
π»Sebelum menilai orang lain nilailah dirimu sendiri terlebih dahulu apa kamu lebih baik darinya atau malah sebaliknyaπ»
.
.
.
.
Xavier masih tetap duduk di depan ruang ICU matanya tidak berkedip sedikit pun. Albert yang melihat bosnya hanya bisa diam menemani Xavier karena tahu saat ini bosnya sedang khawatir.
"Bos apa sebaiknya bos melihat anak bos dulu" ucap Albert.
"Hah! Anak" ucap Xavier seperti orang linglung.
Xavier berpikir mengenai ucapan Albert dan seketika ia sadar jika sedari tadi ia belum melihat anaknya. Xavier bangun dan pergi ke ruang inkubator yang tidak jauh dari ruang ICU.
Sampai di ruang inkubator ia melihat jika hanya ada seorang bayi disana yang tertera nama Mrs.Wesly. Xavier meneteskan air mata dari dinding kaca penghubung dirinya dan bayinya.
"Wajahmu sangat mirip dengan daddy jagoan" ucap Xavier penuh haru.
Tak lama seorang suster keluar dari ruang inkubator dan menghampiri Xavier dengan gugup. Ia tahu siapa Xavier dan bagaimana sifat dari pemilik rumah sakit ini.
"Permisi tuan mari silahkan masuk biar tuan bisa melakukan skin to skin dengan bayinya" ucap suster itu dengan gugup.
"Heemmm"
Xavier masuk dan melihat anaknya dari dekat, ia menjulurkan jari telunjuk lewat lubang di samping. Xavier tersenyum bahagia melihat jarinya di pegang erat oleh sang bayi.
"Xander Leonard Wesly" ucap Xavier dengan senyum hangat.
Baby Xander tersenyum saat mendengar namanya disebut. Xavier sangat ingin sekali mengendong anaknya tapi belum bisa.
"Jadi anak yang kuat seperti daddy dan besar akan melindungi mommy dan daddy mungkin juga dengan saudaramu yang lain son" ucap Xavier di samping kaca inkubator sang anak.
Xavier segera pergi meninggalkan anaknya karena harus terus memantau kondisi sang istri. Waktu berlalu dengan cepat dan tanpa terasa sudah pukul 22:00.
Sedari tadi Albert sudah menyuruh Xavier untuk menganti pakaiannya karena ada noda darah tapi Xavier tidak melakukannya. Bahkan makan pun hari ini Xavier belum makan apa-apa.
Tiba-tiba para suster berlari masuk ke dalam ruang ICU dengan panik. Kevin yang baru saja datang juga segera masuk ke dalam, melihat hal tersebut Xavier pun ikut masuk.
Xavier memakai pakaian steril dan kaget melihat tubuh sang istri yang kejang-kejang.
Kamu pasti kuat sayang aku mohon demi aku dan anak kita baby, batin Xavier dengan khawatir.
"Tekanan darah pasien menurun drastis dok" ucap sang suster.
"Dok jantung pasien melemah" ucap suster yang lain.
"Segera ambil alat pompa jantung" ucap Kevin dengan suara tinggi.
"Baik dok"
"Selamatkan istriku jika tidak nyawa kalian taruhannya" ucap Xavier dengan suara tinggi.
Semua suster sudah gemetaran ketakutan mendengar perkataan Xavier. Masalahnya hanya Tuhan yang bisa memegang kendali atas nyawa seseorang bukan manusia.
Kevin terus memompa denyut jantung Chloe agar stabil, suasana di dalam sana sangat panik karena tubuh Chloe masih kejang-kejang. Tak lama bunyi dektetor jantung menampilkan garis lurus semuanya seketika hening.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
"Bos.........hiks hiks hiks" ucap Kevin berderai air mata sambil mengelengkan kepalanya.
"Apa maksudmu Kevin" ucap Xavier dengan suara tinggi.
"Hiks hiks hiks.......nyonya sudah tidak ada lagi bos.........hiks hiks hiks" ucap Kevin dengan histeris.
Deg............
Tubuh Xavier menegang mendengar ucapan Kevin barusan. Ia tidak bisa menerima apa yang baru saja dibilang oleh Kevin, air matanya mengalir dengan deras seakan ada seribu jarum menusuk jantungnya.
