapa yang datang diikuti oleh yang lainnya.


Sampai di depan Maya lalu berlari menuju Sean dengan perasaan bahagia karena melihat Sean turun sambil mengendong Ares. Sean tersenyum hangat menyambut kedatangan sang ibu.


"Ares nenek sangat khawatir sama kamu.......hiks hiks hiks" ucap Maya sambil menangis.


Sean memeluk sang ibu yang saat ini sedang menangis dalam pelukannya. Ia bersyukur karena sang anak telah ditemukan saat ini.


...❄❄❄❄❄...


To be continue.............


Jangan lupa vote, like, dan komen yang sebanyak-banyaknya ya guys😘❀