
π»Bermula dari iri maka timbullah kebencian dan dendam dalam hatimu jadi jangan pernah merasa iri dengan milik orang lainπ»
.
.
.
.
Xavier tiba di Wesly hospital tepat pukul 22:00, saat masuk ke dalam rumah sakit semua suster dan dokter menunduk memberi hormat. Xavier terus berjalan diikuti oleh Albert, Thomas, dan pengawal pribadinya.
Di dalam lift hanya ada mereka bertiga saja karena para pengawal berjaga di sekitar rumah sakit. Saat tiba di lantai 4 lift berhenti dan masuklah Kevin.
"Malam bos" ucap Kevin dengan semangat.
"Heeemmm"
Kevin diam mendapat balasan dingin dari Xavier. Ia melihat Albert dan Thomas bertanya ada apa dengan sang bos tapi hanya gelengan kepala yang ia dapat dari Thomas.
Ting........
Lift telah sampai di lantai 7 tempat rawat Chloe dan buah hati mereka. Xavier keluar dan langsung di sambut oleh anak buahnya, sedangkan Mike berjaga di depan pintu rawat Chloe.
"Bos" ucap Mike dengan menunduk.
"Siapa yang di dalam?" tanya Xavier dengan suara dingin.
"Ada sahabat nyonya bos" ucap Mike.
Xavier lalu membuka pintu dengan sidik jarinya dan segera masuk ke dalam. Di dalam Mira berdiri saat melihat Xavier datang bersama 3 orang kepercayaannya.
"Kevin ajak nona Mira untuk makan malam" ucap Xavier dengan suara dingin.
"Baik bos" ucap Kevin.
Mira melirik Albert dan di beri anggukan kepala untuk mengikuti perintah Xavier. Melihat Kevin dan Mira telah pergi Xavier menjatuhkan tubuhnya di sofa dan menatap kedua orang kepercayaannya dengan tatapan tajam.
"Bagaimana bisa mereka menaruh bom di mobilku" ucap Xavier dengan tatapan tajam.
"Aku sudah mengecek cctv ternyata mereka menyamar sebagai supir dari perusahaan Johnson bos saat kita melakukan meeting kemarin dengan perusahaan mereka" ucap Thomas menjelaskan.
"Johnson ya apa mereka bekerja sama dengan keluarga berengsek itu" ucap Xavier dengan suara dingin.
"Tidak bos. Putri Mr. Johnson tadi pagi baru mengetahui jika supirnya telah dibunuh kemarin" ucap Thomas.
"Apa gadis itu yang mengirim paket ke kantor" ucap Xavier.
"Iya bos dan ia sudah mengkonfirmasinya kemarin bersama Thomas" ucap Albert dengan senyum penuh arti.
Xavier mengangkat alisnya sebelah sambil melihat Thomas meminta penjelasan mengenai ucapan Albert. Wajah Thomas seketika merah padam karena harus menjelaskan perihal Valeria kemarin.
Sial pasti dia sengaja agar aku jujur di depan bos, batin Thomas melirik Albert dengan kesal.
"Itu bos kemarin aku hanya mengkonfirmasi jika Valeria adalah hacker yang memblokir semua pergerakanku saat mencari cctv di apartemen kingdom" ucap Thomas.
"Lalu hubungannya dengan paket apa" ucap Xavier dengan suara dingin.
"Ternyata Valeria menaruh anak buahnya menjaga nyonya saat ia melihat cctv di apartemen Juan bos, saat bom di pasang di mobil bos ternyata yang menjinakkan adalah anak buah Valeria bos" ucap Thomas.
"Heeemmmm"
Albert tersenyum penuh arti melihat Thomas saat menjelaskan perihal mengenai Valeria. Thomas yang sempat melihat senyum Albert seakan ingin memukul Albert saat ini juga.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
"Kabari semua anak buah kita di Italia mengenai rencana kita besok" ucap Xavier dengan aura membunuh.
"Sudah bos mereka sudah menyiapkan semua yang kita perlukan" ucap Albert dengan semangat.
"Bos apa aku ikut" ucap Thomas.
