
π»Diantara tumpukan jerami terdapat sebuah permata yang sangat indah, itulah perumpamaan tentang dirimu gadis kecilkuπ»
.
.
.
.
Suasana mansion yang semula sepi dan hening tiba-tiba menjadi bising oleh suara gadis yang sedang bermanja-manja dengan sang kakak.
"Ihhhh! Queen sebel deh sama ka Steven" ucap Queen sambil memajukan bibirnya kesal.
"Hehehehehehe! Ceritanya princessnya kakak lagi ngambek nih" ucap Steven sambil cekikan melihat tampang kesal adiknya.
Karena kesal Queen memukul dan melempari Steven dengan bantal sofa di ruang keluarga. Chloe yang baru saja pulang dan melihat semuanya itu menjadi sakit hati dan sedih.
Kenapa ka Steven sekarang berubah dan ngak pernah lagi sayang gue kayak dulu lagi, batin Chloe yang merasa sedih melihat pemandangan di depannya.
Queen yang melihat Chloe berdiri terpaku di samping guci melirik jam dinding dan seketika ia tersenyum sinis.
"Wah wah wah! Jadi jam segini baru sang putri pulang ya" ucap Queen sambil bertepuk tangan.
Steven melihat kearah depan dan menemukan Chloe berdiri tidak jauh darinya, pandangannya seketika melihat jam dinding dimana sudah jam 17:10 sore.
Mendengar perkataan Queen seketika Chloe tersadar dari lamunannya. Ia melihat Queen dan bergegas masuk tanpa memperdulikan ucapan Queen.
Merasa diabaikan Queen pun menjadi kesal dan berlari kearah Chloe.
Aarrggghhh.......
Teriak Chloe karena rambutnya ditarik dengan kuat dari belakang. Chloe melirik dan mendapati Queen berada tepat dibelakangnya sambil tersenyum sinis.
"Queen sakit lepas" ucap Chloe sambil menahan tangis dan rasa sakit di kepalanya.
"Sakit ya mau tambah lagi" ucap Queen sambil menarik rambut Chloe lebih kencang lagi.
"Saki....t sa...kit Qu..e...en" ucap Chloe dengan terbata-bata.
"Kemana aja loe baru pulang! Hah! Masih keluyuran kemana aja loe!" bentak Queen dengan suara tinggi sambil mendorong Chloe sampai terjatuh dilantai.
Brugh..........
Bunyi kencang sampai terdengar di semua penjuru mansion. Bi Rani dan para pelayan melihat Chloe dan ingin membantu mengurungkan niat saat mendapat tatapan tajam dari Queen.
"Princess udah dong jangan marah-marah terus" ucap Steven sambil mengelus kepala Queen dengan penuh kasih sayang.
Melihat pemandangan tersebut air mata Chloe tumpah karena dirinya tidak diperhatikan oleh kakaknya sendiri. Chloe melihat Steven dengan tatapan sedih.
Queen yang melihat tatapan sedih Chloe menjadi tersenyum bahagia. Ia maju dan mengambil dagu Chloe untuk menatap matanya.
"Sekali lagi gue tanya keluyuran kemana loe ampe baru pulang jam segini"
Chloe meringis menahan sakit karena rahangnya dipegang kuat bahkan kuku jari Queen sampai menusuk ke dalam.
"Tadi gue masih duduk dintaman baca novel sampai lupa waktu"
"Elah alasan aja loe. Bilang aja ngak mau bersih mansion makanya keluyuran"
"Gue udah jujur" ucap Chloe sambil menggelengkan kepalanya.
"Karena loe udah pulang telat maka harus dihukum" ucap Queen sambil tertawa sinis.
Queen berdiri dan menghampiri Steven sambil berbisik ditelinga Steven. Awalnya Steven terkejut dengan ide Queen tapi kemudian ia tersenyum mengiyakan ide dari sang adik.
Steven maju menghampiri Chloe yang masih terduduk dilantai sambil berderai air mata. Steven kasihan melihat Chloe tapi ia tampik semuanya itu mengingat mommy dan adiknya yang sudah mengalami kesusahan selama ini.
Plak........plak.........plak.......plak........
Empat tamparan di pipi kiri dan kanan Chloe seketika. Rasa sakit yang teramat bahkan perih dirasakan Chloe di kedua pipinya, ia bahkan merasa sudut bibirnya sobek karena rasa asin dari darahnya.
"Kamu itu udah ngecewain kakak Chloe!" bentak Steven.
"Maaf ka........hiks hiks" ucap Chloe sambil menangis.
Melihat hal itu Steven berdiri dan berlalu meninggalkan semuanya. Queen merasa kalau kakaknya itu pasti kasihan dan hal tersebut semakin membuat dirinya membenci Chloe.
Queen menarik Chloe masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintu dari dalam. Tak berselang lama teriakan kesakitan Chloe terdengar sampai diluar.
