Heartless

Heartless
Episode 37



Sean menghubungi Chloe untuk menanyakan perihal foto barusan tapi tidak diangkat. Sean yang saat ini sedang emosi melampiaskannya dengan menendang barang apa saja yang ada di sekitarnya.


"Awas loe bi**h jika semua itu benar loe bakal nerima neraka dari gue" ucap Sean emosi sambil menghantam meja kaca yang ada di depan tv.


Chloe yang sibuk membereskan semua barang-barangnya tidak tahu kalau hpnya berbunyi sedari tadi. Chloe lupa kalau tadi pagi setelah menerima telfon dari om Arka ia mengsilent hpnya.


Pada saat membereskan barang-barangnya tiba-tiba bi Rani bersama 2 pelayan masuk ke dalam kamarnya.


"Permisi non" ucap bi Rani.


"Iya bi ada apa"


"Nyonya menyuruh saya untuk membersihkan kamar non dan mengganti semua furniture dengan yang baru"


"Oh iya bi. Ni Chloe lagi beresin semua pakaian dan barang Chloe dulu bi"


"Kalau begitu biar kami bantu ya non"


"Wah makasih ya bi" ucap Chloe dengan senyum gembira.


Bi Rani dan 2 pelayan lalu membantu Chloe membereskan barang-barangnya. Ketika membereskan barang di atas meja belajar milik Chloe, Sukma sang pelayan melihat hp Chloe ada panggilan masuk.


"Maaf non hpnya ada panggilan masuk" ucap Sukma.


"Dari siapa"


"Ehmmm! Dari pangeran tampan non" ucap Sukma dengan menahan senyum.


Mendengar hal itu Chloe merasa sangat malu dan seketika wajahnya berubah menjadi merah padam seperti tomat masak.


"Eehheemmm" deham Chloe menetralkan rasa malunya sambil berjalan mengambil hpnya dan menelpon di balkon kamar.


^^^"Halo ka"^^^


"Loe udah berani ya sama gue" ucap Sean dengan teriakan marah dari seberang.


Chloe seketika terkejut dengan nada teriakan Sean barusan.


^^^"Maksud ka Sean apa"^^^


"Udah berani loe main di belakang gue"


^^^"Main apaan ka" ucap Chloe polos dan bingung dengan perkataan Sean.^^^


"Siapa laki-laki itu ja**ng"


Deg.......


Hati Chloe sakit ketika mendengar Sean memanggil dirinya dengan sebutan ja**ng. Seketika air mata Chloe jatuh di kedua pipinya.


^^^"Kenapa kakak ngomong Chloe kayak gitu" ucap Chloe dengan suara serak dan berderai air mata.^^^


"Ngak usah nangis buaya deh loe"


^^^"Apa salah Chloe ka"^^^


"Loe udah selingkuh di belakang gue" ucap Sean dengan penekanan.


..."Gue ngak pernah selingkuh dari loe" teriak Chloe karena dia ngak terima di tuduh selingkuh....


"Ngak mau ngaku ya loe, gue punya bukti loe sama laki-laki itu perempuan ja***g"


Mendengar dirinya dituduh dan disebut perempuan ja**ng hati Chloe sangat sakit. Seketika ia terjatuh dilantai dan menangis sejadinya.


Bi Rani yang melihat Chloe terjatuh di lantai berlari dan memeluk sang nona mudanya. Bi Rani melihat Chloe seakan berbeda dengan biasanya, dirinya yang ceria setiap waktu saat ini berubah menjadi pribadi yang rapuh dan lemah.


"Non udah jangan nangis lagi ya" ucap bi Rani sambil memeluk menenangkan Chloe.


Sean yang mendengar Chloe menangis histeris merasa hatinya sakit tapi egonya terlalu tinggi. Ia mematikan hpnya dan bergegas keluar dari apartemen menuju markas.


Ka kenapa loe tega sekali bilang gue perempuan ja***g. Chloe kecewa banget sama ka Sean, batin Chloe dalam pelukan bi Rani.


Chloe melepas pelukannya setelah ia berhenti menangis. Matanya yang sembab dan hidung merah membuat bi Rani sangat kasihan.


"Terima kasih ya bi" ucap Chloe sambil memaksakan senyum.


"Sama-sama non jangan bersedih lagi ya non" ucap bi Rani mengelus kepala Chloe.


"Iya bi"


Chloe kemudian berjalan masuk ke dalam kamarnya dan melanjutkan pekerjaannya yang terhenti. Selang 1 jam kemudian Chloe sudah selesai membereskan barangnya.


Bi Rani meminta pelayan yang lain untuk membantu membawa barang Chloe ke kamar barunya. Tiba di lantai satu bi Rani berjalan menuju ke arah kamar tamu tapi di hentikan oleh suara Chloe dari tangga atas.


"Bi bukan ke kamar yang itu" teriak Chloe dari atas sambil membawa kardus berisi novel kesukaannya.


"Maksud non Chloe?" tanya bi Rani dengan bingung.


"Barangnya Chloe bukan dimasukkan ke kamar tamu disana bi tapi kamar di samping dapur bi" jawab Chloe.