"Kamu hendel semua urusan perusahaan karena aku yakin musuhku akan mencari cela saat mengetahui istriku terbaring lemah saat ini" ucap Xavier sambil menatap Chloe dengan sedih.
"Nyonya pasti akan segera sadar bos" ucap Albert menyemangati sang bos.
"Suruh Kevin stand by di samping istriku besok full 24 jam sampai aku pulang" ucap Xavier dengan suara dingin.
"Baik bos" ucap Albert.
Xavier lalu menyuruh Albert dan Thomas untuk keluar mempersiapkan semua keperluan mereka besok.
Besok adalah hari kematian untuk keluarga Nidas terutama Johan Carlos Nidas, batin Xavier.
"Baby cepat sadar aku tidak bisa melihat kamu terbaring seperti ini" ucap Xavier sambil meneteskan air mata.
Xavier mencium kening Chloe lalu pergi ke inkubator sang anak. Tanpa Xavier tahu jika air mata Chloe jatuh saat ia mencium kening Chloe.
"Xander kamu harus jadi anak yang berbakti kepada orang tua dan jadilah kuat untuk melindungi orang yang kamu sayangi nak" ucap Xavier dengan tulus.
Waktu berlalu dengan cepat dan tanpa terasa sudah dini hari. Sebelum pergi ke Italia Xavier mencium kening sang istri dan mengecup b***r Chloe dengan lembut.
Ia juga menyempatkan waktu berbicara dengan sang anak. Xavier memberi perintah kepada Kevin dan Mike untuk selalu menjaga istri dan anaknyq sampai ia kembali.
"Tunggu aku pulang sayang aku akan menyelesaikan dendam keluarga kita" ucap Xavier dengan tatapan membunuh.
Xavier dan Albert beserta anak buahnya berjumlah 1.000 orang segera berangkat ke Italia. Di dalam pesawat Xavier hanya diam menatap keluar dengan tatapan sulit di artikan.
~ Roma, Italia ~
Setelah menempuh perjalanan selama 9 jam lebih akhirnya mereka tiba di Roma. Anak buah Xavier sudah menunggu kehadiran mereka di landasan pribadi milik Xavier.
"Selamat datang bos" ucap anak buah Xavier serentak.
Xavier hanya mengangguk kepalanya membalas sambutan anak buahnya. Xavier dan Albert lalu naik ke mobil limousine yang sudah parkir di depan.
"Markas" ucap Xavier dengan suara dingin.
"Baik bos" ucap Albert.
Xavier, Albert dan anak buahnya segera menuju ke markas devil dragon. Sepanjang jalan Xavier menatap keluar dan memikirkan jika malam ini adalah malam yang tidak akan pernah bisa di lupakan oleh keluarga Nidas.
Tiba di markas, Xavier keluar dengan tatapan tajam. Semua anak buahnya menunduk takut merasakan aura dari bos mereka.
"Bagaimana"
"Saat ini Juan Nidas sedang berada di markas mereka bos" ucap Ken setelah mendapat informasi dari anak buah mereka.
"Culik mereka semua bawa ke mansion berengsek itu" ucap Xavier dengan aura membunuh.
"Baik bos" ucap semua serentak.
"Albert kamu pergi ke markas berengsek itu dan hancurkan semuanya sampai jadi abu dan bawa biadad itu ke hadapanku" ucap Xavier dengan tatapan membunuh.
"Baik bos" ucap Albert dengan aura membunuh.
Mereka semua lalu memakai topeng masing-masing dan segera pergi melaksanakan perintah Xavier. Di markas Xavier duduk di ruangan kontrol melihat pergerakan anak buahnya serta melihat cctv sang istri.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
~ Markas White Lion ~
Albert dan pasukannya telah sampai di markas white lion, melihat keadaan markas musuh Albert segera memberi perintah kepada pasukannya untuk menyebar.
"Hancurkan markas mereka sampai rata dengan tanah" ucap Albert dengan aura membunuh.
"Baik bos" ucap pasukan Albert dengan serentak.
"Bawa Juan dengan hidup-hidup" ucap Xavier melalui earpiece.
^^^"Baik bos" ucap Albert.^^^
Setelah mengetahui dimana posisi Juan mereka lalu melempar bom di markas white lion. Semua anak buah white lion kaget melihat markas mereka di serang oleh devil dragon.