"Non yang kuat di dalam maaf bibi ngak bisa bantu non" ucap bi Rani sambil menyeka air matanya mendengar teriakan kesakitan Chloe.
Tidak ada yang tahu apa yang Queen perbuat didalamnya. Salahkan mereka semua yang tidak bisa menolong nona mudanya karena mereka hanya sebatas pekerja disini.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
30 menit Queen keluar dari dalam kamar Chloe sambil tertawa bahagia. Sampai di dapur ia mendapati kepala pelayan dan para pelayan melihat pintu kamar Chloe dengan tatapan sedih.
"Berani ada yang masuk ke dalam akan gue hukum seberat-beratnya" ucap Queen dengan suara tinggi.
Semua pada menunduk takut mendengar ancaman nona muda mereka.
"Ngerti ngak ya loe semua!" bentak Queen.
"Mengerti non" ucap mereka semua serentak.
"Good"
Queen berjalan meninggalkan mereka semua, ia sangat puas karena sudah memberikan hukuman yang setimpal kepada anak pembawa sial itu. Para pelayan saling melirik satu sama lain merasa kasihan kepada Chloe.
"Ikuti perintah dari non Queen jika tidak mau dihukum" ucap bi Rani.
"Tapi bagaimana dengan non Chloe madam" ucap Maya sang pelayan di bagian pakaian kotor.
"Kita akan cari cara membantu non Chloe tapi jangan sekarang nantinya ketahuan sama non Queen bisa tambah panjang lagi masalahnya"
"Baik madam" ucap mereke semua serentak.
Semua pelayan perlahan-lahan meninggalkan bi Rani sendiri disana. Bi Rani melihat pintu kamar Chloe dengan tatapan sedih.
Non serahkan semua beban permasalahan non kepada Tuhan dan yakinlah Ia pasti akan menolong non, batin bi Rani.
Di dalam kamar Chloe meringkuk di lantai seperti bayi dalam kandungan, ia menangis dalam diam menahan rasa sakit di dadanya dan tubuhnya.
"Ya Tuhan apa salah hamba-Mu ini. Sakit, sangat sakit sekali ya Tuhan, kenapa ka Steven tega lakuin semuanya itu demi adik angkatnya dibandingkan adik kandungnya sendiri. Apa salah Chloe ka kenapa kakak seperti ini" ucap Chloe sambil menangis meratapi semuanya.
Ia teringat apa yang di katakan oleh coach Arka di perguruan tadi.
#Flashbak on
"Ah! Coach bisa aja, kan Chloe jadi malu" ucap Chloe dengan cekikan.
"Hahahaaha! Kamu ini sangat rendah hati sekali nak Chloe"
"Hehehehe"
"Oh ya nak Chloe om mau ingatin satu hal sama kamu"
"Apa itu coach?" tanya Chloe dengan penasaran.
"Jika kamu sudah menjadi hebat jangan pernah menindas orang yang yang tidak mampu tapi bantulah mereka dengan segenap hatimu. Dan pakailah hatimu untuk menentukan sebuah keputusan karena jika hanya mengandalkan logika maka kamu akan menyesal pada akhirnya"
"Siap coach"
"Perjalanan kamu masih panjang ingat satu hal nak Chloe, syukuri apa yang ada saat ini dan jalanilah dengan ikhlas karena keikhlasan akan membawa kebahagian buat kamu kedepannya"
"Terima kasih coach untuk nasehatnya"
"Sama-sama nak Chloe" ucap Arka sambil tersenyum.
#Flashback off
"Ya aku harus ikhlas dan kuat jalani ini semua" ucap Chloe sambil berdiri dengan tertatih-tatih.
Chloe menyimpan tasnya di tempat tidur dan membuka seragamnya yang sudah berwarna merah karena d***h dari pelipisnya yang robek.
Ia ingin keluar mengambil air untuk membersihkan lukanya tapi ternyata pintunya dikunci dari luar.
Sabar Chloe pasti sebentar lagi pintunya terbuka, batin Chloe.
~ Mansion Rahardian ~
Sean sedang duduk dalam ruang biliar bersama teman-temannya. Pikiran dan hatinya sedari tadi tidak tenang memikirkan kekasihnya. Sean ingin menelpon tapi dirinya seperti bersalah mengingat perbuatannya tadi siang bersama sahabat sang kekasih.
Sepertinya aku harus menyelesaikan perempuan ja***g itu, batin Sean berpikir apa yang harus ia perbuat.
"Woi bro diam aja loe dari tadi" ucap Resa.
"Heeemm" deham Sean dengan wajah datar.
"Ya elah ini anak ditanya jawabannya gitu aja" ucap Resa sambil menggelengkan kepalanya.
"Ehh! Malam jadi balapan ngak" ucap Rey sambil memukul bola biliar.
