Heartless

Heartless
6. Because of You



Alex mengajak Indira memasuki sebuah restoran favorite dia. Bukan restoran mewah tapi entah mengapa dia suka sekali makan di tempat itu. Makanan favorite Alex adalah nasi goreng. Ia tahu setelah berkali-kali dia mengajaknya makan siang disini dan selalu pesan nasi goreng. Makanan sederhan untuk orang tidak sederhana seperti Alex.


"Sayang, ayo kamu juga makan.. jangan liatin aku terus", ajak Alex saat aku hanya memandanginya makan saja.


"Kan aku udah bilang tadi kalau aku udah makan"


"iya makan pagi kan.."


"hmm masih kenyang lex", aku tersenyun kepadanya.


"yaudah kalau gitu kamu minum aja. Aku yang makan makanan kamu", Alex membawa makanan Dira ke hadapannya dan memakannya dengan lahap. Tak dihiraukannya tatapan takjub Indira kepadanya


Entah apa isinya perut Alex. Bisa dibilang hobinya makan selain gangguin aku tiap dia dia punya waktu luang. Porsi makannya segunung tapi anehnya perutnya rata-rata saja. Bahkan badannya selalu keliatan fit kecuali bagian matanya dan wajahnya saja yang kadang terlihat capek karena beban kerja dia yang memang berat. Sebagai seorang CEO di sebuah perusahaan besar seperti Abraham memang tidak mudah. Banyak tekanan dari segala sisi yang mengaharuskannya harus selalu fit dan konsentrasi bekerja.


"Kamu tahu, nasi goreng disini sangat enak dan selalu enak", kata Alex memulai pembicaraan dengan mulut yang masih mengunyah makanan.


"Iya aku tahu"


"Kamu tahu alasannya kenapa nasi goreng ini sangat enak?"


"karena.. ya karena bumbunya enak? chefnya pintar masak?"


"bukan, coba tebak deh.."


"apa sih lex, udah makan aja aku tungguin malah main tebak-tebakan lagi", Indira mengerutkan dahi menanggapi tantangan Alex.


"Karena.. udah deh lupain aja kamu memang nggak peka sama aku", jawab Alex sebal dengan Indira.


"apaan sih lex kok jadi ngambek", Indira tidak percaya dengan sifat Alex yang ajaib cepat berubah.


"kamu yang apaan masak kamu nggak tau kenapa aku suka makan nasi goreng disini?"


"ya.. mana aku tau kalau kamu nggak pernah bilang ke aku.. aku bukan dukun peramal Alex", kesal Indira.


"udahlah capek ngomong sama kamu. Kamu memang nggak pernah peka sama aku. Aku udah nggak nafsu makan. Ayo kita pulang aja!", Alex menghentikan acara makannya dengan tiba-tiba dan langsung pergi meninggalkan makanannya yang tinggal seuprit. Mana bisa dia tidak nafsu makan? orang dia hampir sudah selesai menyelesaikan dua piring nasi goreng yang porsinya segunung itu. Dia hanya meninggalkan nasinya yang aku yakin tinggal dua sendok saja langsung habis. Hah.


"Hei Alex mau kemana? Habisin dulu makananmu..!"


Indira tidak bisa langsung mengejar Alex karena dia harus membayar makanannya terlebih dahulu. Karena sifat kekanakannya, Alex pergi tanpa membayar makanannya. Untung aku bawa dompet kalau tidak bisa malu aku disini.


Setelah menyelesaikan pembayaran, Indira keluar dari restoran dan mendapati mobil Alex telah menunggunya di depan pintu keluar restoran. Indira menghela nafas lega ternyata Alex masih ingat dengan dirinya. Setidaknya dia tidak ditinggalkan seperti wanita yang baru ditinggalkan pacarnya karena sebuah penghianatan.


Memang Alex ini orang yang menakjubkan. Sifatnya terkadang memang kekanakan didepanku dan itu sangat menyebalkan tapi dibalik itu dia sangat berwibawa dan disegani oleh orang lain.


Menahan kesal, aku masuk ke mobil Alex dengan membanting pintu. Tidak ada percakapan sama sekali diantara mereka sampai mobil berhenti di depan Pesona. Alex pun tidak membukakan pintu Indira seperti biasanya. Melihat sama sekali tidak ada pergerakan dan tanda-tanda bahwa Alex mau bicara, Indira memutuskan untuk turun saja.