"Loh bukannya itu kamar milik sang koki ya non"


"Bukan itu juga bi" ucap Chloe yang sudah sampai di tangga bawah dan berlalu ke arah dapur.


Bi Rani dan para pelayan bingung melihat Chloe yang berjalan ke arah kamar di samping dapur tapi tetap mengikuti langkah Chloe.


"Nah disini kamar Chloe yang baru" ucap Chloe dengan senyum ketika sampai di depan pintu gudang penyimpanan.


Mereka semua sangat terkejut melihat Chloe ditempatkan di gudang penyimpanan. Bi Rani melihat Chloe yang masih senyum dengan wajah kasian.


Non kenapa nasib non harus kayak gini sih, batin bi Rani.


"Tapi ini kan gudang non" ucap seorang pelayan.


"Iya tapi bentar lagi ini sudah jadi kamar Chloe"


"Apa tidak apa-apa non" ucap bi Rani.


"Ngak apa-apa bi kan tinggal di bersihkan gudangnya bi"


Bi Rani dan pelayan kemudian menaruh barang Chloe di depan pintu dan berniat masuk ke dalam gudang untuk membersihkan.


"Kalian kenapa disini" ucap Steven yang sedang mengambil air minum di dapur.


"Kami mau membersihkan gudang tuan" ucap bi Rani.


"Memangnya kamar Queen sudah selesai" ucap Steven dengan nada datar.


"Belum tuan"


"Kalau belum kenapa kalian masih disini!" bentak Steven dengan suara tinggi.


Laura yang mendengar teriakan putranya di dapur menyusul untuk melihat apa yang sedang terjadi.


"Kenapa kamu teriak kayak gitu sayang" ucap Laura dengan lembut.


"Ini mom pelayan semuanya lelet banget" ucap Steven sambil menatap tajam pelayan.


"Memangnya ada apa sih" ucap Laura dengan bingung.


"Mereka belum selesai juga membersihkan kamar untuk Queen mommy"


"Kenapa belum selesai bi" ucap Laura dengan mata menatap tajam ke arah bi Rani.


"Mommy mereka ngak salah tapi Chloe. Tadi mereka bantu Chloe merapikan barang Chloe dulu mom"


"Memangnya kamu ngak bisa kerjain sendiri apa" ucap Laura dengan ketus.


"Bisa mom"


"Kalau begitu kerja sendiri jangan minta pelayan, kamu itu jadi perempuan jangan malas!" bentak Laura.


Hati Chloe sangat sakit mendengar perkataan Laura karena baru kali ini dirinya di katai malas oleh mommynya sendiri.


"Maaf mom" ucap Chloe berusaha menahan air mata yang siap jatuh.


"Sudah bubar semua biarkan Chloe kerja sendiri dan jangan ada yang membantunya mengerti" ucap Laura.


"Mengerti nyonya" ucap mereka serentak sambil berlalu melanjutkan pekerjaan mereka masing-masing.


Laura dan Steven kemudian berlalu ke kamar mereka masing-masing. Chloe yang hari ini merasa sakit hati tetap bersikap tenang dan menganggap kalau sang mommy hari ini mungkin sedang ada masalah sehingga suasana hatinya berubah.


Chloe masuk ke dalam gudang dan memindahkan barang yang di gudang ke gudang belakang mansion.


2 Jam kemudian


Chloe sudah selesai membersihkan gudang. Ia memasukkan semua barangnya ke dalam gudang yang sudah berubah menjadi kamarnya.


Meskipun ukurannya sangat kecil tapi Chloe bersyukur karena masih dapat tempat tidur yang layak. Chloe diberi kasur berukuran kecil seperti punya pelayan di kamar pelayan oleh bi Rani.


Chloe menerimanya dengan hati senang. Bi Rani yang melihat hal itu menjadi sedikit lega karena nona mudanya tidak pemilih.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


Sean sudah sampai di markas ia kemudian menuju tempat latihan untuk berlatih sekaligus melampiaskan emosinya. Sean masuk dan menuju tempat menembak.


Sean memilih senjata jenis M4 carbine dengan menggunakan peluru kaliber 5.54 x 45 mm NATO. Sean menembak ke papan tembak berulang kali dan terus menerus sampai peluru habis kemudian mengisinya lagi dan lagi.


Anak buah Riko yang melihat kemampuan menembak tuan muda mereka merasa takjub. Mereka tidak menyangka kemampuan tuan muda mereka sangat luar biasa di usia yang masih muda.


"Wah wah wah! Kemampuan yang sangat luar biasa" ucap Denis saudara sepupu Sean yang mengikuti Sean waktu dirinya berkunjung ke apartemen Sean.


"Ngapain loe disini" ucap Sean dengan suara dingin.


"Santai brother gue tadi mau main ke tempat loe tapi pas nyampe loe baru keluar jadi gue mutusin ikut aja loe"


"Cih!"


"Gue pengen belajar nembak juga dong"


Sean melirik ke anak buah yang disampingnya untuk mengajari sepupunya belajar menembak. Denis anak dari adik papa Sean dan dirinya sudah mengetahui markas milik kakeknya yang sudah menjadi milik papa Sean dari papanya.


