
π»Sepandai-pandainya kamu melompat suatu saat kamu pasti bisa terjatuh seperti kebohonganmu suatu saat akan terbongkarπ»
.
.
.
.
Mendengar perkataan Chloe barusan membuat keduanya seketika mendadak pucat. Calista sudah membayangkan hal-hal yang tidak-tidak, ia serasa ingin memuntahkan semua yang barusan masuk ke mulutnya.
Karin sudah berlari keluar menuju mobil karena tidak kuat lagi melihat makanan didepannya. Chloe tersenyum sinis melihat wajah putih Calista yang mendadak pucat seperti mayat.
"Kakak kenapa ngak lanjut makannya?" tanya Chloe dengan wajah polos.
"Ahhh! A...ku...permisi ada kerja...an mendad...ak" ucap Calista dengan terbata-bata.
Ia langsung berlari keluar dari warung karena tidak tahan lagi. Baru 4 langkah Calista segera memuntahkan isi perutnya. Chloe tertawa terbahak-bahak dari dalam warung melihat wajah Calista yang sudah seperti mayat saja.
Karin yang sudah lebih baik memapah Calista menuju mobil untuk segera pergi dari sana. Setelah membayar makanan mereka semua Chloe dan Kevin segera kembali ke perusahaan.
Hahahaha...........
"Sumpah tadi mukanya Calista seperti zombie" ucap Kevin tertawa terbahak-bahak.
Keduanya tertawa sampai air mata keluar mengingat wajah Calista dan Karin kaget saat mengetahui bagian mana daging yang mereka makan.
"Apa benar nyonya tadi mereka makan bagian buntut sapi"
"Iya benar kan namanya sop buntut jadi otomatis bahan utamanya buntut sapi"
Hahahaha..............
Tawa Kevin kembali pecah mendengar penuturan Chloe, Xavier yang mendengar semua ucapan mereka juga tertawa di dalam ruangannya. Albert dan Thomas saling melirik dengan bingung pasalnya bos mereka tertawa sendiri-sendiri.
Tak lama pintu ruangannya terbuka dan masuklah Chloe bersama dengan Kevin yang belum berhenti dari tertawanya. Chloe sendiri segera berjalan menuju sang suami dan duduk di pangkuan Xavier.
Awalnya Xavier kaget melihat sifat istrinya yang sedikit manja hari ini bahkan sang istri yang biasa malu mengumbar kemesraan tidak malu duduk di pangkuannya seperti biasanya. Tak mau perduli ia malah lebih senang karena sang istri yang manja.
"Apa kamu puas sayang?" tanya Xavier dengan lembut.
"Sangat puas sayang" jawab Chloe sambil tersenyum lebar.
"Aku yakin saat ini wanita ja***g itu sangat emosi dan kesal" ucap Xavier sambil tertawa kecil.
"Kamu benar sayang" ucap Chloe sambil terkekeh.
"Bocah berhentilah tertawa" ucap Thomas dengan kesal melihat Kevin yang masih tertawa.
"Sumpah dude ini itu lucu banget" ucap Kevin dengan wajah merah padam karena tertawa.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Albert dengan bingung.
"Kalian suruh saja Kevin menceritakan semuanya" ucap Xavier dengan suara dingin.
Kevin lalu menceritakan semuanya tentang Calista dan asistennya saat mereka baru sampai di depan warung. Kevin juga menceritakan bagaimana wajah keduanya saat mengetahui jenis makanan yang mereka makan tadi.
Hahahaha.........
Seketika tawa Albert dan Thomas pecah mendengar cerita dari Kevin. Keduanya bisa membayangkan bagaimana wajah cantik Calista berubah menjadi pucat seperti mayat.
"Ide nyonya benar-benar top" ucap Thomas.
"Aku pengen lihat muka model internasional itu saat makan buntut sapi" ucap Albert sambil tertawa kencang.
Mereka dalam ruangan tersebut tertawa puas sudah berhasil mengerjai Calista. Tapi berbeda dengan Xavier yang seketika menampilkan raut wajah emosi saat membaca laporan dari anak buahnya.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Xavier menatap tajam Albert yang masih tertawa di sofa, seketika Albert menghentikan tawanya saat mendapat tatapan tajam dari sang bos.
Beruntung Chloe sedang fokus dengan instagramnya dan tidak sempat melihat tatapan isyarat Xavier ke Albert. Albert segera membuka email di laptopnya dari anak buah mereka, ia lalu berdiri dan berjalan keluar.