"Baby kamu masih hidupkan kamu tidak tinggalin aku dan anak kita kan..........hiks hiks.......bangun sayang bangun.........hiks hiks hiks hiks" teriak Xavier mengguncang tubuh Chloe.
Para suster di dalam sana ikut menangis melihat orang yang paling dingin selama ini menangis dengan pilu. Albert dan Thomas yang mendengar suara teriakan Xavier segera masuk ke dalam ruang ICU.
Keduanya kaget melihat semuanya menangis dengan pilu terlebih Xavier yang terus mengguncang tubuh Chloe. Albert menatap Kevin meminta jawaban dan hanya gelengan kepala Kevin tanda Chloe sudah tiada.
"Tidak mungkin kamu pasti bercandakan Kevin" teriak Albert dengan emosi.
"Nyonya sudah tidak ada lagi.............hiks hiks hiks" ucap Kevin sambil menangis.
Air mata Thomas dan Albert jatuh dengan deras, keduanya ikut merasakan apa yang dirasakan oleh Xavier. Xavier masih terus memanggil nama Chloe sambil menangis meraung.
"Sayang jangan tinggalin aku dan anak kita........hiks hiks hiks hiks hiks........apa kamu akan ninggalin aku seperti kedua orang tuaku.......hiks hiks hiks......aku mohon bangun sayang........hiks hiks" ucap Xavier dengan tangisan pilu.
"Bos ikhlaskan nyonya....... hiks hiks hiks" ucap Albert dengan air mata.
Bugh......brak.........
Seketika Albert jatuh dilantai karena pukulan Xavier. Aura membunuh seketika terasa di dalam ruangan tersebut, tatapan mata Xavier menusuk seperti pedang yang siap menusuk jantungmu.
"Istriku belum mati jaga ucapanmu Albert!" bentak Xavier dengan suara tinggi.
"Kamu belum pergikan sayang..........hiks hiks hiks.........bagaimana nasib aku dan anak kita nanti.............hiks hiks hiks" ucap Xavier dengan derai air mata.
Semuanya diam membiarkan Xavier agar lebih tenang. Xavier terus mengguncang tubuh kaku Chloe tapi tidak ada reaksi apapun.
"Apa kamu tahu Xander anak kita sangat mirip denganku sayang.........hiks hiks hiks..........aku mohon jangan tinggalkan kami sayang.........hiks hiks" ucap Xavier sambil menangis pilu.
Tak lama bunyi detektor jantung Chloe kembali berbunyi. Kevin dan lainnya kaget melihat mukjizat yang baru saja terjadi, Xavier mencium kening Chloe dengan lembut melihat denyut jantung sang istri ada lagi.
"Kevin" ucap Xavier dengan suara tinggi.
"Biar aku periksa dulu bos" ucap Kevin dengan bahagia.
Xavier tersenyum bahagia melihat keajaiban yang baru saja terjadi. Albert memeluk tubuh sang bos sambil menangis karena terharu dengan apa yang baru saja terjadi.
"Kondisi nyonya sudah stabil dan nyonya sudah melewati masa kritisnya bos" ucap Kevin dengan bahagia.
"Terima kasih Tuhan" gumam Xavier penuh syukur.
"Tapi"
"Tapi apa Kevin" ucap Xavier dengan panik.
"Nyonya mengalami koma saat ini bos dan kita hanya bisa berdoa agar nyonya cepat bangun dari komanya" ucap Kevin menjelaskan.
"Apa" ucap Xavier dengan kaget.
Ia tak menyangka akan mendengar hal tersebut, ia berpikir jika istrinya sudah baik-baik saja tapi ternyata dirinya kembali mendapat kabar yang sangat membuatnya lemah.
"Aku yakin nyonya akan sadar secepatnya bos" ucap Kevin memberi semangat kepada Xavier.
"Lakukan apapun untuk kesembuhan istriku Kevin" ucap Xavier dengan suara lemah.
"Iya bos" ucap Kevin.
Chloe lalu dipindahkan ke ruang VVIP di lantai 7 khusus pemilik rumah sakit. Xavier juga meminta agar bayinya juga ditaruh disana agar ia bisa mengontrol keduanya dengan mudah.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
~ Mansion Xavier ~
Pak Max yang mendengar berita mengenai Chloe segera memberitahu kepada semua pelayan dan penjaga mansion. Mereka dengan tulus berdoa agar sang nyonya segera sadar.