Kekesalan Indira bertambah ketika baru saja dia menutup pintu mobil, Alex langsung melajukan mobilnya kencang keluar Pesona.


"Oke kita lihat nanti siapa yang paling tidak betah marahan kayak gini", Indira bergumam kesal melihat mobil Alex yang semakin lama menjauh. Melupakan kekesalannya, Indirapun melangkah masuk gedung perusahaannya dengan percaya diri.


-------------------------------------------


"Dew, bagaimana jadwal ku hari ini?" Indira bertanya kepada asistennya sambil masuk ke ruangannya.


"selamat siang Bu, apakah ibu sudah makan siang?" Dewi buru-buru mengikuti atasannya masuk ke ruangan.


"Iya sudah. Langsung aja laporannya", jawab Indira dengan ketus. Mendadak perasaan kesalnya muncul melihat asistennya yang kurang cepat menanggapi permintaannya.


"hmm iya bu, sebentar saya ambilkan. Sudah saya catat di buku agenda saya", Dewi pun segera keluar mengambil buku agendanya di mejanya yang berada tepat di depan pintu ruangan Indira.


Entah mengapa Indira betah memiliki seorang asisten seperti Dewi. Dia lelet dan suka lupa. Terkadang Indira ingin langsung memecatnya saat muncul gejala seperti ini. Indira paling tidak bisa melihat karyawannya yang bekerja tidak pecus.


Aku membayar mereka dengan penuh dan aku hanya ingin hasil yang memuaskan. Aku ingin setiap uang yang aku keluarkan untuk membayar mereka tidak sia-sia. Jatuh bangun aku membangun perusahaan ini. Tak terhitung aku tertipu bahkan rugi besar. Aku tidak mau megulang ke masa-masa itu lagi. Segalanya harus sempurna sekarang.


"oke. Panggilkan Pengacara Ardi dari Abraham untuk segera kesini. Inget juga Sania tidak boleh masuk ke ruangan ini kalau Pak Ardi belum masuk kesini lebih dahulu. Ada yang perlu aku bicarakan ke Pam Ardi sebelum bicara dengan Sania. Oh ya mengenai Mr. Shane nanti langsung saja bawa orangnya ke ruangan ku"


"Satu lagi Dewi, jadwalkan rapat dengan para direktur dan manajer besok jam 9 di ruang rapat lantai ini"


"Baik ibu, saya undur diri terlebih dahulu"


"Tunggu Dewi. Aku yakin pasti ada berkas yang perlu aku tandatangani. Tolong bawa kesini sekarang juga"


"Baik bu", Dewi mulai berjalan keluar ruangan.


"Dewi.. jangan lupa lagi. Catat perintah saya dengan baik-baik"


"Siap bu.." Dewi tersenyum kikuk dengan peringatan dari atasannya.


Terdengar bunyi nada dering telfon genggam Indira di meja. Indira yang sedang mengambil air minum di kulkas pun segera mengangkat telfon itu. Terlihat wajah Meysia di layar.


"Hallo Mey, ada apa?"


"lo dimana?"


"di kantor. kenapa?"


"gw barusan liat Sania Mawar tau nggak di lobby gedung lo"


"iya tau. Dia mau ketemu sama gue"


"widiih gara-gara iklan yang tiba-tiba dia batalin itu?"


"ck. Apalagi. Temen lo tuh"


"mantan kenalan bukan temen anjirr"


"katanya itu orang temen kuliah lo"


"enggak anjirr cuma kebetulan kita belajar di satu gedung yang sama"


"basi lo hahah"


"bukan temen inget ya... udahlah gue mau lanjut kerja. Selamat bekerja dengan si ular Sania"


"***** lo nyesel gue ngontrak dia"


Pembicaraanpun diputus oleh Meysia. Telfon genggam itu pun berbunyi lagi. Tampak terlihat wajah Alex kali ini. Indira sedang ti do ada mood untuk mengangkatnya. Dering telfon pun berhenti dan berganti dengan rentetan pesan singkat darinya.


Indira


Sayang


Sayang


Aku minta maaf


Sayang, nanti ketemu ya


Kok gak angkat telfonku


Sayang bales dong. Kamu marah ya?


Menurut kamu aku bakal marah gak kalau digituin sama kamu?