
Indira bangun tidur dengan kepala berat. Kepalanya seperti baru saja ditimpuk batu.. Pusing. Dengan langkah berat dan tertatih ia menuju ke dapur apartemennya dan membuat segelas teh panas. Dia berharap dengan meminum teh panas bisa meredakan sakit kepalanya itu.
Tidurnya terusik karena suara handphone yang berdering terus menerus. Dia mengabaikan itu. Dia tahu kalau yang mengirimkan pesan dan telfon bertubi-tubi adalah Alex. Sudah bisa ditebak karena itulah kebiasaannya. Jika kita marahan pasti dia dulu yang akan minta maaf. Dia paling tidak tahan aku diamkan. Tapi aku juga nggak tahan denger rengekan dia terus menerus tiap kali marah. Kalau ada suatu hal nggak disukai dia langsung marah. Liat aja sampai kapan kamu tahan untuk meminta maaf padaku. Tiap marah selalu aku yang mengalah. Kali ini aku mau egois sekali saja padanya. Biar dia yang mengalah bukan aku.
Mengabaikan suara dering handphone nya, Indira mengoleskan selai cokelat di setangkup roti yang diambilnya dari salah satu rak penyimpanan di dapurnya. Sia butuh mengisi perut dan minum obat agar sakit kepalanya cepat hilang. Sungguh Indira tidak tahu apa penyebab sakit kepalanya yang sering timbul pada pagi hari. Menang dia sering kurang tidur karena pekerjaannya yang sangat banyak. Dia sering tidur larut dan bangun pagi-pagi sekai untuk bekerja. Tanggung jawabnya besar di perusahaan sehingga dia tidak mau perusahaannya kacau karena kerja dia yang tidak berintegritas.
Kalau dalam bekerja, Alex adalah panutannya. Dia tidak pernah mengingkari kalau memang Alex adalah orang yang paling sukses yang pernah dikenalnya. Alex adalah motivasi bagi dirinya. Tapi sayang Alex bukanlah tujuannya. Sekarang mungkin iya tapi besok belum tentu.
Setelah selesai makan pagi, Indira pun mulai bersiap-siap untuk ke kantor. Hari masih pagi. Bisa dilihat dari jendela apartemennya matahari baru saja terbit di tengah-tengah gedung pencakar langit Kota Jakarta. Indira sangat suka dengan pemandangan ini. Sudah dari lama Jakarta adalah tujuan hidupnya. Menaklukkan Jakarta adalah impiannya. Kota impian masa kecilnya. Akhirnya sekarang dia bisa tinggal di slaah satu gedung pencakar langit yang dulu hanya bisa diluhatnya di layar televisi di rumah neneknya.
Indira tersenyum mengingat apa yang sudah dilaluinya selama ini sampai dia bisa mendapatkan semua ini sebelum dia terusik dengan suara dering handphone nya lagi. Itu Alex. Dia masih mengabaikannya dan memilih untuk berangkat ke kantor.
Mengendarai mobilnya dia mendengarkan sebuah lagu dari radio. Lagu Terserah dari Glenn Fredly mengalun indah. Diapun mulai ikut menyanyikan lagu itu.
*Dimana arti sebuah kesetiaan
Bila hanya dalam kata-kata
Kucoba untuk bertahan
Namun aku tak sanggup
Sungguh tak mampu sayangku
Terserah kali ini
Sungguh aku tak 'kan perduli
Ku tak sanggup lagi
Jalani cinta denganmu
Biarkan ku sendiri
Tanpa bayang-bayangmu lagi
Ku tak sanggup lagi
Hou- u wo wa*
--------------------------------------------
Pintu lift terbuka dan Dewi sudah menunggu didepan pintu tersenyum menyambutnya. Tugas seorang asisten selain selalu mengurus keperluan Bos tapi juga harus datang lebih cepat daripada Bosnya. Dengan membawa sebuah buku catatan, Dewi mengikuti atasannya menuju ruangannya.
"Selamat pagi Bu"
"Pagi. Bagaimana jadwal saya hari ini?"
"Anda ada meeting dengan sebuah perusahaan iklan PT Andara pada jam 08.30, lalu meeting dengan PT Sentosa Finance pada jam 10.00 untuk membahas asuransi para karyawan dan terakhir anda ada meeting dengan Tuan Alex Abraham pada jam 12.00.."
"Tunggu.. untuk apa saya meeting dengan Tuan Alex?"
"Oh ini.. permintaan dari Tuan Alex sendiri bu.. eeeeeh katanya.. katanya ada yang harus dibicarakan dengan ibu," jawab Dewi dengan terbata-bata.
"Saya tidak bisa jam 12.00 itu waktu istirahat saya. Bilang ke Tuan Alex saya tidak bisa"
Gile aje nih bos gue kan dia tau si Alex ini siapa. Dia Bos dari segala Bos di perusahaan ini. Semua orang se tanah air juga tahu kalau mereka ada hubungan. Ngapain ngelibatin gue yang remah-remah ini sih di masalah mereka.. Gue ini cuma asisten you know lah "K-A-C-U-N-G". Diancem sana sini matilah gue. Mau makan apa gue kalau dipecat. Kalau kayak gini gue kan jadi lebih milih mihak yah siapa kalian tahulah. Big Boss pastinya.
"Kata Tuan Alex ini perintah bu.. dan ibu tidak bisa nolak. Katanya pertemuannya di Abraham's Cafe and Resto di Hotel Abraham Kemang bu.."
"dan juga katanya ibu akan dijemput jam 11.30 tepat oleh Pak Yuda supir Tuan Alex sendiri," sambung Dewi mencegah kata penolakan yang akan dikeluarkan atasannya.
Indira semakin kesal dengan tingkah seenaknya dari Alex kepadanya. Dia kemudian duduk dan mulai mengecek handphone nya mempertimbangkan untuk membalas salah satu pesan Alex dengan kata-kata kasar. Tapi segera ia urungkan mengingat siapa Alex. Penguasa dari seluruh kemewahan ini. Siapa pun tahu aku tidak mungkin memenangkan peperangan apapun diantara kita.
"Oke.. sampaikan ke Tuan Alex kalau tidak usah menjemputku."
"Baik bu.. Oh ya satu lagi nanti jam 15.00 saya jadwalkan ibu untuk cek rutin ke ruangan staf keuangan. Apakah ibu bersedia?"
"baiklah'"
Persetujuan dari atasannya membuat Dewi lega sehingga dia dapat kembali kemejanya dengan tenang tanpa harus berkonfrontasi dengan Big Bos Tuan Alex karena penolakan atasannya Indira Cahyati. Bagus Dewi You Did a Great Job HAHA!!