Anak buah Xavier di markas juga turut sedih mendengar kisah nyonya mereka. Mereka sangat mengenal sosok Chloe yang baik hati dan ramah kepada siapapun tanpa memandang statusnya.
Pak Max segera menyiapkan semua kebutuhan tuannya karena tahu sang tuan tidak akan meninggalkan sang istri.
"Semoga nyonya lekas sembuh" ucap pak Max dengan tulus.
~ Wesly Hospital ~
Di dalam ruangan kamar Chloe saat ini Xavier tengah memandang kedua orang yang dicintainya dengan sedih.
"Bos" ucap Albert.
"Aku tidak tahu bagaimana jika Chloe meninggalkan diriku seperti tadi Albert"
"Nyonya orang yang kuat bos aku yakin nyonya akan segera sadar" ucap Albert dengan tulus.
"Heeemmm"
"Bos anda harus makan karena dari siang tadi bos belum makan"
"Aku tidak lapar Albert"
"Ingat pesan nyonya bos untuk selalu jaga kesehatan dan makan bos, apalagi saat ini pasti nyonya sedih karena bos menghukum diri bos sendiri"
Memikirkan ucapan Albert dirinya tahu jika sang istri tidak suka jika ia terlambat makan. Xavier lalu meminta Albert untuk menyiapkan makan malam untuknya.
Albert tersenyum bahagia melihat sang bos yang sudah mau makan. Waktu berlalu dengan cepat dan tak terasa sudah pagi hari.
"Selamat pagi baby aku harap kamu segera sadar" ucap Xavier sambil mencium kening Chloe.
"Selamat pagi jagoan daddy cepat sembuh ya jagoan daddy" ucap Xavier melihat baby Xander.
Xavier segera membersihkan tubuhnya karena ini waktunya untuk membalas semua yang dialami oleh sang istri. Albert menyuruh semua anak buahnya untuk berjaga di lantai ini dan di sekitar rumah sakit.
Ia tak mau jika berita mengenai kelahiran pewaris Wesly Group tersebar. Itu akan sangat berpengaruh terhadap keselamatan sang nyonya dan bos muda mereka.
Thomas bertugas di perusahaan menghendel semua pekerjaan Xavier dan Albert. Hanya dirinya yang bisa diandalkan disini karena Albert akan selalu berada di sisi sang bos.
"Hey dude apa kamu sudah sarapan" ucap Kevin yang baru saja datang.
"Belum" ucap Albert dengan datar.
"Kalau begitu ayok kita makan" ajak Kevin.
"Aku masih harus menyiapkan keperluan bos"
"Oh ok kalau begitu aku mau periksa nyonya dulu"
Kevin menghentikan langkahnya karena tahu jika sang bos tidak suka privasinya diganggu. Tak lama Albert mendapat pesan untuk masuk ke ruang rawat Chloe.
Sebelum itu ia sudah memberi tahu pak Max untuk membawa sarapan buat sang bos. Albert dan Kevin segera masuk ke dalam dan melihat Xavier duduk di sofa dengan penampilan mewahnya.
"Pagi bos" ucap keduanya serentak.
"Heeemmm! Periksa keadaan Chloe dan Xander" ucap Xavier dengan suara dingin.
"Xander namanya bos" ucap Kevin sambil menunjuk baby Xander.
"Heeemmm"
"Uhhh! Nama yang bagus bos nama lengkapnya bos" ucap Kevin dengan semangat.
"Xander Leonard Wesly" ucap Xavier dengan suara tegas.
"Namanya seperti almarhum daddy nyonya bos" ucap Kevin.
"Heeemmm! Aku ingin nama anakku ada nama mertuaku dan aku disana" ucap Xavier dengan suara tegas.
"Nama yang bagus bos aku suka" ucap Kevin dengan riang.
"Selamat akan kelahiran bos muda bos" ucap Albert dengan tulus.
"Terima kasih Albert" ucap Xavier dengan tulus.
"Iya sama-sama bos" ucap Albert.
Kevin terus menatap baby Xander dengan penuh kekaguman. Ia sangat kaget saat melihat ternyata wajah baby Xander duplikat dari Xavier.
^^^γ γ γ π π π π γ γ γ^^^
"Pantas aja masih di dalam perut sifat nyonya persis seperti bos ternyata anaknya duplikat banget daddynya" gumam Kevin dengan suara pelan
"Kevin" ucap Xavier dengan suara dingin.