Lambang kebesaran devil dragon berkibar dimana-mana bunyi ledakan dan tembakan terdengar di sana. Emilio yang melihat hal tersebut segera berlari ke lantai dua menuju ruangan Juan.
Baru saja akan lari seketika ia jatuh di lantai terkena tembakan. Ternyata yang menembak Emilio adalah Albert karena Albert tahu siapa Emilio dan apa yang akan dilakukannya.
"Apa mau kalian" ucap Emilio sambil menahan sakit.
"Kehancuran kalian semua" ucap Albert dengan suara dingin.
Emilio gemetar mendengar suara Albert yang seperti monster berdarah dingin. Ia sudah banyak mendengar tentang keganasan devil dragon tapi tak mengetahui siapa ketua devil dragon yang paling ditakuti.
Apa dia adalah ketua mafia devil dragon, batin Emilio penuh tanda tanya.
"Bawa dia ke mansion berengsek itu" ucap Albert.
"Baik bos"
"Kalian ikut aku" ucap Albert dengan suara datar.
Albert bersama 5 anak buahnya segera naik ke lantai dua. Tiba di depan pintu ruangan Juan yang tertera namanya mereka bisa mendengar suara jeritan kesakitan perempuan dari dalam.
Dor......dor.....dor.....dor.......
Pintu ruangan Juan seketika ambruk. Juan yang tengah memp*****a seorang gadis remaja terkejut saat mendengar bunyi tembakan.
Juan kaget melihat 6 orang dengan topeng dan memakai lambang devil dragon di baju mereka. Seketika ia tahu jika mereka adalah mafia devil dragon yang sangat di takuti.
"Well well well ternyata an***g biadab ini sedang berpesta ya" ucap Albert dengan suara sinis.
"Kelakuan Juan Carlos Nidas seperti binatang ya bos" ucap anak buah Albert.
"Bahkan binatang lebih baik darinya" ucap Albert dengan sinis.
"Apa mau kalian" ucap Juan dengan takut.
"Mau kami yaitu kematian biadab sepertimu" ucap Albert dengan emosi.
Bugh.......bugh......bugh.....bugh......
4 pukulan mendarat di pipi dan perut Juan. Seketika ia terjatuh di lantai karena pukulan Albert yang sangat kuat, tak sampai disana Albert kembali menghajar Juan saat mengingat adiknya Sarah di perkosa.
"Bos ingat pesan bos besar untuk membawa berengsek itu hidup-hidup" ucap anak buah Albert.
Albert menutup mata meredakan emosi dalam dirinya. Beruntung anak buahnya mengingatkan tentang perintah Xavier jika tidak, bisa dipastikan Juan akan mati ditangan Albert saat ini.
Di markas Xavier ia tersenyum sinis melihat musuh-musuhnya di kalahkan dengan cepat. Ia tertawa seperti monster melihat markas white lion yang sudah rata dengan tanah tidak tersisa apapun.
"Bos mereka semua sudah ada dalam perjalanan menuju mansion Robert Nidas" ucap anak buah Xavier.
"Heemmmm"
~ California, Los Angeles ~
Setelah kepergian Xavier dan Albert di dalam ruangan rawat Chloe hanya ada Mira. Ia sangat sedih melihat kondisi Chloe yang masih belum sadar dari komanya.
"Loe musti sadar secepatnya Chloe dan lihat anak loe yang sangat tampan" ucap Mira dengan sedih.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Tak lama hpnya berbunyi panggilan masuk dari ibunya. Melihat nama sang ibu Mira segera mengangkat panggilan sang ibu.