Awalnya ia kaget ketika diberitahu sang papa tapi ia hanya ingin belajar melindungi diri dan tidak tertarik dengan dunia bawah, lain halnya dengan Sean yang sangat tertarik.


Selesai latihan menembak Denis mengikuti Sean menuju ruang latihan lainnya dan disitu ia melihat bagaimana Sean melumpuhkan lawan dengan bela diri.


Melihat anak buah sang om yang sudah kelelahan melayani sang tuan muda mereka, Denis pun meminta untuk berhenti karena kasihan melihat wajah dan tubuh mereka yang sudah babak belur.


"Bro santai dong kasian kan mereka" ucap Denis menepuk bahu Sean sambil menunjuk arah anak buahnya yang sudah kelelahan.


Sean hanya mengangguk kepala mengiyakan perkataan Denis. Sean berlalu kearah kamar pribadinya untuk membersihkan diri sebelum berangkat menemui kakeknya.


Selama membersihkan diri Sean terus teringat akan foto Chloe dengan seorang laki-laki yang sedang bergandeng mesra. Sean berpikir kalau ia akan mengunjungi Chloe setelah bertemu kakeknya.


Sean kemudian keluar dan menemui Denis untuk pergi ke mansion kakeknya. Mereka berencana akan makan siang bersama keluarga mereka disana.


Sean dan Denis mengendarai mobil sport mewah mereka masing-masing. Jalanan yang sepi menuju ke tempat kakeknya membuat mereka melajukan mobil dengan sangat cepat.


Para pengawal yang mengawal mereka sempat kesusahan mengejar tuan muda mereka masing-masing. Selang 30 menit mereka sampai di mansion kakeknya dan disambut oleh para pelayan.


"Selamat datang tuan muda Sean dan tuan muda Denis"


Sean hanya menampilkan wajah datarnya dan berlalu pergi beda dengan Denis yang menghambur pesonanya dengan senyum manis dan menggoda kepada pelayan.


Sampai di ruang keluarga ternyata papa dan ibunya serta saudara sepupunya dan om tante Sean sudah ada disana. Mereka sedang bercanda ria bersama.


"Kamu sudah datang sayang" ucap Maya berdiri sambil memeluk anaknya dengan lembut.


"Sayang udah dong peluknya" ucap Riko yang posesif kepada istrinya meski dengan anaknya sendiri.


"Cih!" decih Sean dengan mata malas melihat tingkah papanya.


"Mas kamu ini sama anak sendiri juga" ucap Maya tajam sambil melotot ke arah Riko.


"Kamu itu hanya milik aku aja sayang" ucap Riko tidak mau kalah.


Keponakannya hanya melihat tingkah om mereka dengan malas karena sudah biasa melihat tingkah omnya yang sangat posesif kepada tante mereka.


"Halo semuanya" teriak Denis dari arah pintu.


"Ngak usah ribut deh" ucap Sean dengan malas.


"Halo keponakan tante" ucap Maya mau memeluk Denis tapi di tahan Riko dan tidak jadi memeluk.


"Om jangan pelit gitu dong" ucap Denis.


"Peluk saja perempuan kamu diluar sana" ucap Riko dengan tatapan tajam.


Denis menjadi takut dengan tatapan tajam omnya dan ia berlalu menuju ibunya dan duduk di samping sambil memeluk ibunya.


"Papa senang kalian semua kumpul seperti ini di rumah papa" ucap Bima dengan tegas.


"Iya pa kami juga senang bisa datang ke sini" ucap Riki adik dari Riko.


"Papa mau setiap minggu luangkan waktu kalian sehari untuk keluarga kalian" ucap Bima memberi nasihat kepada anak-anaknya.


"Baik pa" ucap mereka semua dengan serentak.


Hari itu mereka menghabiskan waktu di mansion tua Rahardian. Sean yang tidak konsentrasi dari tadi hanya terlihat diam dari tadi.


"Sean ikut kakek ke ruang kerja kakek" ucap Bima sambil berjalan menuju ruang kerja miliknya diikuti tangan kanannya dan Sean.


Sampai didalam Bima duduk di kursi kebesarannya dan Sean yang melihat isi ruang kerja kakeknya.


"Kakek sudah mengetahui semua tentangmu Sean"


"Iya Sean tahu kek"


"Sama seperti papa kamu kakek tidak ingin kamu jatuh kedepannya hanya karena perempuan"


"Sean akan mengurusinya kek"


"Manfaatkan kelemahan lawan menjadi kekuatanmu dan jadikan kelemahanmu menjadi senjata musuhmu" ucap Bima memberi nasehat yang tidak dimengerti oleh Sean.


"Maksud kakek"


"Cari artinya dan jelaskan ke kakek jika sudah mengetahui maksudnya" ucap Bima dengan tegas.


"Baik kek" ucap Sean dengan tegas pula.


Bima kemudian memeluk pundak Sean dan kembali ke keluarganya dibawah. Sean terus memikirkan kata-kata kakeknya dan ia bertekad akan mencari tahu artinya secepat mungkin.


...❄❄❄❄❄...


To be continue.......