"Hehehehe! Sorry bos aku sangat terpesona dengan baby Xander sampai lupa periksa nyonya" ucap Kevin dengan cengesan.
Kevin segera memeriksa Chloe tapi harus memakai sarung tangan. Ia sudah tahu tabiat dari sang bos jadi ia sudah mempersiapkan segala sesuatu.
Albert pun segera memberikan laporan mengenai semua kejadian kemarin dari awal sampai akhir. Setelah memeriksa Kevin juga memberitahu seorang misterius yang kemarin juga membantu mereka dan Albert juga sudah mengetahui siapa orang tersebut.
"Jadi diam-diam berengsek itu mengirim pengawal untuk menjaga istriku" ucap Xavier dengan sinis.
"Iya bos" ucap Albert dengan suara dingin.
"Bos kondisi nyonya sudah lebih baik tinggal menunggu nyonya sadar dari komanya" ucap Kevin.
"Heemmmm"
"Semua anak buah orang itu sudah berada di markas bos dan penembak itu juga sudah ditangkap" ucap Albert memberi iPad cctv di markas.
Xavier tersenyum sinis melihat rekaman itu dan ia sudah tidak sabar memberi mereka pelajaran. Akan ku habisi kalian karena sudah mengusik keluargaku, batin Xavier penuh emosi.
"Suruh Mike berjaga di lantai ini" ucap Xavier dengan suara dingin.
"Baik bos" ucap Albert.
"Kevin selama aku pergi kamu tidak boleh meninggalkan ruangan istriku sedikit pun" ucap Xavier dengan tatapan tajam.
"Oke bos tapi bos mau kemana" ucap Kevin.
"Menghancurkan keluarga berengsek itu" ucap Xavier dengan aura membunuh.
Kevin dan Albert saling melirik karena tahu bos mereka saat ini sangat emosi.
Sepertinya kematian sedikit lagi akan menghampiri keluarga berengsek itu, batin Albert.
"Bos pacarku akan tiba sore nanti dia akan menemani nyonya" ucap Albert.
"Wait dude sejak kapan kamu punya pacar" ucap Kevin dengan kaget.
"Ck!! Bukan urusanmu" ucap Albert dengan kesal.
"Sialan dasar kulkas berjalan" gumam Kevin dengan pelan.
"Suruh Ken persiapkan anak buah kita dan besok kita akan memberi mereka suprise" ucap Xavier dengan senyum penuh arti.
"Baik bos" ucap Albert dengan senyum misterius.
Kevin dan Albert segera keluar saat pak Max datang membawa sarapan Xavier. Hari ini Xavier akan menemani sang istri sampai Mira datang menemani sang istri baru ia akan memberi pelajaran kepada anak buah Juan.
"Semuanya sudah siap tuan" ucap pak Max.
"Heemmmm"
"Tuan selamat atas kelahiran tuan muda" ucap pak Max dengan tulus.
"Sepertinya anakku akan membuat penghuni mansion kerepotan nantinya" ucap Xavier dengan senyum tipis.
"Saya akan menunggu saat itu tuan" ucap pak Max sambil tersenyum hangat.
Xavier mulai sarapan di temani oleh pak Max. Ia sangat sedih karena setiap hari pasti sang istri yang akan menemani dirinya sarapan dan makan malam.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Waktu berlalu dengan cepat tak terasa hari sudah sore. Sore tadi Mira sampai di bandara dan dijemput langsung oleh Albert, keduanya lalu menyimpan barang Mira di apartemen dan segera menuju ke rumah sakit.
"Jaga istriku dan anakku jangan biarkan satu orang pun masuk selain Kevin dan Mira" ucap Xavier dengan suara dingin kepada Mike.
"Baik bos dan selamat atas kelahiran bos muda" ucap Mike dengan suara dingin.
"Heemmm! Terima kasih" ucap Xavier.
Mike tersenyum tipis saat mendengar ucapan terima kasih dari Xavier. Baru kali ini sang bos mengucapkan terima kasih atas perkataannya.
~ Roma, Italia ~
Katy kaget bukan main saat mendapat informasi mengenai Chloe. Awalnya ia bahagia saat membaca data diri Chloe tapi lebih kaget saat mengetahui informasi mengenai cucunya yang dipukul habis-habisan oleh keluarga angkatnya.
"Beruntung keluarga mereka sudah hancur jika tidak aku sendiri yang akan turun tangan langsung" ucap Katy dengan emosi.