"Cegah semua pergerakan mereka" ucap Albert dengan suara dingin saat sudah diluar ruang Xavier.
Wanda yang mendengar nada dingin Albert seketika merinding takut. Mike dan anak buahnya segera pergi saat mendapat isyarat mata dari Albert.
Ternyata anak buahnya mengabarkan jika anak buah milik Sean sedang mencari tahu pengirim amplop tadi pagi. Albert memerintahkan anak buahnya untuk menghalangi semua informasi yang di dapat mereka.
~ Rumah Sakit Kota ~
Saat ini suasana dalam ruang rawat Queen sangat mencekam. Steven menatap Sean dengan wajah emosi tidak terima dengan perlakuan Sean kepada adiknya.
"Apa yang loe lakukan kepada adik gue bajingan" teriak Steven dengan suara tinggi.
Aurel berdiri di samping suaminya dan mengelus dada suaminya agar tidak emosi. Maya sendiri hanya diam tidak bisa berbuat apa-apa.
"Dia pantas mendapat perlakuan seperti itu" ucap Sean dengan suara dingin.
"Loe ngak pantas buat adik gue kayak gini!" bentak Steven.
"Ini urusan rumah tangga gue jadi loe ngak usah ikut campur!" bentak Sean.
Steven lalu maju ke depan untuk memukul Sean tapi ia kalah cepat dari Sean yang sudah memukulnya lebih dulu. Maya berteriak sambil menangis menyuruh keduanya berhenti tapi tidak dianggap mereka sama sekali.
Riko yang baru masuk kaget melihat keduanya yang sedang berkelahi, lalu mendorong keduanya dengan sekali hentakan.
"Cukup!" bentak Riko dengan suara tinggi.
Maya dan Aurel mendekat ke arah Steven dan Sean menahan keduanya untuk tidak berkelahi lagi. Sean menatap tajam kakak iparnya dengan raut penuh kebencian begitu pula dengan Steven.
"Apa kalian tidak lihat jika saat ini ada pasien di depan kalian! Hah!" bentak Riko.
"Maaf pa, om" ucap keduanya serentak.
"Apa yang buat kalian bisa bertengkar seperti anak kecil?" tanya Riko dengan tatapan tajam.
"Tanya pada anak om yang sudah memukul adik aku" ucap Steven dengan emosi.
Riko melihat ke arah Queen karena belum melihat wajah Queen sedari tadi, wajahnya terdapat bekas tamparan di kedua pipinya dan luka sobek di bibirnya. Riko lalu menatap tajam Sean meminta penjelasan meski sudah mengetahui hal tersebut.
"Itu akibat karena sudah menipu dan menjebak aku pa" ucap Sean dengan tatapan tajam.
"Apa maksudmu?" tanya Steven dengan suara tinggi.
"Tanya pada adik sialanmu itu" desis Sean dengan tajam.
"Sean" ucap Maya dengan tatapan tajam ke arahnya.
Sean langsung membalikan wajahnya ke arah lain tidak mau melihat tatapan sang ibu saat ini. Riko segera menyuruh mereka untuk membahas masalah ini saat keadaan Queen sudah pulih.
Steven kemudian berlalu pergi tidak memberi salam kepada mereka dengan suasana hati panas. Aurel lalu segera pamit dan mengejar sang suami yang sudah lebih dulu keluar.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Di dalam ruangan rawat Queen, Sean keluar karena tidak tahan melihat wajah Queen yang membuatnya emosi. Maya segera menatap tajam sang suami meminta penjelasan mengenai anak mereka.
"Kenapa sayang?" tanya Riko dengan lembut.
"Mas pasti tahu apa masalah mereka kan" ucap Maya dengan tegas.
"Hah! Iya sayang"
"Apa yang terjadi dengan keduanya mas?" tanya Maya penasaran.
"Kamu ingat Sean pernah bilang jika dia dijebak sampai Queen bisa hamil"
"Iya aku ingat mas memangnya kenapa?"
"Orang yang menjebak Sean ternyata adalah Queen sendiri dan hari ini Sean baru mengetahuinya saat ada yang mengirim bukti foto Queen saat memasukan sesuatu ke minuman Sean waktu itu"
"Apa" ucap Maya dengan kaget.
Maya menutup mulutnya karena tidak menyangka dengan menantunya yang ternyata sangat polos bisa melakukan hal seperti itu.