"Jadi dong kan malam ini lawannya thu si anak SMA sebelah siapa lagi namanya" ucap Resa sambil mengingat nama musuh mereka dari sekolah sebelah.
"Justin Malik" ucap Angga.
Mendengar nama tersebut Sean mengangkat alisnya sebelah karena ia sangat tahu siapa Justin Malik itu, bahkan kejadian beberapa lalu antara dirinya dan si Malik itu.
"Urus semuanya dan malam ini gue bakal kalahin dia lagi" ucap Sean sambil tertawa sinis.
"Sip bos" ucap mereka semua serentak.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Waktu berlalu dengan cepat kini tepat pukul 23:00 malam Sean dan sahabatnya sudah sampai di area balapan. Banyak penonton dari berbagai kalangan yang hadir.
Mobil-mobil mewah berjajar di sepanjang jalan menuju area balapan. Bunyi musik DJ yang sangat kencang dicampur bau asap rokok menjadi pelengkap balapan liar malam ini.
Sean, Resa, Rey, Angga, dan Dito berdiri di depan mobil mereka masing-masing sambil melihat keadaan malam ini dan saingan mereka.
Pandangan Sean tertuju kepada seorang pemuda tampan dengan rambut gondrong dan anting di telinga, ya dia adalah lawan Sean malam ini Justin Malik.
Justin yang sedari tadi sudah tahu keberadaan Sean CS tertawa sinis. Ia masih dendam dengan perlakuan Sean kepadanya waktu itu sampai harus di rawat di rumah sakit selama sebulan penuh.
"Malam ini loe bakal mati ditangan gue" gumam Justin dengan emosi.
"Oke karena kedua penantang sudah hadir gimana kalau kita mulai aja" ucap Arsen selaku tim penyelengara balapan liar malam ini.
"Oke" ucap Sean dan Justin bersamaan.
Pandangan mata mereka berdua saling beradu. Sean tertawa sinis kearah Justin dan hal itu membuat Justin semakin emosi.
"Oke taruhannya yang menang dapat mobil dari yang kalah dan hanya 1 putaran saja deal" ucap Arsen.
"Yang kalah harus cium sepatu dari pemenang" ucap Justin dengan suara lantang.
Teman-temannya menyoraki Justin dengan penuh semangat. Sean hanya tertawa sinis mendengar hal tersebut.
"Gue terima"
Mereka berdua mengambil posisi di depan dan mulai menghidupkan mobil masing-masing.
"1....2....3....lets go" ucap Arsen yang berdiri di tengah-tengah.
Sean dan Justin menancap gas dengan kecepatan tinggi, mereka berdua terlihat seimbang memacu laju kendaraannya, pada belokan terakhir Sean yang sangat lincah dan lihai mengemudi melakukan drift dengan cepat dan meninggalkan Justin dibelakang.
Mobil Sean melaju dengan kecepatan tinggi dan masuk garis finish, sorak-sorai dari teman-temannya menyambut kemenangan Sean. Justin yang diposisi akhir sangat kesal dan emosi.
Ia keluar dari dalam mobilnya dengan membanting pintu. Ia berjalan kearah Sean dan melempar kunci mobilnya ke Sean beserta surat-suratnya. Sean menangkap dan tertawa sinis melihat Justin.
Justin berbalik dan hendak pergi tapi perkataan Sean menghentikan langkahnya.
"Apa loe ngak mau nyium kaki gue" ucap Sean dengan suara berat dan lantang.
Justin menarik nafasnya dalam dan berjalan menuju Sean. Sampai di depan ia berlutut dan mencium sepatu Sean dengan cepat. Resa yang merekam kejadian tersebut tertawa mengejek.
Teman-teman Justin diam dan menahan emosi karena teman mereka dipermalukan seperti binatang. Justin lalu berdiri dan melihat Sean dengan penuh emosi.
"Gue bakal balas semua ini"
"Gue tunggu" ucap Sean sambil tertawa.
Justin pergi dengan emosi beserta teman-temannya meninggalkan Sean disana. Sean pun mengajak semuanya untuk merayakan kemenangannya di club malam milik papanya.
Semua orang bersorak sambil masuk ke mobil dan pergi menuju club malam. Sampai disana Sean dan sahabatnya menghabiskan malam mereka dengan ditemani minuman dan perempuan sewaan.
Karena terbawa suasana Sean melupakan kekasihnya dan bersenang-senang dengan perempuan panggilan di club malam. Kakeknya yang mendapat kabar dari anak buahnya hanya tersenyum karena cucunya lebih parah dari sang ayah dan dirinya.
"Semoga kamu bisa mengerti dengan perkataan kakek waktu itu" ucap Bima sambil melihat foto Sean yang sedang meminum vodka bersama teman-temannya.
...βββββ...
To be continue........