Katy terus membaca informasi dari Sebastian dan juga tentang suami Chloe yaitu Xavier Arthur Wesly. Entah kenapa nama itu sangat familiar di telinganya seperti ia pernah mendengar nama itu.
"Jangan bilang dia adalah cucu dari Esma Wesly" ucap Katy dengan kaget.
Ia tak menyangka jika cucunya akan menikah dengan cucu dari orang yang sudah dibunuh oleh suaminya. Katy masih ingat saat Robert membantu nenek Esma membunuh suami, anak serta menantunya.
"Kenapa takdir bisa seperti ini apa kalian bisa saling menerima jika mengetahui kebenaran ini" ucap Katy dengan frustasi.
Ia stres memikirkan bagaimana nasib rumah tangga cucunya nnti. Apa lagi saat mengetahui jika suaminya adalah dalang di balik kematian kedua orang tuanya dan juga mertuanya.
"Robert apa ini balasan untukmu atas segala dosamu dulu" gumam Katy dengan perlahan.
Di ruang kerja Robert saat ini ia sedang berbicara serius dengan pengacaranya. Ia meminta merubah semua aset milik Juan menjadi miliknya kembali.
"Apa tuan sudah yakin dengan keputusan ini" ucap pengacara pribadinya.
"Ya aku sangat yakin" ucap Robert dengan suara tegas.
"Baik tuan kalau begitu secepatnya akan saya kirimkan kepada tuan muda Juan"
"Baiklah terima kasih atas kerja kerasmu"
"Sama-sama tuan itu sudah menjadi tugas saya" ucap pengacara Robert.
"Heemmm"
Pengacara Robert segera pergi meninggalkan Robert di ruang kerjanya. Ia segera menghubungi Emilio untuk menanyakan dimana Juan saat ini dan hasilnya sangat membuat dirinya kecewa.
"Kamu belum berubah juga dengan sifat binatangmu itu Juan" gumam Robert dengan emosi.
Hanya dia, Emilio, dan tangan kanannya yang mengetahui kelainan s**s anaknya. Ia akan puas menyalurkan hasratnya dengan kasar kepada anak dibawah umur dan melakukannya dengan kasar seperti binatang.
~ California, Los Angeles ~
Suara teriakan kesakitan menggema di dalam markas Xavier. Anak buahnya menonton aksi dari teman-teman mereka yang sedang menyiksa anak buah Juan.
"Bawa pisauku kesini" ucap Xavier dengan suara sinis.
Ken memberikan pisau kecil berwarna hitam dengan ukuran naga emas. Itu adalah pisau favorit milik Xavier yang biasa digunakannya untuk melakukan aksinya.
Teriakan kesakitan bergema saat Xavier mer***k k***t tangan anak buah Juan. Xavier sangat emosi mengingat istrinya yang ditembak sampai membuat Chloe harus koma saat ini.
D***h bercucuran disana membuat ruangan tersebut berbau anyir. Xavier terus mengukir tubuh penembak itu dengan sadis, bahkan wajahnya sudah tidak kelihatan lagi.
Dor......dor......dor......dor.....dor.....dor.....
Bunyi tembakan bergema di dalam ruangan tersebut. Xavier, Albert, Thomas, Ken, dan Sam semuanya bermandikan d***h orang-orang itu.
"Beri makan peliharaanku dengan tubuh mereka" ucap Xavier dengan suara dingin.
"Baik bos" ucap anak buahnya serentak.
Sebelum Xavier pergi semua anak buahnya berdiri rapi ingin mengatakan sesuatu. Suara bagai deru ombak terdengar jelas saat semua anak buahnya mengucapkan selamat.
"Selamat atas kelahiran bos muda bos" ucap anak buah Xavier serentak.
"Terima kasih kita akan merayakannya setelah istriku sadar" ucap Xavier dengan suara tegas.
"Baik bos" ucap semuanya serentak.
Xavier lalu pergi menuju ke ruangannya untuk membersihkan diri. Sebelum pergi dari markas Albert sudah memberitahu Ken untuk segera bersiap karena hampir siang mereka akan berangkat.
"Tunggu kedatanganku keluarga Nidas" ucap Xavier dengan aura membunuh.
...βββββ...
To be continue..............
Jangan lupa vote, like, dan komen yang sebanyak-banyaknya ya guysπβ€