"Sayang kamu kan tahu sifat anak kita yang keras kepala dan egois apalagi sangat membenci orang yang menipu dan mengkhianatinya"
"Iya aku tahu mas tapi apa Sean ngak bisa kasi kesempatan ke Queen karena biar bagaimana pun ia adalah istrinya mas"
"Tidak semudah itu sayang karena Sean sangat membenci penipu"
"Kamu tenang saja sayang meski membenci ibunya tapi Sean sangat mencintai baby Ares"
"Ares siapa mas?" tanya Maya dengan bingung.
"Cucuku kita sayang namanya Ares Maladika Rahardian" ucap Riko dengan tegas.
"Nama yang sangat bagus sayang aku pergi lihat dulu cucu kita ya mas" ucap Maya sambil berlari keluar dengan cepat.
Riko hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan istrinya. Tak lama wajah yang penuh senyum itu berganti dengan wajah penuh aura mengintimidasi.
"Papa tahu kamu sudah sadar Queen" ucap Riko dengan suara dingin.
Seketika mata Queen terbuka dan ia tak bisa menahan air matanya yang meluncur keluar dengan bebas. Ia tahu ia sudah salah dan sangat menyesal sudah melakukan semuanya itu tapi itu semua karena ia sangat mencintai Sean.
"Maafin aku pa" ucap Queen.
"Minta maaflah pada anakku karena ia yang harus kamu minta maaf" ucap Riko dengan tegas.
Riko lalu menekan tombol darurat di kepala ranjang brankar Queen memanggil dokter. Tak lama dokter masuk bersama satu orang suster.
"Cek keadaan menantuku" ucap Riko dengan dingin.
"Baik tuan"
Dokter segera mengecek kondisi Queen setelah siuman pasca operasi tadi. Tak lupa mengukur tensi darah Queen dengan teliti.
"Apa ada yang terasa sakit nyonya"
"Bagian perut saya dok" ucap Queen dengan lirih.
"Itu karena efek biusnya sudah habis makanya nyonya merasakan sakit di bagian bekas operasi nyonya, nanti akan saya suntikan pereda nyeri agar tidak sakit nyonya" ucap dokter tersebut.
"Baik dok"
Dokter segera menyuruh suster menyuntik pereda nyeri dan memberi minum Queen dengan air. Setelah itu mereka pamit keluar karena Queen tinggal menunggu pemulihannya saja.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Maya yang ingin mengunjungi sang cucu melihat Sean juga sedang berada disana. Ia berjalan mendekat dan menyentuh pundak sang anak dengan penuh kelembutan.
"Ibu" ucap Sean dengan lembut.
"Baby Ares sangat lucu ya dan ia sangat mirip dengan kamu sayang waktu kecil" ucap Maya yang terpesona dengan wajah imut sang cucu.
"Yah ibu benar anak aku sangat tampan dan lucu" ucap Sean sambil tersenyum.
"Cintailah dia sepenuh hatimu nak meski kamu tidak mencintai ibunya tapi belajarlah menerima kehadirannya karena biar bagaimanapun anakmu masih sangat membutuhkan ibunya" ucap Maya dengan lembut.
"Berikan Sean waktu bu karena ini tidak mudah" ucap Sean sambil menarik napasnya dalam.
"Iya sayang ibu tahu. Ibu akan selalu ada untuk kamu nak" ucap Maya sambil memeluk Sean.
Sean memeluk tubuh sang ibu dengan erat karena merasa sangat nyaman dan sedikit melepaskan beban pikirannya. Riko yang melihat hal tersebut tersenyum dengan bahagia biar bagaimana pun keduanya adalah orang yang dicintainya saat ini.
~ Mansion Xavier ~
Setelah pulang dari kantor Chloe segera memasak untuk makan malam bersama sang suami. Saat memasak ia merasa sangat mual mencium bau ayam yang sedang diberi bumbu.
"Tolong kamu buburi ayam ini dengan bumbu yang sudah saya siapkan" ucap Chloe ke salah satu koki.
"Baik nyonya"
Saat siap untuk memasak ayam Chloe kembali merasa perutnya diaduk-aduk dengan kuat. Ia menyuruh koki untuk melanjutkan pekerjaannya karena merasa tidak tahan mencium bau ayam.
Chloe lalu segera menuju ke kamar mandi di dekat dapur memuntahkan semua isi perutnya. Tak lama saat merasa sudah enakan ia keluar menuju dapur.