^^^"Halo bu"^^^
"Halo ndok bagaimana kabarmu disana"
^^^"Aku baik-baik saja bu"^^^
"Syukurlah lalu bagaimana dengan nak Chloe ndok"
^^^"Chloe koma bu sampai sekarang belum sadar juga bu dan anaknya sehat tapi masih harus berada di inkubator karena organ tubuhnya belum kuat"^^^
"Semoga nak Chloe cepat sadar, ibu cuma bisa berdoa untuk kesembuhan keduanya"
^^^"Amin bu"^^^
"Bagaimana dengan pacar kamu ndok"
^^^"Albert sedang ke luar negeri bersama Mr. Wesly bu ada tugas perusahaan yang harus mereka kerjakan"^^^
"Ingat pesan ibu dan ayah ya ndok jaga dirimu disana"
^^^"Iya bu Mira ingat kok, ibu dan ayah juga jaga kesehatan di sana ya bu"^^^
"Yo wes pasti ndok, ya sudah kalau begitu nanti kita sambung lagi ya ndok"
^^^"Iya bu"^^^
Ibu Mira segera mematikan panggilannya setelah tahu mengenai kabar sang anak. Tak lama Kevin masuk ke dalam sambil membawa segelas americano panas.
"Kamu sahabat nyonya kan?" tanya Kevin dengan kaget.
Karena Thomas memberitahu jika yang menemani Chloe saat ini adalah pacar Albert, dan hal itu membuat ia cepat-cepat datang karena penasaran.
Pantas aja bos ngizinin orang lain untuk masuk ke dalam ruangan nyonya, batin Kevin.
"Betul tuan Kevin" ucap Mira dengan formal.
"Panggil Kevin aja santailah sama aku tidak usah formal gitu"
"Ah! Baiklah Kevin" ucap Mira sambil tersenyum.
Kevin lalu memeriksa keadaan Chloe dan baby Xander, untuk kondisi baby Xander sudah jauh lebih baik dan sekitar 1-2 minggu lagi baru ia bisa keluar dari inkubator.
"Bagaimana keadaan Chloe?" tanya Mira dengan khawatir.
"Masih tetap sama belum ada perubahan juga" ucap Kevin dengan wajah sedih.
"Semoga Chloe bisa sembuh secepatnya aku sedih lihat keadaan Chloe seperti ini.......hiks hiks hiks" ucap Mira sambil menangis.
"Yang lebih bersedih disini adalah bos saat nyonya waktu itu sempat kehilangan detak jantung dan tak bernapas lagi" ucap Kevin mengingat kejadian kemarin dulu.
"Apa maksudnya?" tanya Mira penasaran.
Kevin lalu menceritakan dari awal kejadian di mansion sampai di ruang operasi. Air mata Mira mengalir dengan deras saat mendengar cerita Kevin tentang Xavier yang menangis histeris saat mengetahui istrinya telah tiada.
"Hiks hiks.........Mr. Wesly pasti sangat terpukul saat itu" ucap Mira.
"Baru kali itu aku melihat bos lemah tidak ada gairah hidup lagi" ucap Kevin dengan sedih.
Loe pasti dengar kan Chloe disana gue yakin loe ngak mungkin ninggalin orang yang paling mencintai loe di dunia ini, batin Mira menatap Chloe dengan sedih.
~ Mansion Robert ~
Robert yang sedang tidur seketika terbangun saat mendengar bunyi ledakan. Ia bangun dan mendengar ketukan pintu di kamarnya dengan kencang.
"Ada apa" ucap Robert dengan muka mengantuk.
"T...uan ma...ns...i...on di s....erang" ucap kepala mansion.
"Apa" ucap Robert dengan kaget.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Baru saja ia ingin membangunkan sang istri tiba-tiba pintu depan mansion di dobrak dengan kuat. Robert kaget melihat orang yang masuk semuanya memakai topeng dengan baju lambang devil dragon.
"Devil dragon" ucap Robert dengan panik.
Ia sangat tahu jika klan mafia devil dragon tidak sembarang menyerang musuh lain jika tidak di ganggu.
Kenapa mereka menyerang mansionku, aku tidak pernah menyinggung mereka selama ini, batin Robert.
"Kumpulkan semuanya di ruang tengah" ucap Ken dengan suara tinggi.
"Baik bos" ucap anak buahnya.
Semua pelayan dan pengawal segera dibekup dan di bawa ke tengah mansion. Robert dan Katy juga tak lupa di bawa bergabung bersama dengan yang lainnya.
"Daddy" ucap Johan dengan kaget.
"Johan apa yang terjadi?" tanya Robert.
Johan mengelengkan kepalanya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Katy yang duduk di kursi roda melihat semua pelayan dan pengawal bahkan anak, menantu, dan cucunya ada di sana.