"Nyonya apa mau saya panggilkan dokter" ucap pak Max.
"Tidak usah pak Max ini cuma kecapean aja" ucap Chloe.
"Tapi nyonya"
"Sudah pak Max dan jangan beritahu ke suamiku" ucap Chloe dengan tegas.
Selesai menyediakan makan malam ia lalu ke kamar untuk membersihkan tubuhnya. Saat masuk ke kamar Chloe tersenyum melihat sang suami yang sudah bersih.
"Sayang" ucap Chloe memeluk tubuh Xavier dari belakang.
"Heemmm! Apa pekerjaanmu sudah selesai sayang"
"Iya sayang"
"Kenapa tidak biarkan pelayan dan koki yang memasak"
"Biar saja sayang toh ini salah satu tugas sang istri melayani suaminya lagi pula kamu kan tidak suka makan masakan orang lain"
"Tapi aku tidak mau kamu capek baby"
"Aku tidak capek sayang. Selagi aku masih bisa akan aku layani suamiku" ucap Chloe sambil mengelus pipi sang suami.
"Thank you baby"
"Your welcome mr arogant ku" ucap Chloe dengan senyum manis.
Selesai membersihkan tubuhnya keduanya langsung turun ke bawah untuk menikmati makan malam. Saat makan malam keduanya hanya diam hening karena Xavier tidak suka saat makan harus ada keributan.
Selesai makan Chloe mengajak Xavier untuk menemaninya menonton di ruang bioskop. Xavier hanya mengiyakan ajakan sang istri karena tak mau membuat Chloe kecewa.
Hari berganti dengan cepat tak terasa sudah pagi, Chloe bangun lalu berlari ke kamar mandi memuntahkan isi perutnya. Ia merasa kalau perutnya seperti diaduk-aduk di dalam sana.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Xavier yang mendengar suara muntahan sang istri segera berlari masuk ke dalam kamar mandi. Xavier merapikan rambut sang istri dan memijit tengkuknya dengan pelan.
"Kamu keluarlah sayang aku tidak mau kamu lihat"
"Aku tetap di sini sayang" ucap Xavier dengan tegas.
Selesai mengeluarkan semua isi perutnya Chloe seketika lemas dan hampir jatuh. Beruntung Xavier menahannya sehingga tidak jatuh.
"Kita ke rumah sakit ya sayang" ucap Xavier dengan khawatir.
"Aku hanya kecapean saja sayang istirahat saja pasti sudah sembuh" ucap Chloe dengan lemah.
"Jika tidak ingin ke rumah sakit biar dokter yang datang" ucap Xavier dengan tegas.
Chloe hanya menurut saja karena ia rasa badannya sudah sangat lemas, Xavier lalu mengambil hpnya dan menelpon Albert.
"Halo bos" ucap Albert dengan suara serak baru bangun.
^^^"Suruh Kevin datang bersama dokter perempuan" ucap Xavier dengan tegas.^^^
Tidak menunggu jawaban Albert ia langsung memutuskan panggilan sepihak. Albert yang mendengar suara tegas sang bos langsung menelpon Kevin.
Kevin yang masih tidur mengumpat dengan kesal karena hpnya terus berbunyi dari tadi. Mau tak mau ia segera menjawab panggilan tersebut.
"Halo ada apa" ucap Kevin dengan kesal.
^^^"Datang ke mansion bos jangan lupa bawa dokter wanita" ucap Albert dengan tegas.^^^
"Buat apa?" tanya Kevin dengan cepat.
^^^"Waktumu 10 menit"^^^
Albert langsung mematikan panggilannya dengan sepihak dan hal itu membuat Kevin kesal di apartemennya. Kevin yang sangat kesal segara bangun dan membersihkan tubuhnya secepat mungkin.
Selesai membersihkan tubuh ia segera pergi ke mansion sang bos tak lupa menelpon dokter perempuan menuju ke mansion Xavier sekarang. Kevin melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Xavier yang menunggu kedatangan dokter mengumpat dengan kesal karena menurutnya sangat lama. Chloe hanya diam menutup mata mendengar umpatan sang suami yang sedang kesal.
Laki gue gini amat arogannya buat gue tambah pusing dengan sifat arogannya, batin Chloe.
...βββββ...
To be continue..............
Jangan lupa vote, like, dan komen yang sebanyak-banyaknya ya guysπβ€