"Apa yang sebenarnya terjadi" gumam Katy dengan pelan.
"Apa mau kalian" ucap Robert dengan suara tinggi.
"Sebaiknya anda simpan saja suaramu sebelum aku memotong lidahmu berengsek!" bentak Ken dengan suara dingin.
Braak.........
Pintu di buka dengan kasar dan masuklah Emilio dan Juan dengan tubuh penuh luka. Istri dan anak-anak Juan kaget melihat tubuh Juan penuh dengan darah.
"Apa yang kalian lakukan kepada suamiku" teriak istri Juan dengan suara tinggi.
Plak.......
Bunyi tamparan kuat menggema di dalam mansion. Semuanya kaget saat melihat orang bertopeng yang baru saja masuk menampar istri Juan dengan tidak berperasaan.
"Tutup mulutmu sebelum aku merobek mulutmu nyonya Nidas" ucap Albert dengan suara dingin dan tegas.
Suasana seketika menjadi sunyi tak ada yang bersuara lagi, anak-anak Juan dan Johan hanya bisa menangis di dalam hati karena takut.
Tak lama semuanya merinding merasakan aura yang sangat mengintimidasi dari arah pintu mansion. Xavier masuk di temani anak buahnya dengan langkah tegap.
Ia tersenyum sinis melihat semua keluarga Nidas yang tidak berdaya lagi saat ini.
Penghakiman dimulai untuk pembalasan dendam keluargaku dan mertuaku selama ini, batin Xavier dengan emosi.
Xavier lalu duduk di kursi yang sudah disiapkan oleh Albert. Ia memberi isyarat kepada Albert untuk mulai pembalasan keluarganya terlebih dahulu.
Dor....dor.......dor.......
Tiga tembakan tepat di tubuh anak pertama Juan Nidas. Juan dan istrinya kaget melihat d***h anak pertama mereka mengalir di dalam sana.
"Arrrggghhh! Anakku..........hiks hiks hiks" teriak istri Juan sambil menangis histeris memeluk sang anak.
"Berengsek apa yang kamu lakukan" teriak Juan dengan emosi.
"Ini baru permulaan" ucap Albert sambil tersenyum sinis di balik topeng.
"Apa mau kalian?" tanya Robert dengan suara tegas.
"Kematian keluargamu" ucap Albert dengan sinis.
Semua terkejut mendengar ucapan Albert barusan. Mereka tak tahu apa kesalahan mereka sehingga bisa didatangi oleh mafia paling kejam di dunia.
"Berapapun yang kalian mau aku akan berikan asalkan lepaskan keluargaku" ucap Robert dengan memohon.
Hahahahaha........
Seketika tawa Xavier menggelegar di dalam mansion Robert, Albert dan anak buah mereka juga ikut tertawa karena Robert Nidas menawarkan uang kepada orang yang salah.
"Kalau begitu anda bisa membayar kami dengan menghidupkan kembali keluarga kami yang telah kalian bunuh!" bentak Xavier dengan suara tinggi.
"Siapa sebenarnya kalian" ucap Robert penasaran.
Albert lalu melepaskan topengnya dan melihat Robert Nidas dengan tatapan membunuh. Ia masih ingat dengan jelas kejadian waktu itu dirumahnya yang merenggut paksa nyawa kedua orang tuanya dan adiknya.
"Long time no see Robert Nidas" (lama tidak bertemu) ucap Albert dengan tatapan membunuh.
"Kamu" ucap Robert kaget melihat siapa di depannya.
Ia sangat tahu jika Albert adalah tangan kanan Xavier Arthur Wesly yang berarti ketua mafia devil dragon adalah Xavier. Robert syok dan kaget mengetahui siapa musuh di depan mereka saat ini.
"Well sepertinya aku harus membuka identitasku" ucap Xavier sambil melepas topengnya.
"Kamu" ucap Johan dengan kaget.
"Waktunya pembalasan dendamku Robert Nidas" ucap Xavier dengan aura seperti monster haus darah.
...βββββ...
To be continue..................
Jangan lupa vote, like, dan komen yang sebanyak-banyaknya ya guysπβ€